Sabtu, 13 Juni 2015

Kuliah Lapangan (KL) 2015 (1-7 JUNI 2015)


Gue awalnya udah tau kalo di semester 4 ada mata kuliah Kuliah Lapangan (3 sks). Dari namanya aja pasti udah ketebak kan, kuliahnya dimana. Yap, di lapangan! Sepanjang info yang beredar, kuliah lapangan itu melelahkan sangat. Soalnya para mahasiswa bakal naik-turun bukit buat ngambil sampel batuan, nyari singkapan batubara, pemetaan topografi sekalian panas-panasan di bawah teriknya matahari atau beku-bekuan di bawah derasnya hujan. Gue selaku anak Mapala (cailah) gak bergidik demi mendengar penggambaran sekilas tentang kuliah lapangan itu. Naik-turun bukit? Udah biasa! Panas-panasan atau hujan-hujanan? Udah biasa! Satu poin unggul gue dibanding teman gue yang lain yang gak masuk Mapala. Gue udah lebih dulu ngerasain hal yang baru akan mereka rasakan..
Dilema soal kata UKT (Uang Kuliah Tunggal), kegiatan ini akhirnya memungut 3 juta 150 ribu/mahasiswa. Setelah berunding dengan koordinator, akhirnya gue dibolehkan tetap ikut meski baru bayar sepertiga dari biaya tersebut. Dengan jaminan nilai gue di mata kuliah KL ini bakalan jadi E, kalo sampai ujian akhir semester udah kelar, KHS udah keluar dan gue tetap belum lunasin sisanya yang tadi. Gue pun setuju.
Seminggu sebelum berangkat, kelompok sudah dibagi. Gue jatuh ke kelompok 1, dimana anggotanya banyakan anak malas. Oh iya. Kalian tau gak, gue satu kelompok sama siapa. Ayo, you know who (bukan Voldemort!)? Sama cowok putih pucat yang selama ini dijodoh-jodohin ke gue (mulai sekarang sebut aja CJ7). Gue gak ngerasa senang atau pengen gila juga. biasa aja, keles! Awalnya nama gue muncul dua kali dalam pembagian kelompok. Pertama di kelompok 1, terus di kelompok 7. Gue pun nanyain kakak panitia KL.
“Kak, nama saya ada di dua kelompok, 1 dan 7. Itu gimana ya?”
“Tulis aja dulu nama kamu di sini,” ngasih kertas. “Entar kakak cek ulang.”
“Ok, Kak. Tapi kalau bisa saya dimasukin ke kelompok 1 aja.” Kata-kata itu meluncur spontan. Eits, jangan berpikiran aneh dulu. Itu karena di kelompok 7 gak ada yang gue kenal dengan baik. Gak ada yang kompak sama gue. Makanya gue minta dimasukin ke kelompok 1 aja.
 Pembekalan materi untuk KL juga dipadatkan sebelum hari keberangkatan. Barang-barang yang mau dipersiapkan juga lumayan banyak. Dan benda-benda seperti carier, sepatu safety (kayak boot), kamera untuk dokumentasi, jas hujan, sampai sandal gunung aja gue minjam semua. Yaelah, tadi katanya elu anak mapala. Masak sandal gunung aja minjam ..
Hari keberangkatan pun tiba. Peserta KL kumpul di kampus jam 6 pagi, lengkap dengan tas masing-masing, pake sepatu safety dan seragam KL warna merah tua. Bus sebanyak 8 juga udah stand by di depan kampus. Para mahasiswa (cewek sama cowok) pada menggila untuk berfoto. Katanya untuk posting di sosmed gitu, before and after kuliah lapangan entar. Tanpa ragu, gue pun ikutan berfoto rame-rame pake kamera yang gue pinjam dari Meli, adek tingkat gue. Sebenarnya dia segan, bukan segan. Maksud gue enggan, ngasih kamera itu. Gue paham aja sih. Kamera bukan kayak sandal gunung yang bisa dipinjam selama seminggu, terus kalo robek atau hilang elu kagak perlu mikir panjang menggantinya. Ini kamera, bro! Mahal cui!
“Eh, aku di situ dong,” tunjuk gue ke tempat duduk dekat jendela pas udah naik dalam bus. Malah direbut lagi sama yang lain. Dan hingga akhirnya semua tempat duduk dekat jendela tak ada lagi yang tersisa. Gue pun galau. Ini gawat. Sebagai mabokers darat sejati gue gak bisa duduk gak di dekat jendela. Sekalipun udah minum antimo satu kardus, gak ngaruh deh. Akhirnya gue nemu cara licik. Gue liat ke sekitar, tempat duduk siapa yang kira-kira bisa gue sabotase tanpa pemiliknya marah ke gue. Pasti marah sih, tapi siapalah yang kira-kira maranhnya dikit doang. Mata gue berhenti di tempat duduk si CJ7. Gue pindahin tas dia dari kursi itu ke sebelah Yanber (gak dekat dengan jendela). Gue tau entar dia bakalan ngamuk ke gue. Biarlah masalah itu dipikirkan belakangan. Yang penting gue selamat dulu.
“Eh, kok jadi kamu yang di sini? Tas ku mana?”
“Ehm, jadi gini. Aku mabok darat, jadi gak bisa kalo duduknya gak dekat jendela,” jawab gue polos.
“Hubungannya sama aku apa? Gak ah, pokoknya gak bisa. Kembalikan tas aku.”
“Lha, tas kamu kan gak ada aku ambil?”
“Kembalikan tempat duduk aku.”
“Plis, ya, ya.”
“Nggak..nggak..!”
“Plis deh, sama cewek masa gitu banget.”
Dia gak berisik lagi. Yes, berarti gue berhasil. Yang duduk di sebelah gue Putri. Untuk sekedar mengantisipasi aja, gue kasih tau kalo gue mabok darat orangnya. Dan ekspresi wajah Putri menggambarkan keputusasaan yang tiada taranya.
Aku pindah aja ya,gue yakin itu kalimat yang ingin diucapkannya kalo aja masih ada kursi kosong di bus itu.
Makan siang dilakukan di tengah perjalanan. Tentu saja kami berhenti. Perjalanan yang melelahkan dari Palangka Raya ke Tamiang Layang, kabupaten Barito Timur menghabiskan waktu hampir seharian. Kami berangkat jam 10.30 dan tiba di sana udah gelap jam 18.00. Asli pegal plus remuk semua ini badan lantaran seharian di bus duduk. Ajaibnya tau gak, gue gak ada muntah sama sekali! I can’t believe it. Setibanya di sana, kami langsung turun dan membawa tas masing-masing. Dosen memberi arahan tempat tidur dimana, kamar mandi dimana, makan gimana dan besoknya kegiatan apa.
“Malam ini juga ada kuliah malam di aula.”
 Mendengar ini, keluhan langsung terdengar dari segala penjuru. Iyalah, masak pake acara kuliah malam segala. Kan, udah capek seharian di bus. Diam di tempat sambil menunggu ternyata lebih melelahkan daripada kalo punya sesuatu untuk dikerjakan.

Hari I
Basecamp KL memang agak jauh dari PT SEM, perusahaan tujuan tahun ini. Basecamp ini adalah sekolah SMK negri. Ruangannya yang kami pake adalah ruangan kelas bekas. Ruangan cewek terpisah dari cowok. Ruangan kami adalah bekas ruang kelas yang terbuat dari papan dan pintunya gak bisa dikunci lagi dari dalam. Di beberapa tempat bahkan ada lubang-lubang besar yang memungkinkan manusia masuk. Malamnya tidur lesehan hanya beralaskan karpet selembar. Jadi ini alasannya disuruh bawa sarung atau selimut. Utunglah gue bawa sarung. Buat gue mah, tidur di tempat ginian udah biasa. Udah pernah lebih parah dari itu, tidur di hutan aja gue jalani. Paginya mandi antri, dan bahkan airnya habis saat gue baru bangun. Iya, gue telat bangun. Padahal hari itu kita mau pengamatan lokasi ke PT SEM. Berangkat jam 7, dan gue bangun jam 6 lewat. Yang lain udah mandi, udah ada yang ngantri mau makan pagi atau udah ada yang pake bedak sama parfum, gue baru aja bergerak ke kamar mandi sekolah, itupun … airnya habis!
“Airnya habis? Yang benar ah. Ini kan, bukan musim kemarau,” gue setengah gak percaya aja
“Iya, aku sama Fiona aja gak mandi. Cuma sikat gigi aja,” kata Zefa.
Parah, pikir gue gak habis pikir.

Gue sama Toguma pun langsung meluncur ke TKP, dan ternyata emang benar. Dengan senang hati kami berdua bersyukur airnya habis. Dengan begitu waktu bisa dihemat. Sikat gigi dan cuci muka, pake baju kuliah lapngan, kami langsung mengantri di deretan panjang sarapan pagi.

Hari itu adalah hari pertama kami berangkat ke PT SEM (Senamas Energindo Mineral), sebuah perusahaan tambang batubara di kabupaten Tamiang Layang, Barito Timur provinsi Kalimantan Tengah. Setelah acara penyambutan, langsung deh kita berangkat ke lapangan. Di sana para mahasiswa mendapat pengarahan dari karyawan-karyawan PT SEM, dalam hal ini yang ngebuat gue menganga adalah bahwa dia cewek. yang ngejelasin ke kami. Panasnya matahari mulai terasa membakar. Hari pertama memang dijadwalkan khusus untuk pengenalan lapangan aja. gue menjepret foto sebanyak yang bisa gue ambil. Dan selalu saja muncul muka-muka mahasiswa yang selalu ingin muncul di setiap kamera. Makan siang jam 12 akhirnya datang.

Jam 4 sore udah kembali ke bus. Jam 5 lewat tiba di basecamp. Begitu turun dari bus, cewek-cewek pada lari ke ruangan. Gue sempat bingung ada apa.
“Ada apa sih, ada kebakaran ya?” tanya gue.
“Bego. Itu rebutan mau mandi. Siapa cepat dia dapat. Siapa lambat dia ngantri..!”
Otak gue langsung tanggap. Maka sebagai sprinter sejati, gue pun ikutan lari. Langsung lepas boot sama tag name, ngambil handuk, sabun, sama baju bersih, terus lari ke kamar mandi. Yes, gue berhasil. Tuhan, terima kasih untuk air ini, syukur gue waktu air mengguyur badan gue. Masalah muncul waktu gue mau pakai baju. Gue lupa bawa kolor sama atasan..

Hari II
Kegiatan ngantri mandi dan makan gue rasa akan berlangsung terus sampai kegiatan kuliah lapangan ini selesai. Di pagi hari, cewek-cewek yang takut kehabisan air sehingga gak mandi malah rela bangun cepat jam 3 pagi hanya buat mandi. Setelah mandi, mereka lanjutkan dengan tidur kembali. Gue gak habis pikir, emang segitu penting kah arti mandi buat para cewek?
Hari ini kelompok gue, kelompok 1 dapat giliran di lapangan buat Pemetaan Topografi. Simpelnya kegiatan ini memakai alat yang bernama Theodolite. Untuk gambarnya elu bisa searching dah. Gue bertugas mencatat data yang didapat. Sebenarnya ada 2 orang yang tugasnya mencatat. Satu lagi Marlina.
Emang dasar area pertambangan ya. Panasnya itu gak nanggung-nanggung loh. Sekarang gue tau kenapa tadi cewek-cewek di ruangan banyak yang rebutan sunblock. Makan siang jam 12 dari kotakan plus snack siang berupa kue. Jujur, gue gak terlalu lapar. Yang paling gue inginkan saat itu sebenarnya adalah kolam dengan airnya adalah air es. Pengen gue cebur ke dalamnya.
Malamnya, semua ngumpul di aula. Ngerjain peta dari data-data yang diperoleh dari lapangan siang tadi.

Hari III
Hari ini katanya adalah hari terakhir di lapangan. Gue harap itu benar. Hari ketiga kelompok kami Pemetaan Geologi. Disini termasuk mendapatkan singkapan batubara, sampel-sampel batuan sedimen, mengukur kemiringan lereng atau morfologi kenampakan alam yang lain. Di sini tugas gue ngambil sampel batuan sama dokumentasi. Dalam pemetaan geologi, mahasiswa harus bisa make kompas sama GPS.

Hari IV & V
Hari-hari berikutnya adalah hari yang paling menyiksa, karena there is no time for sleep. Asli, semua begadang di aula. Kalaupun ada yang tidur, posisinya pasti miris banget. Kayaknya gak bernyawa lagi, tergeletak di lantai. Tanpa selimut, digigiti nyamuk. Kakak asisten malah dengan santainya mengabadikan posisi konyol itu dengan kamera mereka. Gue yakin, entar pasti ditanyangin di slide pas hari terakhir kegiatan KL ini. Loe tau apa yang harus diperbanyak kalau udah begadang gitu? Kopi, bro! kopi. Minum lah itu sebanyaknya.
Hari VI
Di hari ini, kami menghadapi yang namanya ujian akhir. Yang gue bayangin adalah soal-soalnya pasti susah-susah. Mana gak ada tidur juga, gak ada belajar sempat. Semua energi, waktu dan sumber daya tercurah habis untuk ngerjain peta, peta, dan peta.
Jam 9 semua sudah berkumpul di aula mengenakan PDH tambang. Warna biru semarak mengisi ruangan itu. Sebelum soal dibagikan, gue udah membawa diri gue untuk berdoa lebih dahulu. Dan ternyata soal ujiannya adalah.. lumayan bisa gue jawab. Hanya ada 2 soal. Soal pertama menyebutkan arti dari symbol-simbol geologi. Soal kedua tentang nama-nama komponen pada gambar Theodolite. Ahh, untunglah. Gue kira soalnya susah-susah. Kalau soalnya kayak gitu, kan masih bisa lirik kanan-kiri. Apalagi jarak gue dengan yang yang di samping, kanan, depan, belakang gak terlalu jauh-jauh juga.
Setelah ujian selama 1 jam, selanjutnya adalah presentasi peta. Yang paling menakutkan adalah saat giliran kelompok gue. Semuanya diminta nunggu di luar. Entar dari dalam dosen bakalan manggil nama mahasiswa yang akan presentasi peta. Cara seperti inilah yang paling gak gue suka. Yang ngebuat kita jantungan setiap saat menanti giliran. Loe bayangin aja, satu-satu dipanggil masuk ke ruangan buat ngejelasin peta sebanyak 5 peta di hadapan 4 dosen.
“Eh, Magda, ke toilet dulu, Yuk,” ajak Putri yang baru selesai presentasi peta. Dia kelompok gue
“Ah, entar kalo namaku dipanggil pas kita di kamar mandi gimana?”
Oh iya..
“Eh, ayo deh. Eh, teman-teman, entar kalo namaku dipanggil, bilangin aku nemanin Putri ke toilet ya,” otak gue mulai menyimpang.
“Terus, kalo namamu jadi dicoret gimana nasib nilai KL mu? Ini jauh-jauh ke sini, bayarnya mahal pula, rela apa kamu?”
Pertanyaan itu menyadarkan gue.
Untungnya, untuk menghemat waktu, kata dosen kami yang tersisa berenam disuruh sekali masuk. Bagus, ini yang gue tunggu. Setidaknya kan, kalaupun takut, beban takut itu akan terbagi enam diantara kami. Jadi gak seorang aja yang ngerasain. Irwan, Nur, si CJ7, Samula, Ali, gue. Gue juga takut, karena gak terlalu ngerti seluk-beluk peta-peta yang udah selesai itu. Tugas gue selama ngerjain itu Cuma kayak menggaris tepi HVS, mewarnai pake pensil warna, atau menjiplak gambar batuan. Gitu-gitu aja. tapi yang lebih parah adalah si Irwan. Entah bagaimana, anak itu serasa menjauh dari kelompok 1. Tersisihkan, dan hampir gak ada berpartisipasi dalam tugas itu. Gue malah khawatir kalau dia ditanya dosen entar, dia bisa jawab gak sih? Mudahan bisa!
“Irwan, ada berapa patok saat kalian pemetaan topografi?” tanya dosen.
Si Irwan menggaruk kepalanya.
“Empat, Pak.”
Tweng! Lima, Nak, jerit gue dalam hati. Pertanyaan semudah itu aja gak bisa dia jawab. Apalagi tentang peta.
“Magdalena, skala 1:5000 artinya apa?”
Gue nelan ludah, “Skala 1:5000 artinya 1 cm di peta sama dengan 5000 cm di lapangan.”
Gak ada komentar dosen. Tapi gue yakin, tadi mereka mengangguk.
“Kalau menurut kamu Irwan?”
Si Irwan berdehem. “Artinya adalah 1 cm di peta sama dengan 5000 m di lapangan.”
“Iya.. salah!” kata dosen.
Berikutnya, pertanyaan yang mudah pun ditanyakan kepada kami, kami lupa apa jawabannya. Mungkin penyebabnya adalah perpaduan antara karena kebanyakan minum kopi dan tidak tidur 2 malam, tidak mandi tadi pagi (gue).
“CJ7, apa itu kontur?”
“Kontur adalah titik yang menghubungkan garis pada ketinggian sama.”
Salah, CJ7, batin gue. Andai aja gue bisa koreksi. Bukan titik, tetapi garis!
“Kalau ketinggiannya 60 dan 70 bisa tidak dihubungkan?” tanya dosen lagi.
“Bisa”
Tidak bisa, CJ7. Gimana sih! Jelas-jelas itu ketinggiannya gak sama, wong 60 sama 70 ya tinggian 70 lah. Pie toh..
“Magdalena?”
Gue tersentak nama gue disebut.
“Ya, Bu?”
“Apa itu kontur?”
“Garis yang menghubungkan titik pada ketinggian yang sama.”
“Terus, kalo 60 dan 70 bisa tidak dihubungkan?”
“Tidak bisa, Bu,” jawab gue mantap.
“Kenapa?”
“Karena kontur hanya menghubungkan titik yang ketinggiannya sama. 60 dan 70 jelas ketinggiannya sudah berbeda.”
Dan kali ini gue ngeliat mereka mengangguk lagi. Si CJ7 menunduk menatap lantai.

Malamnya adalah acara hiburan melepas penat setelah selama beberapa hari ini dipusingkan dengan peta dan batuan. Yang ingin menyanyi, bisa menyanyi sepuasnya di depan pake mikropon. Yang paling membuat gue takjub adalah, lagu yang paling mendominasi adalah dangdut. Banyak mahasiswa yang lari ke depan joget-joget sambil ketawa-ketawa lepas. Merasa inilah saatnya, gue ajak Toguma ikutan ke depan … teriak-teriak!

Hari VII
Akhrnya hari kepulangan pun tiba. Dari semalam semua udah mulai berkemas-kemas. Gue juga ikutan berkemas. Paginya setelah makan, berfoto bersama, bus kami pun meninggalkan Tamiang Layang, bergerak menuju PALANGKA RAYA.
I MISS MY KoS. I’M CoMING,,,!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...