Minggu, 28 Mei 2017

Alam Sadarku, Alam Mimpiku Semua Milikmu, Andai Kau Tahu

Kucoba merangkai kata cinta

Walaupun Ku bukanlah pujangga yang bisa

Tuliskan kata-kata yang indah

Nyatanya tak ada nyali untuk ungkapkan.....

Aku gak ingat bagaimana kami bertemu. Dia adek angkatanku. Aku 2013, dia angkatan 2014. Kami punya banyak persamaan. Sama-sama gila, nekad, slengek-an, cerewet. Kemana aku pergi, disitu ada dia. Bahkan kami sama-sama lahir bulan Mei. Hanya beda 1 tahun 1 hari. Dia 4 Mei 1996, aku 5 Mei 1995. Sungguh suatu kebetulan yang amat jarang dijumpai dalam pertemanan. Gak kayak nemuin koin di tengah jalan.

Anita Farida Marbun, itu nama cewek beruntung yang pernah ketemu denganku dalam hidupnya itu. Meski kami beda kos, toh gak terlalu jauh. Orangnya sih cantik. Kulitnya putih kemerahan kayak orang Belanda. Rambutnya lebat,bergelombang dan agak pirang kayak Belanda juga. Tingginya 165 cm. Dua kali nyoba polwan dan selalu kalah di tinggi badan. Padahal Anita udah bela-belain tiap hari ke kolam renang supaya tinggi badannya nambah. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Mungkin Tuhan pengen Anita tetap disampingku.

Satu lagi persamaan kami berdua adalah : KISAH CINTA.

Bukan! Bukan seperti kisah cinta yang kalian bayangkan. Dimana seorang cewek jadi rebutan 3 orang cowok. Atau cewek yang bosan dikejar-kejar para cowok di kampusnya saking cantiknya.Kisah kami adalah kisah cinta mengenaskan. Tapi sebenarnya lebih mengenaskan kisah cinta Anita.

Sebut aja nama cowok yang tak beruntung itu Laurent. Kok kayak nama vampir? Biar aja deh. Mereka seangkatan, sejurusan dan sekelas. Pas kutanya gimana mereka ketemu, kata Anita sih pas malam keakraban mahasiswa baru. Mungkin love at the first sight. Waktu itu mereka masih ngomong satu sama lain, Anita dan Laurent. Tapi lam-lama kawan-kawan yang lain mulai tahu kalau si Anita suka sama si Laurent. Sejak itu, keduanya gak ngobrol lagi. Entahlah, mungkin jadi malu. 

Kejadian-kejadian banyak yang terjadi. Mulai dari Laurent diajak paksa ke ultah-nya Anita pas malam-malam. Dia yang megang kue ultahnya Anita, terus si Anita tiup lilinnya. Berhubung Anita ini anak yang gampang baper, dia pun makin berharap sama si Laurent. Sementara si Laurent? Pendiam, atau sok cool kayak Edward di Twilight. Yamg pasti mereka gak pernah ngomong satu sama lain. Kata Anita sih, jangankan ngobrol. Kalau mau berpapasan aja, si Laurnt pernah ngambil jalan lain. Tujuannya buat ngehindar. Dari situ Anita sakit hati. Tapi cintanya ke Laurnt gak pernah padam. Bahkan sekalipun dia dengar gosip kalau si Laurent udah punya pacar anak FKIP.

"Kalau dia seandainya sakit, Kak, aku bahkan mau ngerawat dia sampai sembuh. Sekalipun hatiku udah sering dibuat sakit sama dia. Aku gak pernah bisa benci apalagi berpaling buat suka sama cowok lain," ini pernyataan Anita ke aku suatu hari pas kami berdua nangkring di cappucino cincau (capcin) bule dekat kampus. Kita emang sering jalan kaki sore-sore, terus nangkring minum capcin. Gue sih salut ama Anita. Bedakan dengan kisah (cinta) punyaku berikut!

Cowok itu sebut aja namanya Jacob. Jacob seangkatan dan sejurusanku. Aku gak pernah love at first sight sama dia. Tapi bertahap. Ada suatu proses yang kami lewati yang akhirnya ngebikin aku ada rasa sama dia. Dan itu perlahan-lahan. 

Saat melewati proses-proses itu tadi, kita dekat banget. Sering ketawa sama-sama. Punya topik-topik konyol yang gak seharusnya dibahas jadi dibahas. Namun semuanya harus berakhir sejak seseorang datang diantara kami. Gak bisa kubilang datang juga. Karena cewek ini, sebut aja namanya Bela, adalah seangkatan kami juga. Dia mulai dekat sama Jacob. Perlahan-lahan juga, aku mundur. Gak taulah. Mungkin karena kulihat Bela lebih 'layak' disebut cewek bagi Jacob. Intinya si Bela ini cantik. Jauh amat dari aku yang gak bisa dandan.
Menjauh..menjauh. 

Hingga akhirnya mereka.. JADIAN.
Satu kata itu yang bikin kepala rasanya pecah berkeping-keping kayak kacang atom. Mereka emang cocok. Goodbye, Jacob. Aku mulai memasang pertahanan andalanku. Buat ngelupain seseorang, pertama-tama kita mesti block semua pertemanan di medsos. LINE, IG, FB, BBM. Gak, BBM tetap sih. Entah kenapa yang satu itu kusisakan. Padahal aku gak mau sampai ngeliat foto dia berdua dengan si Bela. Tempel-tempel pipi gitu. Atau lebih parah lagi: PELUKAN.

Hari-hari kuhadapi begitu susah. Gimana caranya menghindar dari orang yang jelas-jelas seangkatan dan sejurusan kuliah denganmu? Kecuali kalau aku nyamar jadi tembok. Dia gak bakal liat aku, tapi tetap aja aku liat dia. Penghindaran ini ternyata sangat menyiksa amat. Gimana kisahnya dua orangnya yang tadinya kompak abis tiba-tiba gak ngomong satu sama lain lantaran .. ah entahlah! Paling susah kalau ada temanku yang temannya dia juga, ketemu. Temanku ini nyapa dia, sementara aku gak. Akward!

Iya, mereka udah jadian. Tapi gak pernah bawa si Bela ke gereja bareng. Aku tahu karena aku dan si Jacob satu gereja. Yap, dia yang tadinya kutebengi kalau ke gereja, kini aku harus duduk jauh dari tempat dia duduk. 

Suatu hari Anita cerita kalau hari Minggu kemarin dia nanyain aku. "Si X dimana?"

Aku gak gampang percaya sama orang. Tapi Anita berani pake sumpah-sumpah segala. Jacob nanyain aku dmana.. Itu rasa-rasanya kayak bilang: sebenarnya sebelum Bela, gue udah suka sama loe!

Pikiran itu kubuang jauh-jauh. Wajar aja kalau si Jacob nanya kayak gitu. Karena dia gak ngeliat aku ada di samping Anita, sementara biasanya kemana-mana kita selalu bareng. Wajar dia nanya.. aku dimana..
Dan hari Minggu tadi, kita ke gereja. 

Sialnya kita telat datang. Tempat parkir bahkan ganti. Gak di tempat biasa lagi. Di parkiran, tebak kita ketemu siapa? Yup, si Jacob. Gobloknya lagi si Anita manggil nama dia. Si Jacob noleh dan ngeliat kita.

"Bang Jacob, tunggu kami."

Si Jacob entah apa yang ada di pikirannya. Dia nunggu kami. Saat itu malah ada cowok yang nanya ke aku daimana jalan masuk ke gereja. Aku nunjuk aja ke arah jalan masuknya.. dan gak sengaja nunjuk ke tempat dimana si Jacob berdiri dan ..kita saling bertatapan. Akward, sumpah!!

Baju yang kupakai hari itu, mini dress cream. Rambut diikat tinggi. Pakai eyeliner dan blush on. Sumpah gak nyangka bakal ketemu dia hari ini. Ini diluar dugaanku. Pengen pulang rasanya. What he will think about my performance that day? OMG!!!

Tiba di halaman gereja kita bengong karena di sana banyak orang-orang pakai kursi plastik. Pasti di dalam udah penuh. Siapa suruh kami telat. Dan ternyata hari itu ada acara Imam 3 orang. Jadi pastor gitu. 

Ujung-ujungnya kita ikut ngambil kursi plastik juga dari aula gereja. Tapi gak duduk di dekat si Jacob. Dia di seberang kami. Sedangkan kami di sebelah kanan pintu keluar gereja. Apesnya aku duduk dan menghadap tepat ke arahnya, tepat dimana dia duduk. Ini gak bener, yaoloh... Suddenly, teringat kata si Anita yang soal dia nanyain aku kemarin. Shit.. How do I can forget him, when he was appear in front of my face..

Pada akhirnya, kisah ini bego dan konyol. Dan gak rela buat dilupakan....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...