Kemarin tanggal 20 Mei gue ikut kegiatan pelatihan dari BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) KalTeng. Kegiatannya di TWA (Taman Wisata Alam) Tangkiling. Kegiatan ini diselenggarakan oleh BKSDA, bekerja sama dengan BPSKL Wilayah Kalimantan. Diikuti oleh kader konservasi, Komunitas Pecinta Alam, KSM/KP dan Kepanduan. Semua peserta mendapat biaya akomodasi, konsumsi dan uang saku. Setiap organisasi kuotanya 10 orang. Tapi nyatanya sampai pihak BKSDA ngehubungin kami duluan, hanya gue dan Bang Tanzi yang bisa dari Mapala "Dozer". Begitu di absenin di lapangan dan Mapala yang lain ngeliat kami hanya berdua, sementara mereka rame banget. Gue selaku ketua ngerasa..gagal! Gagal mengajak anggota gue yang lain.
Kami naik pick up. Sebenarnya bukan pick-up sih, itu loh mobil bak terbuka yang kayak ngangkut tentara. Yang duduknya hadap-hadapan. Gue duduk paling pinggir pintu belakang. Ini posisi favorit gue. Angin sejuk banget menerpa wajah ini. Kami tiba di TKP. Karena mau naik bukit, kita pun pemanasan dulu. Setelah itu naik bukit, buat pungut sampah sekalian nanam bibit pohon. Setelah selesai, semua turun. Sekitar jam 11 siang, kami diarahkan ke pendopo dan diberi materi. Pematerinya Pak Eko dari BPSKL, di bajunya tertulis "Forest Ranger". Beliau menceritakan latar belakang pendidikan beliau, yang ternyata dari Surabaya. Sekolahnya sejenis pendidikan konservasi hutan gitu. Gue lupa apa nama sekolahnya. Hingga sekarang beliau jadi orang yang memikirkan lingkungan. Aktivitasnya juga untuk melindungi dan melestarikan alam. Mulia banget gak sih?
Beliau menyampaikan materi packing. Tetapi awalnya, kami disuruh menuliskan impian kami di selembar kertas yang dibagikan beliau.
"Dalam hitungan ke-10 tidak ada lagi yang menulis," katanya.Gue nulis sesuatu di kertas gue. Namun gue kemudian sadar, kalau cita-cita gue berubah-ubah sesuai apa yang tengah gue hadiri. Misalnya kayak saat itu, gue ikut pelatihan konservasi lingkungan, maka cita-cita yang tertulis : Aktivis Lingkungan. Mungkin kalau saat itu gue ikut acara seminar tentang hewan peliharaan dan disuruh nulis impian di selembar ketas, mungkin gue bakalan nulis : Pawang Anjing.
Semua kertas dikumpul. Beliau ngeliatin sambil nyebutin isinya. Sambil nasehatin juga. Bahwa menjadi pewujud impian orang lain itu jauh lebih mulia. Beliau menampilkan foto 2 orang yang di puncak gunung. Terakhir gue tahu kalau itu Everest. Ketika beliau bertanya siapa dua orang itu, Bang Tanzi angkat tangan. "Tenzing dan Hillary," kata Bang Tanzi. Dan benar. Bang Tanzi dapat note kecil warna pink, yang langsung gue rebut begitu sampai di tangannya. Gue bilang, "Cowok gak cocok pake warna pink."Pak Eko cerita kalau sejarah yang tercatat adalah bahwa Hillary-lah orang yang pertama kali sampai di puncak Everest. Padahal nyatanya si Tenzing. Si Tenzing adalah guide, jadi sudah tentu seorang guide tiba duluan dibanding yang di pandunya. Namun, si Tenzing ini punya impian. Dia ingin mewujudkan impian orang lain. Itulah impian si Tenzing ini. Wah, gue terharu. Masih ada orang sepolos, serendah hati dan semulia itu. Kalau itu gue, gue pasti duluan aja. Gue pengen nama gue-lah yang tertulis di sejarah, sebagai orang yang pertama kali menginjakkan kaki di puncak Everest.
Kami disuruh mengambil kembali kertas impian kami, dan menyuruh kami menyimpannya dalam dompet. Sebagai jimat, siapa tahu impian kami itu terwujud. Gue, pulangnya dari pelatihan malah masukin kertas impian gue itu ke tabungan kaleng gue di kos.
Materi selanjutnya dari bapak BKSDA. Gue lupa namanya. Tapi kayaknya beliau kenal banget sama "Dozer".
"Yang dari Mapala "Dozer"?" tanyanya.Kami berdua tunjuk tangan. Begitu sepi tangan yang terangkat. Beliau menanyakan jurusan kami berdua. Bang Tanzi otomatis selamat, karena dia Teknik Informatika. Aku? Teknik Pertambangan. Entah ngapain ada di situ, ikut pelatihan konservasi hutan. Dua hal yang bertentangan bukan? Begitu jurusan kuliah gue sebutin, semua orang langsung ber-huhu..
"Coba mbak, jelaskan bagaimana tambang yang ramah lingkungan."
PAK? Gak ada yang begituan. Hampir aja gue pengen bilang itu. Tapi gak sih. Gue disuruh berdiri. Semua mata tertuju ke gue. Thanks, Pak.
"Setahu saya,..."
"Perkenalan dulu, dong!"
Sheet!
Setelah nyebutin nama dan asal organisasi, gue pun jawab pertanyaan beliau apa adanya dengan kata-kata yang masih tersisa di otak ini.
"Setahu saya Pak, tidak ada tambang yang ramah lingkungan. Semuanya merusak lingkungan. Namun ada tindakan yang bisa dilakukan jika penambangan sudah selesai. Yaitu reklamasi. Tanah penutup atau over burden tadi ditimbun kembali ke tempat asalnya. Kemudian ditanami dengan tanaman. Begitu, Pak. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua perusahaan melakukan itu. Sebagian perusahaan ada yang lari, meninggalkan bekas tambangnya begitu saja begitu bahan galian di daerah tersebut habis ditambang. Selain itu, perlu diketahui juga bahwa biaya reklamasi itu sendiri mahal. Perusahaan bakal mikir dua kali untuk melakukan reklamasi."
Beliau suruh semua orang tepuk tangan. Tapi gue gak ada tuh dikasih note pink.
Entah kenapa, somehow gue ngerasa ganjil ada diantara mereka. Gue anak tambang. Tapi juga pecinta alam. Dua hal yang bertolak belakang. Apakah suatu hari bisa menyatu. Wkwkwkwkw.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar