Kita gak pernah tahu kapan atau dimana akan jatuh cinta. Sama halnya seperti pertemuan dan perpisahan, jatuh cinta juga tidak bisa kita rencanakan. Udah sok melodrama aja nih, gue.
Jadi kemarin gue ketemu sama seorang cowok yang lagi penelitian tugas akhir juga di PT Bukit Asam Tanjung Enim. Dia dari kampus UBB. Nama cowok beruntung itu? Hm, kita rahasiakan saja. Siapa tahu dia ketemu sama tulisan gembel ini. Biar gue juga gak dua kali menahan malu. Sebut saja namanya DS. Anak sulung dari 3 bersaudara. Asli dari Medan. Sejauh yang gue dengar dari temannya, dia punya trouble in relation gitu sama bapaknya. Tapi kalau sama ibunya dia dekat banget. Terakhir gue minta softcopy laporan skripsi dia dan di bagian Halaman Persembahan gue baca kalau DS hanya mengucapkan terima kasih kepada ibu saja. Pas gue tanya mana buat bapak, dia jawab salah ketik.
DS punya kemiripan fisik, suara dan cara berbicara dengan seseorang yang pernah gue sukai (sebenarnya hingga kini) waktu gue semester 6. Sebut saja YS. Tapi sekarang dia udah pacaran sama teman seangkatan kita. Cantik cuy! DS dan YS punya tinggi badan sama, meski warna (?) suara mereka berbeda, tapi the way they talk itu mirip. Kayak ada songong-songong-nya gitu. If you know what I mean..
Saat itu gue sempat berpikir kalau Tuhan mengirimkan DS sebagai pengganti YS yang kini sudah jadi milik orang lain. Come on, mereka mirip loh. Tuhan mengirimkan seseorang yang mirip dengan orang yang pernah loe suka. Apa lagi yang kurang???
Saat itu gue sempat berpikir kalau Tuhan mengirimkan DS sebagai pengganti YS yang kini sudah jadi milik orang lain. Come on, mereka mirip loh. Tuhan mengirimkan seseorang yang mirip dengan orang yang pernah loe suka. Apa lagi yang kurang???
Awalnya gue emang ditempatkan di satuan kerja (satker) yang sama dengan DS. Tapi itu adalah kesalahan, karena judul penelitian gue sebenarnya di satker lain, geoteknik. Akhirnya gue pindah setelah dua hari satu satker sama dia. Dari yang gue liat, dia orangnya care, punya pendirian dan suka pertahanin pendapatnya. Tapi tetap dengan alasan logis. DS juga dari yang gue liat sangat mengayomi (?). Kayak kebapakan gitu. Cocok buat ngedidik anak-anak gue kelak. Eh?!!
"Udah, di satker ini aja kenapa sih?" kata DS nahan gue biar gak pindah satker.
"Tapi referensi selama ini yang kubaca ya tentang geoteknik, bukan peledakan," kataku.
"Lagian nih ya, TA itu sekali seumur mahasiswa gak apa-apalah cari yang sulit." Ada nada sombong dalam kalimat gue. Yang mana akan menjatuhkan gue sendiri nantinya. Gue pun pindah satker. Dia udah dua minggu lebih dulu tiba di PTBA. Yang mana juga artinya bakalan lebih duluan selesai dan pulang ke kampus halaman.
"Udah, di satker ini aja kenapa sih?" kata DS nahan gue biar gak pindah satker.
"Tapi referensi selama ini yang kubaca ya tentang geoteknik, bukan peledakan," kataku.
"Lagian nih ya, TA itu sekali seumur mahasiswa gak apa-apalah cari yang sulit." Ada nada sombong dalam kalimat gue. Yang mana akan menjatuhkan gue sendiri nantinya. Gue pun pindah satker. Dia udah dua minggu lebih dulu tiba di PTBA. Yang mana juga artinya bakalan lebih duluan selesai dan pulang ke kampus halaman.
Lantaran beda satker, kita gak pernah ketemu lagi. Seminggu kemudian, datang dua cowok dari kampus ITM mau magang di PTBA. Mereka ngekos di tempat gue. Dan kabar baik lainnya adalah salah satu dari mereka adalah appara (teman dekat) si DS. Sampai disitu gue yakin Tuhan telah membuka jalan untuk gue menemukan tambatan hati yang selama ini gue rindukan. DS sering bahkan hampir tiap hari datang ke kosan kami. Gue juga gak segan-segan main ke kamar mereka. Sambil cemilin makanan, sambil main HP, ngobrol ngalor-ngidul. Malam-malam juga kadang makan bareng di angkringan. Segalanya terasa menyenangkan.
Hari berikutnya dia pernah datang ke satker geoteknik buat minta data. Dua hari dia di sana. Dia kemudian minta nomor WA gue. OMG! Chatingan mulai berjalan. Pernah nanyain gue lagi dimana, padahal jelas-jelas saat itu masih jam kantor dan gue ada di satker gue lah. Masa iya, di kamar mandi kosan. Bahasa chatingan kita sih gak ada kaku-kakunya. Udah kayak temen sekelas aja. Bahkan terkesan sadis dan penuh dengan bahasa non baku yang kasar. Don't worry, itu semua buat becandaan aja.
Hari berikutnya dia pernah datang ke satker geoteknik buat minta data. Dua hari dia di sana. Dia kemudian minta nomor WA gue. OMG! Chatingan mulai berjalan. Pernah nanyain gue lagi dimana, padahal jelas-jelas saat itu masih jam kantor dan gue ada di satker gue lah. Masa iya, di kamar mandi kosan. Bahasa chatingan kita sih gak ada kaku-kakunya. Udah kayak temen sekelas aja. Bahkan terkesan sadis dan penuh dengan bahasa non baku yang kasar. Don't worry, itu semua buat becandaan aja.
Kalau si DS gak main ke kosan kami, gue bakalan tanya appara-nya, si AL.
"Mana si DS? Gak kesini ya?"
"Kenapa emang, Dek?" tanya AL. Si AL tuh ya, sebenarnya kelahiran '95 sama kayak gue. Tapi sok minta dihormati dan minta dipanggil 'abang'.
"Gak apa-apa aja. Biar ada aja yang dilihat," jawab gue swag.
Gue juga pernah nanya-nanya ke DS soal data. Tapi dengan konyolnya di akhir gue bilang kalau itu gue lagi modus aja. Bayangin aja, dimana ada orang ngemodus tapi bilang-bilang?
Pernah suatu malam kami berempat nongkrong di jalan. DS tiba-tiba minta gue cerita tentang kehidupan di Kalimantan itu kayak gimana, kampus gue gimana. Ya gue cerita apa adanya. Terus, dia malah nanya pacar gue orang dayak apa orang batak.
"Gak ada," jawab gue cepat.
"Masa?"
"Iya, aku nunggu kau," jawab gue amblas.
DS bales, "Ngapain lah kau tunggu-tunggu aku. Gak ada yang bisa dibanggakan dari diri ini."
Rendah hati banget ya.
Gue juga pernah nanya-nanya ke DS soal data. Tapi dengan konyolnya di akhir gue bilang kalau itu gue lagi modus aja. Bayangin aja, dimana ada orang ngemodus tapi bilang-bilang?
Pernah suatu malam kami berempat nongkrong di jalan. DS tiba-tiba minta gue cerita tentang kehidupan di Kalimantan itu kayak gimana, kampus gue gimana. Ya gue cerita apa adanya. Terus, dia malah nanya pacar gue orang dayak apa orang batak.
"Gak ada," jawab gue cepat.
"Masa?"
"Iya, aku nunggu kau," jawab gue amblas.
DS bales, "Ngapain lah kau tunggu-tunggu aku. Gak ada yang bisa dibanggakan dari diri ini."
Rendah hati banget ya.
Yang paling bikin gue senang dan berharap DS adalah jodoh dari Tuhan karena dia seiman sama gue. Kita sama-sama Katolik, sama kayak dia. Emang mereka banyak persamaannya Ya Tuhan. Dua bekicot yang dari ITM juga katolik. Gue pernah baru nyadar si DS berada dalam gereja itu saat maju buat nerima ekaristi ke depan. Gue refleks tepuk bahunya dia. Minggu berikutnya gue minta nebeng sama dia. Iyalah, modus. Tapi ternyata pagi itu dia telat bangun. WA gue baru dibalas jam 8. Untung gue udah naik ojek ke gerejanya. Dia minta maaf dan nyesal banget ketiduran. Saat gue masih chat ama dia, dengan gentleman dia nasehatin gue buat fokus aja dulu sama ibadah.
Suatu hari gue pernah nanyain tentang topik penelitiannya dia yang ada hubungannya dengan penelitian gue. Saat itu gue bukan modus. Tapi lagi butuh pencerahan beneran. Gue chat dia dan dibalas, "Ini bukan modus, kan?"
Gue be like : Yakali gue modus gak kenal waktu!
Dia malah datang langsung ke kos gue. Malam besoknya, ketika ibu kos gak ada di rumah dan rumah dititipkan ke gue, kami berempat masak sup daging babi. Enak tenan! Kokinya? Gue jelas.
"Ternyata dia bisa juga masak ya, aku udah khawatir tadi ini semua gak bisa dimakan," kata DS disela makan bersama kami.
"Enak aja, kau kira gimana aku di Kalimantan bertahan hidup kalau gak bisa masak?" balas gue.
Namun, saat-saat kelam pun mulai tiba. DS udah jarang main ke kos kami. Dia udah mulai fokus sama laporannya. Mengingat waktu dia di perusahaan juga mulai habis. Gue jadi gak pernah lagi ngeliat dia. Ada satu momen kampret waktu AL ngasih tau gue kalau si DS pulang malam itu juga ke Bangka. Gue otomatis shock. Iya bukan siapa-siapa dia sih, tapi tetep aja gue gak bisa terima kenyataan. Gue masih ingin kenal dia lebih dekat. Malam itu juga, gue ikut ke kosan DS. Di tengah perjalanan menuju ke sana, gue udah ngerangkai kalimat perpisahan yang bakalan gue ucapin. Anehnya, gue malah jadi kreatif nyusun kalimat-kalimat dari tontonan yang pernah gue liat.
WTF!!!
Ternyata yang mau balik malam itu bukan DS, tapi temannya dua orang. Gue acak-acak rambut si AL kampret penyebar kebohongan itu. Jauh-jauh dari ITM malah menebar kebencian (apa seeh!).
Gak lama kemudian, si DS juga giliran mau balik. Dia udah acc laporannya sama pembimbing lapangan. Gue tau lewat status dia di WA. Terus gue komen dan bilang supaya dia jangan balik dulu. Jalan-jalan dulu kek, kemana gitu. Pagarayu, eh Pagaralam.. Berhubung juga besoknya adalah hari ultah gue. Demi apa otak gue yang tumpul ini mengharapkan mereka tau dan siapin surprise buat gue. Hanya karena gue sama DS udah berteman di LINE. Tiap ada yang ultah kan, biasanya LINE selalu kirim pemberitahuan gitu.
Ternyata nol GEDE!
Si DS tetap pulang tepat dengan hari ultah gue. Saat itu jam 2 siang dia dengan kopernya berangkat naik bus perusahaan ke Palembang. Gue masih ingat dia ngacak kepala gue pelan. Gak tau apa gue dalam hati jejeritan senang gak karuan. Setelah peluk-pelukan dengan apparanya si AL (gue juga pengen), dia pergi. Dia benar-benar pergi..
Di status WA gue bikin "Safe Trip DS".
Malamnya, gue chat dia nanya udah nyampe apa belum di Palembang. Beberapa menit kemudian dibalas kalo dia udah nyampe. Dengan sok perhatian, gue bilang istirahat aja. Dia balas : Ok, btw selamat ulang tahun ya. Gue balas : Sori, udah telat.
Padahal dalam kamar lompat-lompat di atas kasur.
Gue juga mulai berkutat dengan laporan gue. Satu-satunya syarat yang bisa membebaskan gue dari perusahaan ini adalah acc laporan dan tanda tangan dari pembimbing. Meski tak mudah, semuanya berhasil gue lewati. Saat akhirnya gue dalam perjalanan kembali ke kampus, gue bikin status di WA.
Soundtrack perjalanan ini : Remember Me-Coco
Gak nyampe 2 menit ada yang komen. OMG, si DS!!!
DS : Kau masih di PTBA?
Gw : Menurutmu aja arti status aku gimana?
DS : Kirain masih di sana.
Gw : Biar kutebak. Pasti ada datamu yang kurang terus mintol ke aku mintakan ke Pak Herman (pembimbing gue di satker geoteknik)
DS : Kok tau?
Gw : Udah ketebak.
DS : Yodah deh, hati-hati ya.
Dibilang 'hati-hati ya' itu maknanya berarti banget loh buat gue. Kayak bilang, kalau kamu kenapa-kenapa aku gak bisa hidup. Wkwkwkwkwk. Meski sebenarnya itu gak ada. Pemikiran gue aja yang kejauhan.
Hari-hari berikutnya DS nge-chat lagi buat nanya peta. Kebetulan gue punya ya gue kirim aja via e-mail. Bisa terbilang sering chatingan. Ada-ada aja hal yang dibahas. Hingga akhirnya gue bilang ke dia buat nelpon gue. Tapi tau gak dia balas apa?
Nanti-nanti ya kalo aku gak lupa!
HARUSNYA dari situ gue bisa tarik kesimpulan kalau si DS gak punya rasa tertarik sama gue. Tapi si AL malah meyakinkan gue untuk memastikan dugaan gue tersebut. Maka gue pun tanyakan hal berikut:
DS, menurutmu aku orangnya gimana?
Gue jelas khawatir nunggu balesannya.
DS : Baik, sederhana. Ya apa adanya. Kenapa kau nanya gitu.
Gw: Mau introspeksi diri aja
DS : Iyalah, kau baik kok. Kenapa emang, ada yang jelek-jelekin kau?
Gw : Kalo ada emang mau kau apakan?
DS : Gak diapa-apakan sih.
Gw : Tapi emg gak keliatan ya?
DS : Apanya?
Gw. Hm, susah bilangnya.
DS : Bilang aja. Kan udah sama-sama gede.
Gw : Justru itu. Malu (demi apapun bilang ini geli banget)
DS : Gpp lah. Bilang aja. Daripada disimpan-simpan dalam hati, nyesek loh.
Emang nyesek..
Gw : Kayaknya sih keliatan aja. Kau aja yang pura-pura gak liat.
DS : Maksudnya?
Gw: Asdfghjkl
DS: Belajar abjad? ABCD?
Gw: Masa aku mesti bilang..
DS : Haruslah. Biar aku ngerti maksud arah pembicaraan kita ini.
OMG!
Kita? Pembicaraan kita???
Gw: Pura-pura tidur ah.
DS: Gak nyambung udah nih, tidurlah. Udah malam ini.
Gw: Gak bisa. Nyesek.
DS : Kalau maksudmu utk pacaran, maaf ya aku belum ada kepikiran kesitu. Aku masih pengen temenan aja.
JLEB!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Gue bisa lihat pesan itu tanpa membuka (read). Gue sengaja gak buka itu pesan hingga keesokan harinya.
Sialnya malam itu gue gak bisa tidur sampe jam 3 pagi. Gelisah. Gue ditolak, bahkan sebelum menyatakan..
Ini bahkan lebih nyesek dibanding cinta terpendam!
HEBATNYA, keesokan pagi jam 6 gue bisa terbangun dan langsung sakit perut pas ingat kejadian tadi malam. Sekedar memastikan bahwa itu bukan mimpi, gue buka lagi WA gue dan..
JLEB KUADRAT PANGKAT TIGA!!!
It's REAL ..
BERPIKIR bahwa gue gak boleh terlihat rapuh, gue pun balas pesan itu,
Gw: Enggak kok, Aku juga gak kepikiran kesitu. Cuma masih sekedar suka aja. (06.06)
Satu setengah jam kemudian dia balas,
DS: Baguslah, menurutku lebih bagusan berteman jadi lebih bebas. Tapi aku boleh nanya samamu? (07.35)
Pesan itu sengaja lama gak gue read.
Gw: Nanya apa (10.51)
DS: Apa yang kau suka dari aku? Apa yang kau liat dari aku? (10.59)
Gw: Bisa kan gak kujawab ini. Entar yang ada kau malah ke-GR-an (15.15)
DS: Oh yaudah terserahmu. Aku cuma penegn tau aja (16.02)
Gw: (Read)
Jadi pengen nyanyi Kodaline, All I Want...
Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I'll find somebody
Suatu hari gue pernah nanyain tentang topik penelitiannya dia yang ada hubungannya dengan penelitian gue. Saat itu gue bukan modus. Tapi lagi butuh pencerahan beneran. Gue chat dia dan dibalas, "Ini bukan modus, kan?"
Gue be like : Yakali gue modus gak kenal waktu!
Dia malah datang langsung ke kos gue. Malam besoknya, ketika ibu kos gak ada di rumah dan rumah dititipkan ke gue, kami berempat masak sup daging babi. Enak tenan! Kokinya? Gue jelas.
"Ternyata dia bisa juga masak ya, aku udah khawatir tadi ini semua gak bisa dimakan," kata DS disela makan bersama kami.
"Enak aja, kau kira gimana aku di Kalimantan bertahan hidup kalau gak bisa masak?" balas gue.
Namun, saat-saat kelam pun mulai tiba. DS udah jarang main ke kos kami. Dia udah mulai fokus sama laporannya. Mengingat waktu dia di perusahaan juga mulai habis. Gue jadi gak pernah lagi ngeliat dia. Ada satu momen kampret waktu AL ngasih tau gue kalau si DS pulang malam itu juga ke Bangka. Gue otomatis shock. Iya bukan siapa-siapa dia sih, tapi tetep aja gue gak bisa terima kenyataan. Gue masih ingin kenal dia lebih dekat. Malam itu juga, gue ikut ke kosan DS. Di tengah perjalanan menuju ke sana, gue udah ngerangkai kalimat perpisahan yang bakalan gue ucapin. Anehnya, gue malah jadi kreatif nyusun kalimat-kalimat dari tontonan yang pernah gue liat.
WTF!!!
Ternyata yang mau balik malam itu bukan DS, tapi temannya dua orang. Gue acak-acak rambut si AL kampret penyebar kebohongan itu. Jauh-jauh dari ITM malah menebar kebencian (apa seeh!).
Gak lama kemudian, si DS juga giliran mau balik. Dia udah acc laporannya sama pembimbing lapangan. Gue tau lewat status dia di WA. Terus gue komen dan bilang supaya dia jangan balik dulu. Jalan-jalan dulu kek, kemana gitu. Pagarayu, eh Pagaralam.. Berhubung juga besoknya adalah hari ultah gue. Demi apa otak gue yang tumpul ini mengharapkan mereka tau dan siapin surprise buat gue. Hanya karena gue sama DS udah berteman di LINE. Tiap ada yang ultah kan, biasanya LINE selalu kirim pemberitahuan gitu.
Ternyata nol GEDE!
Si DS tetap pulang tepat dengan hari ultah gue. Saat itu jam 2 siang dia dengan kopernya berangkat naik bus perusahaan ke Palembang. Gue masih ingat dia ngacak kepala gue pelan. Gak tau apa gue dalam hati jejeritan senang gak karuan. Setelah peluk-pelukan dengan apparanya si AL (gue juga pengen), dia pergi. Dia benar-benar pergi..
Di status WA gue bikin "Safe Trip DS".
Malamnya, gue chat dia nanya udah nyampe apa belum di Palembang. Beberapa menit kemudian dibalas kalo dia udah nyampe. Dengan sok perhatian, gue bilang istirahat aja. Dia balas : Ok, btw selamat ulang tahun ya. Gue balas : Sori, udah telat.
Padahal dalam kamar lompat-lompat di atas kasur.
Gue juga mulai berkutat dengan laporan gue. Satu-satunya syarat yang bisa membebaskan gue dari perusahaan ini adalah acc laporan dan tanda tangan dari pembimbing. Meski tak mudah, semuanya berhasil gue lewati. Saat akhirnya gue dalam perjalanan kembali ke kampus, gue bikin status di WA.
Soundtrack perjalanan ini : Remember Me-Coco
Gak nyampe 2 menit ada yang komen. OMG, si DS!!!
DS : Kau masih di PTBA?
Gw : Menurutmu aja arti status aku gimana?
DS : Kirain masih di sana.
Gw : Biar kutebak. Pasti ada datamu yang kurang terus mintol ke aku mintakan ke Pak Herman (pembimbing gue di satker geoteknik)
DS : Kok tau?
Gw : Udah ketebak.
DS : Yodah deh, hati-hati ya.
Dibilang 'hati-hati ya' itu maknanya berarti banget loh buat gue. Kayak bilang, kalau kamu kenapa-kenapa aku gak bisa hidup. Wkwkwkwkwk. Meski sebenarnya itu gak ada. Pemikiran gue aja yang kejauhan.
Hari-hari berikutnya DS nge-chat lagi buat nanya peta. Kebetulan gue punya ya gue kirim aja via e-mail. Bisa terbilang sering chatingan. Ada-ada aja hal yang dibahas. Hingga akhirnya gue bilang ke dia buat nelpon gue. Tapi tau gak dia balas apa?
Nanti-nanti ya kalo aku gak lupa!
HARUSNYA dari situ gue bisa tarik kesimpulan kalau si DS gak punya rasa tertarik sama gue. Tapi si AL malah meyakinkan gue untuk memastikan dugaan gue tersebut. Maka gue pun tanyakan hal berikut:
DS, menurutmu aku orangnya gimana?
Gue jelas khawatir nunggu balesannya.
DS : Baik, sederhana. Ya apa adanya. Kenapa kau nanya gitu.
Gw: Mau introspeksi diri aja
DS : Iyalah, kau baik kok. Kenapa emang, ada yang jelek-jelekin kau?
Gw : Kalo ada emang mau kau apakan?
DS : Gak diapa-apakan sih.
Gw : Tapi emg gak keliatan ya?
DS : Apanya?
Gw. Hm, susah bilangnya.
DS : Bilang aja. Kan udah sama-sama gede.
Gw : Justru itu. Malu (demi apapun bilang ini geli banget)
DS : Gpp lah. Bilang aja. Daripada disimpan-simpan dalam hati, nyesek loh.
Emang nyesek..
Gw : Kayaknya sih keliatan aja. Kau aja yang pura-pura gak liat.
DS : Maksudnya?
Gw: Asdfghjkl
DS: Belajar abjad? ABCD?
Gw: Masa aku mesti bilang..
DS : Haruslah. Biar aku ngerti maksud arah pembicaraan kita ini.
OMG!
Kita? Pembicaraan kita???
Gw: Pura-pura tidur ah.
DS: Gak nyambung udah nih, tidurlah. Udah malam ini.
Gw: Gak bisa. Nyesek.
DS : Kalau maksudmu utk pacaran, maaf ya aku belum ada kepikiran kesitu. Aku masih pengen temenan aja.
JLEB!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Gue bisa lihat pesan itu tanpa membuka (read). Gue sengaja gak buka itu pesan hingga keesokan harinya.
Sialnya malam itu gue gak bisa tidur sampe jam 3 pagi. Gelisah. Gue ditolak, bahkan sebelum menyatakan..
Ini bahkan lebih nyesek dibanding cinta terpendam!
HEBATNYA, keesokan pagi jam 6 gue bisa terbangun dan langsung sakit perut pas ingat kejadian tadi malam. Sekedar memastikan bahwa itu bukan mimpi, gue buka lagi WA gue dan..
JLEB KUADRAT PANGKAT TIGA!!!
It's REAL ..
BERPIKIR bahwa gue gak boleh terlihat rapuh, gue pun balas pesan itu,
Gw: Enggak kok, Aku juga gak kepikiran kesitu. Cuma masih sekedar suka aja. (06.06)
Satu setengah jam kemudian dia balas,
DS: Baguslah, menurutku lebih bagusan berteman jadi lebih bebas. Tapi aku boleh nanya samamu? (07.35)
Pesan itu sengaja lama gak gue read.
Gw: Nanya apa (10.51)
DS: Apa yang kau suka dari aku? Apa yang kau liat dari aku? (10.59)
Gw: Bisa kan gak kujawab ini. Entar yang ada kau malah ke-GR-an (15.15)
DS: Oh yaudah terserahmu. Aku cuma penegn tau aja (16.02)
Gw: (Read)
Jadi pengen nyanyi Kodaline, All I Want...
Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I'll find somebody

Tidak ada komentar:
Posting Komentar