Minggu yang lalu dengan sangat tiba-tiba dan dadakan tanpa ada peringatan sebelumnya, aku diajak seorang teman ikut kegiatan survey pilkada di desa-desa. Sabtu itu udah malam jam 8 kurang saat pintu kosku diketuk. Aku yang lagi ngedit bab 3 proposal skripsi pun berhenti sejenak.
"Kak, buka dulu pintunya."
Itu pasti si Sinta. Dari ketukan yang gak sabaran.
"Kalau gak penting, gak usah, Sin. Besok aja," aku melanjutkan mengetik.
"Justru ini penting banget, Kak."
Dasar soto ayam. Aku memutar kunci pintu. Begitu di buka dia langsung nyerocos.
"Kakak mau ikut survey di Lamandau?"
Aku udah pernah dengar teman seangkatanku ikut kegiatan begituan. Tapi fee-nya gak tau dapat berapa. Kerjaannya wawancara warga desa buat diisi dalam kuesioner. Tapi fee-nya gak langsung cair saat itu juga. Sekitar 1-2 bulan ke depan baru ditransfer ke rekening. Yang penting sih banyakin dapat kuesioner aja, biar bayaran makin banyak.
"Gajinya berapa?"
"Hitungannya per kuesioner. Per kuesionernya 15 ribu. Makan, penginapan sama jajan juga dikasih kok."
Terlihat tidak terlalu buruk.
Tapi proposalku? Aku mau konsul hari Senin. Sudah janji sama ortu bakalan ngejar wisuda Agustus ini.
"Berapa hari, Sin?"
"Kamis udah balik."
Njirrr!
Aku juga butuh uang sih, mau beli printer. Yaudah ikut aja. Kamis juga udah balik kok. Entar Kamis langsung konsul. (batin)
"Oke, I'm in."
Kata Sinta kami berangkat malam itu juga jam 10 malam. Tapi seorang ibu yang nelpon aku bilang kami berangkat jam 11-an. Karena hanya 4 hari aku cuma packing kemeja 2 pasang, 2 kaos, 2 jins dan celana trening. Sabun sama handuk. Yang paling penting : antimo !
Ternyata yang ikut semuanya mahasiswa dan semuanya orang batak. Emang pinter ya, cari uang. Aku gabung sama tim yang kesemuanya cowok. Leader kami (TL) Pak Rusdi. Tapi sama dua orang di dalam tim kami nama beliau diganti menjadi Rustam. Malah dikasih marga lagi, Rustam Simanungkalit. Oh iya, yang ngadain survey ini dari lembaga CSRM (kalau gak salah) Jakarta. Aku gak paham betul memang sistemnya kayak gimana. Ada yang bilang, entar hasil survey kami bakalan dijual ke KPU dan dipakai sebagai hasil untuk Quick Count.
Katanya berangkat jam 11 malam, mana ada. Kami baru bergerak menuju Lamandau saat subuh jam dua. Aku terpisah dari Sinta, dia di tim Bu Yuli, yang sebelumnya nelpon aku. Setelah perbekalan bahan bakar, air minum dan snack beres, kita pun go. Beriringan, udah macam konvoi aja.
Katanya berangkat jam 11 malam, mana ada. Kami baru bergerak menuju Lamandau saat subuh jam dua. Aku terpisah dari Sinta, dia di tim Bu Yuli, yang sebelumnya nelpon aku. Setelah perbekalan bahan bakar, air minum dan snack beres, kita pun go. Beriringan, udah macam konvoi aja.
Pak Rusdi, aku, Ferdi dan Bang Eko satu tim. TL kami Pak Rusdi selalu jadi korban 'bullying' cowok berdua itu. Meski kadang aku ikut juga, ikut tertawa. Lagian TL kami kok damai banget jadi orang. Si Ferdi suka ngomong kasar, kadang nyuruh-nyuruh ke luar dari mobil juga buat nanya arah jalan menuju desa. Udah dibilangin biar lebih lembut juga gak mempan. Secara Pak Rusdi hanya belum menikah saja, usianya udah 52. Dihormati, bukan dihargai saja. Menurut cerita beliau sih, gara-gara patah hati. Cewek yang mengkhianatinya itu sampai sekarang belum punya anak katanya.
"Makanya, Be. Dicatat dong yang udah kami selesai isi kuesionernya berapa per orang. Nanti kan, malah gak tau si X berapa, si Y berapa," si Ferdi ngegas. Meski kadang dia gak salah juga. Babe, yah suka-suka merekalah panggil Pak Rusdi siapa. Tapi si Babe emang kadang loading. Masa iya beliau belum tau tim kami kebagian daerah mana padahal kami udah di tengah perjalanan. Tim lain udah nyebar.
Rule number 1 : Jangan pernah memberikan kertas kuesioner kepada orang yang diwawancarai.
Rule number 2 : Jangan pernah membacakan pertanyaan di dalam kurung.
"Permisi, Bu. Saya mahasiswa dari kampus Palangka Raya. Saya sedang ada penelitian skripsi untuk gelar sarjana. Kebetulan jurusan saya Ilmu Pemerintahan, jadi saya meneliti tentang seberapa dekat rakyat mengenal calon bupati Lamandau 2018. Jadi saya ingin tanya-tanya beberapa hal. Kira-kira ibu bersedia, tidak ya?"
Itu adalah pertanyaan yang sama kuucapkan setiap mengetuk pintu dan bertemu warga. Demi apa, aku bahkan mengganti jurusanku dan menyebut-nyebut soal skripsi tentang politik? Kami memang gak boleh bilang ke warga kalau kami dari tim survey Jakarta buat ngitung perolehan Quick Count. Bisa-bisa digiring nanti ke kantor kepala desa. Dari kantor kepala desa digiring ke kantor polisi. Beberapa warga ada juga yang langsung menolak, karena sedang sibuk atau takut aku dari mata-mata salah satu paslon. Ada juga yang dari awal bilang, "Wah, Mbak saya gak tau apa-apa soal itu. Tanya suami saya aja di sebelah."
Ternyata lagi nongkrong di warkop gitu, rame banget. Aku langsung pamit. Rule number 3, jangan mewawancarai di tempat orang yang berkumpul rame.
Perjuangan tim mencapai desa tidak mudah. Berbekal tanya penduduk dan GPS HP-ku. Itupun kalau sinyal masih terjangkau. Sering tiba-tiba GPS-nya bilang, 'Sinyal GPS hilang.' Seketika kami ber-yaahh kecewa ria.
Perjuangan tim mencapai desa tidak mudah. Berbekal tanya penduduk dan GPS HP-ku. Itupun kalau sinyal masih terjangkau. Sering tiba-tiba GPS-nya bilang, 'Sinyal GPS hilang.' Seketika kami ber-yaahh kecewa ria.
Ada warga yang sangat-sangat baik mempersilahkan masuk ke rumahnya. Yang gak ingat usianya berapa, langsung ke kemar ngambil setumpuk berkas-berkas akta kelahiran. Gini nih yang bikin gak enak. Ngerepotin. Aku sempat shock waktu pamit dimintai menuliskan nama sama jurusan dan kampus di selembar kertas. Setelah menimbang gak ada buruknya, aku menurut saja.
"Siapa tau nanti mbak-nya kerja di desa ini, jurusan ilmu pemerintahan kan tadi?"
Aku terpaksa mengangguk lemah.
Tolong, skripsi gue bisa-bisa mengutuk gue karena selingkuh dengan ilmu pemerintahan. ..
Tolong, skripsi gue bisa-bisa mengutuk gue karena selingkuh dengan ilmu pemerintahan. ..
Satu lagi yang penting adalah jangan mewawancarai seorang PNS. Kenapa? Sebab mereka pegawai pemerintah. Mereka tidak akan menjawab hal-hal seperti, siapa yang menurut anda akan memenangkan pilkada ini? Mungkin aku malah diseret ke alun-alun desa. Tapi aku malah sempat mengetuk pintu rumah seorang PNS. Keluar anaknya.
"Pak, ada tamu."
Aku terperanjat saat yang keluar adalah bapak kaos kutang dan celana PNS. Ituloh, yang warna kuning keemasan. Atau kuning kecokelatan kah itu? Pokoknya itu deh. Aku menutupi tujuan awalku dengan menanyakan hal lain.
"Ini, Pak. Saya mau tanya, ini RT berapa ya?"
"RT 02, Mbak."
"Sampai ke ujung sana?"
"Masih RT 02, Mbak."
"Oh, begitu. Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak. Terima kasih."
Jantung rasanya berdetak dua kali lebih cepat saat aku pergi dari sana. Hampir aja..
Ada juga warga yang dengan baik hati menceritakan salah seorang paslon di desanya itu. Bagaimana cara paslon tersebut mendekati rakyat.
"Iya, Mbak. Jadi Pak Rasyid ini adalah pamannya beliau. Kemarin ada bagi-bagi beras. Semua warga dapat."
Aku mencatat info tersebut dalam kuesioner. Berikutnya kukira masih seputar kisah si paslon, ternyata ibu paruh baya tersebut malah curhat tentang keluarganya. Yang mana suaminya menikah lagi. Akhirnya si ibu ini tinggal sendiri. Ank-anaknya sudah menikah dan tinggal di perantauan. Aku tak punya pilihan selain mendengarkan kisah si ibu. Sambil mengangguk dan mengeluarkan seruan ikut terharu.
"Mudah-mudahan si mbak-nya dapat suami yang baik-baik aja. Tidak seperti saya," kata si ibu tersebut ketika aku pamit untuk pergi.
"Amin, Bu," jawabku.
Dari usia warga yang kuwawancarai, tidak sedikit yang masih sangat muda namun sudah menikah. Ada yang 21 tahun, 23 tahun udah punya 3 anak. Ah, mungkin sosialisasi bahaya nikah muda tidak sampai terselenggara ke sini.
Kadang aku iseng menanyakan hal yang tidak ada dalam kuesioner.
"Pak, ada tamu."
Aku terperanjat saat yang keluar adalah bapak kaos kutang dan celana PNS. Ituloh, yang warna kuning keemasan. Atau kuning kecokelatan kah itu? Pokoknya itu deh. Aku menutupi tujuan awalku dengan menanyakan hal lain.
"Ini, Pak. Saya mau tanya, ini RT berapa ya?"
"RT 02, Mbak."
"Sampai ke ujung sana?"
"Masih RT 02, Mbak."
"Oh, begitu. Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak. Terima kasih."
Jantung rasanya berdetak dua kali lebih cepat saat aku pergi dari sana. Hampir aja..
Ada juga warga yang dengan baik hati menceritakan salah seorang paslon di desanya itu. Bagaimana cara paslon tersebut mendekati rakyat.
"Iya, Mbak. Jadi Pak Rasyid ini adalah pamannya beliau. Kemarin ada bagi-bagi beras. Semua warga dapat."
Aku mencatat info tersebut dalam kuesioner. Berikutnya kukira masih seputar kisah si paslon, ternyata ibu paruh baya tersebut malah curhat tentang keluarganya. Yang mana suaminya menikah lagi. Akhirnya si ibu ini tinggal sendiri. Ank-anaknya sudah menikah dan tinggal di perantauan. Aku tak punya pilihan selain mendengarkan kisah si ibu. Sambil mengangguk dan mengeluarkan seruan ikut terharu.
"Mudah-mudahan si mbak-nya dapat suami yang baik-baik aja. Tidak seperti saya," kata si ibu tersebut ketika aku pamit untuk pergi.
"Amin, Bu," jawabku.
Dari usia warga yang kuwawancarai, tidak sedikit yang masih sangat muda namun sudah menikah. Ada yang 21 tahun, 23 tahun udah punya 3 anak. Ah, mungkin sosialisasi bahaya nikah muda tidak sampai terselenggara ke sini.
Kadang aku iseng menanyakan hal yang tidak ada dalam kuesioner.
"Apa yang ibu inginkan dari bupati baru nantinya?"
"Ya mbak, maunya jalanan diperbaiki. Listrik juga bisa masuk ke desa kami. Kemudian mahasiswa yang udah lulus juga bisa diberikan pekerjaanlah supaya tidak banyak yang menganggur."
Aku kadang tertegun mendengar begitu banyak hal yang mereka harapkan dari seorang pemimpin baru yang akan lahir. Janji-janji paslon saat kampanye juga tidak jauh dari harapan warga tadi. Namun kenyataan pahit kadang harus diterima. Kebanyakan orang lupa dengan janjinya saat ia sudah berada di posisi yang lebih tinggi.
Bang Soe Hok Gie, rasa-rasanya aku paham perasaanmu saat itu...
--------
Kami menginap di penginapan di kota Lamandau. Satu hal baru kutemukan soal kabupaten ini yaitu ternyata Nanga Bulik itu ada di sini. Di gereja aku sering dengar pengumuman soal pertemuan para pastor di Nanga Bulik. Tadinya kukira Nanga Bulik adalah daerah di Ambon, ternyata di Kalimantan Tengah!
Tentu saja aku sama Sinta ketemu. Kami nginap di kamar yang sama. Tapi besoknya dia dan timnya pergi ke kabupaten seberang Lamandau, sedangkan tim kami dan beberapa lainnya tetap survey di desa yang ada di Lamandau.
Pagi-pagi TL tim kami udah ngirim pesan selamat pagi dalam bahasa inggris. Kubalas aja juga dalam bahasa inggris. Si Babe tuh ya (terikut-ikut nih) gak tau serius atau enggak, katanya bisa menebak kepribadian dari raut wajah. Penasaran, aku pun nanya.
"Terus, kalau saya gimana, Be?"
Si Babe mengerutkan kening lalu menatap wajahku dengan serius.
"Kalau kamu ya, Len. Kamu itu orangnya periang, mudah bergaul sama siapa saja. Suka petualangan juga. Kadang karena kamu terlalu gampang bergabung dengan orang-orang yang kamu baru temui, mereka punya rasa suka sama kamu. Tapi ya kamu itu gak tau saja."
Aku diam karena gak tau mau bilang apa. Dia benar soal petualangan itu. Tapi yang setelahnya itu, masa benar juga??
Kami enggak jadi pulang hari Kamis karena target sudah tercapai saat hari Selasa. Ya, Rabu pagi jam 7 aku sudah kembali lagi di kosku. Namun, karena masih lelah akan perjalanan panjang, aku rebahan sejenak. Gak taunya malah kebablasan tidur sampai sore. Come on, tidur di dalam mobil itu menyakitkan sekali. Kaki gak bisa dilurusin. Tubuh ikut terguncang kalau pas ada jalanan rusak. Kepala ikut neleng ke kiri kalau pas jalanannya belok ke kiri. Jalanan yang gak rata, naik turun seharusnya bikin aku muntah. Eh malah enggak sama sekali.
Yasudahlah, besok aja konsul proposalnya...
--------
Kami menginap di penginapan di kota Lamandau. Satu hal baru kutemukan soal kabupaten ini yaitu ternyata Nanga Bulik itu ada di sini. Di gereja aku sering dengar pengumuman soal pertemuan para pastor di Nanga Bulik. Tadinya kukira Nanga Bulik adalah daerah di Ambon, ternyata di Kalimantan Tengah!
Tentu saja aku sama Sinta ketemu. Kami nginap di kamar yang sama. Tapi besoknya dia dan timnya pergi ke kabupaten seberang Lamandau, sedangkan tim kami dan beberapa lainnya tetap survey di desa yang ada di Lamandau.
Pagi-pagi TL tim kami udah ngirim pesan selamat pagi dalam bahasa inggris. Kubalas aja juga dalam bahasa inggris. Si Babe tuh ya (terikut-ikut nih) gak tau serius atau enggak, katanya bisa menebak kepribadian dari raut wajah. Penasaran, aku pun nanya.
"Terus, kalau saya gimana, Be?"
Si Babe mengerutkan kening lalu menatap wajahku dengan serius.
"Kalau kamu ya, Len. Kamu itu orangnya periang, mudah bergaul sama siapa saja. Suka petualangan juga. Kadang karena kamu terlalu gampang bergabung dengan orang-orang yang kamu baru temui, mereka punya rasa suka sama kamu. Tapi ya kamu itu gak tau saja."
Aku diam karena gak tau mau bilang apa. Dia benar soal petualangan itu. Tapi yang setelahnya itu, masa benar juga??
Kami enggak jadi pulang hari Kamis karena target sudah tercapai saat hari Selasa. Ya, Rabu pagi jam 7 aku sudah kembali lagi di kosku. Namun, karena masih lelah akan perjalanan panjang, aku rebahan sejenak. Gak taunya malah kebablasan tidur sampai sore. Come on, tidur di dalam mobil itu menyakitkan sekali. Kaki gak bisa dilurusin. Tubuh ikut terguncang kalau pas ada jalanan rusak. Kepala ikut neleng ke kiri kalau pas jalanannya belok ke kiri. Jalanan yang gak rata, naik turun seharusnya bikin aku muntah. Eh malah enggak sama sekali.
Yasudahlah, besok aja konsul proposalnya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar