Rabu, 25 September 2019

The Naked (Nekat) Jobseeker

Bukan tanpa pertimbangan aku memutuskan untuk pindah ke ibukota, Jakarta. Setelah hampir menganggur satu tahun, setelah berjanji tidak akan meninggalkan dinding kos yang sudah kusulap dengan wajah-wajah member BTS dan menyemprotkan filox simbol 'BTS' dan 'ARMY' di dindingnya, akhirnya hari itu datang juga. Rela tak rela, suka tak suka - kepindahan ini harus terjadi. Untuk memulai sebuah kisah yang baru, seseorang harus berani meninggalkan kisah yang lama. Dalam artian bukan benar-benar melupakan, melainkan ambil pelajaran bermakna dari pengalaman lama. 

Pertama, ibukota adalah pusat bisnis. Di sana berpuluh bahkan beratus kantor berbagai jenis perusahaan berada di sana. Hampir setiap jam ada loker yang dibuka jika kita cek di aplikasi jobseeker online, seperti Jobstreet, Jobsdb dll. Hal ini sangat berkebalikan dengan loker di kota Palangka Raya. Tiap hari mungkin ada satu loker yang tampil di web-nya. Bayangkan satu loker diperebutkan berpuluh-puluh orang di sini. 

Peluang loker di Jakarta tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang mentalnya kuat, punya prinsip dan tentu membawa dampak positif bagi perusahaan. Namun perlu diketahui jika semua orang berpikiran sepertiku, artinya persaingan dalam mendapatkan pekerjaan juga sangat ketat. Apalagi aku adalah orang yang tak punya siapa-siapa sebagai orang dalam yang bisa kuharapkan untuk membantuku diterima bekerja di sebuah perusahaan. 

Kedua, Jakarta adalah kota dimana kau bisa menemukan apa saja yang kau cari. Aku bercita-cita menjadi penulis, artinya aku semakin dekat dengan impianku karena di sana banyak sekali perusahaan yang merupakan penerbit buku berbagai genre. Salah satu incaranku adalah Penerbit Gagasmedia yang menerbitkan novel komedi sejenis pelit (personal literatur). Aku tau mungkin ini pemikiran agak dangkal. Pindah ke Jakarta supaya lebih dekat dengan penerbit, padahal sekarang para penulis karyanya gak mesti diterbitkan dan menjadi buku fisik kok. Banyak penulis yang karyanya dipublikasikan di dunia maya, online. Karena banyak yag baca, kemudian diterbitkan dan jadilah wujud buku. Tapi jangan salahkan pola pikirku ini. Beda kepala, beda pemikiran. Mungkin aku tipe orangnya kebalikannya, diterbitkan dulu baru dibaca banyak orang (bestseller). 

Ketiga, keyakinan bahwa semakin besar masalah yang kau hadapi, semakin banyak jenis orang yang kau temui, semakin kompleks tempat tinggalmu, akan melatihmu menjadi pribadi yang tangguh, kritis dan semakin kebal menjalani kenyataan hidup. Kau tau, aku berangkat ke Jakarta bermodalkan uang pinjaman untuk membeli tiket pesawat. Aku bahkan belum tau nanti tinggal dimana (biaya kos disana pasti selangiiittt). Sementara ini, kurencanakan numpang di sekre WALHI karena dari bandara aku bakalan nyampe malam jam 20.10 Sabtu, 28 September 2019 nanti. 

Modalku untuk bertahan hidup di kota metropolitan itu hanya dua buah celengan kaleng yang dulunya uang di dalamnya kutabung untuk membeli tiket konser BTS jika suatu hari di 2019 atau setelahnya mereka kembali mengadakan konser di Indonesia. Isinya? Hm, kuisi dengan uang dua ribuan, kadang sepuluh ribuan. Tak pernah dengan uang 100 ribu. Iya, I know lagi-lagi BTS. Aku benar-benar belum dewasa karena belum bisa lepas dari bayang-bayang ketujuh pria tampan itu. Tapi jangan salah, merekalah yang memotivasiku untuk tetap semangat berusaha mewujudkan impian. Ya, tujuh orang itu dari agensi tak terkenal menjadi seterkenal sekarang.  

Aku tidak bisa membawa semua barang-barangku setelah 6 tahun hidup di pulau, err kota ini. Banyak yang kutinggalkan termasuk novel-novelku sekardus besar, peralatan masak dan makan, sepatu-sepatu, gitar, bantal dan sekardus besar baju. Inilah resiko kuliah jauh di luar pulau. Dalam kasusku ini aku dua kali luar pulau, karena Sumatera dan Kalimantan dipisahkan oleh pulau Jawa. Satu-satunya yang mungkin bisa kubawa untuk kutenteng di dalam pesawat bersamaku (mengingat pesawat garuda hanya gratis 20 kg bagasi) hanyalah rice cooker kecil merk miyako yang sudah setia menemaniku kurang lebih 5 tahun ini. Mungkin di dalam kardusnya nanti bisa kuselipkan satu piring, cangkir dan sendok. Di Jakarta nanti bisalah beli beras, terus rebus telur. Menu makan sampai dapat pekerjaan. 

Menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru. Rasanya seolah jadi mahasiswa baru lagi. Kuharap bisa secepatnya menemukan pekerjaan dan punya penghasilan sendiri. Sekeras apakah kota metropolitan itu?

Tunggu kisahnya di tulisan selanjutnya ...

The Naked Jobseeker













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...