Bukan tanpa pertimbangan aku memutuskan untuk
pindah ke ibukota, Jakarta. Setelah hampir menganggur satu tahun, setelah
berjanji tidak akan meninggalkan dinding kos yang sudah kusulap dengan
wajah-wajah member BTS dan menyemprotkan filox simbol 'BTS' dan 'ARMY' di
dindingnya, akhirnya hari itu datang juga. Rela tak rela, suka tak suka -
kepindahan ini harus terjadi. Untuk memulai sebuah kisah yang baru, seseorang
harus berani meninggalkan kisah yang lama. Dalam artian bukan benar-benar
melupakan, melainkan ambil pelajaran bermakna dari pengalaman lama.
Pertama, ibukota
adalah pusat bisnis. Di sana berpuluh bahkan beratus kantor berbagai jenis
perusahaan berada di sana. Hampir setiap jam ada loker yang dibuka jika kita
cek di aplikasi jobseeker online, seperti Jobstreet, Jobsdb
dll. Hal ini sangat berkebalikan dengan loker di kota Palangka Raya. Tiap hari
mungkin ada satu loker yang tampil di web-nya. Bayangkan satu loker
diperebutkan berpuluh-puluh orang di sini.
Peluang loker di
Jakarta tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang mentalnya kuat, punya
prinsip dan tentu membawa dampak positif bagi perusahaan. Namun perlu diketahui
jika semua orang berpikiran sepertiku, artinya persaingan dalam mendapatkan
pekerjaan juga sangat ketat. Apalagi aku adalah orang yang tak punya
siapa-siapa sebagai orang dalam yang bisa kuharapkan untuk membantuku diterima
bekerja di sebuah perusahaan.
Kedua, Jakarta
adalah kota dimana kau bisa menemukan apa saja yang kau cari. Aku bercita-cita
menjadi penulis, artinya aku semakin dekat dengan impianku karena di sana
banyak sekali perusahaan yang merupakan penerbit buku berbagai genre. Salah
satu incaranku adalah Penerbit Gagasmedia yang menerbitkan novel komedi sejenis
pelit (personal literatur). Aku tau mungkin ini pemikiran agak dangkal. Pindah
ke Jakarta supaya lebih dekat dengan penerbit, padahal sekarang para penulis
karyanya gak mesti diterbitkan dan menjadi buku fisik kok. Banyak penulis yang
karyanya dipublikasikan di dunia maya, online. Karena banyak yag baca, kemudian
diterbitkan dan jadilah wujud buku. Tapi jangan salahkan pola pikirku ini. Beda
kepala, beda pemikiran. Mungkin aku tipe orangnya kebalikannya, diterbitkan
dulu baru dibaca banyak orang (bestseller).
Ketiga, keyakinan
bahwa semakin besar masalah yang kau hadapi, semakin banyak jenis orang yang
kau temui, semakin kompleks tempat tinggalmu, akan melatihmu menjadi pribadi
yang tangguh, kritis dan semakin kebal menjalani kenyataan hidup. Kau tau, aku
berangkat ke Jakarta bermodalkan uang pinjaman untuk membeli tiket pesawat. Aku
bahkan belum tau nanti tinggal dimana (biaya kos disana pasti selangiiittt).
Sementara ini, kurencanakan numpang di sekre WALHI karena dari bandara aku
bakalan nyampe malam jam 20.10 Sabtu, 28 September 2019 nanti.
Modalku untuk
bertahan hidup di kota metropolitan itu hanya dua buah celengan kaleng yang
dulunya uang di dalamnya kutabung untuk membeli tiket konser BTS jika suatu
hari di 2019 atau setelahnya mereka kembali mengadakan konser di Indonesia.
Isinya? Hm, kuisi dengan uang dua ribuan, kadang sepuluh ribuan. Tak pernah
dengan uang 100 ribu. Iya, I know lagi-lagi BTS. Aku
benar-benar belum dewasa karena belum bisa lepas dari bayang-bayang ketujuh
pria tampan itu. Tapi jangan salah, merekalah yang memotivasiku untuk tetap
semangat berusaha mewujudkan impian. Ya, tujuh orang itu dari agensi tak
terkenal menjadi seterkenal sekarang.
Aku tidak bisa
membawa semua barang-barangku setelah 6 tahun hidup di pulau, err kota ini.
Banyak yang kutinggalkan termasuk novel-novelku sekardus besar, peralatan masak
dan makan, sepatu-sepatu, gitar, bantal dan sekardus besar baju. Inilah resiko
kuliah jauh di luar pulau. Dalam kasusku ini aku dua kali luar pulau, karena
Sumatera dan Kalimantan dipisahkan oleh pulau Jawa. Satu-satunya yang mungkin
bisa kubawa untuk kutenteng di dalam pesawat bersamaku (mengingat pesawat
garuda hanya gratis 20 kg bagasi) hanyalah rice cooker kecil
merk miyako yang sudah setia menemaniku kurang lebih 5 tahun ini. Mungkin di
dalam kardusnya nanti bisa kuselipkan satu piring, cangkir dan sendok. Di
Jakarta nanti bisalah beli beras, terus rebus telur. Menu makan sampai dapat
pekerjaan.
Menyesuaikan diri
lagi dengan lingkungan baru. Rasanya seolah jadi mahasiswa baru lagi. Kuharap
bisa secepatnya menemukan pekerjaan dan punya penghasilan sendiri. Sekeras
apakah kota metropolitan itu?
Tunggu kisahnya di
tulisan selanjutnya ...
![]() |
| The Naked Jobseeker |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar