Saatnya bergabung di dunia
nyata !
Begitu kata salah seorang kawan setelah mengucapkan selamat atas
wisudaku tempo hari. Dalam hati aku merenungi, apakah selama ini aku hidup di
dunia dongeng?
Sudah lewat tiga minggu sejak hari wisuda. Transkrip nilai sudah bisa
diambil dari fakultas namun ijazah belum keluar dari universitas. Selama 3
minggu ini pula aku merenung sambil menunggui stand pekerjaan part time-ku.
Ngomong-ngomong bulan Juli ini akan genap setahun aku bekerja di sana. Aku
merenung soal impian yang kini menjadi semakin jauh dan kabur dari pandangan. Aku
tak tahu apakah ada perusahaan tambang yang menerima fresh graduate? Nyatanya kebanyakan
persyaratan di kualifikasi yang dibutuhkan dari loker yang kubaca mengharuskan
punya pengalaman minimal 2 atau 3 tahun. Perekrut juga menyebut-nyebut soal
sertifikat keahlian yang dimiliki dan penguasaan software di dunia teknik
pertambangan.
Kuberi tau, aku tidak punya semua itu!
Aku hanya mahasiswi yang ketika lulus SMA tidak pernah ikut bimbingan
belajar dan lulus di perguruan tinggi (tak peduli jurusan apa) negeri adalah keharusan.
Itulah yang terjadi. Aku tidak mengenali bakat, kemampuan, hal yang kusukai
yang ingin kuperdalam dan kujadikan profesi. Tidak ada seperti itu. Sekarang
aku takut jadi pengangguran di dunia yang perputaran uangnya cepat ini. Semua
aktivitas di kampus yang kulakukan tidak ada yang berhubungan dengan major yang kuambil. Malah bertentangan. Aku
bergabung dengan organisasi pecinta alam, sementara jurusanku fokus membabat
alam. Tidak konsekuen. Anda ini mau jadi aktivis lingkungan atau miner? Kira-kira begitulah reaksi yang
muncul dari HRD yang kukirimi CV dan lamaran kerjaku. Kalau memang ada yang
baca, dari semua yang kukirimi.
Dilematis.
Aku punya tiga orang adik lagi. Semuanya masih dalam pendidikan. Kedua orang
tuaku tidak punya hasil pertanian yang tetap. Sehingga muncul pikiran, ‘kerja
dimana aja, asalkan bisa punya pekerjaan tetap secepatnya, berpenghasilan dan
tidak dikirimi uang lagi oleh kakak'. Ah ya, aku sudah bilang supaya jangan
dikirimi uang bulanan lagi. Nyatanya belum bisa, sehingga aku memintanya hanya
mengirim 50% saja.
Andai saja, hidup ini 40% seperti cerita di drama...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar