Aku ingin jadi penulis.
Tetapi satu-satunya lomba menulis yang pernah kumenangi hanyalah lomba cerpen bertema Kisah Gokil SMA yang diadakan oleh ANDI Publisher. Aku gak tau ada berapa peserta yang mengikuti perlombaan ini. Yang kutahu dari semua karya, cerpen abal-abal yang kutulis yang diangkat dari kisah nyata kehidupanku saat ngekos di pesisir Danau Toba, Ambarita ini masuk dalam 15 karya terbaik. Ini terjadi pada tahun 2014, aku baru semester 2 atau 3 berusia 18 atau 19 tahun mungkin. Aku mengikuti lomba karena desakan keuangan di kala itu. Setelah membaca total hadiah yang ditawarkan, semangat berapi-api muncul.
Namun, aku belum paham kenapa kata ganti orang pertama tunggal yang digunakan memakai 'gue' bukan 'saya' atau 'aku'. Mungkin supaya terdengar keren. Tanpa berlama-lama lagi, let's kill this love read these story..
(Ini untuk keperluan mengabadikan masa lalu 👀)
Ngekos? Siapa Takut!
Ngekos itu artinya penderitaan. Kita dituntut mandiri. Mulai dari cuci kolor sendiri, masak makanan sendiri, bangun pagi, ke kamar mandi sendiri, sampai buka baju pun harus bisa sendiri. Kalau loe belum bisa lakuin yang terakhir itu, gue saranin loe ketemu Doraemon aja dulu. Pinjem mesin waktunya, terus balik ke masa waktu loe masih bayi. Bukan apa-apa sih, gue cuma ingin loe memastikan kalau waktu bayi loe emang diurus sama ortu, bukan sama makhluk hidup di hutan macam Tarzan.
Nah, yang gue sebutin tadi belum seberapa sama yang gue alami. Bayangin aja, gue yang masih kelas 1 SMA mesti hidup di dua alam. Bukan, gue bukan amfibi! Gue mesti sekolah sambil nyari uang. Nyari uang yang gue maksud di sini gampang dan mudah. Caranya : Jualan Pulsa. Bisnis ini gue jalanin bukan karena keadaan yang memaksa, tetapi karena uang kiriman ortu enggak cukup buat biaya gue (ini mah emang keadaan!). Awalnya gue bilang bisnis ini gampang dan mudah, ternyata tidak selamanya demikian. Teman-teman di kos dan sekolah mulai bertingkah. Mereka mulai ngebon dan lama baru bayar. Apalagi di sekolah. Tiap jam istirahat gue gak pernah ke kantin. Jam istirahat buat gue adalah waktunya menagih utang ke tiap-tiap kelas. Ini adalah awal mereka manggil gue rentenir. Gue datang lengkap dengan catatan hutang mereka. Tapi apa? Mereka punya banyak alasan.
"Aduh, sori ya. Aku lupa tadi minta uang ke papa aku. Beliau buru-buru terbang ke Paris."
Padahal gue kenal betul bapaknya jualan mi goreng di persimpangan lampu merah, yang pelanggannya rame betul. Boro-boro ke Paris.
Ada juga alasan, "Wah gimana kalau besok aja. Uangku ketinggalan."
Padahal di dua kali jam istirahat makan dua kali di kantin, bakso paket lengkap.
Ada juga yang malah curhat, "Tadi pagi hujan, terus kami ada ulangan Matematika padahal aku malamnya belajar Bahasa Inggris."
Kalau udah begitu, gue pengen rasanya nelan semua tuh manusia tanpa air. Langsung nelan.
Di kos kami ada 9 helai manusia. Kenapa helai? Karena kami adalah anak kos yang menikmati hidup apa adanya dan ada apanya. Kami tidak luput dari penyakit kantung kering yang kerap menyerang para koser (sebutan untuk orang yang ngekos). Sampai uang kos pun bisa nunggak beberapa bulan. Kalau sudah begitu, Grand'Ma Herti wanita tua pemilik kos yang berusia 85-an akan datang untuk menagih. Tak lupa dengan sapu terbangnya yang dipakainya untuk melempar kami jika kami melarikan diri. Gue udah sering luput dari lemparan Grand'Ma. Tentunya ini membuat beliau semakin bernafsu ingin mengenai kepala gue. Untung gue gak sambil memeletkan lidah.
Suatu sore yang sepoi.
Pintu kos digedor (pintu selalu kami tutup dari dalam). Awalnya sih diketuk, tapi lama-kelamaan digedor.
"BUKA PINTUNYAAA...!!!"
Mendadak semua kegiatan yang kami ber-9 lakukan akan terhenti sejenak dan kita saling tatap-tatapan satu sama lain. Makna tatapan itu : haruskah kita buka pintunya?
Kegiatan mencomoti dinding kayu kos sebagai kayu bakar (minyak tanah di kompor habis) terhenti.
Kegiatan mencoreti dinding dengan nama-nama member kos terhenti.
Kegiatan menjat kelapa di belakang rumah oleh gue terhenti.
Karena pintu tak kunjung dibuka, Grand'Ma melakukan penggebrakan. Engsel pintu terlepas! Sungguh beliau seorang wonder woman with her broomstick.
"Iyha Nek, awda afhaa?" aku bergegas menyapa beliau sambil berusaha menghabiskan sisa kelapa di mulutku.
"Ada apa ada apa. Mana uang kos kalian?! Sampai sekarang belum ada yang bayar, sudah menunggak 3 bulan!" Grand'Ma menatap tajam dan mengarahkan telunjuknya ke kami.
"Bulan depan pasti lunas semua, Nek. S-E-M-U-A," Kiky, cewek paling kecil dalam komplotan ini mengeja kata semua lambat-lambat untuk menunjukkan kesungguhan hatinya yang .. palsu.
Tiba-tiba dari luar kos ada teriakan bocah, "NEK, TADI KAK MAGDALENA MANJAT KELAPA LAGI..!!!"
Gue kenal tuh suara. Bocah dekil pecicilan ompong yang jahilnya minta ampun. Kemarin dia minta kelapa muda yang baru gue panjat namun gue tolak. Ternyata dia ingin balas dendam dengan mengadukan gue ke Grand'Ma Herti. Asem. Sebelum Grand'Ma sempat menghunuskan sapunya, gue segera melarikan diri. "Kelapanya jatuh sendiri, Nek pas aku goyang-goyang," teriakku sambil berlari.
Di lain hari, perang dingin dengan Grand'Ma kembali berlanjut. Kami semua sedang di sekolah. Pintu kos tidak punya gembok, sehingga dibiarkan tertutup seadanya. Lagian satu-satunya harta berharga milik anak kos macam kami hanyalah nafas ini. Tak lebih tak kurang.
Ketika pulang sekolah dan hendak mencolokkan nasi, gue mendapati bahwa rice cooker sudah raib. Kami berpencar mencarinya. Oke, gue koreksi. Hal paling berharga bagi anak kos macam kami adalah alat penanak nasi itu. Setelah celingukan sana-sini, akhirnya gue temukan benda itu terkulai dengan kabelnya di kolong rumah kosong di samping kos. Besar dugaan gue ini memang perbuatan Grand'Ma Herti. Ini adalah balas dendam beliau. Apalagi menurutnya rice cooker adalah penyebab utama tarif listrik kos kami mahal dan sudah dilarang gue pakai.
Yang namanya anak kos, rentan dengan yang namanya kelaparan. Gue adalah orang yang paling gak bisa nahan lapar. Suatu sore gue ajak dua orang teman kos buat ngambil mangga di ladang orang (baca : nyuri). Kami pun beraksi. Lemparan gue dua kali tepat sasaran. Ketika lemparan ketiga akan meluncur, sebuah suara yang berisi makian menyapa kami dari kejauhan. Ya, beliau adalah si pemilik ladang. Melihat parang di tangannya, sontak gue teriak," LARIIII..!!!"
Dengan susah payah akhirnya kami tiba di kos. Tapi gue yakin si bapak tadi pasti mengejar kami sampai ke sini. Segera muncul ide di otak gue,
"Ayo cepat ganti baju kalian supaya kita tidak dikenali!"
Kami dengan tergesa-gesa menyambar baju apa saja dari dalam gulungan pakaian di lemari. Setelah selesai, kami duduk di depan kos.
Ternyata dugaan gue tidak melesat. Si bapak muncul dengan nafas ngos-ngosan. Beliau mengamati kami lekat-lekat. Gue mencoba untuk tetap tenang dan tidak gugup supaya tidak berakhir dengan parang tajamnya.
"KALIAN YANG TADI MENCURI MANGGA DI LADANG SAYA, KAN?"
"Maaf, Pak. Mangga yang mana ya? Kami seharian ini di kos, ya maksudnya setelah pulang sekolah. Iya, kan?" kata gue meminta dukungan kedua teman kos gue. Keduanya mengangguk tertekan.
"ALAH, JANGAN BOHONG KAMU. SAYA LIHAT DAN INGAT BETUL WARNA BAJUNYA. MERAH, BIRU, HITAM!"
Kami bertiga sontak melihat warna baju yang kami pakai. Betapa terkejutnya kami sebab perkataan si bapak itu benar.
Busyett..
Gak ada gunanya kami mengganti baju. Tujuan kami kan, mau menghilangkan jejak, ini malah...
Tadinya gue pakai baju hitam, terus diganti jadi baju biru. Teman gua yang satu tadinya pakai baju biru, terus dia ganti jadi baju merah. Teman yang satunya lagi tadinya pakai baju merah, terus dia ganti hitam.
Dengan sisa keberanian yang gua miliki, gue kembali teriak, "LARIIIIIIIIII...!!!"
Sambil berharap dalam hati, si bapak tidak akan melemparkan parangnya ke arah kami just like Grand'Ma Herti.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar