Setelah pulang kampung untuk
minta doa restu ortu, aku kembali lagi ke Jakarta. Tiga minggu di kampung
membuatku sadar bahwa sarjana yang pengangguran dipandang hina di kampung kami.
Hahaha. Tak tahan, aku pun memutar haluan. Meski belum tau apakah ada perusahaan
mau menerima karyawan yang hanya bertahan 3 bulan di pekerjaan lamanya.
Bapak dan mamakku jelas khawatir.
Ingin kukatakan, ‘Mom, Dad. Percayalah, anakmu ini akan sukses
dengan caranya sendiri. Jangan khawatir, seorang laki-laki baik juga akan
menemukanku’. Tapi tak pernah kukatakan.
Sesuatu menungguku di Jakarta. Virus
corona yang awalnya bermula dari Wuhan China kini sudah sampai ke Jakarta.
Pemerintah mengeluarkan instruksi untuk meliburkan sekolah, kantor-kantor bekerja
dari rumah dan menutup tempat umum. Itu artinya juga tidak ada perusahaan yang
membutuhkan karyawan baru saat ini. Mungkin setidaknya hingga akhir Maret.
Aku pun terperangkap di kamar
kosan apartemen sepupuku di Tangerang. Sepupuku itu udah pulang ke kampung dan resign dari pekerjaannya karena terkena bronchitis. Aku dimintai tolong untuk
mengirimkan barang-barangnya. Uh, gaya hidup orang-orang yang tinggal di sini
mewah. Kutebak gajinya juga pasti di atas 6 juta? Atau bahkan 8 juta ke atas?
Sepupuku itu juga pasti bergaji gede. Secara, dia kerja di perusahaan BUMN,
gitu loh. Gak heran ketika kubuka kunci kamarnya yang kuminta dari sekuriti,
seabrek box sepatu bermerk menyapaku dekat pintu. Kubuka laci lemarinya,
berbotol-botol parfum mahal berjejer di sana. Lengkap dengan peralatan skincare lainnya. Pasti kau mengira
sepupuku itu cewek? No, dia cowok.
Melihat peralatan skincare-nya, aku
merasa telah gagal sebagai cewek..
Barang-barangnya buanyaakk banget
yang mau kukirimkan lewat truk. Tapi truknya masih di bengkel. Truk itu dari
kampung mereka, membawa muatan ke Jakarta dan kembali lagi membawa muatan dari
sini. Iyalah barangnya banyak. Emang mau dia apakan gajinya itu kalau gak
belanja? Aku tiba-tiba gak setuju. Di sini ada pengangguran yang tengah pontang-panting,
dia malah resign. Eh tapi dia
gara-gara sakit juga sih.
“Iya, Mak. Aman kok. Kamarnya
selalu kukunci,” aku telponan dengan Mamakku.
“Pastikan aja biar barangnya
secepatnya diambil truk. Siapa yang tau, Nak apa yang terjadi di situ. Kamu gak
kenal siapa-siapa di sana.”
Hm, mamakku benar juga sih.
Sebagai pengangguran aku harus berusaha untuk tidak mengeluarkan sepeser pun
tiap hari. Tapi itu artinya sama dengan mati. Kalau aku mati kelaparan di kamar
ini, gak bakal ada yang tau. Lagian ya, dekat apartemen ini gak ada warteg.
Benar-benar gak recomended tinggal di
sini kalau anda masih pengangguran. Di sinilah aku terjebak. Di kamar kosan
ukuran 4x4. Di luar sana virus sedang berkembang biak. Stay home is the best choice,
even your stomach asking for food.
Malamnya mati listrik. Sempat
tegang, kayak di film-film pembunuhan biasanya aksi dimulai dengan mematikan
listrik. Duh, mana gak ada kenal lagi sama penghuni kamar sebelah. Aku menunggu
di dalam kamar dengan setia. Coba positive
thinking, mungkin aja lagi ada
perbaikan sehingga listriknya dipadamkan bentar. Tapi setelah satu jam,
listriknya masih belum nyala. Aku membuka pintu kamar dengan bantal di tangan
sebagai senjata. Loh kok di luar terang? Yang mati kamar ini aja. Kucek meterannya.
Sisa pulsa : 0.
Huft!
Kekhawatiran yang berlebihan.
Kubuka aplikasi DANA buat beli pulsa listrik. Tapi ditolak. Padahal nomor
meterannya udah benar. Kucek sebelas kali pun, memang itu nomornya. Ku-WA
sepupuku itu, eh ceklis satu. Gak punya pilihan lain, kuketok kamar sebelah.
Terdengar jawaban dalam bahasa
asing. Dia lagi nelpon atau gimana? Kuketok lagi. Muncul laki-laki berkumis.
“Maaf
ganggu, Pak. Ini biasa ngisi listriknya darimana ya, Pak?”
“Don’t speak bahasa,” katanya langsung.
“Hah?
No bahasa, oh, oke. I’m sorry. Enjoy your
meal.”
Entahlah aku gak yakin dia lagi
makan. Pintunya langsung ditutup secepatnya.
Terpaksa turun ke bawah nanyain
sekuriti.
“Harus
ngisi di tower C, mbaknya. Nanti kasih tau nomor unitnya aja.”
Aku
pun berjalan kaki ke tower C. Kampretos sekali, pulsa paling kecil 50.000. Udah
pengangguran, gak punya uang. Eh, malah harus ngisi pulsa listrik kosan orang.
*******
Aku sering asal apply kalau liat loker di web site. Udah
jelas-jelas persyaratannya bilang membutuhkan cowok, aku tetap klik ‘lamar
sekarang’. Udah jelas-jelas diminta berpengalaman kerja minimal 2 tahun, aku
tetap apply. Lagian, aku yakin si recruiter gak mungkin memproses calon
kandidat yang gak sesuai persyaratan kan. Jadi aku klik apply itu semata-mata karena .. bosan, mungkin?
“Dengan
Magdalena?”
“Iya,
saya sendiri.”
Aku udah sempat ngira ini telpon pasti
dari BPJS, soalnya tagihanku udah nunggak 3 bulan.
“Saya dari PT. Fontex, ibu pernah
apply di perusahaan kami dari
jobsdb?”
Loading.
Kayaknya pernah..
“Darimana
tadi, Bu?”
“PT.
Fontex.”
Kok kayak merk celana dalam ya..
Katanya beliau mau undang interview, tapi online. Demi kebaikan bersama, mencegah penyebaran virus corona.
Wah, perdana nih aku,interview online.
Setelah telepon diputus, buru-buru kucek riwayat lamaran kerjaku di jobsdb.
Ternyata memang ada, tapi itu salah satu korban ‘asal apply’-ku. Jelas-jelas di sana syarat calon kandidat :
·
English
fluency is a must
·
At
least 2 -3 years of working experience in the same field
·
Domicile
in South Jakarta
Dari persyaratan itu tak satu pun
aku memenuhi. Bahasa inggris? Aku hanya bisa bilang, ‘I’m fine thank you. And
you?’ Pengalaman kerja? Aku kabur dari pekerjaan sebelumnya setelah bertahan 3
bulan. Domisili? Uhm, saat ini aku menumpang tinggal dengan kawan yang kerja di
perusahaan yang sama dulu, di daerah Jakarta Pusat.
Duh, jangan sampai deh interview online-nya dalam bahasa
inggris.
Mrs. Chaterine membuatkan grup wa
bernama ‘interviewees on 18 March’ untuk menyampaikan teknis interview online kepada semua calon kandidat.
Yap, all conversation in English, man.
Kuliat foto profil kandidat-kandidat lain, hm. Jelas, STRONG CANDIDATES. Aku kebagian jadwal interview jam 14.30 pm.
Hari itu terpaksa aku balik dulu
ke kosan tempat numpang di Jakarta pusat. Malamnya latihan menjawab pertanyaan
interview dalam bahasa inggris. Pertanyaan-pertanyaan seperti :
Ø
Why
do you want to join our company ? (Cause I need money for survive, Ma’m)
Ø
What
are your strengths ? (I can swallow panadol without water)
Ø
What
are your weaknesses ? (My weakness is my too obsess for money)
Ø
How
do you overcome your weaknesses ? (By looking for a job)
Ø
What
type of people do you like much ? (I like people who like to buy me food every
day)
Jam
2 siang aku sudah standby dengan
batik sebagai atasan. Bawahan? Hanya celana pendek. Toh Cuma setengah badan
yang bakalan keliatan.
“Hellow,
good afternoon Magdalena.”
Ternyata
beliau wanita yang tidak bisa disebut muda lagi.
“Good
afternoon, Mrs Chaterine.”
“How
I call you, Magda or Lena?”
“Lena,
please, Mrs.”
Kukira
percakapan selanjutnya English juga. Ternyata..
“Bisa
diperkenalkan dirinya lebih dulu?”
What?
Latihan interview in English gue sia-sia dong. Ah, kalau tau gitu..
Tiba-tiba
di layar video itu muncul satu wajah lain, wajah cowok. Masa iya dua kandidat
sekaligus interview?
“Lena,
kenalin ini Pak Yudi direktur Fontex.”
“Halo
Pak Yudi, nice to meet you.”
Makin
bikin gugup anak orang nih.
“Pernah
kerja di mana, Lena?” tanya Mr. Yudi.
Kujelaskan
pernah kerja 3 bulan di marketing perusahaan ini gini gitu.
“Wah,
jauh juga ya ke bidang kami dari stainless
steel,” kata Pak Yudi blak-blakan.
“Hehehe,
iya,Pak.”
“Berarti
seandainya kamu diterima ini akan jadi pengalaman kerja kedua kamu?
“Benar
sekali, Pak.”
Pertanyaan-pertanyaan
lainnya diajukan Mrs Chaterine. Si Pak Yudi ini kenapa gak pergi aja sih kalau
gak mau nanya lagi.
“Ada
yang mau ditanyakan mungkin, Lena?”
“Ah
iya, jadi Bu saya searching di
internet tentang perusahaan ini. Saya temukan dua sumber yang menyebutkan tahun
berdirinya berbeda. Yang satu tahin 2014, satu lagi 2019. Yang benar yang mana
ya, Bu?”
“Dua-duanya
benar,” Mrs Chaterine tertawa.
Diman
lucunya pertanyaan saya, Bu?
Beliau
pun menjelaskan.
“Berarti
kantor pusatnya di Jakarta Selatan ya, Bu?”
“Iya,
daerah *****.” Daerah Bintaro.”
“Pernah
dengar saya, Bu tapi belum pernah ke sana.”
“Seandainya
kamu diterima, nanti pindah ke Jakarta Selatan?”
“Iya,
Bu. “ Kebetulan saya juga di sini masih
numpang, jadi benalu buat teman saya.
Interview
berakhir hanya dalam waktu 15 menit. Aku tahu, mereka udah enggak excited lagi ke aku pas udah kuceritakan
pengalaman 3 bulan kerja itu. Mau dibawa
kemana perusahaan kami sama orang seperti anda?
Untuk
mengobati kegundahan hati karena telah berhasil menggagalkan kesempatan kerja,
kutelpon Butet. Kini kami sama-sama pengangguran. Dia masih di Kalimantan dan
tetap gak mau kuajak ke Jakarta.
Butet
: ‘Sekarang aku mau kerja apa aja.’
Aku
: Apa aja? Yakin apa aja?’
Butet
: ‘Kecuali pel**** ya.’
Aku
: ‘Hahaha. Berarti kalau jadi ger**nya mau ya?’
Butet
: Maulah. Lumayan, jadi owner-nya langsung. Gak perlu capek pulak.
Aku
: ‘Heh, tapi dosanya lebih gede.’
Butet
: ‘Ah, itu urusan di akhirat nantilah. Hahahah
Aku
: Eh, Tet. Emang karyawan si ger** itu capek kenapa?’
Butet
: ‘Gak tau, jangan pura-pura polos, nji**
Begitulah
percakapan absurd kami di telepon.
Ah,
sejenak aku lupa interview online yang
barusan terjadi. Eh, lupa apanya? Ini mah jadi ingat lagi! Ancurrr.. Dasar
ogeb!!!
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2838947/original/076523400_1561628887-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2838947/original/076523400_1561628887-1.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar