Jumat, 20 Maret 2020

Interview Online


Setelah pulang kampung untuk minta doa restu ortu, aku kembali lagi ke Jakarta. Tiga minggu di kampung membuatku sadar bahwa sarjana yang pengangguran dipandang hina di kampung kami. Hahaha. Tak tahan, aku pun memutar haluan. Meski belum tau apakah ada perusahaan mau menerima karyawan yang hanya bertahan 3 bulan di pekerjaan lamanya.

Bapak dan mamakku jelas khawatir. Ingin kukatakan, ‘Mom, Dad. Percayalah, anakmu ini akan sukses dengan caranya sendiri. Jangan khawatir, seorang laki-laki baik juga akan menemukanku’. Tapi tak pernah kukatakan.  

Sesuatu menungguku di Jakarta. Virus corona yang awalnya bermula dari Wuhan China kini sudah sampai ke Jakarta. Pemerintah mengeluarkan instruksi untuk meliburkan sekolah, kantor-kantor bekerja dari rumah dan menutup tempat umum. Itu artinya juga tidak ada perusahaan yang membutuhkan karyawan baru saat ini. Mungkin setidaknya hingga akhir Maret.

Aku pun terperangkap di kamar kosan apartemen sepupuku di Tangerang. Sepupuku itu udah pulang ke kampung dan resign dari pekerjaannya karena terkena bronchitis. Aku dimintai tolong untuk mengirimkan barang-barangnya. Uh, gaya hidup orang-orang yang tinggal di sini mewah. Kutebak gajinya juga pasti di atas 6 juta? Atau bahkan 8 juta ke atas? Sepupuku itu juga pasti bergaji gede. Secara, dia kerja di perusahaan BUMN, gitu loh. Gak heran ketika kubuka kunci kamarnya yang kuminta dari sekuriti, seabrek box sepatu bermerk menyapaku dekat pintu. Kubuka laci lemarinya, berbotol-botol parfum mahal berjejer di sana. Lengkap dengan peralatan skincare lainnya. Pasti kau mengira sepupuku itu cewek? No, dia cowok. Melihat peralatan skincare-nya, aku merasa telah gagal sebagai cewek..

Barang-barangnya buanyaakk banget yang mau kukirimkan lewat truk. Tapi truknya masih di bengkel. Truk itu dari kampung mereka, membawa muatan ke Jakarta dan kembali lagi membawa muatan dari sini. Iyalah barangnya banyak. Emang mau dia apakan gajinya itu kalau gak belanja? Aku tiba-tiba gak setuju. Di sini ada pengangguran yang tengah pontang-panting, dia malah resign. Eh tapi dia gara-gara sakit juga sih.

“Iya, Mak. Aman kok. Kamarnya selalu kukunci,” aku telponan dengan Mamakku.
“Pastikan aja biar barangnya secepatnya diambil truk. Siapa yang tau, Nak apa yang terjadi di situ. Kamu gak kenal siapa-siapa di sana.”

Hm, mamakku benar juga sih. Sebagai pengangguran aku harus berusaha untuk tidak mengeluarkan sepeser pun tiap hari. Tapi itu artinya sama dengan mati. Kalau aku mati kelaparan di kamar ini, gak bakal ada yang tau. Lagian ya, dekat apartemen ini gak ada warteg. Benar-benar gak recomended tinggal di sini kalau anda masih pengangguran. Di sinilah aku terjebak. Di kamar kosan ukuran 4x4. Di luar sana virus sedang berkembang biak. Stay home is the best choice, even your stomach asking for food.

Malamnya mati listrik. Sempat tegang, kayak di film-film pembunuhan biasanya aksi dimulai dengan mematikan listrik. Duh, mana gak ada kenal lagi sama penghuni kamar sebelah. Aku menunggu di dalam kamar dengan setia. Coba positive thinking, mungkin aja lagi ada perbaikan sehingga listriknya dipadamkan bentar. Tapi setelah satu jam, listriknya masih belum nyala. Aku membuka pintu kamar dengan bantal di tangan sebagai senjata. Loh kok di luar terang? Yang mati kamar ini aja. Kucek meterannya. Sisa pulsa : 0.

Huft!

Kekhawatiran yang berlebihan. Kubuka aplikasi DANA buat beli pulsa listrik. Tapi ditolak. Padahal nomor meterannya udah benar. Kucek sebelas kali pun, memang itu nomornya. Ku-WA sepupuku itu, eh ceklis satu. Gak punya pilihan lain, kuketok kamar sebelah.
Terdengar jawaban dalam bahasa asing. Dia lagi nelpon atau gimana? Kuketok lagi. Muncul laki-laki berkumis.

“Maaf ganggu, Pak. Ini biasa ngisi listriknya darimana ya, Pak?”
Don’t speak bahasa,” katanya langsung.
“Hah? No bahasa, oh, oke. I’m sorry. Enjoy your meal.”

Entahlah aku gak yakin dia lagi makan. Pintunya langsung ditutup secepatnya.
Terpaksa turun ke bawah nanyain sekuriti.

“Harus ngisi di tower C, mbaknya. Nanti kasih tau nomor unitnya aja.”
Aku pun berjalan kaki ke tower C. Kampretos sekali, pulsa paling kecil 50.000. Udah pengangguran, gak punya uang. Eh, malah harus ngisi pulsa listrik kosan orang.

*******
Aku sering asal apply kalau liat loker di web site. Udah jelas-jelas persyaratannya bilang membutuhkan cowok, aku tetap klik ‘lamar sekarang’. Udah jelas-jelas diminta berpengalaman kerja minimal 2 tahun, aku tetap apply. Lagian, aku yakin si recruiter gak mungkin memproses calon kandidat yang gak sesuai persyaratan kan. Jadi aku klik apply itu semata-mata karena .. bosan, mungkin?
“Dengan Magdalena?”
“Iya, saya sendiri.”

Aku udah sempat ngira ini telpon pasti dari BPJS, soalnya tagihanku udah nunggak 3 bulan.
“Saya dari PT. Fontex, ibu pernah apply di perusahaan kami dari jobsdb?”
Loading. Kayaknya pernah..
“Darimana tadi, Bu?”
“PT. Fontex.”

Kok kayak merk celana dalam ya..
Katanya beliau mau undang interview, tapi online. Demi kebaikan bersama, mencegah penyebaran virus corona. Wah, perdana nih aku,interview online. Setelah telepon diputus, buru-buru kucek riwayat lamaran kerjaku di jobsdb. Ternyata memang ada, tapi itu salah satu korban ‘asal apply’-ku. Jelas-jelas di sana syarat calon kandidat :
·      English fluency is a must
·      At least 2 -3 years of working experience in the same field
·      Domicile in South Jakarta
Dari persyaratan itu tak satu pun aku memenuhi. Bahasa inggris? Aku hanya bisa bilang, ‘I’m fine thank you. And you?’ Pengalaman kerja? Aku kabur dari pekerjaan sebelumnya setelah bertahan 3 bulan. Domisili? Uhm, saat ini aku menumpang tinggal dengan kawan yang kerja di perusahaan yang sama dulu, di daerah Jakarta Pusat.

Duh, jangan sampai deh interview online-nya dalam bahasa inggris.

Mrs. Chaterine membuatkan grup wa bernama ‘interviewees on 18 March’ untuk menyampaikan teknis interview online kepada semua calon kandidat. Yap, all conversation in English, man. Kuliat foto profil kandidat-kandidat lain, hm. Jelas, STRONG CANDIDATES.  Aku kebagian jadwal interview jam 14.30 pm.

Hari itu terpaksa aku balik dulu ke kosan tempat numpang di Jakarta pusat. Malamnya latihan menjawab pertanyaan interview dalam bahasa inggris. Pertanyaan-pertanyaan seperti :
Ø Why do you want to join our company ? (Cause I need money for survive, Ma’m)
Ø What are your strengths ? (I can swallow panadol without water)
Ø What are your weaknesses ? (My weakness is my too obsess for money)
Ø How do you overcome your weaknesses ? (By looking for a job)
Ø What type of people do you like much ? (I like people who like to buy me food every day)

Jam 2 siang aku sudah standby dengan batik sebagai atasan. Bawahan? Hanya celana pendek. Toh Cuma setengah badan yang bakalan keliatan.
“Hellow, good afternoon Magdalena.”
Ternyata beliau wanita yang tidak bisa disebut muda lagi.
“Good afternoon, Mrs Chaterine.”
“How I call you, Magda or Lena?”
“Lena, please, Mrs.”

Kukira percakapan selanjutnya English juga. Ternyata..
“Bisa diperkenalkan dirinya lebih dulu?”
What? Latihan interview in English gue sia-sia dong. Ah, kalau tau gitu..
Tiba-tiba di layar video itu muncul satu wajah lain, wajah cowok. Masa iya dua kandidat sekaligus interview?
“Lena, kenalin ini Pak Yudi direktur Fontex.”
“Halo Pak Yudi, nice to meet you.”

Makin bikin gugup anak orang nih.

“Pernah kerja di mana, Lena?” tanya Mr. Yudi.
Kujelaskan pernah kerja 3 bulan di marketing perusahaan ini gini gitu.
“Wah, jauh juga ya ke bidang kami dari stainless steel,” kata Pak Yudi blak-blakan.
“Hehehe, iya,Pak.”
“Berarti seandainya kamu diterima ini akan jadi pengalaman kerja kedua kamu?
“Benar sekali, Pak.”

Pertanyaan-pertanyaan lainnya diajukan Mrs Chaterine. Si Pak Yudi ini kenapa gak pergi aja sih kalau gak mau nanya lagi.
“Ada yang mau ditanyakan mungkin, Lena?”
“Ah iya, jadi Bu saya searching di internet tentang perusahaan ini. Saya temukan dua sumber yang menyebutkan tahun berdirinya berbeda. Yang satu tahin 2014, satu lagi 2019. Yang benar yang mana ya, Bu?”
“Dua-duanya benar,” Mrs Chaterine tertawa.

Diman lucunya pertanyaan saya, Bu?
Beliau pun menjelaskan.

“Berarti kantor pusatnya di Jakarta Selatan ya, Bu?”
“Iya, daerah *****.” Daerah Bintaro.”
“Pernah dengar saya, Bu tapi belum pernah ke sana.”
“Seandainya kamu diterima, nanti pindah ke Jakarta Selatan?”
“Iya, Bu. “ Kebetulan saya juga di sini masih numpang, jadi benalu buat teman saya.

Interview berakhir hanya dalam waktu 15 menit. Aku tahu, mereka udah enggak excited lagi ke aku pas udah kuceritakan pengalaman 3 bulan kerja itu. Mau dibawa kemana perusahaan kami sama orang seperti anda?

Untuk mengobati kegundahan hati karena telah berhasil menggagalkan kesempatan kerja, kutelpon Butet. Kini kami sama-sama pengangguran. Dia masih di Kalimantan dan tetap gak mau kuajak ke Jakarta.
Butet : ‘Sekarang aku mau kerja apa aja.’
Aku : Apa aja? Yakin apa aja?’
Butet : ‘Kecuali pel**** ya.’
Aku : ‘Hahaha. Berarti kalau jadi ger**nya mau ya?’
Butet : Maulah. Lumayan, jadi owner-nya langsung. Gak perlu capek pulak.
Aku : ‘Heh, tapi dosanya lebih gede.’
Butet : ‘Ah, itu urusan di akhirat nantilah. Hahahah
Aku : Eh, Tet. Emang karyawan si ger** itu capek kenapa?’
Butet : ‘Gak tau, jangan pura-pura polos, nji**

Begitulah percakapan absurd kami di telepon.
Ah, sejenak aku lupa interview online yang barusan terjadi. Eh, lupa apanya? Ini mah jadi ingat lagi! Ancurrr.. Dasar ogeb!!!



6 Meme Kocak Saat Wawancara Pekerjaan Ini Bikin Geleng Kepala ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...