Jika ada kesamaan nama itu hanyalah ketidaksengajaan.
Setiap
insan berhak jatuh cinta dan dicintai. Orang tidak bisa memilih kapan dan pada
siapa jatuh hati. Makanya kadang ada yang bertugas sebagai pengejar dan yang
dikejar (udah macam polisi sama kriminal aja). Saat dua orang saling menyukai pada
waktu yang sama itu adalah sebuah keajaiban (Playfull Kiss, 2010).
Orang
kurang beruntung kujatuh cintai itu sebut saja Oliver. Well, ini mungkin sebenarnya masih sebatas rasa kagum. Cowok
jangkung, berwajah tampan, suara dan cara jalannya menurut aku sekseh dan
kuyakin 99,99% banyak cewek di jurusan kami yang naksir dia. Oliver punya
pesona dan wibawa. Suaranya renyah, enak didengar apalagi kalau mendongeng kali
ya sebelum tidur. Seperti kebanyakan cowok keren, Oliver juga punya ciri khas
yaitu slayer yang selalu dibawa ke kampus. Kadang diikat di lengan, kadang di
leher. Kalau di leher, kadang dia terlihat seperti om-om genit.
Aku
memang cukup dekat untuk ngomongin
hal-hal gak penting sama Oliver. Kadang ngebahas cara terbentuknya hujan,
kadang tentang wujud reinkarnasi di masa yang akan datang.
“Kalian
tau, gak? Sekarang si Oliver pelahap daun muda, loh. Adik tingkat, cui,” acara
memanasi dimulai. “Baru aja jadiannya, minta traktiran yok.”
Sontak
semua mata mengarah ke Oliver. Dengan gelagapan si Oliver ngebantah. Anak-anak
udah heboh minta ditraktir. Beberapa cewek kulihat hilang semangat. Lagi
asyik-asyiknya cengar-cengir, aku mendapat serangan fisik tak terduga.
Terjadilah adegan tangkap-mengelak dengan aku sebagai mangsa. Saat gagal
menghindar, Oliver berhasil mengalungkan slayernya ke leherku dari belakang. Gila,
aroma ini! Aku malah gak ada niatan untuk berontak. Kumenikmati sepenuhnya
penyiksaan ini. Haks haks haks.
“Eh,
apaan sih. Gak bisa nafas, tauk,” kataku dengan nada dibuat-buat manja.
“Makanya
jangan menyebarkan berita hoax. Liat tuh semua jadi minta traktiran. Masa anak
Mapala menyebarkan hoax,” Oliver yang jangkung terpaksa membungkukkan badannya
ngomong dari samping wajahku. Gile, suaranya aja bisa bikin kecanduan. Apalagi
persis ke telingaku. Andai saja dosen tak datang saat itu aku masih betah
berlama-lama dengan pose (romantis) itu.
“Eh,
jangan bawa-bawa UKM aku ya,” bisikku lumayan kencang.
Saat
di kampus aku memang bergabung dengan UKM Pecinta Alam, Mapala. Gak heran
kepribadianku makin maskulin. Terjang sana, terjang sini. Dari angkatanku,
hanya aku yang masuk UKM ini. Ya sebenarnya kawan-kawan seangkatanku gak banyak
yang suka gabung UKM di kampus. Mungkin mereka fokus mengejar nilai akademik.
Pertengahan
tahun, universitas mengadakan perlombaan beberapa cabang olahraga. Ada lomba
panjat dinding, basket, sepak bola, bulu tangkis, voli, sepak takraw, silat,
catur, renang. Sebagai mahasiswa yang antusias aku sudah memutuskan untuk
mengikuti lomba panjat dinding. Bukan karena sudah jago, tapi sebatas bisa
memasang harness di badan berkat
bergabung dengan Mapala. Tapi sebuah tawaran muncul..
“Aku
gak tau harus cari siapa lagi. Satu-satunya yang bisa kuharapkan itu ya, kau,
Lena, ” seorang Oliver menemuiku setelah kuliah usai untuk meminta bantuan.
“Tapi
kenapa aku?” tanyaku dengan penuh harap plus was-was.
“Karena
kau anak Mapala.”
TETTT!
Bunyi bel merah dalam otakku. Hadeuh,
cowok keren ternyata bisa sengklek juga ya otaknya.
“Anak
Mapala itu naik gunung, Mas Oliver. Bukan main basket!”
“Justru
itu, karena sering naik gunung staminanya lebih oke,” tantangnya lagi.
“Tapi aku belum pernah
naik gunung.” Itu memang kenyataan. “Di provinsi ini bahkan hanya ada bukit.”
Oliver kehabisan alasan.
“Dan juga, aku pendek
loh – tinggiku hanya 153 cm sekedar mengingatkan,” lanjutku lagi.
“Justru itu, lebih
lincah untuk mengecoh lawan.”
Aku senyum setan. Kalau dia keukeuh gini, aku akan mengajukan
syarat. Hei, biar adil dong. Masa iya aku mau dipermalukan di depan panitia dan
penonton saat pertandingan nanti?
“Ada syaratnya.”
“Apa?”
“Aku nebeng ke gereja samamu tiap hari Minggu sampai
lulus wisuda.”
“Itu
aja syaratnya? Kirain tadi bikin 1001 candi dalam semalam. Hahahah. Oke, deal,” Oliver menaikturunkan alisnya.
Ternyata cowok keren bisa berlaku macam om genit juga.
Hooray!!
Empat kali dalam sebulan, empat puluh delapan kali dalam setahun aku bakalan
duduk dibonceng Oliver dengan motornya. Lalu di gereja kami akan duduk
berdampingan, persis pasangan kekasih. Terus waktu berdiri,aku akan tenggelam
dengan jangkungnya dia dan cewek-cewek lain bakalan –
“Oi,
Lena. Latihan entar sore jam 4 ya,” lamunanku pun terbuyarkan karena
teriakannya. Dia sudah menghilang di balik dinding.
Ternyata
permainan basket itu tidak susah. Ya, tapi bukan berarti gampang juga. Namun
sebagai newbie yang pertama kali memegang
bola basket seumur hidup, kurasa aku cukup pintar dalam men-shoot bola ke ring. Oliver memintaku
untuk men-shoot lagi dari segala arah
dengan jarak dekat dan semuanya masuk !
“Wah,
jangan-jangan kau salah masuk UKM nih,” kelakarnya. Aku sok tidak tersanjung. Tetap
fokus melempar bola. Oliver mengajarkan teknik lainnya dalam basket. Cara
mendribel, mengoper, offense, defense, lay-up, bagaimana menghindari lawan yang ingin merebut bola. Sore
itu aku, tepatnya kami, mengeluarkan banyak keringat. Oliver memberiku semangat
dengan mengatakan dia yakin pada kemampuanku.
Mengikuti
turnamen basket campuran 3 on 3 bermodalkan hanya tiga kali latihan seumur
hidup dalam dunia perbasketan dan berhadapan langsung dengan para pro (cewek
tim lawan sangar abis), mungkin cara mempermalukan diri terbaru di abad ini. Nama
tim kami simpel, Batubara Team. Di sinilah aku dengan kostum putih bernomor
punggung 4, gemetaran karena banyak banget yang nonton. Saking gemetarnya,
kurasa aku bisa ambruk setiap saat di lapangan ini.
Ingat, Lena. Dia
Oliver. Cowok paling jangkung di fakultas ini. Memasukkan bola ke ring bukan
masalah besar baginya. Serahkan
semua padanya, kau hanya perlu mondar-mandir, kata suara dalam kepalaku.
Pertandingan
dimulai. Seperti yang sudah diharapkan dari newbie,
aku gelapan gak tau harus kemana. Persis rusa masuk kampung.
“Ikuti
terus yang ceweknya,” bisik Oliver saat kami berpapasan.
Suatu
kali dia juga berteriak, “Offense,
offense..”
Aku
cengo karena lupa offense itu apa. Saat
latihan semuanya terasa tenang dan mudah. Saat pertandingan, offense pun aku lupa artinya apa..
Terlalu sibuk mondar-mandir gak jelas, aku tersenggol tubuh besar tim lawan.
Ambruk ke lantai dengan posisi pantat mendarat duluan. Wasit meniup peluit.
“Gak
apa-apa?” Oliver mengulurkan tangan.
“Ver,
aku keluar aja ya, aku enggak ngerti. Udah lupa semua yang latihan kemarin,”
bisikku memelas.
“Sst,
gak bisa. Nanti tim kita didiskualifikasi.”
“Kuali
apa?”
Oliver
gak menjawab lagi pertanyaanku karena permainan kembali dilanjutkan.
Tim
kami mencetak skor berturut-turut 5 kali, barulah tim lawan menyusul. Hatiku
tenang, meskipun beberapa kali kembali terjatuh mengenaskan di tengah
pertandingan. Aku bahkan belum pernah tersentuh/menyentuh bola.
Saat
istirahat, Oliver membagi strategi. Meskipun aku cuma mengangguk-angguk supaya
dikira paham, padahal enggak sama sekali. Di babak pertama tadi, tim kami
unggul 3 skor. Satu lagi three-point
dari lawan sebelum peluit dibunyikan, maka hasil babak pertama akan berbeda.
Aku
mengamati cewek tim lain yang sempat gak kukenali tadi diantara timnya karena
rambutnya cepak abis. Dia benar-benar gesit dan beberapa kali mencetak poin.
Babak
kedua dimulai. Lututku rasanya nyeri. Kukuatkan hati dan mental demi boncengan
di motor Oliver setiap hari minggu. Mentalku agak down, samar-samar kudengar penonton melemparkan kata-kata tidak
mengenakkan. Yakinlah, itu pasti ditujukan untukku.
Siapa sih cewek itu.
Dia ngerti basket gak sih? Pendek juga. Coba bobo siang aja di rumah, gak usah
ikut pertandingan beginian, biar cepat tinggi. Mungkin begitu maksudnya.
Sekonyong-konyong
tanpa kuduga, aku mendapat operan bola dari Oliver. Posisiku memang dekat
dengan ring. Aku dikuasai rasa panik. Memegang bola rasa memegang bayi baru
lahir. Takut jatoh.
“LANGSUNG
SHOOT AJA!” teriak Oliver dari sisi
kiri lapangan.
Dengan
segala tekanan batin yang kurasakan, kulempar bola itu ke ring, dan…
MASUK
!
Terdengar
sorakan gembira penonton. Boleh juga tuh
cewek, selain tidur siang kayaknya mulai sekarang dia harus rajin minum hilo,
deh. Mungkin begitu maksudnya.
Peluit
tanda babak kedua berakhir dibunyikan. Tim lawan menang 5 point. Kuamati Oliver
yang sedang mengelap keringatnya. Dia kecewa gak ya kalau kami kalah? Saat
tatapan kami bertemu, dia tersenyum.
“Wah,
aku gak nyangka kau bisa cetak poin,” kata Oliver. “Kalau mau latihan tiap hari
kau bisa jadi pemain professional,” lanjutnya. “Oh iya, kita gak mesti menang
ya. Tapi berjuang sampai akhir. Sam, jangan kasih kendor,” kedua cowok itu tos.
Gak
nyangka katanya. Aku juga gak nyangka, gak nyangka bakalan merasa semalu ini
dihadapan umum.
Babak
final sangat menegangkan karena skor tiap tim kejar-mengejar. Oliver memang
beberapa kali berhasil three-point,
namun tim lawan juga demikian. Saat
waktu habis, juri memberikan perpanjangan waktu 5 menit. Tim lawan melakukan
pelanggaran, sehingga Oliver mendapat kesempatan untuk melakukan tendangan
bebas, eh shoot bebas ke ring lawan. Penonton
tegang, kedua tim tegang, Oliver juga pasti tegang karena nasib tim kami
dipertaruhkan pada lemparannya. Lalu kulihat dia dengan santai mengambil posisi
di batas garis yang ditentukan. Aku komat-kamit berdoa.
Tuhan, kalau bolanya
masuk berarti kami jodoh,
Eh bukan. Tuhan, semoga
bolanya masuk. Amin.
Peluit
dibunyikan. Oliver mengangkat bola dan tap! Dengan mulus melewati ring. Saat
itu juga waktu tambahan 5 menit habis. Kami menang dengan skor akhir 33-30!
Sesuai
perjanjian, aku nebeng dengan Oliver tiap hari Minggu ke gereja. Dapat
kurasakan tatapan iri cewek-cewek saat kami berjalan berdampingan dan duduk
bersebelahan di dalam gereja. Ingin kuberkata, pengen kayak aku? Makanya ikut pertandingan basket! Tapi sepertinya
itu gak mungkin, takut dituduh sombong dan dijebloskan ke ruang pengakuan dosa.
Berhubung
ke gerejanya bareng Oliver, aku pun berusaha tampil feminin. Biasanya gak pakai
dress, sekarang bela-belain. Biasanya pakai sendal, sekarang pakai wedges. Ya
biar enggak keliatan pendek-pendek amat. Karena memakai dress cara duduk pun kaki
harus rapat. Untuk orang yang duduknya biasanya mengangkang hal ini sangat
mengekang. Betapa ajaib, rasa suka bisa membuat orang jadi mau melakukan apa
yang tidak disukainya sebelumnya.
Semenjak
pertandingan basket, ada yang berubah dari sosok Oliver. Di kampus dia lebih
penyendiri dan gak banyak bicara. Kalau hari Minggu dia juga gak berkata
sepatah kata pun setelah mengantarku pulang. Tapi statusnya di BBM kayak lagi
kasmaran. Tak ingin salah tingkah, aku pun menanyakan apa yang terjadi. Saat
itu kami baru keluar dari gereja.
“Kau
lagi ada masalah, ya?”
Yang
ditanya malah nyengir.
“Kayaknya
gak ada sih,” kataku setelah melihatnya masih bisa nyengir.
“Ada,
masalah hati. Aku lagi suka sama cewek. Tapi bingung mau nembak atau enggak.”
Oke.
Jangan GR, wahai diriku. Aku dibandingkan laki-laki ini hanyalah kepingan
keripik. Apa yang bisa dilihat dari tubuh kecil nan dekil ini?
“Emang
kenapa bingung? Kan tinggal nembak aja.”
“Aku
ragu dia juga punya rasa yang sama denganku. Orangnya rada tomboi, tapi
sekarang agak mendingan. Hiperaktif-
Aku
senyum nahjong.
“-dan
dia adik tingkat.”
SLEG!
Wedgesku
lepas. Bersamaan dengan kalimat terakhir Oliver. Hak-nya terpisah dari bagian
atasnya. Tak berdaya, persis ikan asin lepas dari kepalanya. Saat itu motor
Oliver berjarak beberapa langkah lagi dari TKP. Oliver yang menjadi saksi mata
insiden itu tiba-tiba ngakak so hard. Aish, sangat memalukan!
“Untung
udah di area parkiran. Hahahah..”
Dia
tertawa puas sementara aku terpaksa berjalan timpang karena hanya sebelah kaki yang
memakai wedges.
Seandainya
kau tau, wedges ini mewakili
perasaanku, Mas..
PS : Selamat Hari Perempuan Sedunia. Tetap berkarya dan for me jangan mudah baper..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar