Minggu, 08 Maret 2020

Once Upon A Time with Oliver

Kisah ini bukan fiktif. 
Jika ada kesamaan nama itu hanyalah ketidaksengajaan. 

Setiap insan berhak jatuh cinta dan dicintai. Orang tidak bisa memilih kapan dan pada siapa jatuh hati. Makanya kadang ada yang bertugas sebagai pengejar dan yang dikejar (udah macam polisi sama kriminal aja). Saat dua orang saling menyukai pada waktu yang sama itu adalah sebuah keajaiban (Playfull Kiss, 2010).
Orang kurang beruntung kujatuh cintai itu sebut saja Oliver. Well, ini mungkin sebenarnya masih sebatas rasa kagum. Cowok jangkung, berwajah tampan, suara dan cara jalannya menurut aku sekseh dan kuyakin 99,99% banyak cewek di jurusan kami yang naksir dia. Oliver punya pesona dan wibawa. Suaranya renyah, enak didengar apalagi kalau mendongeng kali ya sebelum tidur. Seperti kebanyakan cowok keren, Oliver juga punya ciri khas yaitu slayer yang selalu dibawa ke kampus. Kadang diikat di lengan, kadang di leher. Kalau di leher, kadang dia terlihat seperti om-om genit.
Aku memang  cukup dekat untuk ngomongin hal-hal gak penting sama Oliver. Kadang ngebahas cara terbentuknya hujan, kadang tentang wujud reinkarnasi di masa yang akan datang.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0286034.wmfSuatu hari terdengar kabar (burung) kalau dia tengah berkencan dengan seorang adik angkatan dari jurusan kami. Aku penasaran dengan reaksinya segera membawa topik kencan itu ke tengah geng yang sedang berkumpul. Saat itu dosen belum masuk.
“Kalian tau, gak? Sekarang si Oliver pelahap daun muda, loh. Adik tingkat, cui,” acara memanasi dimulai. “Baru aja jadiannya, minta traktiran yok.”
Sontak semua mata mengarah ke Oliver. Dengan gelagapan si Oliver ngebantah. Anak-anak udah heboh minta ditraktir. Beberapa cewek kulihat hilang semangat. Lagi asyik-asyiknya cengar-cengir, aku mendapat serangan fisik tak terduga. Terjadilah adegan tangkap-mengelak dengan aku sebagai mangsa. Saat gagal menghindar, Oliver berhasil mengalungkan slayernya ke leherku dari belakang. Gila, aroma ini! Aku malah gak ada niatan untuk berontak. Kumenikmati sepenuhnya penyiksaan ini. Haks haks haks.
“Eh, apaan sih. Gak bisa nafas, tauk,” kataku dengan nada dibuat-buat manja.
“Makanya jangan menyebarkan berita hoax. Liat tuh semua jadi minta traktiran. Masa anak Mapala menyebarkan hoax,” Oliver yang jangkung terpaksa membungkukkan badannya ngomong dari samping wajahku. Gile, suaranya aja bisa bikin kecanduan. Apalagi persis ke telingaku. Andai saja dosen tak datang saat itu aku masih betah berlama-lama dengan pose (romantis) itu.  
“Eh, jangan bawa-bawa UKM aku ya,” bisikku lumayan kencang.
Saat di kampus aku memang bergabung dengan UKM Pecinta Alam, Mapala. Gak heran kepribadianku makin maskulin. Terjang sana, terjang sini. Dari angkatanku, hanya aku yang masuk UKM ini. Ya sebenarnya kawan-kawan seangkatanku gak banyak yang suka gabung UKM di kampus. Mungkin mereka fokus mengejar nilai akademik.
Pertengahan tahun, universitas mengadakan perlombaan beberapa cabang olahraga. Ada lomba panjat dinding, basket, sepak bola, bulu tangkis, voli, sepak takraw, silat, catur, renang. Sebagai mahasiswa yang antusias aku sudah memutuskan untuk mengikuti lomba panjat dinding. Bukan karena sudah jago, tapi sebatas bisa memasang harness di badan berkat bergabung dengan Mapala. Tapi sebuah tawaran muncul..
“Aku gak tau harus cari siapa lagi. Satu-satunya yang bisa kuharapkan itu ya, kau, Lena, ” seorang Oliver menemuiku setelah kuliah usai untuk meminta bantuan.
“Tapi kenapa aku?” tanyaku dengan penuh harap plus was-was.
“Karena kau anak Mapala.”
TETTT! Bunyi bel merah dalam otakku. Hadeuh, cowok keren ternyata bisa sengklek juga ya otaknya.
“Anak Mapala itu naik gunung, Mas Oliver. Bukan main basket!”
“Justru itu, karena sering naik gunung staminanya lebih oke,” tantangnya lagi.
“Tapi aku belum pernah naik gunung.” Itu memang kenyataan. “Di provinsi ini bahkan hanya ada bukit.” Oliver kehabisan alasan.
“Dan juga, aku pendek loh – tinggiku hanya 153 cm sekedar mengingatkan,” lanjutku lagi.
“Justru itu, lebih lincah untuk mengecoh lawan.”
Aku senyum setan. Kalau dia keukeuh gini, aku akan mengajukan syarat. Hei, biar adil dong. Masa iya aku mau dipermalukan di depan panitia dan penonton saat pertandingan nanti?
“Ada syaratnya.”
“Apa?”
 “Aku nebeng ke gereja samamu tiap hari Minggu sampai lulus wisuda.”
“Itu aja syaratnya? Kirain tadi bikin 1001 candi dalam semalam. Hahahah. Oke, deal,” Oliver menaikturunkan alisnya. Ternyata cowok keren bisa berlaku macam om genit juga.
Hooray!! Empat kali dalam sebulan, empat puluh delapan kali dalam setahun aku bakalan duduk dibonceng Oliver dengan motornya. Lalu di gereja kami akan duduk berdampingan, persis pasangan kekasih. Terus waktu berdiri,aku akan tenggelam dengan jangkungnya dia dan cewek-cewek lain bakalan –
“Oi, Lena. Latihan entar sore jam 4 ya,” lamunanku pun terbuyarkan karena teriakannya. Dia sudah menghilang di balik dinding.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0286034.wmf
Ternyata permainan basket itu tidak susah. Ya, tapi bukan berarti gampang juga. Namun sebagai newbie yang pertama kali memegang bola basket seumur hidup, kurasa aku cukup pintar dalam men-shoot bola ke ring. Oliver memintaku untuk men-shoot lagi dari segala arah dengan jarak dekat dan semuanya masuk !
“Wah, jangan-jangan kau salah masuk UKM nih,” kelakarnya. Aku sok tidak tersanjung. Tetap fokus melempar bola. Oliver mengajarkan teknik lainnya dalam basket. Cara mendribel, mengoper, offense, defense, lay-up, bagaimana menghindari lawan yang ingin merebut bola. Sore itu aku, tepatnya kami, mengeluarkan banyak keringat. Oliver memberiku semangat dengan mengatakan dia yakin pada kemampuanku.
Mengikuti turnamen basket campuran 3 on 3 bermodalkan hanya tiga kali latihan seumur hidup dalam dunia perbasketan dan berhadapan langsung dengan para pro (cewek tim lawan sangar abis), mungkin cara mempermalukan diri terbaru di abad ini. Nama tim kami simpel, Batubara Team. Di sinilah aku dengan kostum putih bernomor punggung 4, gemetaran karena banyak banget yang nonton. Saking gemetarnya, kurasa aku bisa ambruk setiap saat di lapangan ini.
Ingat, Lena. Dia Oliver. Cowok paling jangkung di fakultas ini. Memasukkan bola ke ring bukan masalah besar baginya. Serahkan semua padanya, kau hanya perlu mondar-mandir, kata suara dalam kepalaku.
Pertandingan dimulai. Seperti yang sudah diharapkan dari newbie, aku gelapan gak tau harus kemana. Persis rusa masuk kampung.
“Ikuti terus yang ceweknya,” bisik Oliver saat kami berpapasan.
Suatu kali dia juga berteriak, “Offense, offense..”
Aku cengo karena lupa offense itu apa. Saat latihan semuanya terasa tenang dan mudah. Saat pertandingan, offense pun aku lupa artinya apa.. Terlalu sibuk mondar-mandir gak jelas, aku tersenggol tubuh besar tim lawan. Ambruk ke lantai dengan posisi pantat mendarat duluan. Wasit meniup peluit.
“Gak apa-apa?” Oliver mengulurkan tangan.
“Ver, aku keluar aja ya, aku enggak ngerti. Udah lupa semua yang latihan kemarin,” bisikku memelas.
“Sst, gak bisa. Nanti tim kita didiskualifikasi.”
“Kuali apa?”
Oliver gak menjawab lagi pertanyaanku karena permainan kembali dilanjutkan.
Tim kami mencetak skor berturut-turut 5 kali, barulah tim lawan menyusul. Hatiku tenang, meskipun beberapa kali kembali terjatuh mengenaskan di tengah pertandingan. Aku bahkan belum pernah tersentuh/menyentuh bola.
Saat istirahat, Oliver membagi strategi. Meskipun aku cuma mengangguk-angguk supaya dikira paham, padahal enggak sama sekali. Di babak pertama tadi, tim kami unggul 3 skor. Satu lagi three-point dari lawan sebelum peluit dibunyikan, maka hasil babak pertama akan berbeda.
Aku mengamati cewek tim lain yang sempat gak kukenali tadi diantara timnya karena rambutnya cepak abis. Dia benar-benar gesit dan beberapa kali mencetak poin.
Babak kedua dimulai. Lututku rasanya nyeri. Kukuatkan hati dan mental demi boncengan di motor Oliver setiap hari minggu. Mentalku agak down, samar-samar kudengar penonton melemparkan kata-kata tidak mengenakkan. Yakinlah, itu pasti ditujukan untukku. 
Siapa sih cewek itu. Dia ngerti basket gak sih? Pendek juga. Coba bobo siang aja di rumah, gak usah ikut pertandingan beginian, biar cepat tinggi.  Mungkin begitu maksudnya.
Sekonyong-konyong tanpa kuduga, aku mendapat operan bola dari Oliver. Posisiku memang dekat dengan ring. Aku dikuasai rasa panik. Memegang bola rasa memegang bayi baru lahir. Takut jatoh.
“LANGSUNG SHOOT AJA!” teriak Oliver dari sisi kiri lapangan.
Dengan segala tekanan batin yang kurasakan, kulempar bola itu ke ring, dan…
MASUK !
Terdengar sorakan gembira penonton. Boleh juga tuh cewek, selain tidur siang kayaknya mulai sekarang dia harus rajin minum hilo, deh. Mungkin begitu maksudnya.
Peluit tanda babak kedua berakhir dibunyikan. Tim lawan menang 5 point. Kuamati Oliver yang sedang mengelap keringatnya. Dia kecewa gak ya kalau kami kalah? Saat tatapan kami bertemu, dia tersenyum.
“Wah, aku gak nyangka kau bisa cetak poin,” kata Oliver. “Kalau mau latihan tiap hari kau bisa jadi pemain professional,” lanjutnya. “Oh iya, kita gak mesti menang ya. Tapi berjuang sampai akhir. Sam, jangan kasih kendor,” kedua cowok itu tos.
Gak nyangka katanya. Aku juga gak nyangka, gak nyangka bakalan merasa semalu ini dihadapan umum.
Babak final sangat menegangkan karena skor tiap tim kejar-mengejar. Oliver memang beberapa kali berhasil three-point, namun tim lawan juga demikian.  Saat waktu habis, juri memberikan perpanjangan waktu 5 menit. Tim lawan melakukan pelanggaran, sehingga Oliver mendapat kesempatan untuk melakukan tendangan bebas, eh shoot bebas ke ring lawan. Penonton tegang, kedua tim tegang, Oliver juga pasti tegang karena nasib tim kami dipertaruhkan pada lemparannya. Lalu kulihat dia dengan santai mengambil posisi di batas garis yang ditentukan. Aku komat-kamit berdoa.
Tuhan, kalau bolanya masuk berarti kami jodoh,
Eh bukan. Tuhan, semoga bolanya masuk. Amin.
Peluit dibunyikan. Oliver mengangkat bola dan tap! Dengan mulus melewati ring. Saat itu juga waktu tambahan 5 menit habis. Kami menang dengan skor akhir 33-30!
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0286034.wmf
Sesuai perjanjian, aku nebeng dengan Oliver tiap hari Minggu ke gereja. Dapat kurasakan tatapan iri cewek-cewek saat kami berjalan berdampingan dan duduk bersebelahan di dalam gereja. Ingin kuberkata, pengen kayak aku? Makanya ikut pertandingan basket! Tapi sepertinya itu gak mungkin, takut dituduh sombong dan dijebloskan ke ruang pengakuan dosa.
Berhubung ke gerejanya bareng Oliver, aku pun berusaha tampil feminin. Biasanya gak pakai dress, sekarang bela-belain. Biasanya pakai sendal, sekarang pakai wedges. Ya biar enggak keliatan pendek-pendek amat. Karena memakai dress cara duduk pun kaki harus rapat. Untuk orang yang duduknya biasanya mengangkang hal ini sangat mengekang. Betapa ajaib, rasa suka bisa membuat orang jadi mau melakukan apa yang tidak disukainya sebelumnya.
Semenjak pertandingan basket, ada yang berubah dari sosok Oliver. Di kampus dia lebih penyendiri dan gak banyak bicara. Kalau hari Minggu dia juga gak berkata sepatah kata pun setelah mengantarku pulang. Tapi statusnya di BBM kayak lagi kasmaran. Tak ingin salah tingkah, aku pun menanyakan apa yang terjadi. Saat itu kami baru keluar dari gereja.
“Kau lagi ada masalah, ya?”
Yang ditanya malah nyengir.
“Kayaknya gak ada sih,” kataku setelah melihatnya masih bisa nyengir.
“Ada, masalah hati. Aku lagi suka sama cewek. Tapi bingung mau nembak atau enggak.”
Oke. Jangan GR, wahai diriku. Aku dibandingkan laki-laki ini hanyalah kepingan keripik. Apa yang bisa dilihat dari tubuh kecil nan dekil ini?
“Emang kenapa bingung? Kan tinggal nembak aja.”
“Aku ragu dia juga punya rasa yang sama denganku. Orangnya rada tomboi, tapi sekarang agak mendingan. Hiperaktif-
Aku senyum nahjong.
“-dan dia adik tingkat.”
SLEG!
Wedgesku lepas. Bersamaan dengan kalimat terakhir Oliver. Hak-nya terpisah dari bagian atasnya. Tak berdaya, persis ikan asin lepas dari kepalanya. Saat itu motor Oliver berjarak beberapa langkah lagi dari TKP. Oliver yang menjadi saksi mata insiden itu tiba-tiba ngakak so hard. Aish, sangat memalukan!
“Untung udah di area parkiran. Hahahah..”
Dia tertawa puas sementara aku terpaksa berjalan timpang karena hanya sebelah kaki yang memakai wedges.
Seandainya kau tau, wedges ini mewakili perasaanku, Mas..



PS : Selamat Hari Perempuan Sedunia. Tetap berkarya dan for me jangan mudah baper..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...