Corona
semakin menyebar di negeri ini. Pemerintah belum berani mengambil keputusan
untuk lock down. Tidak seperti negara
lain, Indonesia memang sepertinya bakalan susah untuk mengambil keputusan lock down. Sekalipun itu demi pencegahan
penyebaran virusnya. Banyak warganya yang bekerja satu hari untuk dimakan di
hari itu juga. You know lah what I mean. Selain itu juga banyak perusahaan akan
merugi jika kebijakan itu diambil. Tapi seperti yang dikatakan presiden Ghana,
perekonomian yang mati bisa dibangkitkan lagi. Tapi orang yang sudah mati tidak
bisa dihidupkan lagi, begitu kata beliau.
Hm, keren
pak presiden!
Somehow, aku merasa bahwa pihak yang
paling galau karena corona ini adalah para pencari pekerjaan, alias jobseeker alias pengangguran. Itu artinya
aku juga (rada menyesal terlalu cepat balik dari kampung ke Jakarta). Karena
corona, perusahaan banyak yang rugi. Dengar-dengar beberapa perusahaan ada yang
mem-PHK karyawannya. Boro-boro mau rekrut karyawan baru. Kalau pun ada
perusahaan yang mau rekrut, pasti ditunda dulu sampai virus ini benar-benar
lenyap. Kapan itu? Menurut para penelaah data stastistik yang telah membuat
model simulasinya, kemungkinan negeri ini pulih dari corona di awal Mei atau
Juni.
Can you imagine that? A girl,
tepatnya seorang cewek pengangguran di kota sebesar Jakarta yang serba uang ini
- terdampar. Well, aku cukup beruntung saat ini diterima ‘jadi parasit’ di kosan
temanku sekantor dulu. Mau sampai berapa lama aku hidup di sini dengan mereka,
pake listriknya, airnya tanpa ikutan bayar? Yakinlah, bahkan parasit ini juga
punya nurani. Makan? Hm, aku tengah berusaha keras melatih ususku dengan
meditasi supaya bisa melupakan sebuah rasa bernama ‘lapar’. Caranya dengan
tidur melebihi batas normal (baca : 16 jam). Hal ini kira-kira akan berlangsung
selama 60 hari lagi. Bisa juga dengan minum promaag. Saat orang lain nyetok makanan, awak malah nyetok promaag.
Aku mencoba
cari-cari loker yang menerima relawan untuk tenaga non medis di rumah sakit. Cukup
dikasih makanan dan APD saja aku tak gentar lagi menghadapi si corona ini. Kemarin
sempat nemu, tapi pas klik link-nya ternyata perekrutan udah ditutup karena
udah overload. Aku gak tau peminat
relawan corona sebanyak itu. Atau mereka juga orang-orang yang berkeadaan sama
denganku? Soalnya pemerintah sudah mengeluarkan mandat #dirumahaja. Gak mungkin
masih banyak orang yang mau keluar rumah.
Begitu
sableknya si Corona ini, hingga aktivitas ibadah pun beralih menjadi online.
Kemarin aku mengikuti misa online dari akun youtube katedral. Kebetulan masih
punya sedikit sisa kuota. Yang muslim pastinya gak ada solat Jumat-an dulu. Pokoknya
semua kegiatan yang menyebabkan kerumunan dilarang.
Beberapa
negara sudah ada yang lock down.
Malaysia, Italia, Inggris, Perancis, Belgia. Banyak artikel yang memberikan
saran hal-hal yang harus disetok jika lock
down benar-benar diberlakukan di Indonesia. Tentunya nyetok makanan yang
cukup dan suplai lainnya. Lha pengangguran macam gini gak punya penghasilan mau
nyetok apaan? Maksudnya pengen nyetok sih, tapi apa daya di kantong tinggal
seribu. Itu pun koyak pulak..
Di
tengah-tengah kegalauan ini, terlintas ide untuk menulis sebuah epic (baca : novel) berjudul ‘Lock Down’. Nanti di sampul depan
novelnya itu ada gambar lubang kunci yang bentuk huruf i gitu, yang kepalanya
lebih gede. Salahkan imajinasiku yang bekerja cepat akibat peristiwa ini.
Kisah ini
seputar bencana virus yang menyerang manusia. Penularannya begitu cepat.
Pemerintah menutup semua akses jalan dan tempat umum. Penjual makanan juga
tidak ada. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Sementara angka korban semakin naik,
vaksin belum berhasil diciptakan. Beberapa orang yang punya stok makanan
memilih berdiam diri di rumah dengan tenang. Yang tidak punya stok makanan
perlahan mati bukan karena virus itu melainkan karena kelaparan.
Muncullah
seorang cewek tangguh yang tidak kenal takut di tengah merebaknya virus itu.
Dia adalah perantau yang tadinya ke kota untuk mencari pekerjaan. Tapi akibat
penyebaran virus itu banyak perusahaan yang colaps bahkan mem-PHK karywannya.
Si cewek ini tanpa ragu maju ke garis terdepan bergandengan tangan dengan
dokter dan perawat menangani korban yang tiap hari semakin bertambah. Si cewek
menelpon kedua orang tuanya di kampung.
“Ayah, Ibu. Apakah kalian akan bangga jika
anakmu jadi orang kaya atau mati karena menolong orang banyak?”
Orangtuanya
menjawab yang terakhir.
Klik. Telepon
terputus.
Fiuh!
The point
is : let’s pray so the pandemic get over soon from our beloved country. Our beloved
earth.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar