Rabu, 01 April 2020

A Pandemic called C O R O N A


Corona semakin menyebar di negeri ini. Pemerintah belum berani mengambil keputusan untuk lock down. Tidak seperti negara lain, Indonesia memang sepertinya bakalan susah untuk mengambil keputusan lock down. Sekalipun itu demi pencegahan penyebaran virusnya. Banyak warganya yang bekerja satu hari untuk dimakan di hari itu juga. You know lah what I mean. Selain itu juga banyak perusahaan akan merugi jika kebijakan itu diambil. Tapi seperti yang dikatakan presiden Ghana, perekonomian yang mati bisa dibangkitkan lagi. Tapi orang yang sudah mati tidak bisa dihidupkan lagi, begitu kata beliau.

Hm, keren pak presiden!

Somehow, aku merasa bahwa pihak yang paling galau karena corona ini adalah para pencari pekerjaan, alias jobseeker alias pengangguran. Itu artinya aku juga (rada menyesal terlalu cepat balik dari kampung ke Jakarta). Karena corona, perusahaan banyak yang rugi. Dengar-dengar beberapa perusahaan ada yang mem-PHK karyawannya. Boro-boro mau rekrut karyawan baru. Kalau pun ada perusahaan yang mau rekrut, pasti ditunda dulu sampai virus ini benar-benar lenyap. Kapan itu? Menurut para penelaah data stastistik yang telah membuat model simulasinya, kemungkinan negeri ini pulih dari corona di awal Mei atau Juni.

Can you imagine that? A girl, tepatnya seorang cewek pengangguran di kota sebesar Jakarta yang serba uang ini - terdampar. Well, aku cukup beruntung saat ini diterima ‘jadi parasit’ di kosan temanku sekantor dulu. Mau sampai berapa lama aku hidup di sini dengan mereka, pake listriknya, airnya tanpa ikutan bayar? Yakinlah, bahkan parasit ini juga punya nurani. Makan? Hm, aku tengah berusaha keras melatih ususku dengan meditasi supaya bisa melupakan sebuah rasa bernama ‘lapar’. Caranya dengan tidur melebihi batas normal (baca : 16 jam). Hal ini kira-kira akan berlangsung selama 60 hari lagi. Bisa juga dengan minum promaag. Saat orang lain nyetok makanan, awak malah nyetok promaag. 

Aku mencoba cari-cari loker yang menerima relawan untuk tenaga non medis di rumah sakit. Cukup dikasih makanan dan APD saja aku tak gentar lagi menghadapi si corona ini. Kemarin sempat nemu, tapi pas klik link-nya ternyata perekrutan udah ditutup karena udah overload. Aku gak tau peminat relawan corona sebanyak itu. Atau mereka juga orang-orang yang berkeadaan sama denganku? Soalnya pemerintah sudah mengeluarkan mandat #dirumahaja. Gak mungkin masih banyak orang yang mau keluar rumah.

Begitu sableknya si Corona ini, hingga aktivitas ibadah pun beralih menjadi online. Kemarin aku mengikuti misa online dari akun youtube katedral. Kebetulan masih punya sedikit sisa kuota. Yang muslim pastinya gak ada solat Jumat-an dulu. Pokoknya semua kegiatan yang menyebabkan kerumunan dilarang.

Beberapa negara sudah ada yang lock down. Malaysia, Italia, Inggris, Perancis, Belgia. Banyak artikel yang memberikan saran hal-hal yang harus disetok jika lock down benar-benar diberlakukan di Indonesia. Tentunya nyetok makanan yang cukup dan suplai lainnya. Lha pengangguran macam gini gak punya penghasilan mau nyetok apaan? Maksudnya pengen nyetok sih, tapi apa daya di kantong tinggal seribu. Itu pun koyak pulak..

Di tengah-tengah kegalauan ini, terlintas ide untuk menulis sebuah epic (baca : novel) berjudul ‘Lock Down’. Nanti di sampul depan novelnya itu ada gambar lubang kunci yang bentuk huruf i gitu, yang kepalanya lebih gede. Salahkan imajinasiku yang bekerja cepat akibat peristiwa ini.

Kisah ini seputar bencana virus yang menyerang manusia. Penularannya begitu cepat. Pemerintah menutup semua akses jalan dan tempat umum. Penjual makanan juga tidak ada. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Sementara angka korban semakin naik, vaksin belum berhasil diciptakan. Beberapa orang yang punya stok makanan memilih berdiam diri di rumah dengan tenang. Yang tidak punya stok makanan perlahan mati bukan karena virus itu melainkan karena kelaparan.

Muncullah seorang cewek tangguh yang tidak kenal takut di tengah merebaknya virus itu. Dia adalah perantau yang tadinya ke kota untuk mencari pekerjaan. Tapi akibat penyebaran virus itu banyak perusahaan yang colaps bahkan mem-PHK karywannya. Si cewek ini tanpa ragu maju ke garis terdepan bergandengan tangan dengan dokter dan perawat menangani korban yang tiap hari semakin bertambah. Si cewek menelpon kedua orang tuanya di kampung.

“Ayah, Ibu. Apakah kalian akan bangga jika anakmu jadi orang kaya atau mati karena menolong orang banyak?”

Orangtuanya menjawab yang terakhir. 

“Ingatlah Ayah, Ibu. Aku mencintai kalian. Apapun yang terjadi jangan pernah menyalahkan siapapun.”

Klik. Telepon terputus. 

Di akhir kisah si cewek ini mengorbankan dirinya sebagai percobaan vaksin. Unlucky, vaksinnya belum sempurna. Si cewek pun passed away.

Fiuh!

Dangkal amat imajinasiku. Dalaman juga sungai kecil di belakang rumah..Huft!

The point is : let’s pray so the pandemic get over soon from our beloved country. Our beloved earth.


Meme karantina di rumah karena virus corona

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...