Dengan sisa-sisa semangat yang masih ada, aku mencari loker setiap hari. Setiap hari itu pula ada rasa tidak ikhlas yang hinggap. Entah kenapa gak begitu semangat cari loker dan gak excited untuk punya pekerjaan - kerja kantoran yang ujung-ujungnya punya atasan dan rutinitas 8-5 setiap hari. Maunya punya perusahaan sendiri, biar suka-suka awak pulang jam berapa ye, kan.
Terjadi lagi korban 'asal apply'. Kali ini untuk posisi telemarketing di perusahaan pialang. Sama sekali gak baca profile perusahaannya, cuma baca jobdesk. Yaudah, karena dirasa mirip dengan pengalaman marketing sebelumnya, kuklik apply. Gak taunya malah ditelpon ngundang interview ke kantornya di daerah Jakarta Selatan. Tidak, saya tidak panik. Segera kumelakukan pengecekan di google untuk menelusuri rekam jejak perusahaan itu. Dan ternyata ... mereka perusahaan pialang!
Kutelusuri lagi apa itu perusahaan pialang. Kerjaannya ternyata nyari klien yang mau menginvestasikan uangnya di pasar modal. Apalah itu sebutannya. Awak juga sama sekali awam soal pasar modal, trading, bursa efek, deposit, dll. Cuma familier sama kata-kata : makan, tidur, bernafas. Kerjaan sebelumnya aja cuma target cari omset berpuluh ton. Ini malah nominal 25 juta ke atas. Wadoooh! Bukan angka yang kecil. Ini awak keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya ceritanya? Udah gitu kubaca-baca pengalaman orang yang kerja di pialang katanya gak ada gaji pokok, hanya bermodalkan pencapaian si marketing ini. Kalau dia gak dapat klien, ya udah gak dapat bonus = gak dapat uang. Ada lagi blog yang cerita kalau si cewek ini kerja di perusahaan pialang, terus diajak ketemu (meeting) sama si calon klien yang mana adalah bapak-bapak mata keranjang. Dia bilang bakalan kasih uangnya kalau si cewek mau jadi simpenannya dia. Cewek simpenan. What da hell..
Kuputuskan dong gak mau pergi ke interview itu. Cukup sudah. Dalam sejarah silsilah si Raja Batak, tidak ada yang namanya menyerah, tapi kali ini pengecualian. Tapi datanglah si Wuri kampret, kawan satu kosan yang meyakinkan aku supaya pergi aja.
"Sul, lu pergi aja. Sekedar biar tau interview di perusahaan pialang itu gimana. Itu aja."
Sul itu dari kata 'bangsul'. Dia emang bangsul sekali jadi orang yang usianya lebih muda 2 tahun dari awak. Hm..
Aku udah nanya temanku juga yang pernah interview di perusahaan pialang, si Amsal. Katanya gak ada gaji pokok. Pure dapat bonus dari kinerja kita. Kalau gak dapat, ya gak makan.
Undangan interview berisi formulir yang harus diisi juga belum juga kukirimkan kembali ke HR-nya. Padahal udah dari tadi siang dia kirim, malam baru kuisi. Jam setengah sebelas malam baru kukirim balik.
Iya, aku ujung-ujungnya pergi. Biar tau dimana kantornya aja. Lagian bosan mendekam di rusun ini teros. Ayook main-main ke lantai 32 ke Menara Standard Chatered di daerah Jakarta Selatan!
Mengenakan atasan batik dan celana kain plus sepatu pantofel. Paginya datang lagi SMS si HRD minta konfirmasi kehadiran. Dia kirim SMS, e-mail dan dari aplikasi loker itu juga dia kirim. Gak sabaran amat sih mbak-nya (atau mas-nya?). Kubalas SMS itu : Hadir. Saat itu udah jam 8. Padahal dia minta di udangan interview-nya bisa datang antara jam 9-12. Sabodo lah ya, pokoknya hadir.
Naik transportasi yang paling murah - of course, busway. Kadang pengen nyium orang yang menciptakan (atau menemukan?) transportasi murah ini di Jakarta. Gubernur gak sih? Berarti awak harus nyium Pak Baswedan? Skip ajalah pernyataan unfaedah ini.
Aku turun di halte Bendungan Hilir. Menurut google maps, jarak halte tempatku turun hanya 800 meter berdurasi 10 menit dengan gedung tujuan.
"Pak, tau menara ini tidak?" Kutanya petugas di dekat pintu keluar halte. Kirain dia gara-gara orang sana atau kerja di sana ya kan, pasti udah hafal luar kepala daerah plus gedung-gedung di Jakarta Selatan. Ternyata beliau googling dulu.
"Nanti ada pertigaan atau perempatan, Ibunya belok kanan."
Saya belum menikah, Pak.
"Oke, terima kasih Pak."
Duh, lupa nanya. Ini saya keluar JPO (Jembatan penyeberangan orang - aku baru tau loh ini singkatannya), belok kanan atau kiri. Menuruti insting ajalah, akhirnya aku ke kiri. Udah turun dari JPO, langsung disambut bapak-bapak nawarin ojek. Kubalas dengan gelengan kepala. Posisi HP menunjukkan GPS dan mulai berjalan. Loh tapi kok makin menjauhi posisi tujuan sih? Jangan-jangan harus ke kanan tadi di JPO.
"Mas, tau menara ini tidak?"
Si Mas-nya menggeleng. "Area mana, mbak? Jaksel atau Jakpus? Kalau daerah seberang ini Jakpus, Kalau Jaksel di seberang sana. Tadi pas nyeberang JPO mbak-nya ke kanan."
Tuh kan, Tuh kan. Emang bener-bener! Kuputar arah. Pantofel ber-heels memang tak pernah memberikan kesan yang baik padaku. Kaki udah mulai perih di bagian jari kelingking. Pasti udah ada gelembung berisi cairan di sana.
Berhasil nyeberang JPO. Ayo menemukan si Chartered ini. Ok, tidak susah ternyata, di maps jaraknya semakin dekat. Lalu tiba-tiba menjadi 10 menit lagi.
WOIIII.. Apalagi salah hamba??
"Pak, tau menara ini tidak?"
Si satpam dengan tidak semangatnya menjawab, "Maaf saya masih baru."
Ku pun berjalan terus ke depan. Mencari satpam lain yang statusnya 'gak baru'.
"Oh, ini. Masuk dari itu mbak, depan yang ada pohon palem."
Oke, gampang. Untung aku kenal pohon palem itu yang gimana. Tiba di pintu masuk.
"Pak, mau ke menara Standard Chatered dari sini ya?"
"Bank Chartered?"
"Menara pak, bukan bank."
"Coba tanya teman saya yang itu, mbak."
Loh, bapak masih baru juga ya?
"Belum pernah dengar sih, mbak," begitu kata teman si bapak yang kayaknya masih baru tadi. Ini gimana sih, apa semua satpam di daerah ini masih pada baru semua? Habis perekrutan, terus pas New Normal mereka masuk serentak gitu? Awak udah nanya sekitar .. Entar ngitung dulu,..
6 orang! Dan semua mengatakan hal yang sama : Tidak Tau.
"Pak, ini jalan Dr. Satrio bukan?"
Kenapa dari tadi aku gak nanya nama jalan aja, kampret. Malah sebutin nama gedung.
Aku berharap dia gak ngomong : 'bukan mbak, ini jalan Satria baja hitam.'
Apaan sih, gaje. Ini mau interview, woi. Udah jam 11 kurang.
"Ini jalan Sudirman, Mbak."
Eh, tahe (terjemahan : "dasar kurpret."
"Jalan Dr. Satrio sebelah mana, Pak?"
"Itu di bawah flyover."
Bentar. Apalagi nih flyover. Terbang atas? Untung logikaku belum meninggalkan tuannya. Flyover berarti jalan melayang? Begitulah kira-kira. Kuliat jalan di atas jalan yang gak jauh di depan kami.
"Berarti belok kiri ya, pak?"
Iyalah ke kiri, kalau ke kanan ditabrak mobil entar!
Iyalah ke kiri, kalau ke kanan ditabrak mobil entar!
"Iya."
Oke, maps kembali normal semakin mendekati tujuan. Lima menit kemudian, sampailah saya di Menara Standard Chatered. Begitu sudah selesai menukar KTP dengan visitors ID, aku masuk lift menekan tombol lt 32, tapi gak bisa. Kulihat orang lain yang masuk, dia tekan lantai 27. Loh kok bisa???? Ini jelas-jelas diskriminasi pengguna LIFT!!
Begitu tinggal berdua dengan seorang cewek di dalam lift, kuberanikan nanya.
"Mbak, lt 32 rusak ya?"
"Hah? Enggak kok.Mbak mau kesana?'
"Iya, tapi saya tekan gak bisa nih."
"Oh, itu harus di tap ID-dulu, Mbak."
Demi apa ribet sekaleee ibukota ini. Hanya mau naik lift loh ke lt 32! Jadi visitors ID-nya harus didekatkan ke sensor dekat situ, baru tekan lantai berapa tujuan anda.
Kuberhasil menemukan kantor perusahaan yang mengundangku interview itu. Di dalam ruangan interview, si bapak mulai mengobrol. Dia gak nanya nama aku dong. Langsung tes verbal. Tes kemampuan marketing.
"Coba mbak jadi marketing yang menelepon calon customer untuk menawarkan produk."
"Produknya misalnya HP aja ya Pak."
"Iya."
"Ehm. Halo Bapak Budi selamat pagi."
"..."
"Saya Lena dari PT X, Pak. Ingin menawarkan produk terbaru kami HP Samsung S20 yang baru launching hari ini. Untuk pembelian 1 produk bapak akan mendapatkan pengurangan harga."
"Kalau saya beli, emang saya dapat untung apa, Mbak?"
"Kalau bapak beli hari ini akan dapat diskon berupa potongan harga sebesar 30%. Kalau bapak beli 10 pcs dapat diskon 50% setiap pcs-nya. Bagaimana bapak?"
RUGI deh itu perusahaan Samsung kalau punya marketing kayak awak!
Tapi si bapak di depanku malah muji bagus. Gak ngerti deh.
Beliau lanjut menjelaskan tentang tugasku kelak (?), yaitu mencari klien by phone, yang mana datanya sudah disediakan. Hanya itu. Lalu beliau menyebutkan soal bonus dan insentif berkali-kali di setiap kalimatnya selalu diselipkan.
"Nanti mbak dapat bonus banyak blablabla. Dan itu untuk mbak sendiri."
Mulai curiga awak ye, kan. Ini ada gaji pokok gak sih?
"Ada yang mau ditanyakan?"
"Hm, Pak dari tadi kan, anda menyebutkan soal bonus dan insentif. Kalau untuk gaji pokoknya sendiri ada tidak ya?"
"Oh. ada. Kita di angka 3000."
"3000?"
"3 juta. Mbak dulu di tempat lama dapat berapa gaji sama bonusnya?"
"Saya sih gaji pokoknya di atas UMR, Pak. Kalau achieve target dapat bonus sama insentif lagi."
Intinya begitulah interview hari itu. Aku bilang saya akan pikir-pikir dulu, Pak. EITS, seolah-olah kok kayak mereka lagi ngemis ke awak ya, biar mau kerja di perusahaannya? Bukan gitu intinya. Pokonya beliau bilang nanti dikontak HRD-nya lagi untuk mulai training selama 3 hari."
God, please beri aku ide menulis aja. Atau ide cemerlang untuk bikin konten youtube. Kayaknya aku gak berbakat kerja kantoran. Lebih berbakat mengelola kantor sendiri mungkin?!
God maybe be like : My child, you are too sombong. Terima dan ambil apa yang sudah kuberikan padamu. Termasuk perusahaan pialang itu.
![]() |
| Film tentang dunia pialang.. nonton deh, dijamin anda gimana2 gitu.. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar