Selasa, 20 Oktober 2020

The Naked Jobseeker

 Dari awal kedatangan awak ke Jakarta adalah sebuah kenekatan. Nekat! Kalau dicari artinya dalam KBBI, nekat adalah : terlalu berani (dengan tidak berpikir panjang lagi) ; tidak memedulikan apa-apa lagi (karena putus harap, hilang akal, dsb). 

Lagi pula ini bukan kenekatan pertama yang pernah kulakukan. Banyak sekali kenekatan-kenekatan lain yang sudah terjadi. Berangkat kuliah ke kalimantan mungkin salah satunya. Ngambil jurusan teknik pertambangan mungkin salah duanya. Dilanjutkan dengan berangkat ke luar kota H-1 ujian skripsi. H-1 SKRIPSI loh ya! Malah keluyuran di CGV Banjarmasin demi nonton film dokumenter world tour concert BTS. 

Disinilah aku terdampar, ngekos di pinggiran kota Jakarta. Telemarketing adalah pekerjaan yang mau menerima pencari kerja dengan kategori : semua jurusan, keterampilan berkomunikasi dan mampu bekerja dalam tekanan. Untung tidak ada syarat berpenampilan menarik. 

Perusahaan pialang memang tidak mencetak duit. Sewa gedung dan gaji karyawan adalah hasil deposit para telemarketingnya. Kalau dipikir-pikir memang pekerjaan ini simpel. Tugasnya hanya menelpon. Hanya. Tapi jangan salah. Menelepon justru menguras banyak emosi positif dalam diri dan meninggalkan emosi negatif. Itulah mengapa pagi hari datang ke kantor wajah masih fresh, begitu jam 5 sore muka kusut kayak headshet digulung-gulung dalam tas. 

Kebanyakan ditolak.

Siapa bilang mudah meyakinkan orang untuk mendepositkan uangnya dalam jumlah cukup besar hanya dari satu dering panggilan? Tanpa tau wajah si penelpon, dimana kantor brokernya, penipu atau enggak sih, malah itu pasti yang menghantui si calon klien.  Ditambah lagi dengan keadaan pandemik saat ini, orang-orang pasti mengutamakan kebutuhan pokok. Investasi saham jelas kebutuhan tersier. 

Enak kalau punya banyak relasi orang kaya. Suruh aja dia kirim dokumen, terus buka akun, terus transfer depositnya. Pasti meyakinkannya lebih mudah, dibanding meyakinkan orang yang nomornya  baru sekali nelpon. Tiap bulan deposit. Tiap bulan dapat komisi + allowance aman. 

******************

Sebagai orang yang cukup tau diri dengan skill background S1-ku, aku pun melamar di pekerjaan sejenis marketing. Always marketing. Seperti yang kusebutkan di atas, karena dialah yang mau menerima semua jurusan. Tak disangka kemarin diundang interview di sebuah perusahaan yang namanya cukup unik. PT. Sem**lan Benua. Posisi yang kulamar : Digital Marketing.

Tanpa izin dengan team leader-ku di kantor, aku berangkat ke sana. Aku sudah minta tolong ke teman bilang sakit aja kalau beliau nanya. 

Informasi untuk perusahaan yang ku-apply dari website kemnaker itu tidak banyak di internet. Di sana disebutkan bahwa perusahaan itu bergerak di bidang media agency yang membantu perusahaan-perusahaan lain untuk mengembangkan bisnisnya melalui media branding. Dalam pikiranku aku yakin itu perusahaan periklanan, yang tugasnya bikin iklan. Tapi ternyata aku salah besar.

Dengan sedikit petunjuk dari satpam, aku berhasil menemukan lokasi kantornya. Ada 7 orang yang menghadiri interview hari itu. Karena takut nanti ditanya 'apa yang anda tau tentang perusahaan kami', aku pun buka google. Tapi di sana malah kuketikkan : berapa jumlah benua?

Geblek memang. Tapi jangan salahkan aku. Daya pikirku memang hanya sebatas itu. Lagian nama perusahaannya kok sem**lan benua. Pas ketemu kucari di internet, benua cuma ada 7. Begimane sih!

Tak lama kemudian aku dipanggil masuk. Pewawancaranya cowok usia sekitar 30-an .. mungkin?

"Silahkan duduk."

"Terima kasih."

Aku diberi waktu memperkenalkan diri selama 10 menit. Nyatanya tak sampai 3 menit, aku udah selesai. Sesingkat dan sesederhana itu diri ini . Wkwkwkwk. Oh ya, kusebutkan tentang prestasi Best Telemarketing on August-ku itu.

"Berapa komisinya kemarin?" tanyanya.

"Ehm,, lumayanlah, Pak."

Kok malah nanyain itu?!

"Ada yang mau ditanyakan?"

Lohh??????

"Oh iya. Jadi Pak, perusahaan ini bergerak di bidang periklanan?"

Beliau membenarkan posisi duduknya. "Bukan. Kita punya beberapa produk yang harus kamu tawarkan ke klien."

"Beberapa?"

"Iya. Ada robot trading, properti, travel agent, dll. Kamu kan dulu di perusahaan pialang tuh. Sangat bisa klien di perusahaan sebelumnya ditawari robot trading."

Oh No!! Masih ada bau-bau trading/pialang lagi. Beliau menjelaskan panjang lebar bagaimana mendapatkan komisi, beberapa trik menawarkan produk ke nasabah supaya closing, dan segudang motivasi hidup lainnya. Tau-tau beliau sudah nanya kenapa aku gak nyari pekerjaan sesuai ilmu sarjanaku, apa rencanaku ke depannya, kenapa mau jadi marketing.

"Hidup itu gak selamanya berjalan sesuai keinginan kita. Saya pun harus bertahan hidup, jadi disinilah saya sekarang."

"Kalau bisa sih, Pak saya mau buka travel agent di kampung saya yang sekalian punya tour guide. Kebetulan kan, daerah saya itu daerah pariwisata. Kalau bapak tau Danau Toba."

"Ya marketing ini kan pekerjaan yang ada target-targetnya. Sudah jelas apa yang menjadi motivasi kita juga pastilah bonusnya yang besar."

Beliau hanya mendengarkan. 

"Kenapa kamu mau keluar dari pekerjaan sekarang? Padahal kan kemarin dapat closing-an cukup besar ya."

Sudah kuduga ini pasti ditanyakan. 

"Saya ingin mencari tantangan baru, Pak. Saya masih muda. Orientasi saya bukan uang, melainkan pengalaman."

"Memangnya pengalaman itu bisa kasih makan?"

"Pengalaman tentu saja bisa menghasilkan uang, Pak."

"Berarti kalau kamu disuruh kerja tapi gak digaji mau ya? Kan katanya cari pengalaman aja?"

Duh!

"Gak masalah, Pak. Asalkan saya diberi uang transport dan uang makan."

Beliau tersenyum. "Itu kan uang juga."

"Tapi kan yang saya terima bukan gaji. Hanya pengganti transport, Pak."

Perdebatan sampai disitu. Beliau bertanya kapan aku bisa mulai join.

"Sebulan ke depan, Pak."

"Gak bisa dipercepat lagi?"

"Di tempat saya harus mengajukan resign minimal sebulan, Pak."

Kemudian beliau menuliskan sesuatu di atas CV-ku. 


Aku meninggalkan ruangan itu.


Apa-apaan yang terjadi hari ini??!!

Aku gak masuk kerja hari itu hanya karena interview di posisi yang sama, dengan jobdesk yang sama pula??? Cari klien????


Huft. 


Tuhan, aku mau belajar TOEFL aja. Biar skornya bisa mendingan. Biar bisa lamar di tempat lain yang mensyaratkan skor TOEFL sekiannnn. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...