Sabtu, 07 November 2020

On The Way (OTW)

Salah satu impian gue adalah jadi penulis. 

Jadi bisa dibilang blog ini adalah salah satu bentuk latihan untuk meragkai kata demi kata untuk membentuk kalimat. Tepatnya sih latihan buat bacot dalam bentuk tulisan. Meski tiap hari ketakutan akan masa depan menghantui, kumencoba tegar. Cari kerja di Jakarta, apalagi pekerjaan yang enak hampir sama dengan menyalakan sumbu lilin yang basah. Harus di coba bakar agak lama dulu biar sumbunya kering, baru setelah kering dia akan menyala. See? Dia menyala kan, meski butuh waktu. 

Tuhan sayang banget sama gue, gue yakin itu 1000%. Setelah setahun di Jakarta dan melewati berbagai hal tak terduga dan masih bisa bertahan di kota yang kejamnya ngalahin ibu tiri ini. 

Setiap ingat impian itu, gue selalu berpikir ungkapan 'Tuhan Tau Tapi Menunggu' lah yang selalu membuat gue bertahan meski gak punya satu pun sanak keluarga di kota ini. Istilah lainnya : On The Way (OTW). 

Hm, daripada bahas yang melo-melo, mending bahas soal bos di kantor aja. 

Aku udah pernah bilang kan, soal bos bule di kantor yang dua orang itu. Satu bos Carol yang mirip aktor yang main di 365 Days, satu lagi bos Oscar yang mirip Adam Levine di klip Memories. Jelas siapa yang hot dan diidolakan di kantor. Sayangnya si bos Carol udah menikah dan punya anak yang kata mba Dwi imutnya minta ampun. Dari segi kematangan emosi juga bos Carol menang. Mungkin karena emang Oscar lebih muda 5 tahun. Dia seumuran gue dan udah jadi direktur aja. Lha gue? Masih pontang-panting tanpa kompas. 

Oh iya, ini gak dosa kan, gosipin atasan di postingan ini?! 

Bodo amatlah ya. Kalau semisal dia baca juga, emang dia mau apa. Toh yang kutulis di sini bukan hoax. Absulotely facts

Sudah bulan baru aja. November Rain, kalau Pak Charli bilang. Dia sudah menyusun strategi terbaru lagi supaya bulan ini tim Ferrari bisa dapat closing-an lebih banyak dari tim lain. Tapi aku sudah memutuskan : begitu terima komisi (paling lambat tanggal 10), aku akan cabut. Jadilah menunggu sampai tanggal 10 itu aku ogah-ogahan nelpon. Kadang pura-pura ngomong sambil nempelin HP di telinga. Padahal aslinya aku ngomong sendirian. Mana gak ada yang curiga lagi. Jangan-jangan bakatku jadi actress ya!

"Kak Len..." ini Winnie. Dia juga pengen cabut, tapi gak jelas. Bisa-bisanya dia galau. Mungkin dia berat nanti gak bisa liat Mr. Carol lagi. 

"Apaan?"

"Lu udah fix mau cabut kak, habis nerima komisi?"

"Menurut lu aja? Gue masih betah gitu, ketemu si Bangsul yang udah memperdaya gue di kantor ini? Plis Win, cukup dua bulan gue nahan-nahan sesak nafas tiap liat muka dia. Itu aja kemampuan gue."

"Tapi lu belum dapat kerjaan baru, kan?"

Memang belum. Gimana mau dapat, nyari aja belum, Yakali kerjaannya datang menyodorkan diri ke depan mata awak. Tapi memang gak ada niat nyari kerja baru juga sih. Begini lah efek salah dari dasar. Coba dulu SMA gue belajar yang benar, mikirin jurusan kuliah yang sesuai bakat. Mungkin saat ini gak perlu ketemu si Bangsul di perusahaan broker.

"Kayaknya belum mau nyari kerja baru dulu, Win. Lu juga lulusin kuliah dulu aja kenapa. Malah kerja.."

"Ladies, why you are not calling?" 

Entah sejak kapan si Oscar udah di belakang kami berdua. Menjulang kayak pohon kelapa, aku dan Winni yang jadi pasirnya. 

Kami berdua buru-buru sok sibuk. "Selamat pagi. Dengan bapak Katimin..Perkenalkan Pak, saya Lena.." Acting-ku berjalan mulus. Si Oscar kembali masuk ke ruangannya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Banyak telemarketing lain yang gak serius nelpon. Beberapa ada yang ngobrol juga dengan teman di sebelahnya. Jadi kenapa hanya kami yang ditindas???

Apa dia punya dendam sama awak? Perasaan ngobrol aja gak pernah. Terakhir cuma masalah kontes Samsung A71. Itu pun gak ada masalah.

Seperti hari ini, sorenya (ini belum pernah terjadi sebelumnya) 5 menit sebelum jam pulang, dia mengumumkan yang belum dapat 20 KYC tidak boleh pulang. KYC itu data klien yang sudah lengkap : alamat, pekerjaan, pengalaman investasi, nomor WA. 

"We will stay till night."

Kupandangi kertasku, baru berisi 13 KYC. Kulirik kertas Winni : 17 KYC. 

Pala lu lah Oscar!!

Tepat jam 5 sore, satu per satu pulang. Yeah, mereka sudah dicek sama si Oscar. Tinggal kami ber.. ber berapa ya, oh iya. Ber 5 : aku, Winni, Pak Charli (sebagai leader yang bertanggung jawab), Oscar dan pacarnya. FYI pacarnya lokal punya, dengan kulit eksotis kayak kulitku. Rambutnya panjang amat. Kalau kapal kekurangan tali buat tambatan di dermaga bisa tuh pake rambut dia. 

Bukannya menyesal, kami berdua malah cekikikan senang. Rasa-rasanya seperti sedang dihukum di sekolah karena ribut di kelas dan disuruh menuliskan permintaan maaf. 

--------------

Briefing tim adalah saatnya Pak Charli mencak-mencak kalau ada yang bikin dia kesal. Meskipun itu sangat jarang terjadi karena beliau lebih sering bikin kami ngakak dengan pernyataan konyolnya. Kalau pun mencak-mencak, pasti di akhir ada aja sesuatu yang bikin kami ngakak. Ini adalah salah satu hal yang akan kurindukan jika sudah cabut dari kantor ini kelak.

"Saya jangan dijadikan tumbal ya. Saya gak mau tuh pulang di atas jam 5 karena ada anak buah saya yang belum lengkap KYC-nya. Si bos kan, emang gitu. Suka tiba-tiba ngecek. Makanya tiap hari tanpa menerka-nerka dia bakalan ngecek atau enggak sorenya, lu fokus aja dapatin 20 KYC tiap hari. Jangan kayak Lena sama Winni."

Hening. 

Semua pada dengerin dengan serius.

"Dri, Lu Ndri udah 3 bulan gak deposit. Bulan ini kalau lu gak deposit-deposit juga, besok lu pake baju adat ke kantor."

Satu ruangan ngakak terjungkcal...

"Lena juga jadi ikut-ikutan tuh -"

Kena lagi!

"Saya kan gak nuntut harus seratus juta, lima puluh juta. Nama lu ada di papan aja, udah. Itu saya udah bangga, kalau nama anak buahnya bejejer di papan. Kalau semua udah deposit di tim Ferrari, kita bisa party!

Yeah, bos Charli emang leader yang beda dari yang lain. Selalu ada bonus di tim ini. Akun demo yang paling banyak profitnya aja dapat hadiah. Yang absennya 0 juga dapat reward. Apalagi yang paling banyak deposit. 

---------------------

Bos Carol udah seminggu gak masuk. Kata Pak Charli sih dia lagi di Bali - liburan. Jadilah si Oscar gak betah di ruangannya. Dia bolak-balik keluar masuk ruangannya yang berarti kami tidak punya celah untuk ngobrol barang sedikit pun. 

Selain emosi yang meledak-ledak, bos Oscar ini juga suka dadakan. Aku udah pernah bilang kan. Nah kali ini dia mengurangi jam istirahat kami. Biasanya di hari Jumat, karena ada sholat Jumat jam 11.30 udah break. Tapi begitu jam 11.25 dia muncul dan mengeluarkan pengumuman dadakan. Ola si transalator udah stand by di sampingnya.

"Sudah tiga hari ini semua saham-saham teknlogi naik. Tapi di papan hanya ada 1 nama yang baru deposit. Kenapa? Where the deposit? Lena?"

Anju!

KENAPA GUE LAGI YANG KENA, plis. 

Bulan lalu gue masih jualan ya, Oscar. Meski gak gede, tapi ada nama gue di papan. Ada kurang lebih 3/4 dari jumlah total telemarketing di ruangan ini yang gak deposit bulan lalu. Dan lu nanya ke gue, where the deposit?

R U OK??!!

Lu semakin memantapkan langkah gue buat cabut...

"On the way, Sir," kujawab singkat. 

Siang itu kami disuruh nelpon lagi sampai jam 12.00. 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...