Apakah ada yang pasti dalam hidup ini? Satu-satunya yg pasti mungkin ketidakpastian itu sendiri kali yah.
Well, minggu-minggu ini lumayan menguras pikiran. Di usia 26 mungkin gak banyak orang yang harus belajar dari nol lagi untuk pekerjaannya. Banyak yang udah jadi supervisor di usia 26. Tapi disinilah awak, harus belajar segala perintilan kartu kredit di salah satu bank swasta terbesar di Indonesia.
Kuliah belajar batubara. Setelah lulus dan bekerja, ilmu tentang batubara gak kepake karena pekerjaan yang menerimaku random. Perusahaan importir stainless steel, perusahaan teknologi pendidikan, perusahaan pialang, bank pensiunan, sampai yang saat ini bank lagi jadi call center kartu kredit. Jadi bisa dibilang aku pernah belajar tentang stainless steel, jenis-jenis paket bimbingan belajar, jenis-jenis saham luar negeri, produk pensiunan dan bunganya, sampai yg sekarang : jenis-jenis kartu kredit.
Random banget, kan? Anju emang.
Yeah, meskipun masih training, tapi jelimetnya udah kerasa dari sekarang. Masih training loh ini, baru minggu kedua. Gimana kalau udah online beneran? Handle komplen nasabah sendiri.
Bukannya ngeluh sih. Cuma mau mengeluarkan isi hati aja. Soalnya di kelas aku harus jaga tingkah, gak bisa slengean kayak biasa karena aku paling tua sendiri di kelas. Mereka semua adalah adek-adek kelahiran '98 bahkan ada '99.
Can you imagine that? Awak kelahiran '95 ini jelas tidak merasa nyambung kalau ngobrol sama mereka. Jadi aku mengisolasikan diri.
Menurut gosip yang beredar, tantangan terberat training ini nanti adalah saat final test, dimana kami harus roleplay dengan QA, tentunya sebagai contact center dan QA sebagai nasabah (yang marah-marah). QA akan menilai apakah solusi yang diberikan sudah sesuai, apakah contact center sudah menyampaikan greeting sesuai standar dll.
I don't know apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Yang pasti, untuk sampai di tahap sekarang aku sudah melakukan beberapa sacrafice (baca : pengorbanan), antara lain :
1. Ninggalin kerjaan lama yg gajinya udah stabil gajinya meskipun emosi atasannya gak stabil (meledak-ledak)
2. Gak ikut tes SKD CPNS di KLHK demi ttd kontrak (harinya bentrok, jadi telat tiba di lokasi)
3. Pindah dari Jakarta ke Bsd. Which is ini kayaknya pengorbanan terbesar, mengingat karena udah gak di Jakarta lagi, aku yang tadinya janji bakalan datang nonton acara open mic offline di daerah Kebayoran Jaksel jadi mengubur mimpi itu bahkan sebelum materi solid pertama-ku kelar. Tapi bukan berarti bakalan berhenti belajar seni stand up comedy sih.
Yeah, so far itulah pengorbanan yang kubuat. Oh iya, termasuk pengorbanan dpt kosan lebih mahal di Bsd. Kosanku dulu di UNJ masih dapat 550 rb, di sini 655 rb.
The question is, apakah keputusan ini sudah tepat?
Atau aku salah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar