Rabu, 06 Maret 2024

Malam ini aku nangis lagi. Selalu kulakukan diam-diam supaya gak ada yang tau. Aku bukannya rapuh atau cengeng. Hanya saja dengan menangis aku bisa lebih 'manusia'. Bukannya aku monster, vampir, iblis atau pun makhluk abadi lainnya. Aku menagis biar lebih.. Gitu deh. Gimana ya jelasinnya..

Sehari-hari aku bekerja sebagai call center, dituntut harus ceria, smiling voice. Itu sih gampang. Aku pintar berpura-pura. Bahkan status medsos-ku (kalau lagi pengen upload sesuatu) selalu cerita senang, bahagia, lucu. Biar orang-orang mengira hidupku selalu baik-baik saja. Entah ini penyakit atau kelainan. Aku pengen orang iri denganku. Padahal aku gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. 

Hahahah.

Udara malam ini sejuk. Sambil memandangi langit, air mataku bercucuran. Untung tetanggaku semuanya udah pada tutup pintu. Jadi aku bisa keluar kamar untuk menangis sambil menghirup udara malam. Kos seberang sebenarnya sedang ramai. Kayaknya mereka lagi masang wifi. Untungnya gelap, mereka pasti gak bisa melihat ke arahku. 

Kalau sedang menangis, aku bisa mengingat semua hal menyedihkan yang pernah terjadi. Itu yang bikin air mataku mengalir deras mengalahkan air terjun kurasa. Aku tau ini salah. Merasa aku jadi orang paling tidak beruntung sedunia. Meratapi nasib. Tidak mensyukuri yang sudah kumiliki saat ini. Tapi biar bagaimanapun aku manusia. Manusia itu susah bersyukur. 

Ketika sedang menangis, aku berharap punya rokok atau alkohol yang bisa menemaniku. Sebenarnya bisa kubeli dengan mudahnya. Rokok tinggal beli di warung. Alkohol pesan di gofood atau grabfood. Tapi aku takut mati. Hah, konyol sekali bukan.

Jujur, aku gak mau mati cepat. Masih banyak hal di dunia ini yang belum kulakukan, kurasakan, kunikmati. Kata orang, apa yang kita masukkan ke dalam tubuh, itu juga respon yang akan diberikan tubuh. Ketika merokok, kamu sudah mencemari alat pernafasanmu. Maka perlahan-lahan alat pernafasanmu akan memberikan respon buruk. 

Lagian kayaknya susah deh nangis-nangis sambil merokok. Ya gak sih? Apalagi nangis sambil minum alkohol. Bisa-bisa tersedak, alkoholnya masuk hidung. Ih, perih! 

Tapi aku orang yang mudah berubah mood-nya kok. Tenang aja. Mood swing ini kayaknya sejalan dengan ke-plin plan-an ku dalam mengerjakan sesuatu. Misalnya menulis. Aku pernah berjanji bakalan menerbitkan bukuku sebelum usia 30 tahun. Apa yang terjadi setelah janji itu? Aku malas menulis. Padahal tahun ini aku udah 29 tahun. 

Itu baru soal menulis. Stan up comedy juga sama. Aku pernah belajar dan pengen jadi stand up comedy-an yang bisa ngoceh-ngoceh (lucu) di panggung soal cerita hidupnya atau orang lain tapi dibayar. Betapa menggiurkannya bisa menghasilkan uang dengan cara begitu. Aku hanya harus berani tampil di hadapan banyak orang dan punya teknik serta materi yang bagus. Aku sampai ikut kursus stand up comedy berbayar seharga 1 juta. Tapi gara-gara cutiku gak di acc, aku pun cuma bisa lihat tanyangan ulang di Youtube. Padahal seharusnya kursusnya offline.

Lah. kok aku malah cerita hal lain. Padahal tadi cuma mau cerita kalau malam ini aku menangis lagi, eh malah ngelantur kemana-mana.

Apapun itu, berbicara memang lebih mudah dari melakukan ya. Banyak video-video motivasi hidup yang kutonton dan kusimpan. Begitu merasa down, kutonton ulang. Tapi sering tak memberikan dampak besar. 


Regards,


CCO yang sedang sedih malam ini



#baladacco 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...