Rasanya waktu berjalan begitu cepat.
Tahun ini aku akan berusia 29
tahun. Dan siapa sangka aku bisa bertahan di pekerjaan sekarang selama 2 tahun
4 bulan. Saat hari pertama bekerja kukira aku akan bertahan hanya dua hari saja.
Hahahah.
Teman-teman sebaya sudah banyak
yang menikah. Ada yang anaknya sudah masuk SD. Waw. Itu tadi kubilang, waktu
rasanya berjalan begitu cepat. Cuma aku yang ketinggalan.
But it’s fine. Waktu semua orang
berbeda-beda. Yang penting isi hidupmu dengan hal-hal bermanfaat. Naik gunung
misalnya. Hahah. Oh yeah, itu sangat bermanfaat. Setidaknya untukku. Karena
sepulang dari gunung, seseorang datang kehidupku. Ceile.
His name Sahat. Itu adalah nama
orang batak kebanyakan. Yang artinya sampai.
Kami ketemu saat ikut open trip pendakian Gunung Sindoro. Sebenarnya kami dari
open trip yang berbeda. Tapi saat itu jadi digabungin. Dan tentu saja dia yang
dekatin duluan.
Aku masih ingat saat itu pagi
hari jam 8.30 saat baru tiba di basecamp setelah semalaman pegal di bus ukuran
tanggung. Kalau gak salah tanggal 29 Juni atau 30? Pertama kali jumpa. Tim dia
dan tim kami sedang bersiap-siap untuk memulai pendakian. Aku yang habis cuci
muka pergi ke luar ingin menghirup udara segar. Disana dia lagi beres-beresin
barang.
Waktu itu aku ngomong sendirian, “Wah,
udaranya segarrrr. Beda banget sama BSD.”
Dan ternyata dia juga tinggal di
BSD.
“Dimana di BSD?”
“Hah? Oh di itu, em serpong.”
“Aku juga tinggal di BSD.”
“Abang halak kita? Marga apa
abang?”
“Aritonang.”
“Aku boru Nainggolan.”
“Asal darimana?”
“Samosir.”
“Kalau abang?”
“Aku Pekanbaru.”
Dan setelah semua selesai
siap-siap, pendakian pun dimulai. Dan ini adalah pendakianku lagi sejak tahun
2016. Jadi bisa dibilang aku gak begitu lihai dalam menyiapkan barang-barang
yang dibutuhkan buat menanjak. Misalnya saja trekking pole. Aku tak bawa. Padahal
semua orang di rombongan aku punya pakai itu. Termasuk dia.
“Nih, pake punyaku aja,” dia
menyodorkan trekking pole-nya.
“Serius? Gak apa-apa nih, Bang?”
Akhirnya kami sampai di puncak
Sindoro tanggal 01 Juli. Saat di tenda sebelum turun ke basecamp, dia minta
nomor WA-ku. Dan semua berjalan kurang lebih dua bulan sebelum kami resmi
pacaran tanggal 08 September. Dia nembak di kosku abis kami balik dari kfc.
Dan memang tidak romantic saat
itu. Wkwkwk. Tak ada bunga atau boneka kayak di drakor-drakor. Realita memang
tak seindah drakor ya.
Sejauh ini aku bahagia sama dia. Cowok
yang sensitif hatinya. Mungkin karena dia anak bungsu? Tapi dia lebih dewasa
dari aku. Padahal usiaku setahun lebih tua. Emang betul ya, usia tidak menjamin
kedewasaan seseorang. Dia suka nonton anime, gampang keringetan, suka yang
manis-manis. Akhir-akhir ini aku juga jadi kecanduan anime, tapi baru satu
judul sih, Demon Slayer. Itu gara-gara dia.
Dan juga perokok. Mungkin
terkesan melarang-larang, tapi aku udah bilang dia buat kurangin rokoknya. Ya setidaknya
3 batang sehari. Ini kan demi kebaikan dia juga.
Kami memang baru bersama selama
hm, 7 bulan kurang 2 hari. Udah pernah ribut gara-gara beberapa hal. Tapi kurasa
itu manusiawi dalam sebuah hubungan. Gak ada yang selamanya adem ayem kan? Harus
ada bumbu-bumbunya.
Well, Dear Sahat yang kujumpai
karena Gunung Sindoro. Terima kasih sudah datang ke dalam hidupku. Dan maaf
apabila kelakuanku sering di luar nurul ya sayang. Hahaha. Kamu harus kuat
dengan keajaibanku.
I love u.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar