Hari ini beberapa organisasi
kepemudaan kota Palangka Raya melakukan aksi penggalangan dana di lampu merah.
GmnI, GMKI, PMKRI, HMI, KHMDI dan BEM Universitas Palangka Raya.
Penggalangan
dana itu untuk korban bencana alam gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya
Aceh.
Tapi di atas semua itu, sambil menyodorkan kardus ke kaca-kaca
mobil atau pun orang yang naik motor, ada satu hal yang mengganjal di
pikiranku.
Aku udah semester 7 sekarang!
Aku
masih ingat kejadian tadi pagi. Aku mendatangi monev KP (magang) untuk
menandatangani proposal magang kami, aku dan Jea. Tetapi entah sejak kapan
berlakunya, beliau sudah menetapkan syarat baru lagi untuk mahasiswa yang bisa
mengurus proposal magang. Harus sudah memprogramkan magang dalam KRS dan
bersedia membuat surat pernyataan tidak meminta surat dispensasi saat magang
nanti. Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa syarat itu baru ditetapkan bulan
ini. Kenapa pas kami yang mengajukan proposal? Kenapa teman-teman yang
sebelumnya bisa? KENAPA???!!!
Perlahan
pikiranku kembali ke masa-masa kelam yang telah terlalui dengan berbagai
kelucuan, kedunguan, keputusasaan yang hampir terwujud dan mungkin juga
kebahagiaan.
1. Semester I
Semester
dimana lo ngerasa jadi korban keganasan dan pelampiasan senior. Dikerjain waktu
ospek, dibentak-bentak, disuruh minta maaf sama matahari bahkan dimintai
traktiran. Untungnya, aku gak ngalamin itu semua. Kenapa? Karena aku telat
daftar ulang. Karena aku masuk lewat jalur UMB PTN yang mana pendaftaran ospek
Fakultas Teknik udah tutup waktu aku pertama kali menginjakkan kaki di
Kalimantan Tengah.
Di
semester ini juga timbul deg-deg an yang luar biasa. Kuliah itu gimana sih? Aku
salah jurusan gak ya?
Terlepas
dari masa-masa jadi korban senior, semester 1 adalah masa-masa paling rindu
dengan rumah, ortu, kampung halaman. Kebetulan aku juga berasal dari sebuah
desa kecil di Sumatera Utara, pulau yang dikelilingi Danau Toba. Pulau Samosir.
Semester 1 adalah masa-masa merasa sangat pilu, dan sensitif. Kita juga masih
bingung nyari kos-kosan yang murah, nyari makanan yang murah dan teman yang
nyambung. Pokoknya semester 1 masih lugu. Masih bingung tentang kampus sendiri,
UKM apa aja yang ada atau mau masuk UKM apa. Nitip absen? Mana berani! Makan masih
teratur. Nelpon ortu masih teratur. Masih anak rumahan yang rajin menabung dan
tidur siang.
2. Semester II
Di
semester ini, perilaku masih belum jauh beda dengan di semester 1. Oh iya, apa
yang kuceritakan disini juga terjadi samaku loh ya. Meski kini udah semester 7,
aku pernah kok dari semester 1.
Bedanya,
kita udah punya teman. Meskipun bukan teman deket. Kita udah tahu dimana warung
nasi yang enak. Dimana warung sembako yang murah. Dan kemana harus mencari ibu
kos kalau mau bayar uang kos.
Kuliah?
Masih takut titip absen. Udah mulai masuk kegiatan eskul. Sebut aja UKM deh,
Unit Kerja Mahasiswa. Kalau aku sih dari semester 1 udah gabung sama UKM Pecinta
Alam, MAPALA.
3. Semester III
Sejauh
yang kualami, semester ini mulai ada praktikum. Jadi mulai pusing juga buat
bagiin waktu antara kuliah, ngerjain tugas sama bobo siang. Makan juga mulai gak
teratur.
Tapi
jangan salah loh ya. Aku justru pernah kerja part time di mart waktu
semester 3 sibuk-sibuknya praktikum Perpetaan. Yap, selaku mahasiswa jurusan
teknik pertambangan, kita harus diajarin bikin peta dan tahu cara pemetaan. What a ribet thing! Tapi itu tergantung bagaimana pintarnya kita mengatur waktu.
Yang kusesalkan adalah, meskipun aku kerja paruh waktu, aku gak pernah tahu
kemana gajiku lenyap.
4. Semester IV
Mata
kuliah yang lo hadepin mulai makin serius. Semester ini jurusan kami ada yang
namanya Kuliah Lapangan (KL). Kuliah di lapangan tanpa meja atau kursi dan
berpanas-panasan. Kalau lo emang gak tahan bermandikan panas matahari, jangan
pernah deh coba-coba kuliah di jurusan ini.
Sekian
mata kuliah yang udah dilalui, sekian nilai-nilai di KHS yang tercetak, lo
mungkin mulai ngerasa, “aku salah jurusan gak ya?”
Mungkin
semuanya mulai nyata. Dan kalau lo emang normal, di semester ini bisa aja lo
udah punya pacar. Pacar lo kemungkinan besar satu jurusan dan seangkatan lo. Paling
jauh anak beda jurusan tapi masih satu fakultas. Paling jauh lagi, dia kuliah
di Jawa, lo kuliah di Kalimantan.
5. Semester V
Lo
udah mulai ikut seminar hasil magang atau proposal Tugas Akhir kakak tingkat. Dalam
hati muncul kekaguman pada sang kakak tingkat kalau dia kuliahnya cepat, tepat
4 tahun. Tekad juga muncul kala elo ngeliat ada angkatan 2008 yang belum juga
ngurus tugas akhir padahal udah taon 2016. Gue
harus lebih baik dari dia. Gue harus bisa lulus 4 tahun!
Di
semester ini, kalau emang lo gabung sama UKM, pasti lagi sibuk-sibuknya juga
ngurusin kegiatan. Masuk kepanitiaan, stress gara-gara gak bisa kerja sama
dalam tim, berdebat sama pacar, selingkuh, bohongin ortu soal kebutuhan dadakan,
uang kos belum dibayar dan keluyuran. Atau menyerah sama cinta terpendam lo,
dan nyari haluan lain. Semua bisa saja terjadi.
6. Semester VI
Kalau
orangnya emang baik dan peduli sama ortu, dia bakalan cepat-cepat pengin
nuntaskan kuliahnya. Dia cepat-cepat ngurus proposal magang, kuliah rajin,
tugas-tugas dikerjakan sendiri tanpa nyontek, makan, tidur dan olahraga
teratur. Semseter ini rasa senior udah mulai merasuki jiwa dan raga seseorang. Sebenernya
dari semester 5 juga kayaknya udah sih.
Nah,
di sini lo makin repot sama organisasi. Bahkan sering juga kuliah lo terabaikan.
Ikut aksi penggalangan dana untuk korban banjir di lampu-lampu merah, ikut
lomba-lomba kampus, atau ada juga yang lebih doyan di kos. Nge-game. Atau nonton
drama korea.
Pemikiran
“udahlah, buat apa lulus kuliah cepat-cepat? Nikmatin masa muda dulu”, juga
mulai menghampirimu karena kamu gak yakin dengan tekadmu bisa lulus wisuda 4
tahun tepat.
7. Semester VII
Aku
sih gak mau cepat-cepat lulus kuliah. Buat apa lulus kalau toh jadi
pengangguran juga di kampung sendiri? Atau lulus cepat tapi gak tau apa-apa. Tapi,
demi orang tua yang melahirkan dan membesarkan, tuntutan lulus 4 tahun harus
dipenuhi. Dalam pemikiran mereka, ketika seorang mahasiswa gak bisa wisuda
tepat 4 tahun, itu artinya dia bodoh. Sangat bodoh. Tidak ada penawaran lain. Si
mahasiswa tersebut pasti main-main kuliahnya.
Tapi
untuk ukuran manusia yang punya jiwa sosial tinggi kayak aku, semester ini
adalah saat-saat membingungkan. Aku magang kapan? Terus proposal kapan? Seminar
hasil? Ngerekos mata kuliah yang dapat nilai C gak ya? Organisasiku gimana? Apalagi
saat ini aku diminta jadi pemimpin selanjutnya.
Tapi
aku punya prinsip.
Gak
apa-pa jika aku gak bisa lulus 4 tahun. Setidaknya aku lulus nanti tau sedikit
tentang keorganisasian, punya link dari organisasi lain dan pengalaman
tentunya.
Intinya,
kuliah itu gak balapan lulus.








































Tidak ada komentar:
Posting Komentar