Selasa, 13 Desember 2016

Metamorfosis Makhluk Hidup Bernama Mahasiswa

Hari ini beberapa organisasi kepemudaan kota Palangka Raya melakukan aksi penggalangan dana di lampu merah. GmnI, GMKI, PMKRI, HMI, KHMDI dan BEM Universitas Palangka Raya.
Penggalangan dana itu untuk korban bencana alam gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya Aceh. 
Tapi di atas semua itu, sambil menyodorkan kardus ke kaca-kaca mobil atau pun orang yang naik motor, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku.
Aku udah semester 7 sekarang!
Aku masih ingat kejadian tadi pagi. Aku mendatangi monev KP (magang) untuk menandatangani proposal magang kami, aku dan Jea. Tetapi entah sejak kapan berlakunya, beliau sudah menetapkan syarat baru lagi untuk mahasiswa yang bisa mengurus proposal magang. Harus sudah memprogramkan magang dalam KRS dan bersedia membuat surat pernyataan tidak meminta surat dispensasi saat magang nanti. Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa syarat itu baru ditetapkan bulan ini. Kenapa pas kami yang mengajukan proposal? Kenapa teman-teman yang sebelumnya bisa? KENAPA???!!!

Perlahan pikiranku kembali ke masa-masa kelam yang telah terlalui dengan berbagai kelucuan, kedunguan, keputusasaan yang hampir terwujud dan mungkin juga kebahagiaan.

1. Semester I
Semester dimana lo ngerasa jadi korban keganasan dan pelampiasan senior. Dikerjain waktu ospek, dibentak-bentak, disuruh minta maaf sama matahari bahkan dimintai traktiran. Untungnya, aku gak ngalamin itu semua. Kenapa? Karena aku telat daftar ulang. Karena aku masuk lewat jalur UMB PTN yang mana pendaftaran ospek Fakultas Teknik udah tutup waktu aku pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan Tengah.
Di semester ini juga timbul deg-deg an yang luar biasa. Kuliah itu gimana sih? Aku salah jurusan gak ya?
Terlepas dari masa-masa jadi korban senior, semester 1 adalah masa-masa paling rindu dengan rumah, ortu, kampung halaman. Kebetulan aku juga berasal dari sebuah desa kecil di Sumatera Utara, pulau yang dikelilingi Danau Toba. Pulau Samosir. Semester 1 adalah masa-masa merasa sangat pilu, dan sensitif. Kita juga masih bingung nyari kos-kosan yang murah, nyari makanan yang murah dan teman yang nyambung. Pokoknya semester 1 masih lugu. Masih bingung tentang kampus sendiri, UKM apa aja yang ada atau mau masuk UKM apa. Nitip absen? Mana berani! Makan masih teratur. Nelpon ortu masih teratur. Masih anak rumahan yang rajin menabung dan tidur siang.











2. Semester II
Di semester ini, perilaku masih belum jauh beda dengan di semester 1. Oh iya, apa yang kuceritakan disini juga terjadi samaku loh ya. Meski kini udah semester 7, aku pernah kok dari semester 1.
Bedanya, kita udah punya teman. Meskipun bukan teman deket. Kita udah tahu dimana warung nasi yang enak. Dimana warung sembako yang murah. Dan kemana harus mencari ibu kos kalau mau bayar uang kos.
Kuliah? Masih takut titip absen. Udah mulai masuk kegiatan eskul. Sebut aja UKM deh, Unit Kerja Mahasiswa. Kalau aku sih dari semester 1 udah gabung sama UKM Pecinta Alam, MAPALA.

3. Semester III
Sejauh yang kualami, semester ini mulai ada praktikum. Jadi mulai pusing juga buat bagiin waktu antara kuliah, ngerjain tugas sama bobo siang. Makan juga mulai gak teratur.
Tapi jangan salah loh ya. Aku justru pernah kerja part time di mart waktu semester 3 sibuk-sibuknya praktikum Perpetaan. Yap, selaku mahasiswa jurusan teknik pertambangan, kita harus diajarin bikin peta dan tahu cara pemetaan. What a ribet thing! Tapi itu tergantung bagaimana pintarnya kita mengatur waktu. Yang kusesalkan adalah, meskipun aku kerja paruh waktu, aku gak pernah tahu kemana gajiku lenyap.
Semseter 3, kalau lo emang waras, lo udah mulai naksir someone di sini.











4. Semester IV
Mata kuliah yang lo hadepin mulai makin serius. Semester ini jurusan kami ada yang namanya Kuliah Lapangan (KL). Kuliah di lapangan tanpa meja atau kursi dan berpanas-panasan. Kalau lo emang gak tahan bermandikan panas matahari, jangan pernah deh coba-coba kuliah di jurusan ini.
Sekian mata kuliah yang udah dilalui, sekian nilai-nilai di KHS yang tercetak, lo mungkin mulai ngerasa, “aku salah jurusan gak ya?”
Mungkin semuanya mulai nyata. Dan kalau lo emang normal, di semester ini bisa aja lo udah punya pacar. Pacar lo kemungkinan besar satu jurusan dan seangkatan lo. Paling jauh anak beda jurusan tapi masih satu fakultas. Paling jauh lagi, dia kuliah di Jawa, lo kuliah di Kalimantan.












5. Semester V
Lo udah mulai ikut seminar hasil magang atau proposal Tugas Akhir kakak tingkat. Dalam hati muncul kekaguman pada sang kakak tingkat kalau dia kuliahnya cepat, tepat 4 tahun. Tekad juga muncul kala elo ngeliat ada angkatan 2008 yang belum juga ngurus tugas akhir padahal udah taon 2016. Gue harus lebih baik dari dia. Gue harus bisa lulus 4 tahun!
Di semester ini, kalau emang lo gabung sama UKM, pasti lagi sibuk-sibuknya juga ngurusin kegiatan. Masuk kepanitiaan, stress gara-gara gak bisa kerja sama dalam tim, berdebat sama pacar, selingkuh, bohongin ortu soal kebutuhan dadakan, uang kos belum dibayar dan keluyuran. Atau menyerah sama cinta terpendam lo, dan nyari haluan lain. Semua bisa saja terjadi.
Titip absen? Bukan perkara besar!














6. Semester VI
Kalau orangnya emang baik dan peduli sama ortu, dia bakalan cepat-cepat pengin nuntaskan kuliahnya. Dia cepat-cepat ngurus proposal magang, kuliah rajin, tugas-tugas dikerjakan sendiri tanpa nyontek, makan, tidur dan olahraga teratur. Semseter ini rasa senior udah mulai merasuki jiwa dan raga seseorang. Sebenernya dari semester 5 juga kayaknya udah sih.
Nah, di sini lo makin repot sama organisasi. Bahkan sering juga kuliah lo terabaikan. Ikut aksi penggalangan dana untuk korban banjir di lampu-lampu merah, ikut lomba-lomba kampus, atau ada juga yang lebih doyan di kos. Nge-game. Atau nonton drama korea.
Pemikiran “udahlah, buat apa lulus kuliah cepat-cepat? Nikmatin masa muda dulu”, juga mulai menghampirimu karena kamu gak yakin dengan tekadmu bisa lulus wisuda 4 tahun tepat.






7. Semester VII
Aku sih gak mau cepat-cepat lulus kuliah. Buat apa lulus kalau toh jadi pengangguran juga di kampung sendiri? Atau lulus cepat tapi gak tau apa-apa. Tapi, demi orang tua yang melahirkan dan membesarkan, tuntutan lulus 4 tahun harus dipenuhi. Dalam pemikiran mereka, ketika seorang mahasiswa gak bisa wisuda tepat 4 tahun, itu artinya dia bodoh. Sangat bodoh. Tidak ada penawaran lain. Si mahasiswa tersebut pasti main-main kuliahnya.
Tapi untuk ukuran manusia yang punya jiwa sosial tinggi kayak aku, semester ini adalah saat-saat membingungkan. Aku magang kapan? Terus proposal kapan? Seminar hasil? Ngerekos mata kuliah yang dapat nilai C gak ya? Organisasiku gimana? Apalagi saat ini aku diminta jadi pemimpin selanjutnya.
Tapi aku punya prinsip.
Gak apa-pa jika aku gak bisa lulus 4 tahun. Setidaknya aku lulus nanti tau sedikit tentang keorganisasian, punya link dari organisasi lain dan pengalaman tentunya.
Intinya, kuliah itu gak balapan lulus.
Lakukan apa yang menurut kamu benar dan pertanggungjawabkan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...