Kamis, 29 Desember 2016

Ekpedisi Bukit Bulan 19-22 Desember 2016 (Suporrted by Bupati Katingan)

Kata “ekspedisi” ini bagiku terlalu keren sebenarnya. Yang ada di benakku ketika mendengar kata ekspedisi adalah kegiatan terjun ke suatu daerah yang belum pernah didatangi manusia sebelumnya, terus bikin jalur masuk ke sana. Misalnya kayak pembukaan trek baru ke Semeru. Di sini meskipun tujuannya bukan gunung yang tinggi, melainkan bukit yang hanya 100 m, aku gak tau kenapa harus pakai “ekspedisi’ segala. Seperti kataku tadi, mungkin ini pertama kalinya manusia mendatangi bukit itu. Bukit Bulan. Apakah dari sana bulan terlihat jelas? Let’s find out!


18 Desember 2016
Ekspedisi ini mengundang mapala-mapala dari semua mapala di kampusku. Jadinya mapala Figure, Sylva raya, Comodo dan tentu saja mapala kami, mapala Dozer ikut ambil bagian. Selain mapala, ekspedisi ini juga mengundang orang-orang dari dinas kabupaten katingan, organisasi pemuda Katingan, Pramuka, KNPI, PWI, dan banyak lagi. Aku gak ingat satu per satu. Setiap mapala diberi kuota 7 orang. Berhubung 3 orang dari Dozer berhalangan ikut padahal udah didaftarkan, aku ajak Bonita untuk ikut serta dalam petualangan ini.
Bonita udah dua kali gagal ikut mendaki sama aku. Kemarin pas mau ke Semeru (terakhir aku cuma sampai Ranu Kumbolo). Kedua pas pendakian nasional 17 Agustus ke puncak Halau-halau, pegunungan Meratus di Banjarbaru. Waktu itu kakinya  terkilir baru jatuh naik motor. Bonita senang amat pas tau bakalan ikut mendaki. Hahaha. Selamat, Bon! Meskipun nama dia terdaftarkan sebagai nama orang lain.
Berhubung karena ekspedisi ini dibiayai bupati, mulai dari makan, transportasi dan akomodasi, kami hanya perlu membawa carrier berisi baju ganti, peralatan mandi, obat pribadi, alat masak dan perlengkapan tidur saja. Tapi Bang Safri gak yakin kalau makanan bakalan ditanggung 100% sama panitia. Dia nyuruh aku bawa beras 1 kilo. Kuturuti. Dari Dozer ada 4 orang yang ikut dan aku satu-satunya cewek. Untung kuajak Bonita. Bang Nofen udah berangkat kemarin, sambil ikut teknikal meting-nya. Rumah bibinya dekat dengan rujab bupati Katingan.



Kami berempat berangkat naik motor dari Palangka Raya ke Katingan. Estimasi waktu kurang lebih 2 jam. Aku sama Bang Debe, Bonita sama Bang Safri. Keberangkatan kami disertai gerimis yang perlahan berubah jadi hujan di tengah perjalanan. Tapi gak perlu berhenti. Berangkat jam 1630, tiba di Katingan 18.20. Di Katingan, kami nginap di rumah tantenya Bang Nofen. Bang Nofen yang dua hari lalu kukunya lepas gara-gara kejepit ban motor tetap ikut ekspedisi ini. Wah! Siap-siap aja, Bang!

Kami makan malam di sana. Tahunya enak nian. Kami berlima merundingkan apa-apa aja yang belum lengkap. Malam itu juga semua barang dipacking ulang. Terus tidur. Mamanya Bang Nofen baik banget ngasih kasur sama bantal ke kami berdua. Aku dan Bonita tidur di depan TV. 


19 Desember 2016
Mungkin karena tadi malam tidur jam 9, paginya aku dan Bonita terbangun pagi-pagi jam 4. Sampai jam 05.00 kami tidur-tiduran. Barulah jam 5 lewat kami mandi. Satu per satu anggota ekspedisi (sebutan ini agak geli) yang lain mulai bangun satu per satu. Sarapan bersama, siap-siap dan go to rujab’house. Kurang lebih 10 menit, kita nyampe. Hari itu tepatnya 19 Desember ternyata hari nusantara. Jadi pelepasan peserta ekspedisi bukit bulan diadakan bersamaan dengan kegiatan “Gemar makan ikan”, yang bakalan diikutin adek-adek SD,SMP dan SMA. Serangkaian acara terlewati dan kami para peserta ekspedisi ternyata tidak diikutkan makan ikan.


Para peserta ekspedisi tampil dengan baju asal kelompok/klub/organisasinya amsing-masing. Anak pramuka, bapak-bapak trail club dengan baju full colour mereka. Anak-anak mapala ada yang pakai PDH. Kami berempat cuma pake slayer. Mapala comodo yang ikut Ana sama Jul. Si Ana ini ketua umum (ketum) mapala mereka sekarang. Mengingatkanku pada diriku yang diamanatkan Bang Safri (ketum sekarang) untuk jadi ketum berikutnya. Kubilang bakalan kupertimbangkan. Dari Sylva ada si Arif yang kemarin juga ikut pendakian nasional Halau-halau. Mereka berdua sama si Jo. Dari Figure dua orang juga, si Iwan sama juniornya si Aris. Nantinya rombongan ini bakalan satu komplotan.


Dari rujab, jam 10.30 peserta ekspedisi diantar naik mobil dinas (para karyawan mungkin) ke dermaga. Bukan dermaga sih, tapi sebut aja demikian karena di sana sudah menunggu tongkang yang akan membawa kami mengarungi sungai katingan. Dari rujab ke dermaga sekitar 2 jam. Yang paling memiriskan adalah lamanya perjalanan dengan tongkang menuju desa Tumbang Bulan (desa terakhir) yang katanya bakalan 8 jam. Berangkat jam 12.30 dari dermaga. Makan siang dibagikan di tongkang. Kami memilih untuk memasang fly sheet di atas, dekat menara pengintai tongkang. Awalnya sih adem. Tapi lama-kelamaan panas menembus fly sheet, menyerang orang-orang yang bertedeuh di bawahnya.
Mungkin bagi para cowok-cowok perjalanan 8 jam ini gak akan terasa membosankan karena ternyata dalam tongkang ini bakalan ada hiburan. Seorang penyanyi dangdut yang katanya YULI KDI 2 datang. Bagi Bonita yang benci lagu dangdut, perjalanan 8 jam ini terasa seperti mimpi buruk di malam kliwon. Aku sih menyibukkan diri dengan hp xiaomi yang baru tiba dua hari yang lalu dari BukaLapak. Dikirim lewat JNE. Jepret-jepret, merekam video, main onet. Sayangnya gak bawa headshet. Sial.
“Sau-satunya panggung di atas sungai katingan..”, suara MC dari atas panggung. Lucu juga kalau dia bilang begitu. Sang MC yang adalah laki-laki 40-an dengan kaca mata hitam dan setelan kemeja merah maroon mirip Choky Sihotang dalam acara Take Me Out itu menyapa desa-desa yang dilewati tongkang kami.
“Selamat siang penduduk desa X. Kami dai rombongan ekspedisi bukit bulan mohon doa restunya. Pendakian ini akan dipimpin langsung oleh bapak bupati katingan. Jangan lupa untuk datang ke Tumbang Bulan mala mini karena aka nada hiburan dari YULI KDI 2 artis ibukota Jakarta. “
Dia mengucapkannya dengan semangat berapi-api. Para penduduk desa yang melihat tongkang pun melambaikan tangannya. Hal ini mengingatkanku pada sebuah scene di film Sang Pemimpi dimana si Arai naik kapal untuk berangkat ke Jakarta buat kuliah. Ketika melewati rumah Zakiah Nurmala gebetannya, dia teriak-teriak kencang sambil melambaikan tangan. “Tunggu abang, Zakiah! Abang pasti pulang!!”  










Sepanjang mata memandang, yang terlihat di kiri-kanan hanyalah hutan. Kadang tumpukan kayu hasil tebangan (entah legal atau gak), desa, penduduknya lagi mandi, mencuci pakaian, nelayan dengan klotok. Tak ada tiang listrik di sini. bagaimana dengan sekolah? Sungai ini pasti satu-satunya akses mereka ke ibukota kabupaten, Kasongan. Mungkin buat orang-orang pengunjung kayak kami, sungai ini bukan apa-apa. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi buat mereka, penduduk-penduduk di sekitar sungai, sungai ini adalah segalanya untuk mereka. Mereka tak bisa hidup tanpanya. Pertanyaanku tentang sekolah terjawab sudah, saat sebuah klotok (perahu bermesin) melewati tongkang kami. Di dalamnya ada anak-anak berseragam putih-merah dan putih-biru.

Desa Tumbang Bulan
Seharian berada dalam tongkang. Bang Debe tetap dengan headshet-nya yang gak mau kupinjam barang semenit pun. Bang Safri nyengir terus sambil memamerkan fotonya dengan YULI KDI 2 yang pipi mereka bersentuhan. Aku khawatir giginya kering nanti gara-gara nyengir terus. Bang Nofen, Jul, Jo, Iwan sibuk dengan bir bintang. Entah darimana mereka dapat. Mungkin ngemis dari panitia. Aris termenung sendiri menatap cokelatnya air sungai. Bonita sama Ana tidur terus di dalam hammock. Arif fokus ngeliatin si YULI KDI 2 sedang berjoget.
Jam 19.30 harusnya kami sudah sampai di Tumbang Bulan karena katanya lama perjalanan 7 jam. Tapi sampai jarum jam menunjukkan pukul 8 pun kami belum berlabuh. Hujan turun deras. Listrik dimatikan. Kami akhirnya mendarat, eh berlabuh. Saat itu jam 20.30. Kulihat spanduk penyambutan, “Selamat datang bapak bupati dan rombongan ekspedisi bukit bulan di desa Tumbang Bulan.”
Turun dari tongkang adalah masalah karena ternyata gak ada pintu khusus buat keluar kayak kapal biasanya. Kita mesti lompat lewat kursi yang dibuat disebelah kiri tongkang. Hujan masih setia dengan rintiknya. Kami disambut oleh berpuluh-puluh orang muda-mudi berkaos sama, warna merah. Tulisan di punggungnya ‘Karang Taruna”. Mereka menyalami kami erat-erat. Para peserta ekspedisi diarahkan ke tempat makan malam. Kurasa ini adalah warung makan biasa.
Desa ini bagaimanapun aku yakin cukup besar. Penerangannya menggunakan tenaga surya. Rumah-rumah terbuat dari kayu. Setiap rumah terhubung satu sama lain lewat titian kayu. Setelah makan malam, kami diarahkan ke speedboat. Itu juga tidak mudah karena harus melewati orang-orang yang telah memadati titian kayu, yang adalah jalan lintas. Mereka dengan serius menghadap ke panggung, dimana orang-orang persiapan pentas. Malam itu kami tidur di seberang, di resort desa Tumbang Bulan. Beberapa saat kemudian terdengar suara YULI KDI 2 menyapa lewat mic.


20 Desember 2016
Paginya ketika terbangun, kulihat Bonita udah basah rambutnya. Gile, mandi dingin-dingin gini. Keramas pulak. Kulihat Ana juga udah bongkar-bongkar carrier-nya. Pasti mandi juga. Akhirnya aku ikutan mandi juga, meskipun gak keramas. Khawatir nanti gak bisa mandi lagi, di bukit. Para cowok-cowok gak tau pada mandi atau kagak.
Kami disebrangkan lagi pagi itu ke desa Tumbang Bulan. Hanya butuh 1 menit. Diarahkan makan ke tempat tadi malam. Prasmanan.  Selesai makan, para peserta diberi pengarahan terkait perjalanan hari itu. Setiap orang juga mendapat jatah bahan makanan mentah, terdiri dari: 2 sarden, 1 kg beras, 2 bungkus mi instan, dan 2 bungkus kopi saschet. Selanjutnya peserta diarahkan naik klotok. Satu klotok mampu menampung 18 orang. Rombongan mapala kami terecah dua klotok. Untungnya kami berlima tetap satu klotok. Carrier diletakkan di bagian belakang. Karena satu baris ada dua kursi, aku dan Bonita duduk berdampingan. Klotok melaju cepat, lebih cepat dari tongkang kemarin. Kini sepanjang mata memandang yang tampak pepohonan dan tanaman sejenis pandan raksasa. Aku gak tahu namanya. Ini jadi PR kayaknya.



Bang Safri dan Bang Debe dibelakang kami menenangkan diri dengan headshet mereka. Bang Nofen ngerokok. Aku dan Bonita sibuk jepret-jepret dan bikin video perjalanan. Tiba-tiba perjalanan harus berhenti. Klotok di depan kami berhenti juga. Jalur sudah tertutupi tanaman pandan raksasa. Harus membuka jalur baru, kata supir klotok di depan klotok kami. Jadinya klotok itu menembus paksa rimbunan tanaman pandan raksasa.
“Gaasss..,” teriak keneknya. Udah kayak angkot aja ya, ada supir ama kenek segala. Unungnya mereka berhasil. Klotok kami juga ikutan dari belakang. Perjalanan pun lancar kembali. Kami tiba di basecamp WWF (Teluk Beruang) jam 11. Makan siang di sini. Camp ini pastinya salah satu camp pelestarian taman nasioanal Sebangau.











“Kalian gak ada ninggalin barang di sini?” tanya Bang Nofen. Aku dan Bonita menggeleng, gak tau mau ninggalin apa.
“Tinggalin aja bahan makanan tadi. Sama baju apala yang udah kotor,” kata Bang Nofen.
Kita berdua pun ngambil carrier dari klotok dan melaksanakan perintah Bang Nofen. Makan siang selesai, perjalanan dilanjutkan kembali. 20 menit kemudian kami tiba di gambut berlumpur. Estimasi waktu naik klotok dari Desa Tumbang Bulan ke gambut berlumpur ini sekitar 2,5 jam.

The Power of Smile
Awalnya kukira ini pasti bercanda. Kami diturunkan di sini? di gambut berlumpur yang dalamnya sanggup menelan seluruh tinggi badanku?
“Gak turun, Dek? Dari sini semua dilanjutkan dengan melangkah,” kata seorang bapak dari klub trail.
Astaga! Berarti beneran main lumpur nih. Satu per satu orang mulai mencelupkan dirinya ke dalam air. HP-ku dan kamera Bonita sudah kami amankan dalam plastik di tas sandang kecil. Begitu menjejakkan kaki ke lumpur, aku langsung tenggelam sepantat. Ya Olloh. Apalagi gambut berlumpur ini lumayan jauh sampai ke depan sana. Kalau melangkahkan kaki selambat ini gegara tertahan lumpur kapan sampai puncak bukitnya? 


Ana sama Jul udah duluan tiba di daratan bebas lumpur. Bang Safri , Bang Debe juga anak mapala yang lain. Tinggal kami bertiga, sama Bang Nofen paling belakang. Iyalah, kakinya kan sakit.
“Jul, minta tolong ambilkan foto kami,” teriakku sama Jul yang lagi jepret-jepret sama Ana berlatar belakang gambut berlumpur nan luar biasa ini. Aku dan Bonita pasang muka nyengir ke kamera. Ketika akhirnya berhasil melewati gambut berlumpur, aku dan Bonita duduk di tanah. Meneguk air orang. Kami sendiri gak ada bawa air minum di tas kami. Kesalahan manajemen perjalanan yang fatal.
Ketika orang-orang yang berhasil melewati gambut sudah melanjutkan perjalanan menuju bukit yang udah keliatan dari tadi waktu di klotok, kami dengan setia menunggu Bang Nofen yang masih berjuang di gambut lumpur.

Bukti Kejahatan Manusia
Meskipun puncak bukit tujuan kami udah kelihatan, ternyata dia gak sedekat itu. setelah perjuangan menghadapi gambut lumpur, kini kami dihadapkan dengan perjuangan lain. Kami harus berjalan di antara pohon-pohon yang tumbang, bekas kebakaran hutan tahun 2015 lalu. Aku menyebutnya bukti kejahatan manusia.
Ini sungguh menyakitkan karena banyak ranting-ranting tajam yang cukup menyusahkan. Berjalan dari batang pohon tumbang satu ke batang pohon tumbang lain. Harus menjaga keseimbangan, di atas batang pohon yang kadang tergantung tinggi dari tanah. Rombongan kami terpecah karena saling mendahului satu sama lain. Bang Safri dan Bang Debe di depan. Bang Nofen di belakang. Ana dan yang lainnya paling depan lagi. Aku dan Bonita melangkah hati-hati. Tapi ternyata terlalu hati-hati-lah yang membuat pohon yang kuinjak patah. Aku jatuh dengan posisi pipi kanan mendarat lebih dulu ke batang pohon besar. Lebam.
“L, kau gak apa-apa?” tanya Bonita 5 langkah di depanku.
“Apa-apa sih. Tapi ayolah. Ini bukan masalah besar,” aku mencoba berjiwa besar. Padahal sebenarnya perih.
Seiring berjalannya waktu, dan seiring terlalu seringnya aku dan Bonita berhenti, kami gak menyangka bakalan bisa ngejar Bang Safri dan Bang Debe. Ya iyalah, wong mereka berhenti juga. Kami mengemis air minum sama mereka berdua. Dikasih coklat yang udah meleleh juga. Bonita nolak mentah-mentah. Aku makan dengan lahap.
“Kenapa itu pelipismu?”
Telolet!
“Ah, aku gak apa-apa, Bang. Khawatir amat sih!”
“Yakin gak apa-apa? Biar dikasih obat nih.”
‘Iya, biarin aja. Paling sembuh sendiri.”
Perjalanan dilanjutkan kembali. Mereka duluan, tentu saja. Saat itu udah jam 3 lewat.
“Sempat nih, Bang ke puncak sebelum gelap?” tanyaku.
“Mudahan aja sih. Eh, kompornya kasih ke kami aja. Biar bisa langsung masak nanti kalau kami udah nyampe.”





Usul itu kutolak. Males bongkar carrier lagi. Setelah 10 menit mereka berlalu, barulah aku dan Bonita menyusul. Kami saling melewati dengan peserta-peserta lainnya. Ya gitu. Kalau kita berhenti, bakalan dilewatin sama yang lain. Kalau yang lain berhenti dan kita lanjut, orang itu bakalan kita lalui. Sampai bapak dari klub trail melihat pelipisku yang bengkak dan bilang biar diobatin aja. Ternyata beliau emang dari dinas kesehatan. Tas yang dibawanya berisi alat-alat medis semua malah.
Setelah melewati pepohonan yang tumbang, kini daerah yang kami lalui berubah jadi pasir berarir. Meski berair tapi gak dalam kok. Jadi kupilih untuk lewat dari air saja. Hari semakin sore. Makin lama langkah kaki kami semakin tak bersemangat. Bukit yang dari tempat tadi kami diturunkan klotok kayaknya masih saja jauh. Hampir seharian berjalan mendekati kaki bukit namun tak kunjung sampai. Aku liat Bonita mulai sempoyongan. Jangan sampai anak ini pingsan sekarang!
Kami tiba di tempat orang lagi menggerombol. Ternyata ada yang pingsan. Mahasiswi. Aku sempat mendengar-dengar mereka menyebut tandu. Cewek itu pasti gak sanggup lagi berjalan.
“Bon?”
“Hm?”
“Jangan sampai pingsan ya.”
Dia nyengir.
Perjalanan kami akhirnya ditemani gelap. Di barat matahari telah terbenam. Warna jingga menghiasi langit. Sambil duduk, kulihat Bonita menjepret pemandangan itu. Ada juga aku sebagai objeknya.

Pondok
Tiba di kaki bukit. Banyak orang-orang yang mendirikan tenda di sini. Ternyata mereka berdua juga masih di sini. Kukira udah di puncak. Bang Safri menyambut kami berdua dengan botol akua berisi air sewarna minuman cocacola. Berhubung sangat haus, itu tak jadi masalah.  Malam itu kami memang gak ke puncak. Sudah diputuskan bakalan muncak besok pagi jam 4. Bang Safri dan Bang Debe masang flysheet, aku dan Bonita masak nasi. Makan malam dengan nasi, ikan asin, dan sayur wortel+kentang+sarden. Bang Nofen, bagaimanakah nasibmu.
Tanpa mandi, hanya mengganti pakaian saja. Usap dengan tisu basah. Bang Nofen udah sampai. Makannya dikit dan mual-mual. Dia dan Bang Debe tidur di gantungan hammock. Sisanya kami bertiga tidur dalam flysheet. Rasa panas menyerang. Begitu pun nyamuk-nyamuk yang kelaparan. Sampai jam 2 aku gak bisa tidur. Kami semua gak bisa tidur. Tak terhitung berapa liter sudah autan semprot dituang ke badan.


21 Desember 2016
Jam 3.30 pagi. Gerimis turun. Tapi kami berempat udah menaiki jalanan menanjak lumayan terjal menuju puncak bukit. Kali aja bisa liat sunrise. Bang Nofen katanya nanti nyusul. Banyak juga yang mendirikan tenda di puncak ini. Jam 5 seharusnya matahari udah mulai kelihatan. Tapi sampai jam 6 gak kelihatan. Gagal total sunrise-an nya.  
Pemandangannya juga biasa aja sih. Cuma pohon dan bekas hutan yang ditebang. Rombongan anak-anak mapala ini mengambil tempat berfoto di tebing batu dekat situ. Jauh-jauh dan susah payah dari kemarin buat ke sini, masa gak ada foto-foto. Iya, kan! Bentangin bendera, bentangin slayer, bentangin muka, semua deh. Bahkan ada rekaman video selamat hari natal dari puncak Bukit Bulan. Setelah beberapa kali take, akhirnya dapat juga yang lumayan bagus. Semua suaranya pada sumbang. Hihihi!











Puas berfoto, time to packing and go home. Ekspedisi ini begini saja. Tak ada yang ditonjolkan. Entah penanaman pohon atau penjinakan satwa liar atau apalah.
“L, tau apa yang kupikirkan?” tanya Bonita pas kami sarapan.
“Gambut berlumpur kemarin?”tebakku.
“Yaps.”

Camp WWF-Tumbang Bulan
Mungkin tak usah kuceritakan lagi penderitaan kami melewati batang pepohonan dan gambut berlumpur, kalian pasti udah bisa membayangkannya. Kami berangkat jam 9.30 dari tenda. Perjalanan ini masih kayak kemarin saling mendahului, dan akhirnya aku dan Bonita kembali paling belakangan.
Kebahagiaan terbesar yang kurasakan selama ekspedisi ini adalah, kami akhirnya berada di dalam klotok. Gambut berlumpur, bye! Bang Safri dan Bang Debe serta mapala yang lainnya udah naik klotok yang duluan. Bang Nofen tetap belum keliatan. Klotok adem banget. Angin bertiup kencang. Kantuk tak tertahankan lagi. Bonita lebih lelap tidurnya. Aku menjepretnya dengan hp-ku. Kurekam juga perjalanan dengan klotok ini dalam video. Nantinya biar bisa diupload di instagram.






Di camp WWF, aku mandi. Bonita gak mau. Katanya nanti aja di resort Tumbang Bulan. Setelah mandi, mengambil barang yang kemarin kami tinggalkan di sana, packing, go to Tumbang Bulan with klotok again. Gak kayak perjalanan kemarin, kali ini ada orang utan yang kami lewati. Mereka melompat dari pohon ke pohon. Sejenak aku kepikiran. Ini rumah mereka. Dalam setiap mata mereka ada jiwa yang hidup. Apa yang akan terjadi kalau hutan dibakar. Kasian makhluk ini.
Kami tiba di Tumbang Bulan jam 6 sore. Makan malam prasmanan di tempat biasa, lalu diantar ke resort. Malamnya tidur sangat-sangat nyenyak.


22 Desember 2016
Selamat hari ibu.
Maaf emak, gak bisa nelpon. Belum ada sinyal nih.
Setelah mandi, packing dan sarapan pagi, jam 09.36 tongkang membawa kami kembali ke Katingan, mengarungi sungai selama 7 jam kurang lebih. Kukira YULI KDI 2 masih akan menghibur dalam perjalanan ini. Ternyata dia udah pulang. Gantinya, hadir 2 orang cewek yang katanya artis lokal dalam perjalanan pulang ini. Aku gak peduli. Aku hanya ingin tidur. Sayangnya bekas tergelincir di pohon kemarin kini meninggalkan warna hitam cukup lebar di pelipis kanan. Memalukan. Kayak korban KDRT aja bah!
Gak terasa nyampe juga. Tongkang mendarat jam 18.05. Gerimis lagi. Mobil dinas udah siap menunggu peserta ekspedisi. Di mobil yang sama, aku, Bonita, Jul, Ana, Bang Debe, Bang Safri dan Bang Nofen. 7 orang tambah supir. Mobil melaju dalam gerimis membawa kami ke rujab, dimana motor-motor kami diparkir.
Rujab sepi. Mungkin peserta yang lain udah pulang duluan dengan motornya. Hanya beberapa motor yang tersisa di sana. Terjadi perbedaan pendapat antara pulang malam itu juga atau pulang besok pagi. Aku sih milih pulang besok pagi. Tapi berhubung karena Bang Debe orang yang kutebengi bersikeras harus pulang malam itu juga ke Palangka Raya, jadinya aku ngikut aja keputusannya. Diputuskan kami pulang malam itu juga. Berdoa aja semoga aku gak ngantuk dan terjungkal ke belakang.   
Berat! Sangat berat. Mataku gak bisa diajak kerja sama. Rombongan kami sempat makan di warteg pinggir jalan. Tapi itu gak membantu apa-apa. Rasa ngantuk dan lelah hanya dapat diobati dengan tidur. Berulang kali helmku terantuk ke helm orang Bang Debe. Otomatis dia langsung teriak-teriak menyadarkan aku.
Tiba-tiba…
Motor berasa goyang..
Firasatku udah gak enak..
Kami berhenti di pinggir jalan. Rombongan motor yang lain udah duluan. Aku turun. Bang Debe memeriksa ban motor. Dan hal yang gak diharapkan pun terjadi.
“Kempes,”katanya.
What the…!
“Terus gimana?”aku kalut.
Dia gak jawab. Ngeluarin HP, coba nelpon mereka yang udah di depan. Gak aktif. Bengkel mana ada yang masih buka jam 12 malam. Dia mendorong motornya. Dengan langkahnya yang cepat dan panjang, aku yang terkantuk-kantuk tertinggal jauh di belakang dengan langkah pendek yang pelan-pelan. Dia berhenti tanpa kulihat, karena emang aku jalan dengan kepala tertunduk. Berakhir dengan aku menabrak motornya. Sial.
“Kok berhenti, Bang?”
Dia menunjuk ke seberang jalan. Aku melongok ke seberang. Masjid.
“Kayaknya nginap di sana aja. Besok pagi pasti udah ada bengkel yang buka.”
Tanpa ba-bi-bu, aku nyebrang duluan menuju masjid. Udah ngantuk berat. Tadi juga udah kubilang jangan pulang mala mini ke Palangka Raya. Gak ada yang mau dengerin sih. Gini kan, jadinya. Toh tetap besok nyampe Palangka nya.
Kami tidur di keramik yang dingin. Matras tak membantu. Jaket juga. Kaki dan tangan kupenuhi dengan autan. Mata tertutupi slayer. Kami gak ngobrol apa-apa lagi.
Time to sleep.
(Adegan ini mirip drama korea. Wkwkwkwk)


23 Desember 2016
Besoknya Bang Debe bangun duluan. Pas kulihat, dia cuma bilang, “Tunggu di sini dulu kamu ya. Cari bengkel dulu.”
Dia pun pergi.
Aku bangun dan menggulung matras. Mencari keran untuk cuci muka. Ketika kembali lagi ke depan masjid, ada bapak-bapak yang nanya.
“Mau kemana, Mbak?”
“Ah, mau ke Palangka, Pak. Tadi malam dari Kasongan motornya kempes. Baru aja teman saya pergi nyari bengkel.”
Si bapak pun pergi.
Untungnya, lama kemudian si Bang Debe datang. Kita pun balik ke Palangka.
Hari yang lelah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...