Seharusnya tulisan ini udah di pos dari kemarin. Tapi berhubung udah punya wifi di kos, segalanya menjadi mudah sekarang. Wkwkwk. Pendakian yang udah berlalu 3 bulan yang lalu baru di pos sekarang.
Kegiatan ini adalah kegiatan
tahunan, setiap 17 Agustus. Panitia pelaksananya setiap tahun bergiliran adalah
kelompok mapala yang ada di Banjarbaru-Kalimantan Selatan dan sekitarnya.
Gunung Halau-Halau adalah puncak tertinggi di Kalimantan Selatan.
Setiap organisasi maupun
masyarakat umum boleh ikut mengirimkan delegasinya dalam ekspedisi ini.
Kebetulan aku dan Sinta adalah delegasi dari Mapala “DOZER”. Yap, meskipun
perempuan kami optimis bisa. Buatku ini adalah pendakian ketiga, sementara buat
Sinta ini pendakian pertamanya. Awalnya dia ragu untuk ikut, tapi aku
menyemangatinya dan akhirnya dia mau.
Untuk mengikuti pendakian ini,
ada beberapa persyaratan yang harus kami lengkapi, diantaranya formulir
pendaftaran, surat pernyataan orang tua/wali, surat keterangan sehat dari
dokter, surat delegasi organisasi, fotokopi identitas, pas poto dan membayar uang
pendaftaran sebesar 100 ribu. Uang pendaftaran kami ditanggung organisasi. Setelah
administrasi itu beres, selanjutnya adalah melengkapi barang-barang yang akan
dibawa, seperti tenda, logistik, kompor, matras, sleeping bag, pokoknya semua peralatan yang dibutuhkan dalam
pendakian. Termasuk juga barang-barang pribadi dan obat-obatan. Tas carrier yang kubawa hasil pinjaman,
kalau gak salah 80 L, bisa dikecilin. Punya Sinta 60 L.
Masalah selanjutnya adalah
transportasi. Hanya ada dua pilihan, naik motor atau travel (taksi) dari
Palangka Raya ke Banjarbaru. Aku dan Sinta gak punya SIM, apalagi motor.
Berbekal motor pinjaman, kami berangkat. Itu pun yang bawa motor bukan kami.
Kebetulan ada dua orang cowok delegasi dari mapala Sylva Raya juga yang ikut,
Ben dan Arif. Merekalah yang membawa motor. Kami berdua di belakang dengan
carrier besar yang berat. Rasanya setiapa saat bisa saja aku ditarik ke
belakang. Jatuh.
12 Agustus 2016
Kami berangkat tanggal 12 Agustus
jam 14.00 WIB dari sekre mapala Syla Raya. Padahal sore hari itu ada technical meeting yang seharusnya
dihadiri peserta. Tapi kami gak sempat ikut. Di tengah perjalanan motor yang
kupinjam malah dua kali kempes dan terpaksa ditambal. Perjalanan agak terganggu
karenanya. Tiba di Banjarbaru udah malam jam 8. Badan dan pantat benar-benar
pegal seharian duduk. Kami langsung ke sekre mapala Sylva Fakultas Kehutanan
Universitas Lambung Mangkurat di Banjarbaru. Setelah beres dengan pendaftaran
(dapat kaos pendakian warna orange,
stiker, peta lokasi, jadwal kegiatan, list
barang bawaan) kami istirahat. Sekretariat mereka sangat luas, sebuah gedung bekas
bertingkat dua yang dulunya pastilah gedung kuliah. Di sini udah tiba duluan
dua orang srikandi juga delegasi dari mapala Figure FKIP Universitas Palangka
Raya dan seorang cowok dari Mapala AGAS (kalau gak salah), Bang Kemos. Kami
bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing. Gila, ternyata Nurul dan Ika
juga gak punya SIM. Bermodalkan nekad pergi berdua dari Palangka ke Banjarbaru.
13 Agustus 2016
Paginya terbangun dan mendapati
diri di sebuah ruangan lumayan luas. Beberapa orang juga masih tidur dengan
posisi bebas (amburadul). Oh iya, ini sekre Sylva ULM. Rencananya pagi itu kami
akan ke toko outdoor yang menjual berbagai perlengkapan pendakian. Kami mandi
tapi gak ganti baju. Ini salah satu teknik penghematan baju. Di toko gak ada
yang aku dan Sinta beli. Secara, semua yang kami butuhkan sudah lengkap.
Setelah selesai, kembali ke Sylva.
“Kalau mau makan ambil di dapur
ya,” kata seorang cewek berjilbab kepada kami. Kami langsung nyengir. Kebetulan
udah lapar juga. Betapa rama dan hangatnya mereka Mapal Sylva ini. Udah dikasih
numpang tidur, dikasih makan pula.
Sorenya, aku dan para cowok
belanja sayur ke pasar. Sinta, Nurul, Ika gak ada yang mau ikut. Katanya mau
tidur sore. Kami belanjaannya digabung. Yap, kayaknya kami bakalan jadi satu
rombongan. Kontingen Palangka, begitu kami menyebutnya. Aku, Bang Kemos, Ben,
Arif, seorang cowok dari Mapal Kepak Elang-Malang, namanya Kuyang. Dia asli
orang Dayak, tapi kuliah di Malang. Asli, pertama dengar namanya aku merinding.
Itu tuh nama hantu legendaris orang Dayak. Gak, setiap kali aku bakalan
merinding dengar namanya. Oh iya, ada juga si Ardi dari Mapala UMP-Univ
Muammadiyah Palangka Raya. Wortel, kentang, bunga kol, kol, daun sop, daun
bawang, cabe, bawang, bumbu sup, saos, beras, ikan asin. Itu belanjaan kami. Uangnya
patungan tentu saja. Balik ke sekre.
Cewek bertiga itu gak ada di
sana. Mungkin keluar jalan-jalan sambil cari makan. Kami yang baru balik dari
pasar langsung packing, membagi barang-barang itu ke carrier masing-masing.
“DOZER ada bawa tenda?” tanya
Bang Kemos.
Aku mengangguk.
“Keluarkan aja tendanya, biar
Kuyang yang bawa.”
Aku merinding lagi. Aduh, bisa
gak sih namanya diganti. Nama aslinya kan ada, ngapain pakai nama lapangan
segala? Aku mengeluarkan semua benda yang berat di carierr-ku. Tenda beserta tiangnya dan fly sheet. Semua dibagi rata sama Bang Kemos ke cowok-cowok itu.
Salahnya aku gak liat sama siapa aja dikasihnya. Atau ke Arif, Ardi atau ke
Kuyang. Bang Kemos sama si Ben cuma bawa day
pack. Ini nanti akan jadi suatu masalah yang cukup endemik. Sinta nge-BBM
aku dan bilang kami supaya datang ke sekre Mapala Piranha di dekat situ.
Setelah selesai packing, kami berenam
pun ke sana.
Kami disambut ramah. Sekre Mapala
ini juga luas. Letaknya di lantai dua gedung kuliah Fakultas Perikanan. Tuan
rumah menyuguhkan minum dan gorengan. Pas banget untuk perut yang kelaparan.
Mereka bercerita tentang ada seorang mahasiswa dari Makassar yang bisa ngeliat
hantu dan ngegambar itu hantu dalam waktu singkat. Kemarin katanya di gedung
fakultas mereka jadi tempat syuting untuk tayangan ‘Alam Lain” yang ditampilkan TV lokal Banjarbaru. Bahkan di sekre
mereka itu juga ada, seorang hantu perempuan Belanda yang dulu jadi p*la*ur.
Namanya Marry. Serem amat!
“Besok dia ikut pendakian kok.
Nanti kalian bakalan langsung tahu orangnya karena dia pakai loncng di kakinya,
semacam gelang lonceng. Bunyi kalau lagi berjalan. Namanya Bisma (nama
samaran).”
Topik berganti lagi. Kali ini
tentang mantan-mantan ketua umum (ketum) Mapala Piranha dari NRA (nomor
keanggotaan) 001 atau perintis yang ternyata orang Batak. Yang paling
mengejutkan satu marga denganku, Nainggolan!
“Saya Nainggolan, Bang,” kataku
spontan. “Berarti beliau senpai kandungku.”
Semua tertawa.
Salah satu dari mereka bertanya
kenapa dalam suku Batak ada beragam marga.
“Awalnya, menurut cerita turun
temurun, orang Batak pertama diturunkan dari langit, diturunkan di Gunung
Pusukbuhit di Samosir-Ssumatera Utara. Namanya si Raja Batak. Raja Batak
kemudian menikah dan mempunyai keturunan yang banyak. Dari sinilah marga-marga
itu akhirnya beragam,’ kataku.
Sinta sama Ben langsung menatapku
begitu aku selesai menjelaskan. Mungkin mereka berdua takjub dengan
pengetahuanku. Wkwkw. Padahal mereka berdua juga orang Batak.
Aku dan Sinta pamit ke WC. Balik
dari WC, di lantai satu kami ketemu dengan Kak Lisbet, orang Batak. Marganya
aku lupa. Lucu banget kalau ngomong bahasa Batak. Janggal. Mungkin karena udah
lahir di Banjarbaru. Kedua ortunya juga Batak. Kak Lisbet udah lulus dan udah
kerja di dinas perikanan di Pulang Pisau. Dia cerita bagaimana dulu pernah ke
Jakarta, ke Dinas Pemuda dan Olahraga mau kasi proposal minta dana. Saat itu
Mapala Piranha mau buat event
nasional. Mereka bertiga, terlantar selama sebulan di Jakarta demi menunggu
kelanjutan proposal. Akhirnya berhasil dan cair langsung uang 30 juta. Busyet!
Gak main-main. Aku langsung terpikir gimana kalau Mapala “DOZER” juga ngelakuin
yang sama. Tapi event nasional? Bisa
gak ya? Kira-kira apa ya?!
Kami kembali ke Sylva udah malam.
Harus tidur cukup mala mini, karena besok kita akan berangkat ke desa Kiyu,
naik truk selama 6 jam.
14 Agustus 2016
Jam 8 pagi diadakan pelepasan
peserta Pendakian Nasional Merah Putih Puncak Halau-Halau 2016 di depan
Fakultas Kehutanan oleh dekan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru. Rombongan kami telat. Soalnya sempat-sempatin sarapan nasi kuning
ayam+ teh anget di warung terdekat dulu. Tapi sempat kok ikut foto bersama
setelah acara pelepasan selesai.
Ada truk khusus tas dan khusus
penumpang. Selain truk, kendaraan tentara juga ikut, RINDAM. Aku dan Sinta
kayaknya salah kostum. Sementara matahari membakar, kami berdua memakai kaos
pendakian berlengan pendek itu, lupa pakai topi dan gak pakai jaket. Mau
ngambil dari dalam carrier, tapi carrier kami udah ditimbun carrier orang lain di dalam truk. Udah
susah nyarinya. Pasrah aja. Truk mulai bergerak. Kami dikawal polisi. Kayak
teroris aja!
Ketika matahari semakin panas,
para penumpang cewek dipindahkan semua dari truk ke rindam yang punya terpal
penutup. Ah, kenapa gak dari tadi? Nunggu gosong dulu. Lho, kok si Ardi ikutan
ke rindam? Jangan-jangan dia sebenarnya cewek? Oh ternyata dia mabuk darat
alias muntah. Mukanya tampak lesu. Plastik kantong muntah di tangannya
bergetar. Aku prihatin. Kuulurkan botol minum tapi ditolaknya dengan menggeleng
lemah. Kasian kamu, Nak! Ika juga udah muntah. Sinta sama Nurul masang muka
pasrah. Kuharap aku gak muntah. Apalagi muntah kuning!
Selain Ardi, ada 2 orang orang
cowok lagi di dalam rindam. Ketua umum Mapala Sylva dan seorang lagi cowok
bertubuh mungil yang mengenakan sorban di pundaknya. Kayak ala-ala cowok korea
gitu. Dia pakai sepatu gunung juga. Carrier-nya
lumayan besar. Dia duduk persis di depan kami berdua. Lagi terkantuk-kantuk.
Sinta mencengkeram tanganku. Aku
melotot, “Kenapa sih?”
Sinta menunjuk pergelangan kaki
si cowok korea. Ada gelang lonceng di sana. Berikutnya cowok itu menggeser
posisinya hingga lonceng itu berbunyi. Aku dan Sinta berpandangan. Dia pasti
Bisma, yang diceritakan Mapala Piranha kemarin. Kok gayanya stylish amat sih?
Kami berhenti di daerah Kandangan
untuk makan siang. Saat itu jam 13.00 siang. Langit mendung. Aku memutuskan gak
turun dari rindam. Sinta pergi membelikan minuman dingin dan snack. Kami gak makan siang, untuk
menghemat pengeluaran. Iya, dana terbatas. Dari organisasi sebagai delegasi,
kami hanya diberi 300 ribu. 200 untuk biaya pendaftaran, sisanya untuk bensin.
Aku yang megang duit.
Perjalanan dilanjutkan kembali.
Jalanan semakin rusak sehingga truk lebih berguncang. Aku menyesal tadi makan snack banyak-banyak. Apalagi kemudian
hujan lebat turun. Beberapa saat kemudian, truk berhenti. Kukira kami sudah
sampai. Ternyata ada orang yang naik, seorang cewek berjilbab dan pakai rok. Carrier-nya cukup besar. Mukanya basah
oleh air hujan. Dia melambaikan tangan ke luar truk. Pasti kepada orang tua
atau saudara. Tunggu, dia gak akan pakai rok kan, saat mendaki nanti?
Baru truk mulai berjalan, dia
sudah ngomong sendiri dengan panik, karena madunya ketinggalan.
“Astaga, padahal banyak loh tadi.
Aduh, gimana dong,” katanya ngomong sendiri.
Tapi kemudian seseorang yang kami
kira pendiam, si Bisma (udah bangun dari tadi), ikutan nimbrung dan mulai sok
akrab dan akhirnya akrab ngomongnya dengan pendaki yang pakai rok itu. Mulai
sekarang kita sebut aja namanya Roker dulu, sampai nanti kita tahu nama sebenarnya
Ketum Sylva juga nimbrung. Mereka bertiga ngobrol terus. Sesekali terbahak. Aku
jadi tertarik dengerin omongan mereka. Si Rocker cerita kalau dia udah pernah
dari Semeru. What the..
Aku langsung merasa ciut.
Langsung teringat utangku dengan puncak Mahameru itu. Bulan Juli lalu aku hanya
berani sampai Ranu Kumbolo. Gak bisa sampai puncak karena belum izin pamit sama
ortu kalau mau naik gunung. Menurut petugas Taman Nasional Bromo Tengger
Semeru, izin ortu sangat penting, karena udah ada beberapa korban Gunung Semeru
yang mendaki tanpa izin ortu. Ada yang kakinya patah, ada yang meninggal juga.
Naas nya, ortu mereka tahu kalau anaknya meninggal lewat berita di televisi.
Si Rocker juga cerita kalau dia
ikut komunitas Pendaki Rocker Indonesia. Dia menunjukkan bajunya yang sedang
dipakainya.
Kami tiba di desa Batu Kembar. Udah
sore jam 5. Belum, ini bukan desa terakhir sebelum pendakian. Di sini ada acara
penyambutan oleh masyarakat setempat dengan tari-tarian. Di balai desa, ketua
panitia kegiatan ini yang kebetulan orang Batak, Bang Mariano Simamora
menyampaikan kata sambutan. Selanjutnya kepala desa dan perwakilan camat juga
menyampaikan sambutan. Berharap kegiatan ini akan membawa nama Gunung
Halau-Halau ke kancah nasional dan jadi destinasi wisata. Kemudian kami makan gayam. Katanya sih makanan asli daerah
sini, kayak kolak. Pakai kuah santan dan gula mera. Ada bulatan-bulatan tepung
ketan yang kenyal. Kontingen Palangka makan dari piring yang sama. Lezaatt!
Setelah
makan, aku dan Sinta ke WC. Sambil nunggu dia keluar, kami ngomongin pendakian
besok dalam bahasa batak. Tiba-tiba ada yang nyahut dalam bahasa batak yang
janggal, kayak Kak Lisbet. Seorang cowok dengan rambut awut-awutan menyalamiku.
Katanya dia marga Simanjuntak. Kuliah di fakultas hukum, ULM juga.
Rombongan Kontingen Palangka
sekarang berjumlah 9 orang. Aku, Sinta, Ika, Nurul, Ben, Arif, Ardi, Bang
Kemos, dan (plis deh) Kuyang. Rombongan kami bertambah 1 orang, si Rocker tadi.
Dia berkenalan dengan kami begitu sampai di Desa Batu Kambar. Namanya ternyata
Sri, asli Barabai. Kami mulai bergerak dengan headlamp di kepala.
“Aduh, HP-ku ketinggalan di WC,”
kata Sri tiba-tiba.
Semua serentak berhenti
melangkah. Ceroboh amat ini cewek, pikirku dalam hati. Disepakati semua
menunggu, sementara Ben dan Sri kembali ke belakang ngambil HP. Untung belum
jauh kami berjalan. Ketika mereka sudah kembali perjalanan dilanjutkan.
Melewati sebuah tanjakan lumayan curam, lalu jalanan menurun dan dalam 1 jam
tibalah kami di desa terakhir sebelum pendakian Halau-halau, Desa Kiyu. Kami
memasak, makan, mandi dan menginap di sebuah rumah warga di sana. Yang punya
rumah mengizinkan kami menggunakan perapiannya di dapur. Banyak juga pendaki
lain yang menginap di sana.
15 Agustus 2016
Semalam kami dapat berkat, bahan
makanan dari 3 orang siswa pecinta alam (sispala) yang ikut dalam pendakian
ini. Mereka kewalahan memanggul carrier-nya.
Ternyata setelah dibongkar, carrier
mereka kelebihan muatan. Beras 7 kilo, mentimun 3 kilo, sayur terong 2 kilo,
bahkan membawa cairan pencuci piring segala, sunlight. Untuk mengurangi beban mereka, jadinya sebagian bahan
makanan mereka ditransfer ke kami. Termasuk satu lusin energen dan satu lusin
kopi sachet.
Pagi-pagi lumayan dingin di Desa
Kiyu ini. Setelah makan dan packing,
pendakian sebenarnya pun dimulai. Ada 3 jembatan gantung yang akan dilewati.
Melewati jembatan gantung yang pertama, kami ketemu dengan panitia yang
melakukan cek peserta. Mereka juga membagikan plastic packing hitam besar 1/orang. Jelas untuk tempat sampah.
Oh iya, anggota kontingen
Palangka bertambah 3 orang. Dua diantaranya asli orang Palangka tapi kuliah di
STTNAS Jogja, seorang Teknik Geologi, seorang lagi Teknik Pertambangan. Bang Al
dan Bang Walet. Katanya Walet adalah nama lapangan sewaktu diklat. Gak ada yang
tau nama aslinya. Sinta ikut-ikutan memperkenalkan nama lapanganku kepada
rombongan. Mereka pun memanggilku Cat,
Cat.. Pacat!
“Dari tadi aku takut ada pacet, ternyata
di sini ada yang lebih besar,” kata Bang Walet. Rombongan terbahak. Aku
membeberkan nama lapangan Sinta kepada mereka, tapi gak jelek-jelek amat
kayaknya. Semut. Malah sebenarnya terdengar imut. Dia pun dipanggil Mut..Mut..Semut!
Satu lagi adalah laki-laki
pendiam. Tapi ikut tertawa kalau kebetulan ada hal lucu. Selalu ada hal lucu,
selalu. Karena si Ben ada dalam rombongan ini. Orang Batak yang satu ini dengan
logatnya yang kental bahkan sering terlalu cerewet dan over talking. Selalu saja ada yang dikomennya dan berakhir membuat
kami semua ngakak.
Medan yang kami lalui menuju pos
1 tidak terlalu berat karena masih ada beberapa bonus berupa jalanan turunan.
Tanjakan-turunan-tanjakan-turunan. Banyak juga mata air dan sungai yang kami
lewati menuju Camp Sungai Karuh.
Tapi sebelum Camp Sungai Karuh, kok
pos 1 belum juga ketemu ya? Hingga rombongan kontingen Palangka pecah menjadi 3
bagian. Pertama, rombongan kami. Kedua, rombongan Mbak Sri, Ben dan Kuyang.
Ketiga, rombongan Bang Walet dan temannya yang pendiam, mereka balik lagi ke
belakang ke tempat kami istirahat sebelumnya karena tas kecilnya yang berisi HP
dan dompet ketinggalan. Ceroboh.
Tapi kenapa Ben CS belum juga
keliatan hidungnya? Kami istirahat sambil menunggu mereka. Pos 1 kata Bang Kemos
dekat lagi. Dia sendiri udah 7 kali ke sini katanya, setiap tahun. Setiap 17
Agustus.
“Ada 3 kemungkinan,” kataku. “Kenapa
mereka belum juga keliatan. Pertama, mereka ketinggalan sesuatu lagi (Mbak Sri)
di desa Kiyu. Kedua, mereka salah jalan malah nyosor ke semak. Ketiga, mereka
kecapean dan memutuskan kembali lagi ke desa terakhir dan melupakan pendakian
ini.”
“Salah jalan? Jalannya jelas
gini. Masa mereka pas jalan nih, terus nyosor tiba-tiba ke semak, sementara di
depannya jalur sangat jelas?” Bang Kemos mempraktekkan cara nyosor ke semak
yang membuat semua orang dalam rombongan ini ngakak.
“Kalian tau gak, aku liat kalian
pakai baju itu kayak rombongan anak panti asuhan__” cetus Bang Al.
Seketika aku, Sinta, Nurul, Ika
dan Ardi serentak melihat baju yang melekat di badan kami. Kaos pendakian warna
orange dari panitia.
“__Panti asuhan mana?” tanyanya
lagi.
Semua kembali ngakak.
“Oh, kami dari Panti Asuhan Hidup Segan Mati Tak Mau.
Kalau situ dari panti jompo mana?” tanyaku gak mau kalah.
Ngakak lagi.
Rombongan lain dari kontingen
Palangka belum juga muncul. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjuangan ke pos
1 karena mereka belum juga kelihatan. Saat itu sudah jam 12 siang. Mulai lapar.
Untungnya tiba di pos 1 satu jam kemudian. Ya, di sini panitia melakukan cek
peserta. Ada orang jualan di sini dan harganya pastinya naik dari harga normal.
Ongkos pendakian, pastinya. Segelas teh es dipatok 4 ribu, padahal gelasnya
kecil aja. Tapi kok mereka bisa punya es batu ya di ketinggian segini? Ternyata
ada motor yang bisa naik sampai ke sana. Amazing!
Kami makan siang di pos 1. Sambil
masak, satu per satu rombongan kontingen Palangka muncul. Termasuk Mbak Sri.
Akui jadi ragu dia udah pernah naik Mahameru.
Kami makan dengan lahap. Nasi,
sayur sup, sarden dan indomie.
Setelah perut kenyang dan tenaga
pulih, perjalanan dilanjutkan. Setelah pos 1 yang banyak kami lalui adalah
turunan. Bonus dan lagi-lagi bonus. Kalau Sinta agak jauh dariku, aku langsung
bilang, “Mut. Semut. Pasal 1. Dilarang saling meninggalkan. Pesan ketum.
Ingat?”
Dia pasti langsung menungguku
hingga aku tepat berjalan di belakangnya.
Kami tiba di sebuah aliran sungai
yang harus disebrangi. Ada titian sebenarnya di sebelah kanan. Ada yang
menjaganya seorang laki-laki, istri dan anaknya yang masih kecil Ada pondokan
di dekat situ. Tertulis: Biaya penyeberangan 2.000/orang. Entah kenapa
para pendaki gak ada, maksudku sedikit saja yang lewat sana. Lebih memilih melewati
air sungai yang lumayan deras. Mungkin naluri pendaki alam. Kasihan juga
mereka. Tapi, kenapa mereka bertahan tinggal di hutan ini? Apakah karena
ladang? Pertanian di sini bagus?
Gerimis mulai turun saat kami
sudah dekat dengan Camp Sungai Karuh, Shalter
1. Dilakukan cek peserta lagi oleh panitia. Sudah banyak sekali tenda-tenda
yang berdiri. Penuh. Ada 4 warung orang berjualan makanan di sini. Berani bertaruh
harganya pasti lebih mahal lagi daripada yang tadi di pos 1.
Para cowok mulai mencarikan
tempat untuk mendirikan tenda. Tenda buhan tambang, dmikian mereka menyebut
tenda yang aku dan Sinta bawa. Mereka ketawa-ketawa, karena tenda itu udah tua
dan dalam tiangnya banyak semen katanya.
“Itu bukan semen, tapi pasir.
Bisa bedain gak sih? Satu lagi, itu bukan tenda tambang. Tapi tenda DOZER.
Jangan bawa-bawa jurusan kuliah,” semprotku.
Mereka makin senang berspekulasi.
Beberapa saat kemudian tenda
sudah berdiri. Ada 3 tenda. Ingin rasanya langsung tidur. Tapi keinginan itu
tertunda karena fly sheet hilang. Gak
ada di carrier siapapun. Sudah
kubongkar satu per satu carrier
orang-orang dalam rombongan ini. hasilnya nihil. Karena itu adalah barang
pinjaman dari sekre, hal terburuk yang akan kami terima langsung terbayang
olehku. Mungkin disuruh seri 500 kali atau ganti beli yang baru atau mungkin
juga slayer kami, aku dan Sinta ditarik.
Mungkinkah tinggal di sekre sylva
di Banjarbaru?
Atau tinggal di rumah warga di
Desa Kiyu?
Atau jatuh dari carrier selama perjalanan? Tapi yang
terakhir kayaknya di luar akal sehat.
Setelah hari gelap, kami
menyempatkan diri buat mandi di sebuah sungai kecil. Setelah seharian bermandi
keringat, akhirnya segaar lagi. Tadinya pengen ke air terjun, tapi lumayan jauh
dari tenda kami berdiri. Ada air terjun setinggi 80 m dari permukaan tanah di
Camp Sungai Karuh ini.
Malamnya sambil makan,
anggota-anggota kontingen palangka yang lain terus menyindir-nyindir soal fly sheet itu. Alhasil, tidur malam itu
pun gak nyenyak. Galau!
16 Agustus 2016
Paginya semua bangun kesiangan.
Saat peserta pendakian yang lain sudah trekking,
kami baru keluar dari tenda, dengan malas-malasan. Lumayan kedinginan. Entah kami
sudah di ketinggian berapa mdpl. Sebagian masak, sebagian membongkar tenda.
Cuci muka, makan, packing. Ada banyak
barang yang kami tinggal. Kata Bang Kemos jangan bawa carrier berat, karena medan yang akan kami hadapi hari itu menuju Camp
2 Penyaungan tanjakan semua dan terjal. Barang-barang yang mau ditinggal
dikumpulkan dalam plastic packing
besar yang akan dititipkan di pondok panitia. Kami mulai trekking jam 10.
Semalam turun hujan. Jadinya
tanjakan yang dilalui licin. Lengkap sudah. Licin, menanjak, dan terjal.
Dibutuhkan kehati-hatian dalam melangkah. Bahkan sekarang kami menggunakan kayu
sebagai penopang. Lumayan membantu sih. Yang gak membantu adalah anak yang satu
ini, si Ben. Orang yang di depannya didorongnya dari belakang. Niatnya sih
baik, membantu. Tapi mendrong dengan kasar sama sekali gak menolong. Sambil
melangkah sangat dianjurkan ngemut cokelat atau permen. Selain menambah tenaga,
juga bisa mengalihkan perhatian kita dari terjalnya medan. Heheheh.
Kami berhenti di sebuah
pemberhentian dimana ada beberapa pendaki yang juga lagi masak. Ada air
mengalir di dekat situ. Cocok. Waktunya makan siang.
“Jauh lagi, Bang camp 2-nya?”
tanyaku.
“Gak kok. Sekitar 3 jam lagi
lah,” jawab Bang Kemos.
Yelah, 3 jam katanya dekat.
‘Tapi pokoknya, nanti kalau udah
jam 5 belum nyampe di camp 2, yaudah. Kita nge-camp aja di tempat dimana kita
samapi nanti. Daripada maksain jalan dalam gelap,” lanjutnya.
Setelah makan siang energi
kembali pulih. Perjuangan dilanjutkan.
Kami melewati pohon besar yang
tumbang, batangnya jadi kayak titian. Tapi harus tetap hati-hati karena licin.
Selain pohon tumbang ada juga pohon besar yang batangnya membentuk terowongan. Sambil
istirahat, kami berfoto ria di sini bersama pendaki-pendaki yang lainnya yang
kebetulan lewat.
Sekarang daerah yang kami lalui
tidak terlalu terjal, dan di sekitar didominasi oleh pepohonan kecil. Kontingen
Palangka kembali terpecah. Ada yang di depan, ada di tengah dan paling
belakang. Aku sebenarnya bisa saja lanjut tanpa berhenti sering-sering. Tapi Sinta
dan Ika, keduanya gak mungkin kutinggalkan. Akhirnya aku-lah yang sering
berhenti di depan menunggu keduanya. Dari depan manusia cerewet itu, Ben
manggil-manggil, lebih tepatnya teriak supaya kami mempercepat langkah. Nurul
dan Kuyang udah paling depan. Sri dan kawan-kawan yang lain paling belakang.
“Kau duluan aja, Ben. Gak usah
nunggu kami. Entar ketemu juga di atas,” kataku. Aku berhenti sambil menenggak
air. Kedua cewek itu jalan sambil ngobrol. Langkahnya selambat mungkin. Itulah
yang terjadi. Aku akan melangkah dengan langkah yang sama dengan mereka, tapi
tetap aja keduanya tertinggal. Dan aku harus berhenti setiap kali itu terjadi.
Kami memutuskan untuk
ngecamp bukan di tempat yang sudah
ditetapkan, tapi kira-kira 1 jam an dari Penyaungan. Udah jam 5 lewat saat itu.
Jika kami paksa harus sampai ke Penyaungan, bisa-bisa sampai malam di
Penyaungan. Rencananya besok summit
attack kita bakalan bangun cepat, subuh jam 3 an. Tentunya juga buat ngejar
sunrise. Ada sekitar 3 tenda yang
udah berdiri di sana, pendaki lain yang udah duluan tiba. Satu per satu anggota
Kontingen Palangka berdatangan. Yang sudah kelaparan memutuskan mengisi perut
dulu dengan roti.
Malamnya lumayan dingin. Tapi
masih lebih dingin waktu di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru sih. Di dekat area
tenda ada papan petunjuk, bahwa Sekitar 500 m ke bawah ada sumber air. Kami pun
bergerak. Sebagian ngambil air, yang lain mendirikan tenda. Ada yang menyalakan
api dengan kayu. Malam itu malam terakhir makan sayur. Selanjutnya, mie,
sarden, telur yang tersisa.
Sambil makan malam, kami
menghangatkan diri di dekat api. Setelah makan, aku meninggalkan api duluan.
Aku masuk ke tenda. Mengeluarkan kertas dan pulpen, lalu mulai menulis Dapat Salam dari Puncak Halau-Halau 1901
mdpl 17 Agustus buat teman-teman. Cukup banyak yang memesan ini.
Satu per satu cewek yang lain
juga masuk tenda. Mereka ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
17 Agustus 2016
Pagi-pagi jam 3, suara Bang Kemos
udah ribut membangunkan kami dari tenda sebelah. Aku udah dengar sih, tapi
sengaja aja pura-pura gak dengar. Gak rela ninggalin tenda dan sb yang hangat.
Tapi kemudian aku tersadar, hari ini 17 Agustus 2016, Hari Kemerdekaan! Ulang
tahun RI yang ke-71.
Setengah jam kemudian semua sudah
bangun dan mempersiapkan barang masing-masing. Aku gak lupa membawa slayer,
bendera “DOZER”, dan tentu saja buku berisi tulisan semalam. Botol minum hanya
3 orang yang membawa. Kami pun bergerak dengan headlamp di kepala. Uh, masih ngantuk.
Jalanan yang kami lalui
benar-benar tanjakan terjal. Untungnya sangat banyak akar-akar pohon yang bisa
menjadi pegangan. Satu jam kemudian tibalah kami di camp 2, Penyaungan. Panitia
melakukan ceklis peserta di sini. Masih banyak pendaki yang masih tidur. Banyak
juga yang udah bersiap-siap trekking.
Perjalanan dilanjutkan dengan antrian yang sangat lambat. Maksudku para pendaki
harus sabaran menunggu yang di depan bergerak. Aku sudah tidak sabar tiba di
puncak. Menyaksikan matahari 17 Agustus.
“Semangat kawan-kawan. Matahari
17 Agustus menanti kita di atas sana,” teriakku. Semua orang-orang yang di
bawah menyahut gak jelas entah bilang apa.
Ternyata ada saja kejadian yang
gak bisa dihindarkan. Ada peserta yang kakinya terkilir dan gak bisa lagi
berjalan, padahal puncak tinggal beberapa jengkal lagi. Cewek itu pastilah
kecewa gak bisa sampai puncak. Ia duduk di pinggir jalan pendakian ditemani seorang
temannya. Kami melewati mereka dalam diam.
AKHIRNYA…
Inilah puncak tertinggi
Kalimantan Selatan! 1901 meter di atas permukaan laut. Dari atas sini awan-awan
terlihat bagaikan laut putih. Indah. Tanpa banyak cakap, aku dan Sinta segera
jepret sana-sini. dengan slayer, bendera, kertas-kertas tulisan, selfie,
barengan dengan mapala lain. Pokoknya gak bosan-bosannya deh berfoto. Setiap
organisasi pecinta alam mengibarkan bendera organisasinya, membentangkan
slayernya, berfoto beramai-ramai dengan mapala lain. Ini sudah menjadi habitus
para anak pecinta alam.
Hingga akhirnya matahari 17
Agustus muncul. Wah, keren abis.. Pecah!
Sambil menunggu upacara, Bang
Walet mengeluarkan kompor dan panci kecil, indomie dan kopi sachet. Gila, aku
gak kepikiran mereka bakalan bawa itu ke sini. Tapi semua pada nyerbu juga mie
goreng itu karena kelaparan. Kontingen Palangka terbaik memang.
Jam 10 diadakan upacara
pengibaran bendera merah putih. Susunan acaranya singkat saja. Tapi tetap
membacakan pancasila, teks proklamasi, dan berdoa. Pembina upacara sendiri
adalah ketua panitia pendakian nasional ini.
Capeknya naik, tapi aku masih
lebih memilih naik daripada turun. Alasannya jelas, karena turun mengerikan
sekali. Melihat ke bawah saja sudah bikin ngeri, dan harus melangkahkan kaki
pula. Kami berhenti sebelum tiba di camp. Sepasang suami istri yang kemarin
menjaga titian di sungai lewat. Si istri membawa bakul berisi kue dan si suami
menggendong anaknya yang masih kecil. Mereka menawarkan jualannya. Per biji
gorengannya 4 ribu, cuy. Ingat, ini gorengan udah dibawa jauh-jauh dari bawah,
bahkan dikit lagi sampai ke puncak!
Tiba di tenda sudah jam 1 siang.
Para cowok langsung menyuruh para cewek memasak. Setelah makan, kami pun
membongkar tenda dan packing. Hari
itu juga turun ke Sungai Karuh, camp 1. Jam 2 kami turun. Rombongan ini
terpecah lagi dalam dua kelompok. Aku, mbak Sri dan Bang Al kami paling depan.
Sisanya di belakang. Gerimis turun, tapi perjalanan tetap dilanjutkan. Jalanan
semakin ngeri sekarang, licin. Setiap saat bisa saja kita tergelincir dan
terperosok dalam jurang. Tapi itu gak terjadi. Aku melepas sandal yang
menurutku memperberat langkah. Banyak lumpur lengket di sana.
Di Sungai Karuh kami tiba jam 5.
Udah sore. Rombongan kontingen palangka yang di belakang menyusul satu jam
kemudian. Malamnya semua mandi di air terjun dekat situ. Persediaan makanan
yang semakin menipis. Kami makan sarden aja. Saat makan kembali soal fly sheet disinggung-singgung. Aku
(disusul Sinta) langsung menuju tenda. Tidur.
18 Agustus 2016
Kami turun jam 11 menuju desa
Kiyu. Jalanan udah mulai kering karena disinari matahari. Tapi anehnya, yang
kami lewati justru kebanyaakan tanjakan, bukan turunan. Meskipun gak terlalu
menanjak tetap saja ini melelahkan. Kali ini semuanya tetap dalam satu
rombongan, gak terpecah. Di pos 1 kami berhenti. Masing-masing memesan es teh.
Kami berlama-lama duduk di sini, di warung ini mentang-mentang desa Kiyu dekat
lagi. Sudah gitu, jalanan yang akan dilewati turunan semua. Bonus.
Di desa Kiyu tiba jam 5. Ketika
di atas jembatan gantung pemandangan sungai di bwah sangat spektakuler. Banyak
juga pendaki lain yang udah beramaian mandi di sungai itu. Sesuai kesepakatan
kami pun langsung menuju sungai tanpa menyimpan carrier dulu. Wow, segaaaarrr!!!






























Tidak ada komentar:
Posting Komentar