Sabtu, 15 April 2017

Hikayat Seorang Mahasiswi Kesasar


Aku lahir di Jambi. FYI, sebelumnya orang tuaku udah sering pindah-pindah rumah. Mereka menikah di Sumatera Utara. Lalu merantau ke Palembang, Sumatera Selatan. Kedua saudaraku yang lebih tua lahir di sana. Aku lahir di Jambi pada tanggal yang sangat kece. Tanggal 05 bulan 5 (Mei) 1995. Kece kan? Banyak angka 5 nya gitu. Tapi gak ngaruh sih kayaknya ke kehidupanku di hari yang akan datang. Ortu gak ngasih nama MEI atau LIMA. Tapi : PUTRIANI (di masa yang akan datang padahal aku gak bertingkah kayak putri). Setelah dibaptis di gereja katolik, pastor memberi nama tambahan untukku, MAGDALENA. Jadi nama lengkapku: MAGDALENA PUTRIANI HUTABALIAN. Yang terakhir itu marga orang Batak. Jangan macam-macam!

Tahun 2000, kami sekeluarga pindah ke Pekanbaru, Minas. Di sini anak ke-5 lahir. Karena kakakku, Kak Ririn memberi informasi tanggal pendaftaran yang salah di SD-nya, aku pun gak bisa sekolah di sekolahnya. Terpaksa sekolah di rumah Uda (paman, adik bapak) di.. daerah Minas juga sih masih. Tapi jauh dikit. Bayangkan, anak SD kayak aku aja udah mesti ngalamin yang namanya ngekos. Meskipun keluaga sendiri, tetap aja bukan ortu kandung. Aku gak bisa ongkang-ongkang kaki. Uda ku punya dua anak, satu cewek satu cowok. Untungnya mereka belum sekolah. Dan untungnya aku hanya kelas 1 SD di rumah Uda.

Tahun 2008, keluarga kami balik ke kampung halaman bapak di Samosir, Sumatera Utara. Yeah, sejauh-jauh kaki melangkah ujung-ujungnya balik juga ke tanah kelahiran. Welcome to the beautiful and cool (arti dingin yang sebenarnya) village. Kampung bapakku ini sangat kampungan. Wkwkwk. Anak-anak disini, kaki ayam semua. Bahkan ke sekolah juga ada yang kaki ayam. Buku mereka? Gak dalam tas, dalam plastik bekas tempat bungkus jas laki-laki. Anak-anak balita banyak yang gak pake celana. Tapi mereka tetap tertawa. Mereka bahagia seperti itu. Kerjaan mereka sepulang sekolah adalah menggembalakan kerbau. Sebuah pekerjaan yang keren menurutku. 

Aku lanjut kelas 2 SD di sekolah kampung bapakku itu. SD Junjungan. Dimana gurunya hanya..3 orang. Ada yang dalam satu ruangan 2 kelas, yaitu anak kelas 5 dan kelas 1. Untung jumlah siswanya sedikit. Jadi bisa muat. Anak-anak di sekolah ini gak ada yang ngerti bahasa Indonesia. Mereka hanya ngerti bahasa Batak. Pernah kuajak satu cewek kenalan, sambil kuulurkan tanganku, "Boleh kenalan, gak?" Dia malah lari dengan kaki tanpa sepatu itu. Seragamnya juga kumal. Tahun-tahun pertama kami, aku dan kakakku bisa dibilang sulit. Kami harus beradaptasi. Lama-kelamaan bisa juga ngerti bahasa Batak. Kelas 3, aku udah lancar. Bahkan sekarang bahasa Indonesia jadi lupa. Hahahah. Becanda.

Gak terasa 5 tahun berjalan. Aku lulus dari SD itu. Guru kami tetap 3 orang di sana sewaktu aku udah lulus. Tiba-tiba rasa nasionalisme ku muncul. Aku bertekad akan jadi orang sukses dan membangun desaku itu. Sekolahku itu. Tunggu saja, aku akan kembali.

Aku kemudian sekolah di SMP kakakku di Ambarita. Ini udah di luar kecamatan desa kami. Intinya kami sekolah ke luar kecamatan. Nyebrang kecamatan. Ya gitulah. FYI, untuk masuk SMP inim kami diseleksi cuy, Seleksi tertulis. Aku diterima di kelas VII B. Sekarang aku harus belajar bahasa Insonesia lagi. Wkwkkwk. Gak sih. Di sekolah ini, gurunya banyak. Mata pelajaran juga banyak. Siswanya banyak.Bahkan ada kantinnya. Di SD kami mana ada. Paling bawa ubi bakar ke sekolah. Di SMP ini kisah romantis pertamaku bermula. Dia ketua kelas sebelah, kelas VII C. Kadang aku memandang ke depan kelas, berpikir seandainya tembok pembatas kelas VII B dan VII C ini runtuh. Kami bakalan bisa tatap-tatapan. 

Naik ke kelas VIII, kelas kami berpindah. Aku masuk kelas unggulan, kelas VIII-A. Ini mengindikasikan kalau aku sebenarnya pintar. Hanya saja sengak orangnya, heheh. Aku sedih kaena kelasku dan dia sekarang berjauhan. Dia kelas VIII-E. Tapi you know what??? Kelas mereka adalah kelas kami VII B dulu. DAN... DIA DUDUK DI KURSIKU DULU...
Aku nyaris gak percaya sama kehidupan lagi. Gimana mungkin dia bisa duduk di sana??? WHY? KENAPA? 

Dan disinilah aku memberanikan diri mengirim surat. Oho, wait a minute. Bukan surat cinta seperti yang kalian bayangkan. Aku meletakkan surat kecil itu di lacinya (di laciku dulu). Isinya pake bahasa inggris (supaya dia gak ngerti), dan sebenarnya isinya hanya ucapan selamat karena dia masuk ke kepengurusan OSIS. Congratulation as a new member of OSIS. Hope you can join it.. Ya, kira-kira kayak gitu deh isinya. Sialnya, besoknya berita tentang dia dapat surat pun tersebar di seantero sekolah. Sialnya juga, dia gak dapat satu surat aja. Dua surat. Aku tahu dari siapa surat yang satu lagi. Cewek VIII C. Cantik sih, kesal aku...
Intinya, aku gak penah ngungkapin perasaanku ke dia, dan aku gak tau apakah dia tau kalo aku suka sama dia. Kami pun lulus dari SMP. 

Biasanya kan, ada tuh kakak-kakak dari SMA yang promosiin sekolahnya ke anak-anak kelas IX. Nah, datang dari SMA Plus Sibolga, Nias. Lu bayangin aja namanya SMA Plus. Otak plus, masa depan plus. Aku pun ikutan seleksi SMA Plus ini. Dari 4 orang yang dikirimkan dari SMP kami, hanya aku yang keterima. Satu orang kalah di akademik, dua orang kalah di psikotes dan..aku lolos! Tapi berhubung bapak dan mama gak punya uang 5 juta buat bayar uang pendaftaran ulangnya, aku pun gak jadi sekolah di sana. Padahal 5 juta itu udah termasuk seragam sekolah 4 pasang, uang sekolah, uang buku, dll. Aku gak sanggup liat ortu menderita nyari uang pinjaman kesana-kemari. Aku pun merelakan sekolah bagus itu. Aku sekolah di SMA Ambartita. Beda dengan SMP nya, SMA ini agak tertinggal. Letaknya aja agak ke dalam persimpangan, persis di kaki bukit!

Senangnya sih, aku ketemu lagi sama banyak teman-teman SMP ku dulu. Hampir 3/4 di sini semua. Dia juga di sini. Hanya saja, aku mulai melupakannya. Padahal dia ketua kelas lagi loh. Tapi aku mulai mengontrol perasaanku dan mulai berlaku dewasa. Ehem-ehem.

SMA ini yah, biasalah. Banyak siswa laki-laki yang cabut dari sekolah, ada yang sering telat, ada yang blus luar, ada yang gondrong. Semua dilakukan untuk cari perhatian. Atau mungkin juga cari jati diri. Aku? Jadi anak baik-baik yang sering ke perpus, jarang ke kantin. Di SMA aku bahkan bikin bisnis jualan pulsa. Kurang baik apa, coba. Tapi mendadak di kelas 3 SMA aku gak masuk 10 besar juara di kelas XII IPA 1. Untungnya aku bisa lulus dari SMA. Aku mulai terombang-ambing. Bahkan di saat teman-temanku ikut bimbingan belajar (bimbel) di Medan, aku ikut juga ke Medan. Tapi bukan bimbel, melainkan belajar sendiri di kos kakakku. Yang ada aku ketiduran. Soal-soal SBMPTN itu berat amat. Aku gak tau mau jadi apa. Mau kuliah di jurusan apa. Aku tak berdaya. 

Jalur undangan (nilai rapor) dan SBMPTN aku kalah. Telak! Untungnya ada kesempatan terakhir, UMB PTN. Atas saran dari teman aku ambil jurusan TEknik Pertambangan. Akhirnya aku menang di jurusan itu, di Kalimantan Tengah. Anak Sumatera ke Kalimantan, lahir di Jambi. Jiwa petualangnya kerasa banget gak sih. 
Aku ngekos. Tentu saja. Awalnya berdua, kini sendirian. Ngekos sendirian itu ada sedih enaknya. Semester awal berlalu begitu lambat. Oh iya, di semester 1 dan 2 aku mesti sambil kerja kuliahnya. Karena you know lah ekonomi ortu gue. 

Yang namanya anak Teknik Pertambangan, ada beberapa fase yang harus kami lalui demi dua huruf itu, ST. Semester 4 ada namanya Kuliah Lapangan ke perusahaan tambang. Kemarin sih di KalTeng nih masih. Adek tingkat kami yang KL nya ke Jogja. Biaya tanggung sendiri: 6,5 juta per O. Waktu kami gaa-gara masih dalam kota yang sama hanya 3,5 juta. 

Nah, setelah KL, di semester 7 kami menghadapi Kerja Praktik (KP). Meskipun 2 SKS hanya, nih mata kuliah berat. Kita diwajibkan ke perusahaan tambang lagi, buat mengamati. Nanti pulangnya bikin laporan KP dan diseminarkan. Gile kan, 2 SKS itu yang kadang bikin lu gak tidur. Aku sama Jea (KP bisa berdua), udah ngirim 10 proposal ke perusahaan tambang. Tapi tak satu pun yang nerima kami. Aku gak tau apa yang salah. Apakah emang harus ada orang dalam? Aku gak punya seorang pun kerabat yang bekerja di tambang. Jujur aja!
Petolongan selalu diberikan kepada mereka yang membutuhkan, begitu kata Albus Dumbledore. Di semester 8 ini, di saat sudah 10 proposal yang tidak menerima kami, disaat teman-teman seangkatanku uidah sibuk ngurus Tugas Akhir, barulah kami di terima KP. Dan itu pun di perusahaan Zirkon. Sekedar informasi ya, bagi anak-anak tambang itu, ada tingkatan kasta bahan galian dan perusahaan. Bahan galian kasta paling tinggi dimulai dari:
1. Emas
2. Tembaga
3. Nikel
4. Batubara
5. Gamping
6. Zirkon
 Perusahaan Tambang kasta paling tinggi:
1. Freeport
2. New Mount
3. PT Timah Tbk
4. ADARO
5.Bukit Asam
6. PAMA
10. Perusahaan kecil


Nah, kami berdua diterima di kasta paling rendah. Udah gitu perusahaannya kecil dan gak terkenal. Bukannya gak bersyukur, tapi aku malah bersyukur bgt udah diterima akhirnya. Soalnya bapakku udah curiga samaku. Disaat anak sekampung kami udah wisuda April ini, aku malah kubilang tahun depan bisa wisuda. Yaiyalah, anak sekampung kami itu jurusan Ilmu Hukum. Gak butuh KL, KP, atau TA ke perusahaan tambang. Yang nyarinya setengah mampus.  
Aku sih santai aja kalo belum lulus padahal udah semester 8. Di jurusan kami ini bahkan ada yang sampai 8 tahun baru wisuda. Yang kuinginkan hanya satu hal, ortu gak curiga aku main-main di sini. Lagi, aku ingin ngelakuin satu hal besar yang mengubah hidup orang banyak sebelum aku lulus. Satu hal aja. Kira-kira apa, ya..


Tapi nyatanya semua mendesak. Kakakku ngedesak supaya aku cepat lulus. Soalnya dia juga nanggung beban adek ku yang kuliah di Tangerang (Ilmu Hukum). Calon Pengacara kebanggaan bapakku. Beasiswa juga udah suruh bikin surat pernyataan kapan aku lulus wisuda. Kuiisi aja Agustus 2018. Kenyataan kah nanti itu Tuhan?
 




 
x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...