Mahasiswa gak terima dengan fasilitas di kampus UPR yang sama sekali gak ada apa-apanya, sementara UKT selangit. Sejak tanggal 4 kemarin, aksi mahasiswa ke gedung rektorat dipimpin langsung presma dan wapresma. Balasannya, rektor mengeluarkan tata tertib yang diberlakukan buat mahasiswa UPR. Diantaranya yaitu, dilarang gondong, aktivitas kampus gak boleh di atas jam 22.00, gak boleh nginap di kampus, gak boleh pakai celana jins robek dan make up mencolok buat cewek. Tata tertib itu dikeluakan hanya sebagai pengalih perhatian atas tuntutan mahasiswa terhadap rektor UPR. Mahasiswa menginginkan transparansi dana UKT sejak tahun 2013. Kenapa sistem yang katanya UKT yang dijanjikan tidak akan ada pungutan lain lagi namun praktiknya ternyata banyak sekali pungutan di kampus. Bahkan praktikum saja masih bayar, ruang kelas tak ada ac, ada kipas namun remote-nya gak ada, kursi kurang, listrik di sekretariat UKM selalu jeglek karena arusnya gak sanggup. Akhirnya mahasiswa menyerukan supaya rektor turun!!
Hari ini mahasiswa UPR turun ke gedung rektorat lagi. Ternyata si bapak rektor gak ada. Tapi banyak sekali polisi dan menwa yang stay di sana. Mungkin berjaga-jaga supaya kami tidak menerobos gedung atau melakukan tindakan anarkis serupa membakar gedung itu. Tapi ya, kami bisa lakukan lebih dari itu.
Ada rombongan yang membawa keranda. Tau kan keranda, tempat mayat itu lho. Setibanya di depan gedung rektorat, mahasiswa menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta sambil menyanyi 'Darah Juang', seruan sumpah mahasiswa. Matahari begitu teriknya, tapi tidak berhasil menyurutkan semangat kawan-kawan mahasiswa yang terus menyanyikan yel-yel 'Turunkan REKTOR!!! Banyak juga orang-orang dari media yang hadir.
Gedung rektorat dipenuhi dengan kuning, jas almamater mahasiswa. Para si kuning menyerukan tuntutannya. Lewat orasi-orasi bahkan puisi bejudul 'Mobil Bau Bapakku', yang isinya menyindir si rektor. Dimana si rektor diumpamakan sebagai bapak kami para mahasiswa. Beliau membeli mobil baru sementara kami anak-anaknya tidak bisa makan. Semakin siang semakin panas. Kawan-kawan mahasiswa merangsek maju ke pintu masuk dimana para polisi menghadang. Keranda tadi di bakar di depan polisi itu. Lalu dari berbagai arah koin-koin dilemparkan para mahasiswa. Dilemparkan ke keranda yang sedang terbakar. Tiba-tiba saja polisi menyemprotkan gas air mata. Para mahasiswa berlarian. Tapi beberapa dari jauh melempar polisi dengan batu, tanah, kayu apapun yang bisa mereka pungut dari tanah.
Tadinya, aku mau orasi. Behubung keberanian yang kukumpulkan kurang banyak, ya gak jadi deh. Seandainya tadi jadi orasi, mungkin aku bakalan ngomong ini..
Selamat siang, kawan-kawanku mahasiswa UPR..
Siang ini kita bersama-sama di depan gedung rektorat, bapak kita tercinta ini untuk sama-sama meminta pertanggungjawaban atas UKT-UKT mahal yang telah kita bayarkan sejak tahun 2013. Namun apa yang kita dapatkan? Kelas kurang kursi. Masih kursi kayu. Panas juga. Lab gak ada yang becus fasilitasnya. Tapi ketika kita menuntut, malah dijawab dengan pelarangan mahasiswa berambut gondrong.
Apakah kalian setuju dengan pelarangan ini?
UPR BUTUH PEMBENAHAN, KAWAN-KAWAN. INILAH SAATNYA. KITA TIDAK BISA DIAM TERUS. SAAT INI KITA DITINDAS. SATU-SATUNYA CARA UNTUK MENGHADAPI ADALAH.. LAWAN!!
Sepakat???
Hidup Mahasiswa!!!
Hidup rakyat!!!
Merdekaaaa!!!!!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar