Kamis, 06 April 2017

Kenyataan Selalu Pahit

Akhir-akhir ini kampus kami tercinta mengalami gejolak sosial. Dimana terjadi kericuhan yang berujung pada pemukulan mahasiswa oleh satpam rektorat. Semua bermula dari aksi kampus yang dipimpin Presiden mahasiswa UPR. Ya intinya sih tentang permohonan transparansi dana UKT mahasiswa yang telah berlangsung sejak angkatan kami, 2013. Meskipun udah bayar UKT mahal-mahal, tapi sarana dan prasarana kampus tidak ada yang memadai. Taulah kan, ujung-ujungnya kemana dana UKT kami yang lua biasa banyak itu. KKN selalu dimana-mana.
Tapi, daripada membahas itu, aku mau bahas kejadian yang membuatku sempat manitikkan air mata juga nih. Siapkan tisu, siapa tahu kalian juga bakalan meneteskan air mata.
PPAN atau Pertukaran Pemuda Antar Negara adalah program tahunan Kemenpora RI dengan negara-negara sahabat, macam Malaysia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Kanada. Dimana setiap provinsi akan mengirimkan delegasinya masing-masing 1 orang ke negara tersebut. Syaratnya ya harus punya KTP asal provinsi. Tapi seleksinya gak main-main.
Aku tahu info PPAN ini dari LINE. Setelah kutelusuri info-infonya aku pun langsung ikut daftar seleksi PPAN Sumatera Utara. Untung aja bisa ngirim berkasnya lewat e-mail. Oh iya, seleksi pertama adalah seleksi berkas. Perjuanganku untuk bisa mengirimkan berkas ini juga sangat luar biasa. Dimana aku tahu info PPAN ini tanggal 2 April dan deadline pengiriman berkas tanggal 3 April. Meskipun syarat berkas yang diminta gak banyak, tetap aja aku kelabakan. Malam tanggal 02 April aku menulis esai motivasi mengikuti PPAN 2017, mengisi formulir, dan memfotokopi KTP, mengisi surat pernyataan. Semua itu dilakukan hanya dalam tempo satu malam. Kondisi hujan lumayan deras, hari Minggu pulak sehingga gak ada fotokopian yang buka di sekitar kos. Bermodalkan payung pinjaman dan uang yang hanya 6 ribu (bulanan belum datang), aku menyusuri daerah kos. Untungnya kutemukan fotokopian yang masih buka jam 23.20 WIB. Untungnya juga disitu bisa scan. Setelah beres, aku balik ke kos. Tiba di kos, satu lembar lagi formulir pendaftaran ternyata belum dibalikkan. Astaga!!!!!!!! Aku balik lagi ke sana. Hujannya lumayan makin deas.
Jam 02.17, semuanya tinggal kubuat dalam pdf. Memakai jasa pdf online smallpdf.com ternyata haus nunggu 1 jam ke depan kalau mau ngubah lagi. Baru satu yang selesai kuubah ke pdf, tunggu 1 jam, ubah lagi, tunggu 1 jam lagi. TEPAAARRRR......
03 April 2017 jam 4 pagi lewat, finally semua beres. Lega banget rasanya waktu tinggal hanya tekan "SEND"
Pengumuman 200 orang yang lolos berkas diadakan tanggal 03 April malam. Puji Tuhan aku masuk dalam 200 orang itu. Pengambilan kartu ujian dan Teknikal Meeting dilakukan di Gedung DISPORA Medan! Alamaakk, aku aja posisinya di Kalimantan Tengah. Kalau tidak datang saat TM, dianggap gugur, begitu kata panitia. Seleksinya tanggal 7 April, berupa tes tertulis TOEFL, unjuk bakat, Forum Grup Discussion (FGD) dan wawancara bahasa indonesia. Sistemnya juga sistem gugur. Artinya, gak boleh lanjut ke seleksi berikutnya kalau seleksi sebelumnya kalah. Aku sih tahu kemampuanku..bahkan aku gak yakin bisa lulus si tes TOEFL. Tapi,..prosesnya ituloh. Aku ingin belajar dari proses. Uang bisa dicari, tapi kesempatan mungkin gak datang dua kali.
Dengan antusias, kondisi uang bulanan dan beasiswa KSE belum cair, aku nyari tiket di traveloka. Untuk tanggal 5, harga tiket 1.074.000. Berhubung uang belum ada, aku belum bisa booking. Mulailah nanya kawan-kawan sana-sini buat minjam duit 1 juta 100 ribu buat beli tiket. Mereka heran kenapa aku harus beli tiket ke Medan pada saat gak libur semester gini. Untuk mempersingkat penjelasan, aku kirim aja link berisi pengumuman 200 besar itu. Sialnya, dia malah bilang kuotanya tinggal dikit gak cukup buat buka link itu. Hadeuh! Ujung-ujungnya sih aku jelaskan panjang lebar. Tapi uang yang mau kupinjam malah gak ada. "Kirimanku belum datang juga."
Abangku kutanya, tapi katanya gak punya uang juga. Kakakku juga.

Aku udah putus asa. Tapi secercah harapan timbul kembali saat di grup diberitahu bahwa beasiswa kami udah cair. I got 600! OKAY, Let's find 600 more. Namun nyari 600 ribu gak ada juga ternyata. Sampai udah malam tanggal 04 April. Jam 8 malam, ada kawan yang datang ke kosku. Dari dia ada uang 600 ribu itu. Tapi masalahnya lagi, tiket buat tanggal 5 April udah naik mahal sangat!!! Udah jadi 1,5 juta. YA OLOHH...
"Sabar aja Kak, nanti jam 12 malam biasanya turun," kata Anita. Kami berdua pun gak tidur sama sekali sampai pagi jam 06.00. Harga tiket malah makin naik jadi 1,67 juta!!! Aku..menyerah...


Tuhan, kadang aku berharap terlahir sebagai anak orang kaya yang gak pernah bermasalah dengan keuangan. Atau aku punya kakak asuh orang bule atau apalah.. Kenyataannya, aku hanya anak petani yang selalu

Anggap saja aku sudah menang!
Menang menaklukkan ego ini. Lagian, tanggal 6 ada UTS Pencucian Batubara.
Bye-bye PPAN Sumut 2017..
See you another time!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...