Aku gak pernah segalau ini. Di kos mulu, kelaparan dan bego. Gimana gak bego. Pikiran ke sana kemari. Kawanan seangkatan udah pada sidang akhir. April ini mereka resmi mendapat tambahan nama, embel-embel ST di belakang nama yang diberikan ortu. Sisanya kawananku yang udah di lapangan, lagi penelitian skripsi. Sama dengan yang wisuda April, mereka juga akan segera mendapat tambahan nama. Agustus pasti terkejarlah. Karena hanya April dan Agustus ada wisudaan di kampus ini.
Bosan nonton youtube.
Bosan nonton drama korea.
Bosan nonton BTS (gak bisa dipeluk juga).
Bosan baca Wattpad.
Bosan kelaparan.
Adakah ayam yang bisa dicuri buat kupanggang???
.
.
.
Aku mau pulang saja rasanya ke kampung, ngadu di pelukan emak buat bilang, "Emak, anakmu ini menyerah. Maafkan aku, aku gak bisa nyelesaikan ini."
Gak habis pikir aja sih. Kenapa belum ada secercah harapan buat proposalku? Kenapa gak ada yang sudi menampungku penelitian di perusahaan mereka? Adapun satu-satunya perusahaan yang mau meresponku yang dengan sangat baik pula memberikan rekomendasi judul (yang langsung kuterima).
Analisis Rock Rating Mass (RMR) pada Pemboran Geoteknik.
Wuah.. dengan judul ini kuharap aku bisa melepaskan status mahasiswaku dengan segera dan tentunya terhormat. Namun, masalah tak sampai disitu. Pak Dhona yang memberikan judul itu sekaligus Kepala Teknik Tambang (KTT) disana menyampaikan kabar buruk juga, bahwa mess-nya gak ada yang kosong. Beliau berkata akan menginfokan secepatnya jika sudah ada mess kosong.
Di sinilah aku, mahasiswa (salah jurusan) semester X yang kehilangan arah, mirip anak ayam yang sedang celingak-celinguk cari induknya.
But life must go on. Ditambah juga HP Xiaomi-ku yang baru hilang. Aku pun mencari pekerjaan. Hitung-hitung bisa beli HP baru, ya Xiaomi Redmi Note 5A mungkin?
Sebuah rumah makan halal, namanya Pondok Prambanan menerima aku. Tanpa surat lamaran pekerjaan dll, aku mulai bekerja di sana. FYI, pemiliknya adalah Ibu berwajah China namun berlogat Jawa. Mungkin ortunya Jawa-China. Namanya Bu Triyani. Busyet, namaku ada unsur 'triani' nya juga. Bu Tri seorang single parent. Anaknya dua, si Ling Ling kelas 4 SD sama si bungsu Celyn yang masih TK. Tau kan, China itu dimana-mana katanya pelit? Di tempatku bekerja ini semua terbukti.
Aku sebelumnya sudah pernah bekerja di warung angkringan. Di sana, pekerjanya bebas makan atau minum. Gajinya 30 ribu dan dikasih tiap hari. Tak terhitung berapa gelas teh es yang kuhabiskan tiap hari. Si bapak bos juga orang Jawa yang suka melawak. Kalau udah kerja rasanya waktu cepat berlalu.
Di Pondok Prambanan keadaan berbeda 181 derajat.
Makan hanya boleh satu kali, dengan bahan yang sudah disediakan bos. Ayam potong dan sayur pare. Sampai bosan rasanya dengan sayur itu, lidahku tidak lagi merasakan pare pahit. Es teh gak boleh bikin. Ambil es batu sama aja dengan cari perkara.
Diperlakukan demikian, kami pekerja pun mulai main kotor. Kami beraksi disaat bos pergi ke pasar. Jika sudah demikian, kami merdeka. Ambil es batu, bikin teh es. Aku malah sering mengambil mayonaise dari kulkas dan kucocol dengan ayam goreng. Ah, sedaap. Tapi kadang bos balik begitu cepat disaat kami masih belum menghabiskan barang curian itu. Semua otomatis kalang kabut menyembunyikan di kolong kulkas.
Kalau hanya pelit, mungkin kami para pekerja masih bisa tahan. Tapi bos juga tipe orang yang susah tersenyum. Gak pernah sekalipun beliau tersenyum kepada kami. Meski itu senyum kecut atau senyum palsu. Gak pernah. Hebatnya beliau bisa tersenyum kepada pelanggan. Ingin kubertepuk tangan kala itu. Kukira beliau memang lupa cara tersenyum. Omelannya, akulah yang sering kena. Apalagi karena aku memang gak pintar di dapur. Come on, dari lahir sampai SMA, aku dimasakin emak sama kakakku.
"Ini kalau sudah selesai dipakai langsung dikembalikan ke tempat asalnya. Siapa tadi itu yang masak nasi?"
Aku mengambil keranjang pencuci beras itu dan menyimpannya. Saat aku pergi menyimpan, beliau mengatakan sesuatu soal sayur sup ayam yang barusan dipesan pelanggan. Sekembali menyimpan keranjang aku kembali ke dapur, menghadapai ayam yang direbus.
"Bu, ini sup ayamnya pakai sayur tidak?"
Beliau memandangku malas (atau jijik). "Kan tadi saya sudah bilang. Kasih kol, tauge sama wortel. Kamu paham gak sih?"
Dalam hati aku mengutuk si bos. Gimana bisa dengar, orang tadi lagi nyimpan keranjang.
Gak hanya perkara sup ayam. Inilah akibatnya jika cewek gak pernah megang dapur. Aku mengalami banyak kesulitan. Banyak bumbu dapur yang gak kutau namanya atau wujudnya. Ternyata merica itu sama dengan lada. Jinten itu ternyata salah satu bumbu dapur juga. Ayam kampung dan ayam potong punya lekukan tubuh yang berbeda. Cuka dipakai juga dalam masakan. Kirain cuma buat praktikum di lab kimia aja.
"Magda kamu itu belum paham di depan. Kalau ada orderan langsung ke belakang aja bantu Mama Nia. Sambal kalasan sama sambal korek aja belum bisa bedakan. Tralalala.... Trilili....!"
Sumbat saja telingaku dengan cotton bud, jaebal!
Tak hanya kepada pekerja saja ternyata bu bos pelit. Dasar Chinese!!! Anaknya juga dipelitin. Itu si Celyn makan mi instant terus yang dimasakin sama aku tiap hari. Si Ling Ling makan nugget dan sosis. Gak ada makanan bergizi buat anak-anak yang gak kenal bapaknya itu. Si Celyn malah pernah dioperasi karena ususnya bermasalah. Ya astaga, anak sekecil itu perutnya sudah punya bekas jahitan. Gak kebayang deh. Kadang aku juga yang mandikan bocah itu. Di kepala yang kecil itu juga bersarang kutu. Aih, ibu macam apa yang gak mau merawat anaknya. Sesibuknya beliau mengurus bisnis, anak jangan sampai diterlantarkan juga lah ya kan.
Meski kadang bikin kesal, Celyn sebenarnya bocah menggemaskan. Dengan mata bening yang agak sipit khas china, kulit putih tapi tak mulus (banyak bekas koreng), rambut lembut aku sering mencubit pipinya. Kadang kasian sama bocah itu. Udah 4 tahun tapi ngomong pun belum jelas. Entah lidahnya yang terlalu pendek atau apa. Aku susah sekali mengerti apa yang diucapkannya.
"Kak, makan 'aget."
"Aget?"
"Iya, pake 'asi."
Wait. Aget pake asi? ASI siapa yang mau dikorbankan disini? Apakah bu bos bersedia? Dan .. aget itu apaan? Sejenis makanan langka milik orang kaya? Gak pernah denger ah..
"Nasi sama aget?" tanyaku lagi.
Si Celyn kesal.
"Iya."
"Aget itu yang mana?"
Tanganku ditariknya ke dapur. Di dapur ia membuka kulkas. Menggunakan kursi sebagai bantuan biar sampai. Dikeluarkannya benda bulat kayak marshmallow berwarna kecoklatan. Di bungkusannya kubaca 'Chicken Nugget'.
Kata Mama Nia, seorang pekerja yang udah paling lama di sana, suami bu bos dipenjara di Jawa sana. Aku gak tau motifnya apa, tapi sebuah pemikiran muncul di benakku. Mungkin bu bos pelit karena sedang mengumpulkan uang tebusan supaya suaminya bisa keluar lebih cepat dari sel. Si Celyn masih dalam kandungan waktu suami bu bos dibawa polisi. Katanya..
Selama bekerja di sana aku sering ditegur, dimarahin, diomelin. Untungnya aku manusia yang terbangun dari jiwa baja. Sehingga tegurannya gak ada yang mempan ke hatiku. Kalau ada pekerja di sana yang punya sensitivitas tinggi, dapat dipastikan dia hanya bertahan 2 hari paling lama. Ah ya, ini memang sudah terbukti. Banyak yang nganterin surat lamaran kerja ke Pondok Prambanan, pas dipanggil bu bos dan mulai bekerja, mereka hanya tahan paling lama seminggu. Ada yang cuma sehari. Bos tuh ya, kalau ngajarin juga kalimatnya gak ada lembut-lembutnya. Begini ya, begini. Jangan begitu, nanti jadi begini.. Mana ada!
Bulan pertama kerja di sana, aku nerima gaji 25 ribu. Elah, orang yang ngantarin aku kerja kuberi 20 ribu seminggu buat bensinnya. Ini kalau dihitung-hitung sih cuma 10 ribu bersih per hari. Oke, gak apa-apa. Kata Tomi salah seorang pekerja yang udah lumayan lama juga, untuk bulan kedua dikasih 30 ribu.
Hari demi hari lewat. Minggu juga lewat. Kadang aku gak ibadah di hari Minggu. Sakit di pinggang, pinggul terabaikan. Kaki kutu air-an juga terabaikan. Tangan terkena teflon panas juga terabaikan. Kadang aku keteteran cari orang ngantar aku ke tempat kerja. Saat itu kuliah sudah aktif. Aku aja yang gak punya mata kuliah lagi.
Akhirnya tanggal 28 Februari 2018.
It's payday. Gajian. Benar gak sih bahasa inggrisnya gajian itu payday?
Bu Bos menyerahkan amplop putih sesaat sebelum kami pulang jam 3 sore. Kutatap dengan mata nanar amplop itu, kuterawang. Aku bekerja 27 hari bulan ini, sehari kemarin aku ada izin mengurus KTP. Aku sudah berjanji dengan diriku, jika gajiku masih tetap 25 ribu per hari aku akan berhenti! Oke, kalau masih 25 ribu totalnya = 675.000. Kalau 30 ribu sehari = 810.000
Kusobek ujung amplop. Kuraba dan kutarik isinya. Ada lembaran berwarna biru dan kuning. Uang 50-an dan 5 ribuan. Kuhitung..
....
....
....
....
....
BEG!
675.000
Per hari masih tetap 25 ribu !
Dasar China !!!!!!!!!!!!
Malamnya ku sms bu bos minta undur diri dengan alasan mau fokus ngerjain skripsi. Wadaw, dalam hati aku ingin menjerit. Diterima aja belum. Mess-nya udah ada yang kosong belum sih, Pak KTT ?
![]() |
| 'Aget pake 'ASI |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar