Jumat, 16 Maret 2018

BALADA ANDALIMAN...

Ada seorang cewek adik angkatanku (2014) yang kuliah di teknik juga. Namanya Dame (English read : deim). Meski satu fakultas kami beda jurusan. Dia jurusan Arsitektur. Jurusan yang paling tidak mungkin buat orang yang gak bisa menghayal kayak aku. Eh, mengkhayal sih bisa. Tapi yang kotor-kotor. Wakakak. Enggaklah. Mengkhayalnya aku sejenis : dinikahi idol setampan personil BTS atau jadi selingkuhan juga gak apa-apa. Jurusan yang dikehidupan selanjutnya juga mungkin gak akan kupilih.
Oke, back to Dame.
Dame ini adalah tipe cewek introvert menurutku. Temannya juga bisa dihitung cuma 5 kali ya. Ke kampus juga dia sering jalan kaki sendiri. Apa separah itu pemalunya dan pendiamnya dia? Sampe gak punya sobat yang bisa ditebengi kalau mau berangkat atau pulang kampus? Perawakannya juga kecil langsing kutilang. Aku bahkan lebih pendek dari dia. 
Tempo hari dia dapat kiriman dari ortunya di Sumatera, kiriman berupa Andaliman. Buat yang belum tau, ini tuh bumbu dapur senjata pamungkas masakan orang Batak. Masakan apa aja kalau ditambah andaliman pasti lezat. Asal bukan kolak aja. Kenapa? Karena andaliman ini memberikan sengatan getir di lidah. Perpaduan pedas dan ketir. Entahlah, ketir? getir?
Kondisi finansial Dame menurut salah satu teman kosnya juga gak terlalu baik. Uang bulanannya gak nentu berapa. Dia juga sering minjam duit. Jadi andaliman titipan itulah yang dikirim ortunya dari sumatera buat di jual disini. Wait, disini emang orang dayak tau bumbu itu? Pohonnya aja gak ada, gimana orang kenal. 
Sudah 2 hari setelah bumbu dapur itu tiba di kosnya. Kulihat kondisinya yang mulai layu dan berubah menjadi menghitam. Warna normal andaliman hijau. 
"Kak, ayo dulu temani aku menjual ini," katanya malam itu saat gerimis turun. 
"Emang mau jual kemana? Malam-malam gini juga, gerimis lagi," jawabku sambil tetap main HP. Main HP aja terus. Skripsi gak usah dipusingin.
"Makanya, Dek," lanjutku "Kalau kau emang belum tau pemasarannya kemana kenapa minta ortu mu kirim barang itu. Jadi gini kan, pusing sendiri."
"Bukan aku yang minta, mereka yang kirim."
Tapi malam itu hujan semakin deras. Kami gak jadi pergi.
Andaliman bukanlah bumbu dapur yang awet. Dan perlakuan terhadapnya juga susah. Gak boleh kena air, gak boleh dibungkus tertutup, gak boleh dipegang-pegang. Kalau enggak, dia bakalan menghitam. Oke, saat ini aja udah makin gak menentu lagi kondisinya. Sekarang andaliman itu dalam posisi dihampar di lantai. Kami akan pergi pagi ini memulai pencarian pembelinya. 
Tempat pertama yang kami datangi adalah warung makan orang Batak Karo. Menu andalannya babi panggang karo. Semenjak di Palangka Raya, baru sekali aku makan itu. Enaknya hm, minta lagi. Si pemilik bilang kalau beliau udah punya agen pemasoknya untuk bumbu dapurnya, termasuk andaliman. Kami pamit.
Tempat kedua yang kami datangi adalah milik orang china. Kayaknya sih orang China. 
"Saya tak pakai bumbu ini. Saya jarang masak daging babi. Yang sering itu mi aja. Gak mungkin kan, mi dikasih andaliman."
Si bapak china memberikan rekomendasi warung makan yang harus kami datangi untuk ditawarkan. Aku mengingat-ingat nama warung makan yang disebutkannya dan rute menuju ke sana.
"Memangnya jual berapa sekilo?"
"30 ribu, pak," jawabku asal. 
Beliau melotot gak percaya. 
"Kenapa, Pak? Kemurahan atau kemahalan?"tanyaku lagi.
"Kemurahan toh. Karena gak ada di sini, orang harus minta kirim pake peswat. Ongkosnya aja sudah berapa. Jangan mau kamu jual segitu. 150 ribu disini sekilo."
Sesuai petunjuk si bapak tadi kami pun pergi ke tempat berikutnya. Tapi di tengah jalan, pas di lampu merah, motor yang kami pakai mati. Dari caranya tersendat sih kutebak habis bensin. Benar aja.
"Kakak ada bawa uang?"
Aku gak menjawab. Bukan uang masalahnya. Tapi yang jual bensin. Aku pelengak-pelengok ke sana-kemari. Masa gak ada yang jual bensin eceran?
Aku meninggalkan si Dame di pinggir jalan, dengan helm di kepala aku berjalan ke depan mencari bensin. Cukup jauh berjalan baru ketemu. Untuk menyakinkan si ibu, kutinggalkan uang 100 ribu di sana. Dengan menenteng corong besar dan botol berisi pertamax aku kembali ke tempat motortr berada. Namun, masalah lagi. Jok motornya gak bisa dibuka. Kuncinya gak bisa diputa sama sekali, kekiri atau kekanan. 
Aku frustasi. Hari ini entah kenapa aku kasihan dengan anak itu, bersedia untuk membantunya mencari orang yang mau membeli andalimannya, dengan perut kosongku, dengan motor yang habis bensin dan aku yang harus berjalan jauh membelinya. Tapi pas udah dapat jok motor malah gak bisa dibuka.
Seorang laki-laki datang membantu kami. Tapi hasilnya tetap sama.
"Me, coba telpon yang punya motor ini. Siapa tau emang ada triknya buat membuka joknya."
Si Dame memencet nomor dan berbicara dengan orang di seberang.
"Kawat, ya ada. Ditarik? Oh iya, bisa."
Ah..
Kezel gua. Ternyata cuma narik kawat kecil dekat lubang kunci jok itu.
################
Kami gak berhasil menemukan warung makan yang dimaksud si bapak china. Setelah motornya diisi bensin dan kembali menyala kami malah pulang. Kelaparan.
Tambah satu hari lagi. Tambah pula menyedihkan keadaan si andaliman. Sekarang malah aromanya mulai beda. Agak lembab-lembab tak sedap.
Dari pagi jam 7 sampai jam 1 aku di kampus nontonin orang seminar hasil tugas akhir. Yeah, sampai saat waktuku tiba biarlah aku jadi penonton. Sorenya jam 3 ada pelantikan organisasi mahasiswa. Ini pelantikan massal. FYI, hari ini aku bakalan pensiun dari jabatanku sebagai ketua mapala. 
Pelantikan selesai jam 5 sore. Lama banget kan, karena emang ada 7 organisasi yang dilantik. Dan seharian itu aku gak makan nasi sama sekali. Cuma snack seminar orang. Oke, aku kelaparan. Kapan sih aku gak kelaparan. 
Baru aja nyampe di kos, Bonita bilang mau datang ke kos. Begitu dia datang, si Dame juga datang. Oh no, jangan bilang dia mau ngajak nyari lagi. 
DAN BENAR AJA!!!
Ingin kubilang, Dame, udahlah dek. Di sini tuh mungkin emang gak pake gituan buat masakannya. Lain kali kalau memang ortumu mau kirim lagi, pastiin dulu kau udah tau pemasarannya. Udahlah, menyerah aja..
Tapi kayaknya meskipun si Dame cewek introvert dia punya semangat yang tak mudah lentur. Kami malam itu mengelilingi kota Palangka Raya dan mendatangi semua angkringan, lesehan atau rumah makan yang ada tulisan "RW" atau "B2" di spanduknya. Beberapa ada yang bilang gak kenal andaliman, ada yang minta no HP karena mau nanya mama dulu kebetulan ibunya keluar, atau udah punya pasokan. 
Dame malah search di google dengan kata kunci "tempat jual daging babi di palangka raya."
Entahlah karena Tuhan emang salut sama kami atau memang udah rezeki. Di sebuah rumah makan kecil di sudut jalan, andaliman 2,5 kilo itu dibelinya semua dengan harga 130 ribu. Padahal sebenarnya kami udah mau pulang karena wanita paruh biaya di situ minta no HP saja, nanti ditanyakan ke ibunya. Dame udah meninggalkan no HP nya.
"Gimana, kak? Pulang kah kita?"
"Terserahlah," jawabku. Padahal aku udah pengen banget pulang. Plis, satu hari ini aku duduk tegak terus di kursi. Kuingin tidur...
Kami masih berdiri di depan warung makan itu saat sebuah mobil datang. Keluarlah wanita usia 50 an berpostur bongsor. Ah, paling pelanggan. Pikirku dalam hati. Tapi..
"Eh, dek. Coba tanya lagi ke dalam. Jangan-jangan itu ibunya," kataku.
Dame langsung masuk lagi ke dalam. Dan benar saja iti orang yang kami tunggu-tunggu.
"Berapa dek harga semunya?"
"150 ribu, Bu."
"Kurang dikit ya, 130."
Mengingat warnanya yang udah menghitam dan aromanya yang gak sebagus waktu baru dipetik lagi, kami pun sepakat.
"Langganan kah, Bu?" tanyaku pada beliau.
"Iya bisa. Nomor HP-nya nanti minta ya. Oh sudah tadi."
"Kalau di sini dek, asal jangan malu aja. Sopan bertanya. Pasti dapat jalan hidup kok," kata beliau.
Kami berdua pamit pulang.
Taulah kan, siapa yang paling senang. Si Dame kampret. 
"Kak, mau makan apa kau?" tanyanya.
"Gak usah," jawabku.
"Ayolah, Kak. Gak enak aku samamu. Dari kemarin kau susah kubuat."
Yaudahlah ya kan. Bukan aku yang galk ikhlas nolong, tapi dia yang paksa buat nerima.
Hahah. 
Semangat cewek introvert satu itu boleh juga,.
Bisa jadi panutan buat aku yang lagi nyari perusahaan skripsi.
SKRIPSI?
Iya, ..
S
K
R
I
P
S
I....!!!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...