Minggu, 04 Maret 2018

Pontang-Panting, Jungkir Balik ...

Kalau bukan karena aku udah terlanjur ngomong ke emak soal ini adalah terakhir kali beliau membayar uang kuliahku, aku gak akan segusar saat ini. 
Ya, buatku ini lumayan cukup dan sangat berat, guys. Cewek batak yang lahir di Jambi, besar di Samosir dan kuliah ke Kalimantan kuliah di jurusan yang setiap cewek bakalan berpikir 101 kali untuk mengambilnya. Aku terjebak di sini, mencari perusahaan tempat penelitian skripsi. Yang mana semua masih gelap. 
Tapi, Taurus adalah orang yang tidak suka ingkar janji. Begitu aku telah berjanji kepada ibu bahwa itu adalah uang kuliah terakhir yang akan dibayarnya, aku akan menepati janji itu. Bahkan jika aku harus jatuh bangun untuk membuatnya menjadi nyata akan kulakukan.
Tadi malam aku tau bahwa ada teman seangkatanku yang akan berangkat penelitian di PT Bukit Asam Sumatera Selatan. Tanpa pikir panjang malam itu juga aku chat di lewat WA dan bilang aku mau nitip proposal. Kenapa gak kirim via e-mail? Karena gak yakin e-mail kita bakalan dibaca apalagi dibalas. Mengingat banyak anak jurusan Teknik Pertambangan yang pontang-panting nyari tempat Kerja Praktik dan skripsi, bisa saja e-mail ku itu akan tenggelam nantinya paling bawah. End of the game. 
Sekarang saatnya berpacu dengan waktu. Besok hari aku harus ke kampus mengurus surat pengantar yang harus di ttd ketua jurusan dan transkrip nilai. Biasanya saat mengurus administrasi seperti itu, paling cepat selesai 2 hari. Jika aku ingin hari Minggu temanku itu membawa serta proposalku, aku harus sedikit mendesak pihak jurusan dan fakultas hari itu. Aku bangun jam 6 dan mandi segera. Ke kampus dengan berjalan kaki, gak apa-apalah sambil hirup udara segar. Tiba di jurusan yang udah buka (tumben), kujumpai Pak Gris yang mengurus adm jurusan kami. Kujelaskan dengan nada memohon tentunya soal keperluan dadakanku itu. Beliau bersedia mengetikkannya saat itu juga tapi meminta aku sendiri yang mencari Pak Yulian, Kajur kami untuk tanda tangan.
"Hari ini bapak itu ada kuliah jam 9 di pascasarjana."
Pak Gris menjelaskan gedung kuliah yang dimaksud, plus ruangannya. 
"Oke, Pak. Saya ke sana dulu."
Dari jurusan aku ke TU fakultas dulu untuk mengurus transkrip nilai. Tapi pintunya belum terbuka. Karena gak digembok, kudorong pintunya lalu kuketuk pelan.
"Tok..tok..tok.."
Bu Noprisia mendongak setelah menengok arlojinya. "Walah, Dek masih belum dibuka loh layanannya."
Aku tetap masuk sambil menenteng berkas berisi KHS di tanganku. 
"Mohon maaf, Ibu sebelumnya. Ini saya lagi dalam keperluan dadakan. Mohon sekali bantuannya untuk pembuatan transkrip nilai saya. Untuk saya titipkan besok ke teman saya yang berangkat ke Palembang."
"Kok kasih berkasnya baru sekarang?"
"Iya Bu, maaf. Saya baru tau tadi malam bahwa dia berangkat besok."
"Ibu gak janji bisa selesai hari ini, tapi akan dicoba. Soalnya kita ada rapat hari ini," Bu Noprisia menerima berkas di tanganku. Meski kemungkinan selesainya 50-50 aku senang gak karuan. Sembari membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih dengan sumringah, aku pergi jalan kaki menuju gedung pascasarjana. Pak Yulian, semoga beliau di sana.. 
Meski hari Sabtu ada juga yang masuk kuliah. Aku sms beliau terlebih dahulu.
Selamat pagi, Pak. Ini saya Magdalena. Mohon maaf pak sebelumnya saya dalam keadaan terdesak waktu dan butuh tanda tangan bapak untuk surat pengantar skripsi yang akan saya titipkan besok proposal saya pada teman yang berangkat ke PT Bukit Asam. Tadi kata Pak Gris di jurusan bahwa bapak ada kuliah jam 9 ini di pascasarjana. Saya sedang di gedung itu, Pak.
Aku mondar-mandir sambil mengetikkan pesan tersebut. Melewati beberapa ruangan yang lagi kuliah dalam hati aku bertanya-tanya berapa ya biaya kuliah per semester pascasarjana?
Setengah jam, satu jam berlalu. Belum ada balasan. Aku sudah berada di depan ruangan yang dijelaskan Pak Gris dan berhasil menemukan nama Yulian Taruna pada sebuah daftar angkatan I Doktoral Program Pascasarjana Jurusan Ilmu Lingkungan yang tertempel di dinding. Di ruangan tersebut lagi ada perkuliahan. Dari jendela yang ditutupi gorden, kucoba mencari-cari apakah ada beliau di sana. 
Gak kehabisan cara, aku pun berinisiatif ke parkiran saja mencari mobil beliau. Jika ada, berarti bapaknya juga ada. Kutelpon temanku dan menanyakan nomor pelat mobil kajur kami itu. Tapi gak ada yang tau. Hanya jenis mobil dan warnanya. Oke, sesuai pengamatanku mobil itu gak ada di sana. Itu artinya beliau gak datang ke sana. SMS-ku belum juga dibalas. Apakah beliau ke luar kota? Jika saja bukan karena PT BA menegaskan syarat pengajuan proposal TA harus disertai surat pengantar ASLI yang ditandatangani kajur, ingin rasanya Pak Gris saja yang kuminta menandatangani surat itu. Tapi, apakah Pak Gris mau menanggung resiko dipecat? Pastinya tidak. Atau haruskah ku scan saja tandatangan beliau?
Aku sudah kelaparan tingkat akut karena belum sempat sarapan dan tak punya energi buat berjalan kaki lagi ke jurusan. Kutelpon seorang adik yang kamarnya di samping kosku. Dia datang dan bilang supaya aku bawa saja motornya ke kampus setelah mengantar dia pulang terlebih dahulu.
Tiba di jurusan kulihat ada dua mobil putih. Ada 3 orang teman seangkatanku di sana. Mungkin mencari dosen juga. 
"Ini mobil siapa?"tanyaku.
"Pak Romi, Pak Fahrul."
Teng!
Setelah menjelaskan petualanagnku pagi itu, untungnya salah satu dari mereka ada juga yang mau ketemu pak Yulian untuk minta tanda tangan. Untungnya juga dia tau rumah si bapak. Kami pun capcus dengan motornya. Tapi begitu tiba di rumahnya kami malah gak berani masuk. Atau karena gak tau cara masuk. Pagar rumahnya ditutup.
Aku berniat menelpon beliau saja. Ternyata SMS-ku yang tadi sudah dibalas.. setengah jam yang lalu. OH NO...!!!
Datang ke gereja Efrata Bukit Hindu sekarang. Saya tunggu di sana. Saya lagi rapat di sana.
Langsung kubalas dan kami pun cabut. Tak sulit menemukan gereja yang dimaksud karena masih sekitar rumah beliau juga. Ku SMS lagi si bapak, bahwa kami sudah di depan gereja. Tak lama beliau pun keluar.
Aku menyodorkan selembar kertas itu. Setelah ditandatangani, beliau bertanya, "Hanya satu?"
"Iya, Pak."
Setelah semua beres kami kembali ke jurusan. Di atas motor dalam jalan pulang ke kampus aku menyadari betapa tanda tangan itu sangat penting. Tandatangan untuk mendapatkannya kadang mesti pontang-panting, jungkir balik. Dan memalsukannya kurasa bukanlah hal yang bijak.  
Aku langsung ke TU fakultas karena sudah jam 11.30. Takutnya sudah tutup mengingat hari itu Sabtu. 
"Belum selesai, Dek," kata Bu Noprisia begitu aku masuk. "Lihat itu, Bu Betty juga lagi sibuk sekali," beliau menunjuk Bu Betty.
Ah, wanita itu.  Dia kepala sub bagian akademik dan kemahasiswaan. Aku pernah kesal setengah mati padanya. Pernah saat semester 4 beliau tidak mau mengganti nilai di KHS kami meski sudah kukatakan bahwa itu sudah mendapat konfirmasi dari dosen mata kuliah yang bersangkutan. Dosen itu ternyata salah hitung. Yang tadinya nilaiku B, malah diberi E. Apalagi itu mata kuliah yang ada praktikumnya. 3 SKS. Saat itu Bu Betty dengan nada meledak-ledak menyuruh kami datang kembali dengan dosen yang bersangkutan. Barulah nilai kami diganti. 
Kupandang Bu Betty dari belakang. Ia memang sibuk dengan berkas-berkas. Tapi aku juga harus mendapatkan transkrip nilaiku hari ini. Kuhampiri beliau.
"Bu, sebelumnya mohon maaf sekali. Memang berkas saya baru masuk pagi tadi untuk pembuatan transkrip nilai. Tapi bu, mohon bantuannya sekali ini saja karena keperluan dadakan untuk saya titipkan besok proposal TA saya kepada teman saya yang berangkat ke Palembang."
"Kenapa baru hari ini diurus? Gak dari hari kemarin?"
"Iya, Ibu maaf. Saya baru tau tadi malam kalau teman saya itu berangkatnya besok."
"Apa tadi, transkrip?"
"Iya, Bu."
Beliau melihat arlojinya. "Jam 12 kamu ke sini lagi."
THANKS GOD..
"Baik Ibu, terima kasih sekali."
Jam 12 lewat 4 menit aku kembali lagi ke sana dan memang sudah jadi transkripnya.
Sorenya proposal yang sudah kujilid, surat pengantar TA yang mati-matian kudapatkan tandatangannya dan transkrip nilai yang juga penuh dengan usaha membujuk orang TU fakultas, kumasukkan dalam amplop besar dan kuantar ke rumah si Martoni. 
Satu hal,
padahal meski aku mengirimkan proposal itu ke sana belum pasti aku diterima. Atau mungkin diterima setelah menunggu 3 bulan. Yang mana itu artinya aku gak sempat wisuda Agustus tahun ini. Yang mana emak mesti bayar lagi uang kuliahku. Yang mana aku gagal menepati janji..

Tapi,....




Namanya juga USAHA.



Semua patut untuk dicoba.

Bahkan Thomas Alva Edison berhasil di percobaan ke 10083 kali dalam usahanya menemukan lampu pijar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...