Rabu, 10 Juli 2019

Lagu yang Tidak Bisa Diiringi DRUM


Butet. Nama panggilan buat anak gadis orang Batak. Biasanya sih cuma panggilan kecil. Tapi kadang ada juga yang sampe nikah pun dipanggil ‘butet’.

Nah, sobat aku yang satu ini juga dipanggil ‘butet’. Di kampus, di kos, di pom bensin, pinggir jalan. Hahahah. Sekarang butet lagi pusing skripsian, sedangkan aku pusing karena belum dapat kerja. Disitulah butet enak diajak cari udara segar. Berbekal motor pinjaman, kami nongki di warteg dekat lampu merah. Dia pesan lalapan, aku pesan es buah. Supaya bisa saling mencicipi, begitulah prinsip hemat kami.

Saat sambil curhat kegalauan masing-masing, butet tiba-tiba mendadah-dadah tangannya ke arah di belakangku. Taulah rusuhnya sobatku yang satu itu. Sambil tereak-tereak manggil nama tuh orang. Aku berbalik badan dan kenal orang yang dipanggil. Kedua cowok itu bergabung di meja kami. Yang satu aku gak kenal. Cowok gondrong (yang kayaknya) berjiwa seni tinggi. Sementara satu lagi aku emang kenal, namanya ala-ala Japan : Kaizen. Si Kai ini tampangnya juga mirip orang Jepang sih, sipit, kurus, putih, kacamataan. Nama adeknya Hana (bunga dalam b.jepang), mamanya dulu kuliah sastra jepang. Kai pernah sekolah di sekolah seminari (untuk pastor dalam katolik) tapi pindah ke SMA biasa.

Kai itu jelas salah jurusan. Tampangnya ala anak IT gitu yang hobinya bikin program atau nge-hack situs resmi. Bukan cuma tampang sih, aku sering dengar anak-anak tambang di jurusan kami minta bantuan si Kai soal urusan laptop atau kendala seputar alat teknologi lainnya. Tapi jangan salah, dia juga pintar dalam bidang musik. Bisa main gitar, piano, drum dll. Oh ya, satu lagi. Kai juga nulis cerita science fiction. Paket complete yaw..

Loh, kok aku bisa tau info sebanyak itu soal si Kai? Jelas dari butet lah. Apasih yang gak dia sebar ke aku? Ya butet emang gitu orangnya, dia kenal baik latar belakang kawan-kawan satu angkatan dia. Aku sebagai sobatnya ketularan info-info ini.

Butet, Kai dan cowok satu lagi masa-masa skripsian. Entah angin apa yang membawa aku sama butet makan di warteg itu dan ketemu mereka berdua. Si Kai orangnya emang gak banyak bacot. Mending aku tanya si cowok satu lagi.

“Kalau dari Lubuk Pakam berarti kenal si x ya?”
“Kenal di sini juga sih, Kak. Kalau kakak asli Samosir?”

Gitulah sesama anak rantau di perantauan bercengkerama. Waktu pesanan kami udah datang kami pun makan.

Aku : Eh, Kai sini dong kubaca cerita yang kau tulis genre science fiction itu. Kata Meli ada. Karya itu dibuat untuk dinikmatin loh, Kai. Bukan dipendam sendiri.

Butet : Iya tuh. Kak Magda sering loh ikut lomba nulis cerpen, terus menang dapat duit.

Sering pala lu! Baru sekali juga menangnya.

Aku : Sebenarnya si Kai ini juga berpotensi kan, Tet jadi youtuber. Tapi gak dimanfaatkan kemampuan IT-nya itu.

Butet : Iya tuh. Kak Magda aja punya channel di youtube, meski kontennya bikin gak nafsu makan.

Mulai bikin kesel kan, masa dia mau bongkar aib sobatnya di sini? Di hadapan ading tingkat gua. 

Aku : Hey, kalau kalian percaya sama Butet, besok ganti agama kalian.

Butet : Emang punya kok dia. Cari aja namanya di youtube, bla bla bla.. Subscribe ya..

Pengen gua telan tuh si Butet yang bau ketek T-rex. Ogebnya lagi si Kai sama temannya langsung gaspol buka youtube cari nama channel yang disebutin si Butet. Mampus dah, isinya ada video dance cover K-Pop labil gua waktu masih semester-semester awal…NO!!!! Itu gerakan kaku banget kayak kukang....

Si Kai duduknya persis di sampingku. Dengan gesit kuberusaha merampas HP-nya. Sialnya, dengan gesit pula dia menghindar. Busyet si Kai, refleks amat gerakannya. Kalau di slow motion-in keren kayaknya. Jangan-jangan si Kai ini jago Wing Chun (beladiri China) juga.

Aku : Kai, isinya cuma video dokumentasi perjalanan aja buat konsumsi pribadi. Makanya gak aku sebar-sebar link minta subscribe. Jaga-jaga aja HP ilang, terus video ilang sama foto-foto juga. Kalau disimpan di youtube kan, aman.

Kai : Kak, karya itu ada untuk dinikmatin loh, bukan dipendam sendiri.

Mampus. Kalimat gua jadi bumerang. 

Adegan rampas-menghindar pun terjadi. Untung orang-orang di warteg gak peduli dengan meja kami. Aku akhirnya berhasil merebut HP si Kai. Tapi cowok yang satu lagi udah berhasil liat judul video yang terakhir ku-upload.

“Judulnya ‘Palangka Raya-Banjarmasin bla bla bla,’ udah kayak pemetaan ya, Kak.”

“Serah, Dek. Serah. Seenggaknya liat di kosan aja nanti, plis? Pas aku gak ada. Nih orangnya masih di depan mata. Malu weeeeee….”

Untungnya dia nurut. Karena penasaran sama isi folder HP si Kai Wing Chun, aku pun geser-geser. Isinya aplikasi game semua sama aplikasi musik. Benar-benar salah jurusan, malah masuk teknik pertambangan.

“Eh, ini mainnya gimana?” aku buka aplikasi drum.

Dengan enteng si Kai ketuk-ketuk drum-nya dilayar dan terdengar ketukan berirama.

Aku : Coba lagu.., eh, ada gak sih lagu yang gak bisa diiringi drum?

Kai : Mana ada, Kak. Semua lagu kan, ada ketukannya. Jadi, semua pasti bisa diiringi drum.

Butet : Pasti ada bos yang gak bisa. Penyakit AIDS aja ditemukan obatnya, kok.

Loh, pie ike si ketek T-rex malah bawa-bawa nama penyakit.

Butet : Bentar, aku search google. Kalau ada awas ya kau Kai. Kalau ada, kau selesaikan skripsiku? Wkwkwkwkw. 

Teman Kai : Kalau gak ada gimana, kalau ternyata semua lagu bisa diiringi drum gimana kau, Tet?

Butet : Pokoknya kalau aku nemuin lagu yang gak bisa diiringi drum, si Kai telanjang di lampu merah sampai lampu hijau.. BAHAHAHAHAH. Sama kerjain skripsiku juga. 

Kami semua spontan ngakak. Sangat tidak manusiawi taruhan si butet dari goa hantu ini. Aku malah bertekad memanasi suasana. Harusnya sih kami di pihak yang sama.

Aku : Kalau ternyata gak ada, Tet? Kau tiduran telentang ya di jalan raya selama lampu merah. Gimana?

Butet : Oke, cocok. Pasti ada yang gak bisa, lagu-lagu daerah pasti gak bisa.

Butet kembali dengan google-nya. Aku menyebutkan judul lagu satu per satu. Mulai dari Ampar-Ampar Pisang, Potong Bebek Angsa, Anging Mamiri, Apuse, Sue Ora Jamu, Fur Elise, He’s A Pirate sampai lagu daerah Tapanuli Utara yang judulnya ‘Butet’, semua bisa diiringi si Kai dengan drum elektroniknya itu. kayaknya si Butet mesti telentang di lampu merah deh. 




Pas ultah gua dia ngajakin ke Hypermart. Katanya dia mau beliin sesuatu sebagai hadiah, ujung-ujungnya malah main ke Fun City ... Main lempar basket. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...