Delapan (80) puluh hari setelah hari wisuda berlalu. Pagi ini adalah
rekor terbaru aku bangun paling lama dalam sejarah kemanusiaan. Tak
tanggung-tanggung, jam 11.30 WIB aku baru bergerak meninggalkan tempat tidur
karena perut keroncongan. Bergerak ke dapur (sebenarnya bukan dapur, karena
kosku adalah satu kesatuan tanpa dinding penyekat), aku mengambil dua buah
jeruk yang kubeli tadi malam, membelahnya menjadi dua bagian lalu memerasnya
dengan alat pemeras jeruk. Kuambil dua lapis roti tawar dan mencomotnya dengan
pisang. Perfect! Sarapan yang sehat sekali bukan? Tanpa
pemanis buatan atau MSG atau kafein.
Aku mungkin adalah
pengangguran paling elit saat ini. Padahal tak punya pemasukan lagi, hanya uang
lima ratus ribu tiap bulan yang itupun kubujuk-bujuk kakakku mengirimkannya
sambil menunggu aku dapat panggilan kerja. Aku masih bisa sarapan sehat, tidur nyenyak
dan berleha-leha streaming film terbaru di depan laptopku. Kurang elit apalagi?
Iya sih, aku tetap mengarahkan jari tangan ini untuk mengetikkan 'loker' di tab
baru. Tapi itu tak bertahan sampai setengah jam karena banyaknya lowongan
pekerjaan yang dibuka tapi satu pun tak kupahami sistem kerjanya. Sebentar, aku
bahkan tidak tau jenis pekerjaan yang kuinginkan seperti apa yang membuatku
betah bertahun-tahun di dalamnya. Sarjana macam apa aku ini?
Bosan dengan semua itu, aku
membaca Wattpad. Kau tau, kan di sana banyak sekali cerita-cerita khayalan
tingkat tinggi yang berguna mengalihkan fokusmu sejenak dari mumetnya tekanan
batin pengangguran ini (kalau aku benar-benar tertekan! Hey, tapi aku tertekan
kok?!!). Cerita imajinatif luar biasa fiktif hanya karangan semata, kesamaan
nama dan latar belakang waktu adalah unsur kesengajaan tanpa bermaksud
menyinggung pihak tertentu yang juga sangat dibutuhkan cewek single berusia 24
tahun sepertiku. Yaps, cerita romance dewasa. Hey, itu juga kebutuhan. Kebutuhan
biologis!!
Apa seharusnya kuceritakan
lagi di sini? Sebaiknya bergeraklah sana sendiri ke Wattpad. Nanti ada cerita
tentang gadis pejuang tangguh yang sedang terhimpit biaya perawatan rumah sakit
tunangannya yang telah koma selama dua tahun akibat insiden kecelakaan. Kedua
orang tua si gadis dengan tragis sudah meninggal di tempat. Berbekal cinta
kasihnya kepada si tunangan, gadis itu banting tulang bekerja malah sampai
berhutang banyak sekali di perusahaan tempat ia bekerja. Dirawat selama
dua tahun di rumah sakit, kau kira biayanya sedikit? Hingga direktur (cerita
fiktif romance mana pun tokoh utama wanitanya selalu dipasangkan dengan CEO.
Menarik sekali..) tempat si gadis bekerja tertarik kepadanya secara
seksual. You know exactly what happen in the next part. Sang
direktur menawari si gadis uang yang sangat banyak sekali asalkan mau menjadi
simpanan si bos. Didasari kebutuhan mendesak untuk biaya operasi sang tunangan,
gadis tersebut pun (terpaksa) setuju. Meski pada akhirnya si gadis jatuh hati
juga dengan sang direktur dan merelakan tunangannya dengan perawat yang sudah
merawatnya begitu sabar.
Wah,.
Kau tau apa yang
kupikirkan? Setelah mendekam di penjara sempit (baca : kosan) ini selama kurang
lebih tiga bulan tanpa penghasilan, makan sekali sehari, tidak bisa beli barang
apa-apa, tidak bisa hang out ke luar apalagi liburan
jalan-jalan ke suatu tempat, aku paham perasaan orang yang rela mengerjakan
pekerjaan apapun yang bahkan melanggar moral. Belum lagi kalau mereka punya
tanggungan, entah itu ayah atau ibu, atau adik yang masih bersekolah. Persis
seperti drama, kehidupan ini. Atau drama itu yang persis seperti hidup
ini?
Kemarin malam salah seorang
teman menelponku. Kami sempat satu tempat tinggal di kosku sebelum akhirnya dia
berangkat ke Jakarta, mencoba peruntungan di sana. Namanya Bonita. Di Jakarta
ia tinggal di kosan kakaknya yang bekerja di NGO, aktivis lingkungan. Keduanya
jelas bertentangan dari segi idealisme. Yang satu menghasilkan limbah, yang
satu memerangi penghasil limbah. Aku tau kenapa Bonita menelponku. Pasti ia mau
curhat seputar kegalauan dalam mencari pekerjaan.
"Hey.. apa
kabar," kalimat sapaan standar kuucapkan kala handphone sudah menempel di
telingaku.
Kami ngobrol sangat lama.
Termasuk mendata kawan-kawan seangkatan yang sudah bekerja dan yang masih
bernasib sama. Entah kenapa kami melakukan itu. Seolah-olah jika kami menemukan
masih banyak kawan seangkatan yang masih berstatus jobseeker sama
layaknya kami, maka tekanan batin serasa berkurang menjadi lebih ringan. Bukan
cuma gue, kok kira-kira demikian. Bonita juga cerita tentang dia yang
sudah berhasil melewati tahap tes psikotes di salah satu head
office perusahaan tambang di Jakarta. Tibalah ke tahap paling akhir,
wawancara.
Interviewer : "Anda
yakin mau bekerja sebagai admin di perusahaan kami? Padahal kan, anda
sarjana."
Bonita diam.
Interviewer : "Bekerja
sebagai admin ya, anda akan selamanya jadi admin karena memang tidak ada
jenjang karirnya. Kami juga tidak mau jika misalnya anda bersedia bekerja di
sini lalu tiba-tiba dua atau tiga bulan resign yang membuat kami kewalahan
mencari pengganti baru lagi."
Bonita diam (2).
Interviewer : "Jadi,
bagaimana? Saran saya anda silahkanlah pertahankan dulu idealismenya. Cari dulu
pekerjaan yang bisa memanfaatkan gelar sarjana teknik anda. Memang sudah berapa
lama menganggur?"
Kalian kira.. ini bukan
perkara sudah berapa lama menganggurnya! Ini perkara 'apa yang kau gunakan
untuk bertahan hidup kalau tak punya penghasilan'. Kenapa tiba-tiba aku
bergabung dengan interview mereka sih..
Bonita : "Satu tahun, Pak
genap bulan ini."
Interviewer : "Baru
satu tahun. Ingat ya, katakan 'baru' bukan 'sudah'. Jadi, anda baru menganggur
satu tahun bukan 'sudah menganggur satu tahun.' Ingatlah bahwa pekerjaan
pertama anda akan menentukan karir anda ke depannya.
Bijaksana sekali petuah
anda rekruiter yang bestari. Sejujurnya aku tertohok sekaligus takut. Apa kabar
aku yang selama ini asal apply aja di lowongan manapun tanpa
memikirkan kelanjutan karir di masa mendatang. Sekonyong-konyong aku dilingkupi
perasaan ngeri tiada tara. Jika ingin jadi pianis terkenal, itu berarti dari
umur bisa melangkah harus sudah dekat dengan piano di rumah. Jika semua lancar-lancar
saja maka menjadi pianis bukan hambatan besar.
Aku lahir di Jambi dan
besar di Samosir, Sumatera Utara. Kepindahan keluarga kami dari perantauan
ke bona pasogit (kampung halaman) karena kewajiban bapakku
sebagai anak laki-laki tertua kakek. Aku SD 5 tahun di kampung yang dimana
ternak masih dibebaskan berkeliaran itu, selama itu pula aku dan
saudara-saudaraku membantu orang tua di ladang begitu pulang sekolah. Mengangkat
cangkul, memanggul kayu bakar, menjinjing air dari sumur. Begitu masuk ke
perguruan tinggi tanpa ada sanak keluarga yang bekerja di indutri itu, aku
masuk ke jurusan pertambangan.
Kurasa aku terlalu kalut
karena terlalu lama menganggur di kosan. Padahal kan si rekruiter cuma bilang
'pekerjaan awal', tetapi aku sampai membandingkannya ke kehidupan awal.
"Jadi beneran gak kau
ambil admin itu?" tanyaku di akhir Bonita berkisah.
"Kalau kuambil,
ngapain aku repot-repot nelpon samamu selarut ini? Yang ada aku udah molor
gegara seharian capek di kantor."
Oh gitu. Jadi gue ditelpon
cuma sebagai pendengar yang setia aja nih. Huft..
Sebenarnya aku pun mendapat
pertanyaan serupa seminggu yang lalu. SAKING FRUSTASI-nya aku melamar di
perusahaan F&B yang mau buka cabang di kota ini. Saat itu interviewernya
cewek cantik berhijab yang aku ragu dia lebih tua dariku.
Dia : "Saya mau
bertanya nih pada anda. Kenapa melamar di pekerjaan ini, sementara anda kan
sarjana.
Tips untuk menjawab
pertanyaan interview seperti itu : berbohonglah!
Karena tak mungkin kan,
kubilang : saya sudah capek melamar kemana-mana yang sesuai dengan jurusan dan
kualifikasi saya. Tapi saat seleksi Engineer Trainee salah satu kontraktor
tambang batubara, saya malah tereliminasi pada tahap FGD karena lupa topik kuliah produktivitas alat muat angkut..
Jadi kujawab saja :
"Saya tipe orang yang berpikiran luas dan terbuka, Bu (aku geli). Itulah
mengapa banyak pengangguran di negara kita, bahkan di belahan negara manapun di
dunia ini. Pengangguran lulusan sarjana lebih banyak dibanding pengangguran
yang lulusan SMA. Kenapa demikian? Banyak sarjana yang gengsi. Mereka
pilih-pilih kerja persis pilih-pilih kasih. Saya tidak begitu. Saat ada
kesempatan muncul di depan mata, saya ambil saya coba. Tak ada pengalaman yang
sia-sia. Bisa saja sehabis kontrak dari perusahaan ini saya bisa membuka usaha
sendiri berdasarkan pengalaman saya. (Upsss..)
Aku dan Bonita terbahak
setelah aku menjelaskan jawabanku atas pertanyaan interviewer itu. Tentu saja
kami berdua paham, kelewat paham malah, bahwa kami diam-diam jiwa kami
terkelupas oleh rasa menahan ego untuk mengesampingkan gelar dan background ilmu
yang telah diterima selama 4 (dalam hal ini aku 5,5 tahun) tahun di
kampus. Tentu saja kami ingin bekerja di bidang yang sesuai ilmu ini. Tapi entah belum berjodoh saja dengan pekerjaan itu.
Saat ini aku butuh
pekerjaan tak peduli itu menyimpang atau membelok dari jurusan dan gelar
kesarjanaanku. Sejujurnya aku punya tiga adik yang masih tanggungan, hutang
membahagiakan orang tua, dan seabrek bucket list yang
ingin dipenuhi.
Om Direkturlah, datanglah
kepadaku..,
Tapi kalau bisa, jangan
mengharapkan imbalan apa-apa dariku..
Aku sudah lelah akting
sengaja tidak menelpon ibuku meski rindu setengah mati padanya karena takut
ditanya sudah dapat kerja atau belum..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar