Kamis, 18 Juli 2019

Pengangguran Paling Elit


            Delapan (80) puluh hari setelah hari wisuda berlalu. Pagi ini adalah rekor terbaru aku bangun paling lama dalam sejarah kemanusiaan. Tak tanggung-tanggung, jam 11.30 WIB aku baru bergerak meninggalkan tempat tidur karena perut keroncongan. Bergerak ke dapur (sebenarnya bukan dapur, karena kosku adalah satu kesatuan tanpa dinding penyekat), aku mengambil dua buah jeruk yang kubeli tadi malam, membelahnya menjadi dua bagian lalu memerasnya dengan alat pemeras jeruk. Kuambil dua lapis roti tawar dan mencomotnya dengan pisang. Perfect! Sarapan yang sehat sekali bukan? Tanpa pemanis buatan atau MSG atau kafein. 

Aku mungkin adalah pengangguran paling elit saat ini. Padahal tak punya pemasukan lagi, hanya uang lima ratus ribu tiap bulan yang itupun kubujuk-bujuk kakakku mengirimkannya sambil menunggu aku dapat panggilan kerja. Aku masih bisa sarapan sehat, tidur nyenyak dan berleha-leha streaming film terbaru di depan laptopku. Kurang elit apalagi? Iya sih, aku tetap mengarahkan jari tangan ini untuk mengetikkan 'loker' di tab baru. Tapi itu tak bertahan sampai setengah jam karena banyaknya lowongan pekerjaan yang dibuka tapi satu pun tak kupahami sistem kerjanya. Sebentar, aku bahkan tidak tau jenis pekerjaan yang kuinginkan seperti apa yang membuatku betah bertahun-tahun di dalamnya. Sarjana macam apa aku ini?

Bosan dengan semua itu, aku membaca Wattpad. Kau tau, kan di sana banyak sekali cerita-cerita khayalan tingkat tinggi yang berguna mengalihkan fokusmu sejenak dari mumetnya tekanan batin pengangguran ini (kalau aku benar-benar tertekan! Hey, tapi aku tertekan kok?!!). Cerita imajinatif luar biasa fiktif hanya karangan semata, kesamaan nama dan latar belakang waktu adalah unsur kesengajaan tanpa bermaksud menyinggung pihak tertentu yang juga sangat dibutuhkan cewek single berusia 24 tahun sepertiku. Yaps, cerita romance dewasa. Hey, itu juga kebutuhan. Kebutuhan biologis!!

Apa seharusnya kuceritakan lagi di sini? Sebaiknya bergeraklah sana sendiri ke Wattpad. Nanti ada cerita tentang gadis pejuang tangguh yang sedang terhimpit biaya perawatan rumah sakit tunangannya yang telah koma selama dua tahun akibat insiden kecelakaan. Kedua orang tua si gadis dengan tragis sudah meninggal di tempat. Berbekal cinta kasihnya kepada si tunangan, gadis itu banting tulang bekerja malah sampai berhutang banyak sekali di perusahaan tempat ia bekerja. Dirawat selama  dua tahun di rumah sakit, kau kira biayanya sedikit? Hingga direktur (cerita fiktif romance mana pun tokoh utama wanitanya selalu dipasangkan dengan CEO. Menarik sekali..) tempat si gadis bekerja tertarik kepadanya secara  seksual. You know exactly what happen in the next part. Sang direktur menawari si gadis uang yang sangat banyak sekali asalkan mau menjadi simpanan si bos. Didasari kebutuhan mendesak untuk biaya operasi sang tunangan, gadis tersebut pun (terpaksa) setuju. Meski pada akhirnya si gadis jatuh hati juga dengan sang direktur dan merelakan tunangannya dengan perawat yang sudah merawatnya begitu sabar. 

Wah,. 

Kau tau apa yang kupikirkan? Setelah mendekam di penjara sempit (baca : kosan) ini selama kurang lebih tiga bulan tanpa penghasilan, makan sekali sehari, tidak bisa beli barang apa-apa, tidak bisa hang out ke luar apalagi liburan jalan-jalan ke suatu tempat, aku paham perasaan orang yang rela mengerjakan pekerjaan apapun yang bahkan melanggar moral. Belum lagi kalau mereka punya tanggungan, entah itu ayah atau ibu, atau adik yang masih bersekolah. Persis seperti drama, kehidupan ini. Atau drama itu yang persis seperti hidup ini? 

Kemarin malam salah seorang teman menelponku. Kami sempat satu tempat tinggal di kosku sebelum akhirnya dia berangkat ke Jakarta, mencoba peruntungan di sana. Namanya Bonita. Di Jakarta ia tinggal di kosan kakaknya yang bekerja di NGO, aktivis lingkungan. Keduanya jelas bertentangan dari segi idealisme. Yang satu menghasilkan limbah, yang satu memerangi penghasil limbah. Aku tau kenapa Bonita menelponku. Pasti ia mau curhat seputar kegalauan dalam mencari pekerjaan.

"Hey.. apa kabar," kalimat sapaan standar kuucapkan kala handphone sudah menempel di telingaku. 

Kami ngobrol sangat lama. Termasuk mendata kawan-kawan seangkatan yang sudah bekerja dan yang masih bernasib sama. Entah kenapa kami melakukan itu. Seolah-olah jika kami menemukan masih banyak kawan seangkatan yang masih berstatus jobseeker sama layaknya kami, maka tekanan batin serasa berkurang menjadi lebih ringan. Bukan cuma gue, kok kira-kira demikian. Bonita juga cerita tentang dia yang sudah berhasil melewati tahap tes psikotes di salah satu head office perusahaan tambang di Jakarta. Tibalah ke tahap paling akhir, wawancara. 

Interviewer : "Anda yakin mau bekerja sebagai admin di perusahaan kami? Padahal kan, anda sarjana."

Bonita diam.

Interviewer : "Bekerja sebagai admin ya, anda akan selamanya jadi admin karena memang tidak ada jenjang karirnya. Kami juga tidak mau jika misalnya anda bersedia bekerja di sini lalu tiba-tiba dua atau tiga bulan resign yang membuat kami kewalahan mencari pengganti baru lagi."

Bonita diam (2).

Interviewer : "Jadi, bagaimana? Saran saya anda silahkanlah pertahankan dulu idealismenya. Cari dulu pekerjaan yang bisa memanfaatkan gelar sarjana teknik anda. Memang sudah berapa lama menganggur?"

Kalian kira.. ini bukan perkara sudah berapa lama menganggurnya! Ini perkara 'apa yang kau gunakan untuk bertahan hidup kalau tak punya penghasilan'. Kenapa tiba-tiba aku bergabung dengan interview mereka sih..

Bonita : "Satu tahun, Pak genap bulan ini."

Interviewer : "Baru satu tahun. Ingat ya, katakan 'baru' bukan 'sudah'. Jadi, anda baru menganggur satu tahun bukan 'sudah menganggur satu tahun.' Ingatlah bahwa pekerjaan pertama anda akan menentukan karir anda ke depannya. 

Bijaksana sekali petuah anda rekruiter yang bestari. Sejujurnya aku tertohok sekaligus takut. Apa kabar aku yang selama ini asal apply aja di lowongan manapun tanpa memikirkan kelanjutan karir di masa mendatang. Sekonyong-konyong aku dilingkupi perasaan ngeri tiada tara. Jika ingin jadi pianis terkenal, itu berarti dari umur bisa melangkah harus sudah dekat dengan piano di rumah. Jika semua lancar-lancar saja maka menjadi pianis bukan hambatan besar. 

Aku lahir di Jambi dan besar di Samosir, Sumatera Utara. Kepindahan keluarga kami dari perantauan ke bona pasogit (kampung halaman) karena kewajiban bapakku sebagai anak laki-laki tertua kakek. Aku SD 5 tahun di kampung yang dimana ternak masih dibebaskan berkeliaran itu, selama itu pula aku dan saudara-saudaraku membantu orang tua di ladang begitu pulang sekolah. Mengangkat cangkul, memanggul kayu bakar, menjinjing air dari sumur. Begitu masuk ke perguruan tinggi tanpa ada sanak keluarga yang bekerja di indutri itu, aku masuk ke jurusan pertambangan. 

Kurasa aku terlalu kalut karena terlalu lama menganggur di kosan. Padahal kan si rekruiter cuma bilang 'pekerjaan awal', tetapi aku sampai membandingkannya ke kehidupan awal. 

"Jadi beneran gak kau ambil admin itu?" tanyaku di akhir Bonita berkisah. 
"Kalau kuambil, ngapain aku repot-repot nelpon samamu selarut ini? Yang ada aku udah molor gegara seharian capek di kantor."

Oh gitu. Jadi gue ditelpon cuma sebagai pendengar yang setia aja nih. Huft..

Sebenarnya aku pun mendapat pertanyaan serupa seminggu yang lalu. SAKING FRUSTASI-nya aku melamar di perusahaan F&B yang mau buka cabang di kota ini. Saat itu interviewernya cewek cantik berhijab yang aku ragu dia lebih tua dariku. 

Dia : "Saya mau bertanya nih pada anda. Kenapa melamar di pekerjaan ini, sementara anda kan sarjana. 

Tips untuk menjawab pertanyaan interview seperti itu : berbohonglah! 

Karena tak mungkin kan, kubilang : saya sudah capek melamar kemana-mana yang sesuai dengan jurusan dan kualifikasi saya. Tapi saat seleksi Engineer Trainee salah satu kontraktor tambang batubara, saya malah tereliminasi pada tahap FGD karena lupa topik kuliah produktivitas alat muat angkut..

Jadi kujawab saja : "Saya tipe orang yang berpikiran luas dan terbuka, Bu (aku geli). Itulah mengapa banyak pengangguran di negara kita, bahkan di belahan negara manapun di dunia ini. Pengangguran lulusan sarjana lebih banyak dibanding pengangguran yang lulusan SMA. Kenapa demikian? Banyak sarjana yang gengsi. Mereka pilih-pilih kerja persis pilih-pilih kasih. Saya tidak begitu. Saat ada kesempatan muncul di depan mata, saya ambil saya coba. Tak ada pengalaman yang sia-sia. Bisa saja sehabis kontrak dari perusahaan ini saya bisa membuka usaha sendiri berdasarkan pengalaman saya. (Upsss..)

Aku dan Bonita terbahak setelah aku menjelaskan jawabanku atas pertanyaan interviewer itu. Tentu saja kami berdua paham, kelewat paham malah, bahwa kami diam-diam jiwa kami terkelupas oleh rasa menahan ego untuk mengesampingkan gelar dan background ilmu yang telah diterima selama 4 (dalam hal ini aku 5,5 tahun) tahun di kampus. Tentu saja kami ingin bekerja di bidang yang sesuai ilmu ini. Tapi entah belum berjodoh saja dengan pekerjaan itu.

Saat ini aku butuh pekerjaan tak peduli itu menyimpang atau membelok dari jurusan dan gelar kesarjanaanku. Sejujurnya aku punya tiga adik yang masih tanggungan, hutang membahagiakan orang tua, dan seabrek bucket  list yang ingin dipenuhi. 


Om Direkturlah, datanglah kepadaku..,

Tapi kalau bisa, jangan mengharapkan imbalan apa-apa dariku..

Aku sudah lelah akting sengaja tidak menelpon ibuku meski rindu setengah mati padanya karena takut ditanya sudah dapat kerja atau belum..

Dimana Letak Surga Itu..???!!












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...