Sabtu, 27 Juli 2019

Pikirkanlah Ini Sebelum Apply di Bimbel STAN

Aku udah bilang belum, kalau saking frustasinya nyari kerjaan aku memutuskan untuk apply lamaran ke semua loker yang tersedia? Kayaknya udah ya. Kali ini loker yang kurang beruntung ku-apply itu adalah salah satu pusat bimbingan belajar (bimbel) untuk siswa yang mau mempersiapkan diri menyongsong SPMB STAN. Tau STAN, kan? Itu loh yang buat dipegang pas bawa motor, oh bukan. Ah iya ituloh, yang kalau rok cewek belakangnya ada belahannya. Oh bukan? Oke, serius. STAN. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Orang-orang yang lulus dari sana jelas karirnya akan kemana. Tinggi gajinya. Enak hidupnya. Wajar masuk ke sekolah itu susah.

Waktu masih di bangku SMA, aku sering dengar STAN disebut-sebut oleh guru kami. Beberapa siswa yang sering juara kelas juga menyebutnya beberapa kali. Kepala sekolah juga pernah. Tak sembarang orang yang menyebut kata STAN pada waktu itu. Pola pikir yang terbentuk di benak pada saat itu adalah masuk STAN itu setara dengan susahnya kayang sambil main gitar. Susah, tapi bukannya tak mungkin. Tapi memang susah, tapi bukannya gak mungkin. Tapi ya.. sudahlah. Pada masaku SMA hanya ada satu orang teman yang tembus ke sekolah ikatan dinas bergengsi itu. Dialah si juara umum dari kelas 10 hingga kelas 12, si cerdas yang sering ikut olimpiade nasional, Imelda Agnes Rumahorbo. Sekarang dia,. jelaslah sudah bekerja dengan ikatan dinas itu. 

Barang siapa yang ingin ikut SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru) STAN dia harus punya kemampuan analisis yang kuat dalam memecahkan soal. Sebab soal-soal yang diujikan memang  bukan sembarang soal. Untukku itu cukup membuat mimisan, baru melihat soalnya saja. Namun jika diperhatikan lagi, ternyata ada cara-cara cerdik untuk menyelesaikan soal-soal tersebut hanya dalam beberapa detik, tanpa panjang lebar. Calon mahasiswa STAN pasti tau itu, apalagi kalau ikut bimbingan di tempat bimbel khusus persiapan masuk STAN. 

PT E** (aku cari kepanjangan E** enggak ketemu) adalah salah satu pusat bimbel khusus STAN. Di iklan lokernya tertera di sana posisi yang dicari : Academic Marketing. Sebagai jobseeker yang haus akan darah, eh info loker, aku pun apply di posisi tersebut via link yang disediakan. Tentu aku sudah membaca kualifikasi yang dibutuhkan (memenuhi dari segi umur saja) dan paham marketing itu tugasnya ngapain. Selang empat hari kemudian sebuah nomor baru masuk. Aku diundang untuk ikut test. Setelah mereka menelpon, masuk juga sebuah e-mail berisikan informasi waktu dan tempat test-nya diadakan. Di sana tertera keperluan : tes tertulis, microteaching dan wawancara.

Keesokan harinya ada test, malamnya sibuk googling microteaching itu ngapain sih wujudnya. Kalau tes tertulis ya, paling pilihan berganda a,b,c,d. Kalau enggak ya a,b,c,d,e. Untuk wawancara juga paling seputar memperkenalkan diri dan alasan apply. Aku pun fokus dengan microteaching
Eh, bentar. Kok ada tes tertulis buat posisi marketing? Aku kan, gak lamar jadi tutor.  Mungkin tes perhitungan biasa kali ya, atau tes psikotes.
Keesokan harinya aku tiba di lokasi test tepat seperti jam di undangan. Pusat bimbel E** cabang kota ini agak masuk ke jalan gang. Masuk ke gedungnya, aku bertemu dengan cewek agak gendut berkacamata dan dipersilahkan masuk sebuah ruangan. Sepi. Hanya ada aku, meja dan kursi. Apakah yang lain menyerah sebelum perang?

Ternyata..oh ternyata.

Soal seleksi tertulisnya adalah soal-soal TPA sekelas seleksi masuk STAN dengan kadar kesulitan yang bikin otakku luntur di tempat. Jelas, karena aku tak pernah SAMA SEKALI punya keinginan masuk STAN sehingga TAK PERNAH bersinggungandengan soal-soal mereka. Never Ever !!!

"Silahkan dikerjakan dulu ya, waktunya 30 menit nanti saya kembali lagi."

"Bisa minta kertas buat coret-coret, Mbak? Ah, sebelumnya saya mau tanya. Saya kan, lamar posisi Academic Marketing bukan tutor. Saya ikut ngerjain soal tertulis ini juga?"
“Loh Mbak-nya tidak baca ya, di info e-mail kan disebutkan kalau posisi Academic Marketing ini merangkap tutor TPA juga?”
Ingin kubalas lagi dengan ‘Loh’, tapi yasudahlah. Mari mengerjakan soal.
Si Mbak-nya pergi meninggalkan aku dengan keheningan dan kehampaan yang langsung menjerat. Sungguh. Di soal pertama saja aku langsung di hadapkan dengan sinonim dari kata yang seumur hidup tak pernah kudengar. Entah sengaja terdengar pun tidak pernah. Atau sengaja terbaca di petunjuk jalan atau tiang listrik juga tidak pernah. Soal sinonim dan antonim kata sampai nomor 4, semua kata yang tidak pernah kudengar. Kata-kata itu terasa asing di mata ini...

RENJANA =

TAFAHUS =

VASAL X

FARAK X


Renjana samar-samar kayaknya pernah kudengar dalam sebuah lirik lagu, 'bila malam, malam minggu tiba. Anak muda mengadu rencana.. wakunca ohooo..wakunca...' 

Itukah? Kebetulan ada di salah satu option

Tafahus? Kalau tafakur aku (mungkin) pernah dengar.

Vasal? Kalau pasal aku tau. Artinya sebab, lantaran. 

Farak? Sama sekali baru dengar!


Setelah mengamati ruangan itu yang ternyata tidak ber-CCTV, aku memutuskan membuka kamus KBBI dari HP. Maafkan kecurangan ini,..

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, keempat soal itu beres. Lanjut ke soal berikutnya..

Oh BIG NO..

Soal matematika serumit itu mereka sebut TPA? Tes Potensi Akademik? Tak bisa kubayangkan serumit apalagi soal hidangan utamanya. 

Aku menyerah. Dengan waktu yang sedikit, dan pemahaman yang sangat sangat sangat super terbatas aku hanya bisa menjawab benar-benar soal perpangkatan dan luas persegi. Jadi total soal yang benar-benar murni bisa kujawab dari 30 soal itu adalah... 2 soal!

Ketika si mbak-nya kembali, dengan berat hati (karena malu kebodohan tiada tara ini akan terungkap) kuserahkan kertas jawaban. Setidaknya skor-nya tidak akan bernilai minus, karena jawaban salah diberi nilai 0. Yap, memang 24 soal lagi kujawab dengan menuliskan asal acak option a,b,c,d. 

Tahap selanjutnya adalah micro teaching di hadapan manager cabang. Ini sama sekali berbeda dengan mengajari adekmu di rumah soal-soal perkalian atau pecahan. Ada pembuka, metode mengajar dan penutup. Kini kupaham jadi guru itu bukan perkara mudah. Kuambil satu soal dari yang benar-benar bisa kukerjakan tadi dan menuliskannya di white board sambil mengoceh seperti sedang menerangkan.Namun di tengah-tengah pengerjaan aku malah kebingungan sendiri karena hasil akhirnya beda dengan yang kudapat tadi. Kini hasil akhirnya tidak ada di option a, b, c atau d. Kutermenung sejenak dengan posisi mengamati tahap pengerjaan yang sudah kutulis, lalu berkata : 'maaf, ini seharusnya begini..bla..bla..bla..

Tahap wawancara kurasa tidak perlu dilanjutkan lagi jika sang manager sudah melihat caraku mengajar tadi. Aku jelas sudah tereliminasi..

Masa sekelas orang ini mengajar calon-calon penerus STANBig No, get out! Begitu mungkin pikirnya. Mungkin untuk nambah kerjaan dia saja, wawancara empat mata itu pun tetap berlangsung dengan tak mulus. Aku yang masih dibayang-bayangi kebegoan sendiri saat praktik micro teaching tadi masih belum bisa move on. Jawaban atas pertanyaan wawancara pun kujawab dengan tersendat-sendat. Fokusku telah meninggalkan tuannya. 
“Ada yang ingin ditanyakan?” tanyanya di akhir sesi.
“Ah iya, saya ingin klarifikasi saja, Bu. Untuk posisi ini benar ya merangkap sebagai tutor TPA nantinya?”
“Iya benar sekali, karena takutnya nanti kalau ada tutor utama yang berhalangan hadir bisa digantikan dengan tutor TPA dari academic marketing. Anda tidak baca dengan teliti ya?”
“…”

Aku sudah tau gak bakalan berhasil melewati tahap test itu. Jelas sekali. Tapi rasanya tetap saja nyesek saat e-mail resmi dikirimkan dan mengatakan 'anda belum memenuhi kualifikasi yang kami cari'.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...