Kamis, 21 Mei 2020

MOUSE-nya kekecilan


Dari awal apply di loker perusahaan pembiayaan itu memang asal-asalan juga sih. Asal apply maksudnya. Tanpa baca detail job desk, klik 'apply'. Entahlah, sebenarnya aku gak berniat nyari kerjaan tapi takut mati kelaparan. Betapa tidak estetiknya dua kenyataan yang betolak belakang itu. Lah uang kan datang dari hasil bekerja (kalau mau yang caranya baik-baik). Udah bekerja, digaji, bisa deh beli makan, bayar kontrakan, isi pulsa, beli sabun buat mandi. Anehnya hal ini gak terjadi padaku. Aku gak termotivasi nyari kerjaan, tapi ingin tetap hidup. Ibarat gak pengen motornya mati di tengah jalan karena kehabisan bensin, eh pas lewat pom bensin malah gak diisi. Gitulah kira-kira.

Dulu di kampus, aku aktif ikut turun ke jalanan bersama kawan-kawan dari berbagai himpunan dan komunitas sosial. Meneriakkan inspirasi-inspirasi yang mana juga merupakan teriakan dari hati kecil rakyat. Orasi di depan gedung gubernur, pakai toa, pakai almamater, teriak-teriak dalam satu barisan. Rajin diskusi untuk sebuah kajian topik tertentu. Ya meski gak serius-serius amat memberikan opini, tapi aktif mendengarkan dan menganalisis. Di media sosial juga ikut memberikan cuitan lewat postingan-postingan berjiwa sosial tinggi yang isinya menyatakan siap untuk ikut pengabdian di suatu daerah.

Kini semua berbeda. Aku gak lagi kayak gitu. Jangankan postingan di media sosial. Kebijakan-kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah entah apapun itu saat ini gak ambil pusing. Dunia di luar kampus benar-benar berbeda. Kalau dulu masih dengan semangat berapi-api menyanyikan lagu Buruh Tani, sekarang malah menyanyikan lagu Ya Sudahlah. Dulu mengibarkan bendera merah putih, kini rasanya ingin mengibarkan bendera putih. Lah gimana, menyelamatkan diri sendiri aja belum bisa, gimana bisa menyelamatkan orang lain? I know ini amat sangat bertentangan dengan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei. Tapi bukankah semua kebangkitan diawali dari keterpurukan? -Mantan mahasiswa yang kehilangan arah (2020).

Tadinya postingan ini mau bahas hal-hal lucu yang terjadi dalam 8 hari training desk collection itu. Eh, kok malah jadi melo begini? Bukan melo, ini lebih ke galau gak jelas gitu gak sih?!

Oke. Jadi, aku ngerasa Tuhan itu sengaja ngasih kisah-kisah absurd di bawah normal gitu dalam hidupku supaya suatu hari bisa kutulis jadi buku komedi. Hahahah, ini teori sotoy-ku aja. Untuk lebih jelasnya nanti kutanyakan pada beliau lewat mimpi.

Jadi kami ada berdua belas yang diajar oleh trainer yang sama. Urutannya adalah setelah lulus NHT (New Hire Training=8 hari) ini akan dilanjutkan ke OJT (On The Job Training) selama 3 hari. Setelah lulus OJT baru offering letter jadi Kemitraan. Setelah satu tahun baru jadi karyawan kontrak. Iya, emang panjang. Di hari terakhir (kemarin) diadakanlah tes final. Tes final tertulis dan praktek. Untuk yang praktek sederhana. Kami hanya perlu menelepon dan berperan sebagai desk collection di depan komputer sambil menginput hasil penelponan dengan si klien (kayaknya semua kerjaan emang butuh kemampuan multitasking). Dari hari-hari yang telah berlalu, aku sedikit banyak kenal sama kemampuan peserta NHT di kelas.

Ada si Bapak Dzikri (dia udah menikah makanya kupanggil ‘bapak’ tapi seumuran denganku hahah) yang pernah jadi sales perumahan katanya. Bisa dibayangkan kan gimana lancarnya dia ngomong dan pintar bernegosiasi? Terus ada Rindi, temanku nebeng dari Kemayoran. Dari kelemahlembutan suaranya sih dia lebih cocok jadi ibu guru TK. Serius. Karakter suaranya yang gemulai itu akan berdampak pada klien ngeyel kalau ditagih untuk membayar cicilannya. Ada Kasih dan Wanda, yang kurang lebih juga bersuara lembut seperti Rindi tapi sedikit lebih memungkinkan. Ada lagi cowok namanya Sarif, punya suara tipe-tipe cs telkomsel. Ada nada-nada manja nan feminis gitu. Terus ada aku. Aku? Ehhm, cukup kusebutkan punya suara cempreng yang tidak stabil.

Well, itu aja yang kukenal baik. Sisanya gak begitu kenal karena mereka bergabung dengan kelas kami di dua hari terakhir sebelum ujian final. Pindah trainer. Tapi kayaknya mereka itu jago-jago nagih utang kayaknya. Buktinya ada satu cowok yang duduk di sebelahku pas ujian final dengan beraninya nagih jawaban, gak berbisik tapi ngomong dengan desibel suara biasa, “Neng, nomor sepuluh jawabannya A kan ya?”

Kujawab aja iya, karena kurang yakin juga. Kukira sudah berakhir, dia gak bakalan nanya-nanya lagi. Ternyata sampai akhir waktu ujian tertulis habis dia tetap mengajukan pertanyaan. Ini kami lagi ujian final tertulis atau interview sih? Kok ada tanya jawab selama setengah jam.

Setelah ujian final tertulis, berikutnya dilanjutkan dengan ujian final praktek. Seperti yang kubilang tadi, kami dihadapkan dengan komputer, trainer dan satu lagi namanya QA, orang yang bertugas menilai. QA kemungkinan besar (asumsiku lagi) singkatan dari Quality Assessment. Di dalam ruangan tertutup. Hanya bertiga. Sesuai urutan abjad ‘M’, namaku dipanggil diurutan ketiga. Kalau bisa ganti nama saat itu jadi ZULEHA akan kulakukan, karena asli, aku gugup. Saking gugupnya sampai salah masuk ruangan. Aku masuk ruangan yang sama tempat peserta berkumpul menunggu giliran, hanya beda pintu. Sontak gelak tawa memenuhi ruangan itu, menertawai aku yang grogi.

Ketika sudah berhasil menemukan ruangan yang tepat, aku dipersilahkan duduk.

“Lena sudah siap?” tanya trainer.
Belum kujawab. Kupandangi laptop di depanku. Kok pake laptop sih? Katanya komputer. Ya sama aja sih, tapi mousenya kecil. Terus pas kuklik kelihatan kecil banget di tangan. Beda sama mouse di ruangan sebelah. Kalau sampai aku gagal gara-gara mouse gimana? Alah, alesan aja lu tong! (suara entah darimana).

“Sudah siap belum?”
“Iya, sudah Bu.”

Apa yang terjadi terjadilah. Kumulai dengan pertanyaan assumptive.

“Halo Bu Ani.”
“Siapa ini?”
“Selamat Pagi Bu, Saya Lena dari ***. Benar saat ini saya terhubung dengan Bu Ani?”
“Bukan, saya Putri.”
“Bu Putri siapanya Bu Ani?
“Saya Iparnya.”
“Baik Ibu, saat ini Ibu bersama dengan Ibu Ani?”
“Enggak. Lagi keluar dia.”
“Ibu sebelumnya sudah tau kalau Ibu Ani punya cicilan HP di *** sebesar – "

Mampus, mana nih harga tagihannya. Manaaaa… mousenya kekecilan, laptopnya loading..kenapa gak pakai komputer kayak kemarin aja sih…

“Halo Bu? Bu?” trainer manggil-manggil. Mana ada sejarahnya desk collection digituin sama klien. Uh! Kenapa mousenya kecil!!!!

“Ibu sebelumnya sudah tau kalau Ibu Ani punya cicilan HP di *** sebesar – Rp. 825.000 yang sudah keterlambatan 39 hari?” bergetar suaraku.
“Gak tau tuh. Kenapa memangnya?”
“Disini saya infokan kembali ya Bu Desi,-“
“Saya Putri, Bu.”
“Mohon maaf, Bu Putri maksud saya, bahwa Ibu Ani punya cicilan untuk produk HP sebesar 852 ribu rupiah yang sudah melewati masa pembayaran 39 hari. Ibu tau tidak kenapa belum dibayarkan oleh Bu Ani?”
“Gak tau saya.”
“Ibu disini kan iparnya ibu sudah keterlambatan 39 hari. Kalau tidak dibayarkan hari ini saya khawatir BI Checkingnya akan semakin memburuk yang mana berdampak pada iparnya ibu kesulitan mengajukan cicilan di tempat lain maupun di ***. Ibu bisa bantu handle bayar cicilan ibu Ani Bu?”
“Gak ada uang saya.”

Seharusnya setelah dia bilang gitu, aku mengeluarkan jurus probing sesuai yang diajarkan trainer - gak punya uangnya karena nunggu gajian atau gimana. Tapi malah melompat.

“Kalau tabungan ibu punya tidak?”
“Gak punya.”
“Ibu ini kan cicilannya iparnya Bu Putri, ibu bisa coba diskusikan dulu tidak untuk pinjam dana ke teman atau saudara?”
“Itu kan bukan cicilan saya.”
“Begini saja Bu, saya bantu dengan hapus dendanya sebesar 125 ribu rupiah. Jadi ibu perlu bayar pokoknya saja sebesar – "

Waduh, mana nih menu yang berisi tampilan jumlah angsuran per bulan. Mouse-nya kecil!!!!

“Halo Bu Lena”

Hening.

“Ibu Putri hanya perlu bayar 700 ribu rupiah. Bisa bu?”
“Gak ada uang saya, Bu.”
“Saat ini ibu ada dana berapa?”
“Gak ada sama sekali.”
“Begini saja, Bu. Ibu bantu handle bayar cicilan Bu Ani dengan menyicil saja, sebesar – "

Suaraku bergetar. Mana lagi nih kalkulatornya di laptop. 50% dari 852 ribu berapa sih!! Mouse-nya KEKECILANNN….!!!!

“Halo Bu Lena?”
“Ibu hanya perlu menyicil sebesar 412.500 rupiah.”

Aku gak berhasil menemukan kalkulator di laptop itu. Jadinya kuhitung secara manual. Untung angkanya gak ribet.

“Tetap gak ada uang saya, Bu.”

Huft, sesuai yang diajarkan saat training, kalau udah begini direkap aja 'menolak bayar'.

“Bu, berarti ibu tidak ada kesepakatan bayar dengan kami dikarenakan tidak ada uang. Konsekuensinya sesuai yang saya sebutkan tadi ya Bu Desi.”
“Saya Bu Putri, Loh.”
“Mohon maaf, Bu Putri maksud kami.”
“Yaudah, gak apa-apa.”
“Baik, terima kasih Bu Putri, selamat pagi.”

Role play berakhir, demikian juga dengan semangatku melewati sisa hari itu.

“Lena, kok kamu gak nawarin hari ini sama besok? Langsung hapus denda sama nyicil. Kenapa?” tanya trainer.

Pengen kutersenyum dulu lalu menjawab,’mouse-nya kekecilan,’ tapi .. ah sudahlah!!!

“Kelupaan, Bu.”

Berikutnya komentar selanjutnya dari trainer dan QA. Banyaklah pokoknya. Dari komentar bisa kusimpulkan hasil NHT ini.

Di perjalanan pulang waktu nebeng sama Rindi dia curhat kalau tadi di dalam ruangan dia gugup dan semua jadi kacau balau. Kuhibur dia dengan bilang, “Tenang aja, Rin. Aku juga tadi gak lancar kok. Tapi kalau menurutku mereka gak mungkin langsung meng-cut kita di NHT ini. Masa iya training 8 hari, terus di cut di hari ke-9? Kayaknya diluluskan ke OJT dulu semua, terus di OJT selama 3 hari itulah baru dinilai dan di-cut benar-benar yang gak bisa. Aku yakin mereka kasih kesempatan dulu selama 3 hari OJT itu.”

Iya, itu teori konspirasiku lagi. Entah kenapa muncul begitu saja dalam benak ini. Setidaknya si Rindi sedikit terhibur dan jadi konsen bawa motor. Kalau gak kuhibur, bisa-bisa kami masuk RS karena dia nabrak. 
Malamnya jam 8 grup WA mulai ribut. Pasti hasilnya mau diumumkan. Aku takut. Takut gak lulus dan gak bisa menerima kekalahan malah menyalahkan MOUSENYA KEKECILAN!! 
Gambar : alam, manis, mouse, imut, margasatwa, bulu, kecil, coklat ...
tikusnya (read : mouse) kekecilan !!!

Dengan sisa semangat melewati hari itu yang kupunya, kuklik gambarnya dan …

BOOM!

MAGDALENA PUTRIANI HUTABALIAN ... FAILED!!

Nama-nama diurutkan dari nilai tertinggi ke nilai yang terendah. Namaku persis berada di bawah nama terakhir yang dinyatakan PASSED … LULUS! Jadi namaku terdaftar di urutan pertama orang-orang yang FAILED. 

Nyesek. Karena berada di persimpangan itu. Persimpangan orang passed dan failed. Persimpangan? Come on, girl. Aku bahkan bukan orang ketiga.. 

Maafkan aku Rindi, sudah memberikan teori ogeb itu. Kuharap kau gak percaya 100% tadi siang pas kusampaikan, sehingga mental tidak terlalu down





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...