Dari awal apply
di loker perusahaan pembiayaan itu memang asal-asalan juga sih. Asal apply
maksudnya. Tanpa baca detail job desk, klik 'apply'. Entahlah, sebenarnya aku gak berniat nyari kerjaan tapi takut mati kelaparan. Betapa tidak estetiknya dua kenyataan yang betolak belakang itu. Lah
uang kan datang dari hasil bekerja (kalau mau yang caranya baik-baik). Udah bekerja,
digaji, bisa deh beli makan, bayar kontrakan, isi pulsa, beli sabun buat mandi. Anehnya
hal ini gak terjadi padaku. Aku gak termotivasi nyari kerjaan, tapi ingin tetap
hidup. Ibarat gak pengen motornya mati di tengah jalan karena kehabisan bensin,
eh pas lewat pom bensin malah gak diisi. Gitulah kira-kira.
Dulu di kampus,
aku aktif ikut turun ke jalanan bersama kawan-kawan dari berbagai himpunan dan
komunitas sosial. Meneriakkan inspirasi-inspirasi yang mana juga merupakan
teriakan dari hati kecil rakyat. Orasi di depan gedung gubernur, pakai toa, pakai
almamater, teriak-teriak dalam satu barisan. Rajin diskusi untuk sebuah kajian topik
tertentu. Ya meski gak serius-serius amat memberikan opini, tapi aktif
mendengarkan dan menganalisis. Di media sosial juga ikut memberikan cuitan
lewat postingan-postingan berjiwa sosial tinggi yang isinya menyatakan siap
untuk ikut pengabdian di suatu daerah.
Kini semua
berbeda. Aku gak lagi kayak gitu. Jangankan postingan di media sosial. Kebijakan-kebijakan
baru yang dikeluarkan pemerintah entah apapun itu saat ini gak ambil pusing. Dunia
di luar kampus benar-benar berbeda. Kalau dulu masih dengan semangat berapi-api
menyanyikan lagu Buruh Tani, sekarang
malah menyanyikan lagu Ya Sudahlah. Dulu
mengibarkan bendera merah putih, kini rasanya ingin mengibarkan bendera putih. Lah gimana, menyelamatkan diri sendiri aja belum bisa, gimana bisa menyelamatkan orang lain? I
know ini amat sangat bertentangan dengan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei. Tapi bukankah semua kebangkitan diawali dari keterpurukan? -Mantan
mahasiswa yang kehilangan arah (2020).
Tadinya postingan
ini mau bahas hal-hal lucu yang terjadi dalam 8 hari training desk collection
itu. Eh, kok malah jadi melo begini? Bukan melo, ini lebih ke galau gak jelas
gitu gak sih?!
Oke. Jadi, aku
ngerasa Tuhan itu sengaja ngasih kisah-kisah absurd di bawah normal gitu dalam
hidupku supaya suatu hari bisa kutulis jadi buku komedi. Hahahah, ini teori
sotoy-ku aja. Untuk lebih jelasnya nanti kutanyakan pada beliau lewat mimpi.
Jadi kami ada
berdua belas yang diajar oleh trainer
yang sama. Urutannya adalah setelah lulus NHT (New Hire Training=8 hari) ini
akan dilanjutkan ke OJT (On The Job Training) selama 3 hari. Setelah lulus OJT
baru offering letter jadi Kemitraan. Setelah
satu tahun baru jadi karyawan kontrak. Iya, emang panjang. Di hari terakhir
(kemarin) diadakanlah tes final. Tes final tertulis dan praktek. Untuk yang
praktek sederhana. Kami hanya perlu menelepon dan berperan sebagai desk
collection di depan komputer sambil menginput hasil penelponan dengan si klien
(kayaknya semua kerjaan emang butuh kemampuan multitasking). Dari hari-hari
yang telah berlalu, aku sedikit banyak kenal sama kemampuan peserta NHT di
kelas.
Ada si Bapak
Dzikri (dia udah menikah makanya kupanggil ‘bapak’ tapi seumuran denganku
hahah) yang pernah jadi sales perumahan katanya. Bisa dibayangkan kan gimana lancarnya
dia ngomong dan pintar bernegosiasi? Terus ada Rindi, temanku nebeng dari Kemayoran.
Dari kelemahlembutan suaranya sih dia lebih cocok jadi ibu guru TK. Serius. Karakter
suaranya yang gemulai itu akan berdampak pada klien ngeyel kalau ditagih untuk membayar
cicilannya. Ada Kasih dan Wanda, yang kurang lebih juga bersuara lembut seperti
Rindi tapi sedikit lebih memungkinkan. Ada lagi cowok namanya Sarif, punya suara
tipe-tipe cs telkomsel. Ada nada-nada manja nan feminis gitu. Terus ada aku. Aku?
Ehhm, cukup kusebutkan punya suara cempreng yang tidak stabil.
Well, itu aja yang kukenal baik. Sisanya
gak begitu kenal karena mereka bergabung dengan kelas kami di dua hari terakhir
sebelum ujian final. Pindah trainer. Tapi
kayaknya mereka itu jago-jago nagih utang kayaknya. Buktinya ada satu cowok
yang duduk di sebelahku pas ujian final dengan beraninya nagih jawaban, gak
berbisik tapi ngomong dengan desibel suara biasa, “Neng, nomor sepuluh
jawabannya A kan ya?”
Kujawab aja
iya, karena kurang yakin juga. Kukira sudah berakhir, dia gak bakalan
nanya-nanya lagi. Ternyata sampai akhir waktu ujian tertulis habis dia tetap
mengajukan pertanyaan. Ini kami lagi ujian final tertulis atau interview sih? Kok
ada tanya jawab selama setengah jam.
Setelah ujian
final tertulis, berikutnya dilanjutkan dengan ujian final praktek. Seperti yang
kubilang tadi, kami dihadapkan dengan komputer, trainer dan satu lagi namanya QA, orang yang bertugas menilai. QA
kemungkinan besar (asumsiku lagi) singkatan dari Quality Assessment. Di dalam ruangan tertutup. Hanya bertiga. Sesuai
urutan abjad ‘M’, namaku dipanggil diurutan ketiga. Kalau bisa ganti nama saat
itu jadi ZULEHA akan kulakukan, karena asli, aku gugup. Saking gugupnya sampai
salah masuk ruangan. Aku masuk ruangan yang sama tempat peserta berkumpul
menunggu giliran, hanya beda pintu. Sontak gelak tawa memenuhi ruangan itu,
menertawai aku yang grogi.
Ketika sudah
berhasil menemukan ruangan yang tepat, aku dipersilahkan duduk.
“Lena sudah
siap?” tanya trainer.
Belum kujawab. Kupandangi
laptop di depanku. Kok pake laptop sih? Katanya komputer. Ya sama aja sih, tapi
mousenya kecil. Terus pas kuklik kelihatan kecil banget di tangan. Beda sama
mouse di ruangan sebelah. Kalau sampai aku gagal gara-gara mouse gimana? Alah, alesan
aja lu tong! (suara entah darimana).
“Sudah siap
belum?”
“Iya, sudah Bu.”
Apa yang terjadi
terjadilah. Kumulai dengan pertanyaan assumptive.
“Halo Bu Ani.”
“Siapa ini?”
“Selamat Pagi
Bu, Saya Lena dari ***. Benar saat ini saya terhubung dengan Bu Ani?”
“Bukan, saya
Putri.”
“Bu Putri
siapanya Bu Ani?
“Saya Iparnya.”
“Baik Ibu, saat
ini Ibu bersama dengan Ibu Ani?”
“Enggak. Lagi keluar
dia.”
“Ibu sebelumnya
sudah tau kalau Ibu Ani punya cicilan HP di *** sebesar – "
Mampus, mana nih harga tagihannya. Manaaaa…
mousenya kekecilan, laptopnya loading..kenapa gak pakai komputer kayak kemarin
aja sih…
“Halo Bu? Bu?” trainer manggil-manggil. Mana ada
sejarahnya desk collection digituin sama klien. Uh! Kenapa mousenya kecil!!!!
“Ibu sebelumnya
sudah tau kalau Ibu Ani punya cicilan HP di *** sebesar – Rp. 825.000 yang
sudah keterlambatan 39 hari?” bergetar suaraku.
“Gak tau tuh. Kenapa
memangnya?”
“Disini saya
infokan kembali ya Bu Desi,-“
“Saya Putri,
Bu.”
“Mohon maaf, Bu
Putri maksud saya, bahwa Ibu Ani punya cicilan untuk produk HP sebesar 852 ribu
rupiah yang sudah melewati masa pembayaran 39 hari. Ibu tau tidak kenapa belum
dibayarkan oleh Bu Ani?”
“Gak tau saya.”
“Ibu disini kan
iparnya ibu sudah keterlambatan 39 hari. Kalau tidak dibayarkan hari ini saya
khawatir BI Checkingnya akan semakin memburuk yang mana berdampak pada iparnya
ibu kesulitan mengajukan cicilan di tempat lain maupun di ***. Ibu bisa bantu
handle bayar cicilan ibu Ani Bu?”
“Gak ada uang
saya.”
Seharusnya setelah dia bilang gitu, aku
mengeluarkan jurus probing sesuai yang diajarkan trainer - gak punya uangnya karena nunggu gajian atau gimana. Tapi malah melompat.
“Kalau tabungan
ibu punya tidak?”
“Gak punya.”
“Ibu ini kan
cicilannya iparnya Bu Putri, ibu bisa coba diskusikan dulu tidak untuk pinjam
dana ke teman atau saudara?”
“Itu kan bukan
cicilan saya.”
“Begini saja
Bu, saya bantu dengan hapus dendanya sebesar 125 ribu rupiah. Jadi ibu perlu
bayar pokoknya saja sebesar – "
Waduh, mana nih
menu yang berisi tampilan jumlah angsuran per bulan. Mouse-nya kecil!!!!
“Halo Bu Lena”
Hening.
“Ibu Putri
hanya perlu bayar 700 ribu rupiah. Bisa bu?”
“Gak ada uang saya,
Bu.”
“Saat ini ibu
ada dana berapa?”
“Gak ada sama
sekali.”
“Begini saja,
Bu. Ibu bantu handle bayar cicilan Bu Ani dengan menyicil saja, sebesar – "
Suaraku bergetar.
Mana lagi nih kalkulatornya di laptop. 50% dari 852 ribu berapa sih!! Mouse-nya
KEKECILANNN….!!!!
“Halo Bu Lena?”
“Ibu hanya
perlu menyicil sebesar 412.500 rupiah.”
Aku gak
berhasil menemukan kalkulator di laptop itu. Jadinya kuhitung secara manual. Untung
angkanya gak ribet.
“Tetap gak ada
uang saya, Bu.”
Huft, sesuai
yang diajarkan saat training, kalau udah begini direkap aja 'menolak bayar'.
“Bu, berarti
ibu tidak ada kesepakatan bayar dengan kami dikarenakan tidak ada uang. Konsekuensinya
sesuai yang saya sebutkan tadi ya Bu Desi.”
“Saya Bu Putri,
Loh.”
“Mohon maaf, Bu
Putri maksud kami.”
“Yaudah, gak
apa-apa.”
“Baik, terima
kasih Bu Putri, selamat pagi.”
Role play
berakhir, demikian juga dengan semangatku melewati sisa hari itu.
“Lena, kok kamu
gak nawarin hari ini sama besok? Langsung hapus denda sama nyicil. Kenapa?”
tanya trainer.
Pengen kutersenyum
dulu lalu menjawab,’mouse-nya kekecilan,’ tapi .. ah sudahlah!!!
“Kelupaan, Bu.”
Berikutnya komentar
selanjutnya dari trainer dan QA. Banyaklah pokoknya. Dari komentar bisa
kusimpulkan hasil NHT ini.
Di perjalanan
pulang waktu nebeng sama Rindi dia curhat kalau tadi di dalam ruangan dia gugup
dan semua jadi kacau balau. Kuhibur dia dengan bilang, “Tenang aja, Rin. Aku juga
tadi gak lancar kok. Tapi kalau menurutku mereka gak mungkin langsung meng-cut
kita di NHT ini. Masa iya training 8 hari, terus di cut di hari ke-9? Kayaknya diluluskan
ke OJT dulu semua, terus di OJT selama 3 hari itulah baru dinilai dan di-cut
benar-benar yang gak bisa. Aku yakin mereka kasih kesempatan dulu selama 3 hari OJT itu.”
Iya, itu teori
konspirasiku lagi. Entah kenapa muncul begitu saja dalam benak ini. Setidaknya
si Rindi sedikit terhibur dan jadi konsen bawa motor. Kalau gak kuhibur, bisa-bisa kami masuk RS karena dia nabrak.
Malamnya jam 8
grup WA mulai ribut. Pasti hasilnya mau diumumkan. Aku takut. Takut gak lulus
dan gak bisa menerima kekalahan malah menyalahkan MOUSENYA KEKECILAN!!
| tikusnya (read : mouse) kekecilan !!! |
Dengan sisa semangat melewati hari itu yang kupunya, kuklik gambarnya dan …
BOOM!
MAGDALENA PUTRIANI HUTABALIAN ... FAILED!!
Nama-nama
diurutkan dari nilai tertinggi ke nilai yang terendah. Namaku persis berada di
bawah nama terakhir yang dinyatakan PASSED … LULUS! Jadi namaku terdaftar di urutan pertama orang-orang yang FAILED.
Nyesek. Karena berada
di persimpangan itu. Persimpangan orang passed
dan failed. Persimpangan? Come on, girl. Aku bahkan bukan orang ketiga..
Maafkan aku
Rindi, sudah memberikan teori ogeb itu. Kuharap kau gak percaya 100% tadi siang
pas kusampaikan, sehingga mental tidak terlalu down.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar