#DIRUMAHAJA
Adalah pesan yang diteriakkan dari
seluruh lapisan masyarakat saat ini demi mencegah penyebaran Covid-19. Gak
semua lapisan masyarakat deh. Hanya dari pihak pemerintah, pegawai pemerintah,
tenaga kesehatan, selebritis, selebgram, selebtwit, youtuber. Untuk orang yang
penghasilannya serabutan tergantung penjualan sehari-hari, pesan itu hanya
angin lalu. Ada masyarakat yang bilang gini, “Kami lebih takut mati karena gak makan, daripada karena corona.” Mari kita
bedah kalimat itu. Sebenarnya maksudnya
lebih ke ‘mending mati karena berusaha, daripada mati tanpa berjuang.’ Semangat
pejuang kemerdekaan jelas masih diwarisi mereka dari para leluhur yang
membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan.
Tadinya
sebagai pengangguran yang tidak punya uang lagi untuk bertahan hidup di Jakara,
aku juga dengan manis mematuhi pesan sakral #dirumahaja tersebut. Lagian mana
ada perusahaan yang membuka perekrutan karyawan di masa krisis begini.
Dimana-mana banyak perusahaan yang merumahkan karyawan, PHK, ada yang terancam
gak dapat THR. Pokoknya maxam-macam. Aku juga gak lagi mengirimkan lamaran
pekerjaan online. Kayak... sia-sia
aja gitu! Terkurung di rumah selama kurang lebih dua bulan dan tidak melakukan
apa-apa selain bernafas, makan dan toilet.
Gak
ada angin, gak ada salju. Tiba-tiba datang undangan training dari salah satu perusahaan pembiayaan di
JakSel. Masih training sih, tapi kalaupun
gak lolos training-nya ada uang
saku pengganti. Lumayan. Kalau pun lolos training
dan offering letter, gajinya memang
gak banyak. Tapi dimana lagi bisa nyari uang di masa seperti ini? Meskipun sedikit,
daripada gak ada sama sekali. Di rumah tidur tiap hari aku gak dapat sepeser
pun. Kini aku paham perasaan masyarakat yang bilang ‘lebih takut mati karena
gak makan, dibanding sama corona.
Masalahnya
adalah setelah kucari di google map,
jarak kosan dengan kantornya bagai langit dan bumi – jauh. Gak bakalan cukup
satu jam, kalau naik busway atau KRL. Belum lagi jarak stasiun terdekat kos
lumayan jauh (gojek online ditutup sementara). Setengah jam-an kalau jalan kaki.
Busway atau KRL baru beroperasi jam 6, sementara hari Senin diminta jam 7 udah
di lokasi. Masalah berikutnya, Jakarta Selatan red zone Corona. Udah jauh dari tempat tinggal, harus jantungan
setiap saat di bus atau KRL, atau mendapat sledingan dari teman sekamar yang
nyuruh buru-buru mandi begitu sampai di kosan.
Baiklah,
05 Mei 2020, di usia baru seperempat abad di hari ini kuawali dengan pemberontakan. Aku keluar dari sangkar, mengejar kehidupan. Kuhirup dalam-dalam udara luar. Rasanya udara Jakarta tak pernah sesegar
ini. Bangun jam setengah 5, tanpa mengisi perut, tanpa make-up, jam 5 tepat aku
lari-lari ke stasiun kemayoran. Untung lagi bulan puasa, jadi jalanan
udah ramai (habis pada sahur mungkin). Kalau jalanan sepi, aku ragu berani jalan
kaki sendirian.
“Pak, Pak..hosh..hosh..itu....hosh..kereta
tujuan Bogor?” tanyaku ngos-ngosan ke petugas stasiun. Pas aku nyampe ada
kereta yang baru tiba. Perasaan tadi ngecek di aplikasi KRL tujuan Bogor jam
05.21 deh berangkatnya. Saat itu (berkat lari-lari) aku berhasil tiba di stasiun jam 05.16.
Ah. Thanks
God!
“Ini saya gak dicek, Pak suhunya?”
Si petugas pegang thermometer di
tangannya tapi berlagak kayak gak mau cek suhu badanku.
“Gak usah,
langsung aja, Bu.”
Saya
belum nikah, Pak! Ah udahlah. Mungkin dia kasian liat aku keringatan plus
ngos-ngosan. Mungkin kalau dicek suhunya pasti tinggi angkanya, bukan karena
demam tapi gara-gara barusan lari sprint.
Di dalam kereta kumanfaatkan untuk make-over dikit-dikit muka yang udah ancur
ini. Di dalam kereta sudah dibuat batas antar tempat duduk penumpang supaya gak
berdekatan. Perjalanan dengan KRL 1 jam ini akan dilanjutkan dengan 20 menit
jalan kaki dari stasiun terdekat ke plaza tempat kantornya berada. Kucek HP-ku
karena tadi kayaknya ada SMS masuk. Siapa tau panggilan kerja di tempat lain. Ternyata
:
Yth.
Sdri.Magdalena P H,
Selamat
Ulang Tahun, Smg
Panjang
Umur, mudah rezekinya,
Tetap
sehat dan bahagia
By_Unit
Donor Darah PKY
Aku
tertegun cukup lama memandangi SMS itu. Terharu, tak menyangka. Ucapan selamat
ulang tahun pertama yang kudapat hari itu datang dari orang yang hanya sekali
pernah kujumpai. Aku bahkan gak ingat tahun berapa pernah donor darah kesana. Pakai
embel-embel ‘Yth’ segala pulak lagi. Aku kan jadi sempat ngira beneran
panggilan pekerjaan.
*****
“Kalian
harus bisa mengajak klien membayarkan tagihannya. Itulah tugas kalian sebagai
desk call, ujung tombak perusahaan ini.”
Iya, aku ikut training di sebuah perusahaan pembiayaan untuk posisi super penting : Desk Call. Tugasnya nelpon klien biar mau bayar kredit bulanannya. Sama seperti pekerjaan 3 bulan di perusahaan sebelumnya, lagi-lagi aku harus berhubungan dengan customer tanpa tatap muka. Tugasnya simpel. Mengingatkan tagihan bulanan pelanggan, menagih ke pelanggan dan menggertak tentu saja kalau dia ngeyel gak mau bayar. Kami melakukan role play dengan trainer sebagai klien yang kredit barang.
DC : Halo Bu Rani
T : Iya
DC : Selamat pagi, saya Lena dr PT X. Saya menelpon Ibu terkait dengan pembayaran laptop ibu yang sudah terlambat pembayaran 5 hari sebesar 500 ribu rupiah. Kalau boleh tau ada kendala apa ya, Bu?
T : Saya gak punya uang, Mbak. Habis di-PHK karena corona.
Nah, kami diajarin supaya tidak berhenti disitu saja setelah mendengar musibah si klien. Ada teknik untuk menggali keterangan lebih lanjut, baru diberikan solusi kepada si klien dan motivasi untuk membayar.
DC : Ibu saat ini punya tabungan, Bu?
T : Gak ada, Mbak. Udah habis buat keperluan sehari-hari, wong saya kena PHK gak punya gaji lagi.
DC : Baik. Saat ini ibunya punya penghasilan dari usaha lain?
T : Gak ada toh, Mbak. Saya cuma karyawan biasa di perusahaan itu. Gara-gara corona jadi begini.
DC : Baik. Ibu kalau kesulitan dana biasanya minjam dengan siapa Ibu?
T : Biasanya dengan kakak saya. Tapi saya gak tau dia ada uang atau enggak.
DC : Ibu Rani, Ibu bisa diskusikan dengan kakaknya hari ini dan menyelesaikan pembayarannya hari ini Bu?
T : Gak tau, Mbak. Dia kan belum tentu punya uang.
DC : Kalau saya tunggu sampai besok bagaimana Ibu? Karena kalau ibu tidak bayar sampai besok saya khawatir ibu akan dikenakan denda sebesar 50 ribu rupiah dan itu akan memberatkan pembayaran Ibu.
T : Saya gak janji, Mbak.
(bersambung ---)
Iya, aku ikut training di sebuah perusahaan pembiayaan untuk posisi super penting : Desk Call. Tugasnya nelpon klien biar mau bayar kredit bulanannya. Sama seperti pekerjaan 3 bulan di perusahaan sebelumnya, lagi-lagi aku harus berhubungan dengan customer tanpa tatap muka. Tugasnya simpel. Mengingatkan tagihan bulanan pelanggan, menagih ke pelanggan dan menggertak tentu saja kalau dia ngeyel gak mau bayar. Kami melakukan role play dengan trainer sebagai klien yang kredit barang.
DC : Halo Bu Rani
T : Iya
DC : Selamat pagi, saya Lena dr PT X. Saya menelpon Ibu terkait dengan pembayaran laptop ibu yang sudah terlambat pembayaran 5 hari sebesar 500 ribu rupiah. Kalau boleh tau ada kendala apa ya, Bu?
T : Saya gak punya uang, Mbak. Habis di-PHK karena corona.
Nah, kami diajarin supaya tidak berhenti disitu saja setelah mendengar musibah si klien. Ada teknik untuk menggali keterangan lebih lanjut, baru diberikan solusi kepada si klien dan motivasi untuk membayar.
DC : Ibu saat ini punya tabungan, Bu?
T : Gak ada, Mbak. Udah habis buat keperluan sehari-hari, wong saya kena PHK gak punya gaji lagi.
DC : Baik. Saat ini ibunya punya penghasilan dari usaha lain?
T : Gak ada toh, Mbak. Saya cuma karyawan biasa di perusahaan itu. Gara-gara corona jadi begini.
DC : Baik. Ibu kalau kesulitan dana biasanya minjam dengan siapa Ibu?
T : Biasanya dengan kakak saya. Tapi saya gak tau dia ada uang atau enggak.
DC : Ibu Rani, Ibu bisa diskusikan dengan kakaknya hari ini dan menyelesaikan pembayarannya hari ini Bu?
T : Gak tau, Mbak. Dia kan belum tentu punya uang.
DC : Kalau saya tunggu sampai besok bagaimana Ibu? Karena kalau ibu tidak bayar sampai besok saya khawatir ibu akan dikenakan denda sebesar 50 ribu rupiah dan itu akan memberatkan pembayaran Ibu.
T : Saya gak janji, Mbak.
(bersambung ---)
Pas lagi serius ngikutin penjelasan trainer, HP-ku bergetar. Dad is calling. Pasti
mau bilang selamat ulang tahun. Di grup keluarga juga udah ribut
sodara-sodaraku yang lain ngucapin. Tanpa mengangkat telpon itu (anak durhaka
emang), kukirim pesan ke WA keluarga. Adekku yang dikampung pasti baca dan
ngasih tau bapake, kalau aku lagi ada interview
kerjaan – nanti kuhubungi kalau udah di rumah.
Kayaknya kalau diterima bekerja sebagai DC di perusahaan ini aku harus belajar jadi orang tega deh. Itu aja si ibu di kasus role play itu udah kena musibah di-PHK masih aja ditagihin. Iya sih, dari awal ngajukan kredit dia kan udah terikat kesepakatan. Harus tanggung jawablah.
*****
Kayaknya kalau diterima bekerja sebagai DC di perusahaan ini aku harus belajar jadi orang tega deh. Itu aja si ibu di kasus role play itu udah kena musibah di-PHK masih aja ditagihin. Iya sih, dari awal ngajukan kredit dia kan udah terikat kesepakatan. Harus tanggung jawablah.
*****
Usia
25 tahun, tapi pemikiran 15 tahun. Selesai training,
aku buta arah mau pulang kemana dan naik apa. Biasanya kan tinggal pesan gojek online, ngetik lokasi penjemputan dan tujuan, kelar. Tapi gara-gara PSBB, go-ride dan grab motor ditiadakan. Naik go-car atau grab car? Gak mau lah aku, mahal!!! Bermodalkan GPS HP, kutelusuri jalanan daerah Pasar Minggu di bawah panasnya matahari minta ampun. Emak, hari ini anakmu ultah. Tapi bahkan jalan pun tak
berpihak padaku. Aku bahkan gak berhasil menemukan stasiun tempatku turun. Tadi aku emang
naik angkot dari stasiun ke lokasi training, kukasih 5 ribu ke supirnya. Tapi kali
ini aku gak mau ngeluarin duit lagi. Toh gak buru-buru juga pulangnya.
“Lewat
stasiun gak, Pak?”
“Stasiun
apa?”
“Tanjung
Barat,” kubilang.
Dia
mengernyit bingung. “Di belakang sono tinggal jalan kaki aja, dari bawah
terowongan.”
Setelah
itu dia gas pol angkotnya, menyisakan abu yang tak sengaja ikut kuhirup. Huft.
Aku
memandang jauh ke terowongan yang dimaksud. GPS di HP juga nunjukin arah
stasiunnya ke sana sih. Tapi itu kan jalur jalan tol, masak pejalan kaki bisa lewat
situ? Bagaimana pun aku gak mau mati di hari ulang tahunku. Kutanya lagi
penduduk yang lagi nangkring di warteg.
“Kalau mau ke stasiun nanti tinggal lurus aja mbaknya, terus ambil ke kanan.”
Gila
apa ya orang-orang. Itu terowongan jalan toll loh. Sebegonya aku, aku masih
paham kalau jalan tol itu jalan bebas hambatan. Gak ada hambatan seperti lampu
merah apalagi pejalan kaki, kan?!
Yaudahlah,
daripada makin kelaparan dan berujung pingsan di bawah terik matahari yang semakin menggosongkan
kulit yang sudah gosong dari lahir ini, aku pun bergerak sesuai arah GPS dan
saran orang-orang itu. Ternyata..
Ternyata
di samping jalan di bawah terowongan tol itu memang ada jalan lain yang tadi
gak keliatan olehku karena belokan. Hahahaha. Setelah makin melangkah maju,
jalan yang dimaksud ‘ambil kanan’ itu pun terpampang jelas. Dan memang itulah
jalan yang tadi dilewati angkot yang membawaku ke plaza. Hampir aja aku dengan
polosnya ngantar nyawa ke jalan tol. Beritanya pun pasti gak keren kalau masuk koran.
‘Seorang pencari kerja asal Samosir
nekad menyeberang di jalan tol karena tidak mau rugi 5 ribu naik angkot menuju
stasiun’
Berhasil
menemukan stasiun (setelah gosong dan kelaparan tentunya), aku menidurkan diri
di dalam kereta. Belum berniat membalas chat dari kawan-kawan yang bilang
selamat ulang tahun. Nanti ajalah, sekalian tak
balas. Tunggu banyak. Tapi baru tidur sepuluh menit, aku malah kebangun karena perut
kembali ribut keroncongan. Padahal kereta masih di stasiun Sudirman, masih jauh. Seorang
ibu dengan putri kecilnya baru turun melewati pintu. Tak sengaja mataku menangkap seorang
bocah laki-laki yang tidur sendirian di bangku depanku. Busyet, ini anaknya kok
ditinggal????
“Dek,
dek.. dek..”
Si
bocah laki-laki terbangun sambil mengucek matanya.
“Ibunya
mana? Tadi sudah turun loh,” aku khawatir dia ketiduran dan gak sadar ibunya
udah turun. Sebaliknya ibunya gak sadar anaknya masih ketinggalan di dalam
kereta dan melenggang begitu saja.
Tapi
si bocah dengan santainya malah menunjuk perempuan paruh baya yang duduk di sudut ujung kereta. Asem, aku salah sangka. Lagian kok dia duduk terpisah jauh banget dari mamaknya. Gak takut diculik apa?
Sibocah segera berlari ke tempat ibunya berada. Entah apa yang dia adukan ke ibunya, si ibu menatap aku tajam. Mungkin mengira aku tante-tante genit pencuri anak laki-laki di bawah umur.
Sibocah segera berlari ke tempat ibunya berada. Entah apa yang dia adukan ke ibunya, si ibu menatap aku tajam. Mungkin mengira aku tante-tante genit pencuri anak laki-laki di bawah umur.
![]() |
| First birthday's message |
![]() |
| My Little Brother |
![]() |
| My parner in crime, my soulmate |
![]() |
| Nainggolan Family WA's Group |
![]() |
| Yeah... |
![]() |
| This girl, my soulmate in crime too.. Gume, kuterharuuuuu!! Dia minta no rek aku, mau ngasih uang jajan katanya. Yang udah kerja emang beda ya! |
![]() |
| One of lonely girl - Monkey Liar's roommate |
![]() |
| She is a jurnalist now. Can't believe it, cause it's actually my dreammm.. |
![]() |
| Tempat SMP, SMA dan sekosan dulu waktu kuliah |
![]() |
| Dia sekarang kerja di Hunan-China, pas ditanya di sana gimana Corona malah aman katanya |
![]() |
| Tiup lilin online dari pulau seberang |
Well, 25 berpihaklah padaku. Quarter life crisis?!
God, aku gak minta banyak-banyak kok. Hm, cukup : sempatkan aku membahagiakan orang yang kucintai, pertemukan aku dengan impianku (You know me so well), pertemukan aku dengan seseorang berkepribadian seperti Suga BTS, dan kalau Kau berkenan, terbangkan aku ke Machu Picchu. Yuhuuuu!!











Tidak ada komentar:
Posting Komentar