Rabu, 06 Mei 2020

#TidakDirumahaja VS Usia Seperempat Abad


          #DIRUMAHAJA
Adalah pesan yang diteriakkan dari seluruh lapisan masyarakat saat ini demi mencegah penyebaran Covid-19. Gak semua lapisan masyarakat deh. Hanya dari pihak pemerintah, pegawai pemerintah, tenaga kesehatan, selebritis, selebgram, selebtwit, youtuber. Untuk orang yang penghasilannya serabutan tergantung penjualan sehari-hari, pesan itu hanya angin lalu. Ada masyarakat yang bilang gini, “Kami lebih takut mati karena gak makan, daripada karena corona.” Mari kita bedah kalimat itu. Sebenarnya maksudnya lebih ke ‘mending mati karena berusaha, daripada mati tanpa berjuang.’ Semangat pejuang kemerdekaan jelas masih diwarisi mereka dari para leluhur yang membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan.

Tadinya sebagai pengangguran yang tidak punya uang lagi untuk bertahan hidup di Jakara, aku juga dengan manis mematuhi pesan sakral #dirumahaja tersebut. Lagian mana ada perusahaan yang membuka perekrutan karyawan di masa krisis begini. Dimana-mana banyak perusahaan yang merumahkan karyawan, PHK, ada yang terancam gak dapat THR. Pokoknya maxam-macam. Aku juga gak lagi mengirimkan lamaran pekerjaan online. Kayak... sia-sia aja gitu! Terkurung di rumah selama kurang lebih dua bulan dan tidak melakukan apa-apa selain bernafas, makan dan toilet. 

Jiwa adventure ini meronta-ronta, ingin sekali keluar rumah. Sudah bosan, tak kuat lagi menahan hasrat di dada.

Gak ada angin, gak ada salju. Tiba-tiba datang undangan training dari salah satu perusahaan pembiayaan di JakSel. Masih training sih, tapi kalaupun gak lolos training-nya ada uang saku pengganti. Lumayan. Kalau pun lolos training dan offering letter, gajinya memang gak banyak. Tapi dimana lagi bisa nyari uang di masa seperti ini? Meskipun sedikit, daripada gak ada sama sekali. Di rumah tidur tiap hari aku gak dapat sepeser pun. Kini aku paham perasaan masyarakat yang bilang ‘lebih takut mati karena gak makan, dibanding sama corona.

Masalahnya adalah setelah kucari di google map, jarak kosan dengan kantornya bagai langit dan bumi – jauh. Gak bakalan cukup satu jam, kalau naik busway atau KRL. Belum lagi jarak stasiun terdekat kos lumayan jauh (gojek online ditutup sementara). Setengah jam-an kalau jalan kaki. Busway atau KRL baru beroperasi jam 6, sementara hari Senin diminta jam 7 udah di lokasi. Masalah berikutnya, Jakarta Selatan red zone Corona. Udah jauh dari tempat tinggal, harus jantungan setiap saat di bus atau KRL, atau mendapat sledingan dari teman sekamar yang nyuruh buru-buru mandi begitu sampai di kosan.

Baiklah, 05 Mei 2020, di usia baru seperempat abad di hari ini kuawali dengan pemberontakan. Aku keluar dari sangkar, mengejar kehidupan. Kuhirup dalam-dalam udara luar. Rasanya udara Jakarta tak pernah sesegar ini. Bangun jam setengah 5, tanpa mengisi perut, tanpa make-up, jam 5 tepat aku lari-lari ke stasiun kemayoran. Untung lagi bulan puasa, jadi jalanan udah ramai (habis pada sahur mungkin). Kalau jalanan sepi, aku ragu berani jalan kaki sendirian.

“Pak, Pak..hosh..hosh..itu....hosh..kereta tujuan Bogor?” tanyaku ngos-ngosan ke petugas stasiun. Pas aku nyampe ada kereta yang baru tiba. Perasaan tadi ngecek di aplikasi KRL tujuan Bogor jam 05.21 deh berangkatnya. Saat itu (berkat lari-lari) aku berhasil tiba di stasiun jam 05.16. 

“Oh bukan, itu tujuan Bekasi,” jelas si petugas.
Ah. Thanks God!
“Ini saya gak dicek, Pak suhunya?”
Si petugas pegang thermometer di tangannya tapi berlagak kayak gak mau cek suhu badanku.
“Gak usah, langsung aja, Bu.”        

Saya belum nikah, Pak! Ah udahlah. Mungkin dia kasian liat aku keringatan plus ngos-ngosan. Mungkin kalau dicek suhunya pasti tinggi angkanya, bukan karena demam tapi gara-gara barusan lari sprint. Di dalam kereta kumanfaatkan untuk make-over dikit-dikit muka yang udah ancur ini. Di dalam kereta sudah dibuat batas antar tempat duduk penumpang supaya gak berdekatan. Perjalanan dengan KRL 1 jam ini akan dilanjutkan dengan 20 menit jalan kaki dari stasiun terdekat ke plaza tempat kantornya berada. Kucek HP-ku karena tadi kayaknya ada SMS masuk. Siapa tau panggilan kerja di tempat lain. Ternyata :

Yth. Sdri.Magdalena P H,
Selamat Ulang Tahun, Smg
Panjang Umur, mudah rezekinya,
Tetap sehat dan bahagia
By_Unit Donor Darah PKY

Aku tertegun cukup lama memandangi SMS itu. Terharu, tak menyangka. Ucapan selamat ulang tahun pertama yang kudapat hari itu datang dari orang yang hanya sekali pernah kujumpai. Aku bahkan gak ingat tahun berapa pernah donor darah kesana. Pakai embel-embel ‘Yth’ segala pulak lagi. Aku kan jadi sempat ngira beneran panggilan pekerjaan.

*****
“Kalian harus bisa mengajak klien membayarkan tagihannya. Itulah tugas kalian sebagai desk call, ujung tombak perusahaan ini.”
Iya, aku ikut training di sebuah perusahaan pembiayaan untuk posisi super penting : Desk Call. Tugasnya nelpon klien biar mau bayar kredit bulanannya. Sama seperti pekerjaan 3 bulan di perusahaan sebelumnya, lagi-lagi aku harus berhubungan dengan customer tanpa tatap muka. Tugasnya simpel. Mengingatkan tagihan bulanan pelanggan, menagih ke pelanggan dan menggertak tentu saja kalau dia ngeyel gak mau bayar. Kami melakukan role play dengan trainer sebagai klien yang kredit barang. 

DC : Halo Bu Rani
T   : Iya
DC : Selamat pagi, saya Lena dr PT X. Saya menelpon Ibu terkait dengan pembayaran laptop ibu yang sudah terlambat pembayaran 5 hari sebesar 500 ribu rupiah. Kalau boleh tau ada kendala apa ya, Bu?
T : Saya gak punya uang, Mbak. Habis di-PHK karena corona. 

Nah, kami diajarin supaya tidak berhenti disitu saja setelah mendengar musibah si klien. Ada teknik untuk menggali keterangan lebih lanjut, baru diberikan solusi kepada si klien dan motivasi untuk membayar.

DC : Ibu saat ini punya tabungan, Bu?
T : Gak ada, Mbak. Udah habis buat keperluan sehari-hari, wong saya kena PHK gak punya gaji lagi.
DC : Baik. Saat ini ibunya punya penghasilan dari usaha lain?
T : Gak ada toh, Mbak. Saya cuma karyawan biasa di perusahaan itu. Gara-gara corona jadi begini. 
DC : Baik. Ibu kalau kesulitan dana biasanya minjam dengan siapa Ibu?
T : Biasanya dengan kakak saya. Tapi saya gak tau dia ada uang atau enggak.
DC : Ibu Rani, Ibu bisa diskusikan dengan kakaknya hari ini dan menyelesaikan pembayarannya hari ini Bu?
T : Gak tau, Mbak. Dia kan belum tentu punya uang.
DC : Kalau saya tunggu sampai besok bagaimana Ibu? Karena kalau ibu tidak bayar sampai besok saya khawatir ibu akan dikenakan denda sebesar 50 ribu rupiah dan itu akan memberatkan pembayaran Ibu.
T : Saya gak janji, Mbak.

(bersambung ---)

 Pas lagi serius ngikutin penjelasan trainer, HP-ku bergetar. Dad is calling. Pasti mau bilang selamat ulang tahun. Di grup keluarga juga udah ribut sodara-sodaraku yang lain ngucapin. Tanpa mengangkat telpon itu (anak durhaka emang), kukirim pesan ke WA keluarga. Adekku yang dikampung pasti baca dan ngasih tau bapake, kalau aku lagi ada interview kerjaan – nanti kuhubungi kalau udah di rumah.  

Kayaknya kalau diterima bekerja sebagai DC di perusahaan ini aku harus belajar jadi orang tega deh. Itu aja si ibu di kasus role play itu udah kena musibah di-PHK masih aja ditagihin. Iya sih, dari awal ngajukan kredit dia kan udah terikat kesepakatan. Harus tanggung jawablah. 

                                                                 *****

Usia 25 tahun, tapi pemikiran 15 tahun. Selesai training, aku buta arah mau pulang kemana dan naik apa. Biasanya kan tinggal pesan gojek online, ngetik lokasi penjemputan dan tujuan, kelar. Tapi gara-gara PSBB, go-ride dan grab motor ditiadakan. Naik go-car atau grab car? Gak mau lah aku, mahal!!! Bermodalkan GPS HP, kutelusuri jalanan daerah Pasar Minggu di bawah panasnya matahari minta ampun. Emak, hari ini anakmu ultah. Tapi bahkan jalan pun tak berpihak padaku. Aku bahkan gak berhasil menemukan stasiun tempatku turun. Tadi aku emang naik angkot dari stasiun ke lokasi training, kukasih 5 ribu ke supirnya. Tapi kali ini aku gak mau ngeluarin duit lagi. Toh gak buru-buru juga pulangnya. 

Kusetop sebuah angkot biru yang langsung berhenti dadakan.
“Lewat stasiun gak, Pak?”
“Stasiun apa?”
“Tanjung Barat,” kubilang.
Dia mengernyit bingung. “Di belakang sono tinggal jalan kaki aja, dari bawah terowongan.”

Setelah itu dia gas pol angkotnya, menyisakan abu yang tak sengaja ikut kuhirup. Huft.

Aku memandang jauh ke terowongan yang dimaksud. GPS di HP juga nunjukin arah stasiunnya ke sana sih. Tapi itu kan jalur jalan tol, masak pejalan kaki bisa lewat situ? Bagaimana pun aku gak mau mati di hari ulang tahunku. Kutanya lagi penduduk yang lagi nangkring di warteg.

“Kalau mau ke stasiun nanti tinggal lurus aja mbaknya, terus ambil ke kanan.”

Gila apa ya orang-orang. Itu terowongan jalan toll loh. Sebegonya aku, aku masih paham kalau jalan tol itu jalan bebas hambatan. Gak ada hambatan seperti lampu merah apalagi pejalan kaki, kan?!

Yaudahlah, daripada makin kelaparan dan berujung pingsan di bawah terik matahari yang semakin menggosongkan kulit yang sudah gosong dari lahir ini, aku pun bergerak sesuai arah GPS dan saran orang-orang itu. Ternyata..

Ternyata di samping jalan di bawah terowongan tol itu memang ada jalan lain yang tadi gak keliatan olehku karena belokan. Hahahaha. Setelah makin melangkah maju, jalan yang dimaksud ‘ambil kanan’ itu pun terpampang jelas. Dan memang itulah jalan yang tadi dilewati angkot yang membawaku ke plaza. Hampir aja aku dengan polosnya ngantar nyawa ke jalan tol. Beritanya pun pasti gak keren kalau masuk koran.


‘Seorang pencari kerja asal Samosir nekad menyeberang di jalan tol karena tidak mau rugi 5 ribu naik angkot menuju stasiun’


Berhasil menemukan stasiun (setelah gosong dan kelaparan tentunya), aku menidurkan diri di dalam kereta. Belum berniat membalas chat dari kawan-kawan yang bilang selamat ulang tahun. Nanti ajalah, sekalian tak balas. Tunggu banyak. Tapi baru tidur sepuluh menit, aku malah kebangun karena perut kembali ribut keroncongan. Padahal kereta masih di stasiun Sudirman, masih jauh. Seorang ibu dengan putri kecilnya baru turun melewati pintu. Tak sengaja mataku menangkap seorang bocah laki-laki yang tidur sendirian di bangku depanku. Busyet, ini anaknya kok ditinggal????

“Dek, dek.. dek..”
Si bocah laki-laki terbangun sambil mengucek matanya.
“Ibunya mana? Tadi sudah turun loh,” aku khawatir dia ketiduran dan gak sadar ibunya udah turun. Sebaliknya ibunya gak sadar anaknya masih ketinggalan di dalam kereta dan melenggang begitu saja.
Tapi si bocah dengan santainya malah menunjuk perempuan paruh baya yang duduk di sudut ujung kereta. Asem, aku salah sangka. Lagian kok dia duduk terpisah jauh banget dari mamaknya. Gak takut diculik apa?
Sibocah segera berlari ke tempat ibunya berada. Entah apa yang dia adukan ke ibunya, si ibu menatap aku tajam. Mungkin mengira aku tante-tante genit pencuri anak laki-laki di bawah umur. 

First birthday's message


My Little Brother 

My parner in  crime, my soulmate

Nainggolan Family WA's Group 

Yeah...

This girl, my soulmate in crime too.. Gume, kuterharuuuuu!! Dia minta no rek aku, mau ngasih uang jajan katanya. Yang udah kerja emang beda ya! 

One of lonely girl - Monkey Liar's roommate

She is a jurnalist now. Can't believe it, cause it's actually my dreammm..

Tempat SMP, SMA dan sekosan dulu waktu kuliah

Dia sekarang kerja di Hunan-China, pas ditanya di sana gimana Corona malah aman katanya


Tiup lilin online dari pulau seberang 
Well, 25 berpihaklah padaku. Quarter life crisis?!
God, aku gak minta banyak-banyak kok. Hm, cukup : sempatkan aku membahagiakan orang yang kucintai, pertemukan aku dengan impianku (You know me so well), pertemukan aku dengan seseorang berkepribadian seperti Suga BTS, dan kalau Kau berkenan, terbangkan aku ke Machu Picchu. Yuhuuuu!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...