Kamis, 14 Mei 2020

Training Desk Collection


Hari training ke-4 di perusahaan pembiayaan itu (PSBB of course masih berlaku). Materinya semakin kesini tentu saja semakin serius. Trainer kami orangnya kocak, kayaknya beliau asli Betawi kalau liat dari logatnya ngomong sama rekan sesama trainer-nya. Kata trainer ada 9 hari training dan di hari kesembilan nanti akan ada ujian final dengan memakai sistem di komputer. Tiga hari terakhir ini aku akhirnya naik motor nebeng sama kawan yang ikut training juga. Ini pertama kalinya buatku dibonceng kawan kebut-kebutan dari Kemayoran Jakarta Pusat ke Pasar Minggu Jakarta Selatan. Jarak itu dia tempuh hanya 30 menit udah termasuk isi bensin di pom. Apa orang Jakarta emang semua gitu bawa kendaraannya ya? Seolah-olah satu detik aja gak boleh terbuang sia-sia di jalan. Tancap gas pol terossss! Kalau udah sampai di kosan, jantungku yang capek karena harus deg-deg an sepanjang perjalanan. Dia cewek, tapi bawa motornya laju banget!

Aku mesti bangun jam 5 kurang 15 setiap pagi, karena butuh jalan kaki 20 menit ke rumah kawanku itu. Kami berangkat dari sana. Pulangnya, kebetulan training selesai jam 1, pas jalan kaki panasnya minta ampun. Aku gak minta dia jemput dan ngantar ke kosan. Yah mau gimana, kalau dia gak nawarin ya kan. Segan awak. Anggap ajalah jalan kaki 40 menit pp itu olahraga otot. Masih untung punya kawan yang bisa ditebengi. Kalau naik KRL harus bangun jam 4, toh jalan kaki juga dari kosan ke stasiun 40 menit, jalan kaki lagi dari stasiun ke lokasi training 20 menit.

Total pp jalan kaki kalau naik KRL = 120 menit
Total pp jalan kaki kalau nebeng naik motor = 40 menit  ΓΌ

Dari yang kutangkap materinya selama 4 hari ini, kami diajarkan untuk menjadi orang yang tegaan. Gimana coba, tetap harus menagih cicilan ke klien, meski si klien udah bilang dia lagi sakit di RS atau ortunya baru meninggal. Paling cuma menyampaikan empati di awal, tapi ujung-ujungnya di akhir tetap harus menagih cicilan si klien. Yah mau gimana, pekerjaan desk collection ini juga punya target. Kalau gak achieve, dikasih sanksi sama atasan. Kalau mau target tercapai dan dapat bonus, jadilah orang yang tegaan. Seperti kutipan di serial Harry Potter ‘Yang satu tak dapat bertahan sementara yag lain hidup.’ Sadis amat gak sih? Ada pengorbanan di sana. Tapi kalau dipikir-pikir sih, dari awal ngapain ngajuin kredit kalau gak yakin bisa bayar cicilannya tiap bulan ya kan? Mending beli barangnya bayar cash, selesai urusan. Gak ada utang tiap bulan.

Kami diberi tugas untuk membuat rekaman role play sebagai desk collection dan menagih klien. Setelah menulis skenarionya di buku, kuajak Wuri teman kosan untuk role play, dia sebagai klien. Selesai merekam, kudengarkan satu kali hasilnya lalu malamnya kukirim ke grup WA sesuai instruksi trainer. Aku sama sekali tidak sadar ada kesalahan besar dalam rekaman role play itu. Tadi siang pas training-lah baru ketahuan. Saat rekamannya diputar di tengah sesi training.

“Ibu sebelumnya sudah punya aplikasi My Indihome di HP-nya?”

Satu ruangan tergelak.
Ini gue training jadi desk collection di perusahaan pembiayaan atau call center di Indihome sih?
Wkwkwk. Gak fokus. Butuh akua.
Tapi ya gak jauh sih bedanya, ‘My Indihome’ dengan ‘My Hom* Cr***t’. Logonya pun sama-sama dasarnya merah dan ada bentuk rumahnya di simbolnya ituloh.


Oknum Desk Collection Bank Mega Berteriak di Telepon - Media Konsumen
desk collection-nya lagi baper


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...