Dimana-mana memang yang namanya marketing pasti ada target. Kalau jualannya oli, mungkin targetnya dalam liter atau tanki? Kalau jualannya plat, mungkin targetnya dalam ton. Kalau jualannya gak real (alias maya - gak bisa diraba), target tetap ada. Targetnya dalam rupiah. Nah, di perusahaan pialang ini targetnya minimal 3 akun yang deposit (3 orang) dengan minimal deposit 25 juta rupiah. Kalau di PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu)-Nya sih menyatakan 'jika bulan kedua belum deposit, maka gaji akan diberikan 50%. Bulan ketiga tidak deposit, gaji pokok tidak akan diberikan.' Kalau target tercapai? Ada bonus yang menanti, plus gaji gak dipotong.
Lagian siapa sih, yang mau gajinya dipotong. Semua telemarketing pasti berusaha keras bisa dapat deposit dari setiap calling-an yang dibuatnya. Di perusahaan ini pergantian telemarketingnya sangat cepat. Cepatnya itu mengalahkan laju motornya Stepen Willian di Anak Jalanan. Setiap minggu juga pasti ada yang training. Tiga hari training, Kamisnya masuk. Langsung calling. Gak ada training khusus cara menggaet orang supaya mau deposit. Cukup bermodalkan liat-liat orang lama di sekeliling, lalu praktekkan. Btw, deposit itu artinya dapat nasabah yang bersedia investasi.
Firman adalah cowok satu training denganku yang masuk ke tim Pak Charli. Sebagai seorang bapak yang baru punya bayi, dia sih gak punya pilihan kayaknya untuk cebur ke perusahaan pialang beginian.
"Makanya jangan buru-buru resign, Man dari tempat kerja," kami memutuskan untuk ngobrol aja setelah muak ditolak orang yang ditelpon padahal baru bilang 'dari perusahaan pialang'.
"Iya nih, Len. Kalau tau bakalan corona begini kayaknya gua gak bakalan ngajuin resign. Gua pikir bakalan bisalah nyari kerjaan yang baru. Eh, malah pandemi. Nganggur dah tuh gua 6 bulan, baru keterima di perusahaan pialang ini."
Tadinya sih kita bertiga anak baru di tim Charli. Tapi setelah hari keempat si Ozan memutuskan untuk gak lanjut. Dia datang balikin kartu akses dan HP kecil ke kantor.
Tanggal gajian kata HRD antara tanggal 5-10. Jadi, gak nentu tiap bulan. Bisa aja tanggal 6 atau tanggal 9. Aku masuk tanggal 18. Gak terasa baru masuk 9 hari, udah pergantian bulan. Tibalah pada tanggal gajian. Mengingat isi kontrak kerja tempo hari, aku sih yakin 100% gaji kami anak baru pasti belum dipotong. Kalau kuhitung-hitung dapatlah 1 jutaan. Lumayan buat beli celana ke PGC. Ampun dah, kerja di Jaksel orang-orangnya modis-modis amat. Awak sendirian yang berpenampilan macam manusia goa. Makanya sudah kususun rencana, begitu terima gaji mau ke PGC lah dulu beli beberapa helai baju dan celana. Kenapa PGC? Karena di Plaza Indonesia gak bisa tawar-menawar.
"Len, kita gajinya dipotong 50%."
Kalimat yang pertama kali kudengar begitu sampai di kantor dari Kak Tiar. Kami training dan tanda tangan kontrak bareng. Bedanya ya, dia sudah punya anak.
"HAH? Kita kan baru masuk! Masa udah dipotong? Ya iya belum deposit, tapi kan baru dua minggu.. terus -"
"Aku udah nanya Hesti, HRD. Semua anak baru dipotong langsung 50%. Kita kan ttd kontrak tanggal 18 tuh. Nah, kata si Hesti tanggal 19-nya Mr. Carol bikin kebijakan baru. Semua anak baru yang belum deposit, di bulan pertama langsung kena potong 50% juga."
Eh, bos bule Polandia kampretos!
Jelas aku gak terima. Ini namanya penindasan yang berujung penjajahan. Kita negara Indonesia sudah merdeka, dan menurut UUD 1945, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan., karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan!
Gak jadi ke PGC. Gak jadi beli baju. Gak jadi modis. Tetap kayak manusia goa.
Kalau aku aja yang belum punya anak panik, apalagi Kak Tiar yang udah punya. Suaminya juga kena PHK katanya. Oke, sebagai mantan aktivis di kampus, aku harus melakukan sesuatu. Gak mesti harus megang toa dan teriak-teriak di depan ruangan Mr Oscar dan Carol. Baiknya ngobrol dengan tim leader dulu.
"Liatlah, Len. Kalau sampai beneran gaji kita dipotong, besoknya aku gak datang lagi."
Jangan khawatir Kak Tiar. Aku juga gak bakalan datang lagi. (Dalam hati meringis, cari kerja kemana lagi hamba).
Jumat pagi, tanggal 03. Berhubung Sabtu kantor libur, gajian jadi dimajukan ke hari ini.
Kondisi kantor sunyi. Padahal kan harusnya berisik, karena kerjaan telemarketing nelpon sambil mondar mandir sana-sini. Mungkin pada gak semangat karena yang belum deposit bakalan terima gaji potongan 50%. Ini gak bisa dibiarkan. Mana sih tim leader kami, si Pak Charli. Kayaknya dari tadi sehabis breafing pagi, dia mondar-mandir keluar masuk sama direktur bule yang dua orang itu. Mereka kenapa sih?
"Pak, kita gak briefing?" langsung kutanya Pak Charli begitu dia duduk di kursinya.
"Oh iya. Ayok."
Semua orang di tim kami pindah ke ruangan tertutup di sebelah. Awas aja beneran di potong. Aku juga gak bakalan mau masuk lagi besok. Kalau perlu mau debat mulut dulu sama si bos bule. Niat gak sih bikin perusahaan? Apa yang udah di-ttd kemarin cuma formalitas aja?
"Pak, benar ya gaji anak baru langsung dipotong 50%? Kami kan memang belum dapat deposit, tapi sesuai PKWT kalau di bulan pertama masuk belum ada pemotongan meski gak deposit."
Langsung nyerocos aja awak. Udah panas dalam hati.
"Loh? Kamu tau darimana? Emang gaji udah ditransfer?" tanyanya balik.
"Belum, Pak. Tapi saya dapat info dari HRD. Semua anak baru yang belum deposit meski baru masuk langsung potong 50%. Itu benar?'
Pak Charli tarik nafas.
"Jadi gini, Len. Siapa sih yang mau dipotong gajinya? Gak ada kan?"
"Tapi pak, yang kami ttd kontrak kemarin tanggal 18 Juni itu, potongan itu di bulan kedua. Ini masih bulan pertama, baru 9 hari kami masuk. Bapak tau sendiri kan, ini bisnis. Landasan dasar sebuah bisnis apa? Kepercayaan! Semua orang yang datang bekerja ke perusahaan ini adalah orang-orang yang percaya bahwa perusahaan ini bisa mereka ajak kerja sama untuk tujuan perusahaan. Tapi ini apa, Pak? Kalau begini sih, saya sudah tau mau ngambil langkah selanjutnya bagaimana."
Gassss poolll!
Yang lain gak ada yang buka mulut. Asu, aing tak dapat pendukung. Si Firman juga tenang-tenang aja malah.
"Saya sudah bilang kan, di hari training ketiga kalau gak salah. Saya kasih kesempatan 2 minggu untuk anak baru dapat deposit. Kalau enggak, ya tetap dipotong."
"Loh, gak bisa begitu dong, Pak. Yang kita dengar dari penyampaian mbak Hesti di hari training pertama adalah di bulan pertama gaji masih utuh. Dibulan kedua baru dipotong 50%. Kalau memang ada perbedaan pernyataan itu berarti ketidaksinkronan antara bapak dengan HRD. Ada yang kurang komunikasi. Akhirnya bentrok begini kan."
Yang lain masih pada diam.
"Emang lu udah masuk berapa hari sih? 10 hari baru digaji. Kalau 9 hari belum."
"Lha mbak Hestinya sendiri yang bilang Pak, kami udah dipotong gajinya artinya udah ikut gajian dong.Wadooh, mana uang kosan udah numpuk gak bayar. Pulang dari sini digusur saya kayaknya nanti."
Pak Charli ketawa. Begitu juga yang lain. Asu sekali ya. Orang lagi berduka, malah ditertawakan.
"Berapa emang uang kosmu yang nunggak itu?" dia malah nanya jumlah.
"Bapak mau bayarkan?"
"Iya, berapa?"
"Gak usahlah, Pak saya kasih tau. Saya aja yang handle itu."
"Gini aja. Nanti saya ngomong ke Hesti dulu. Apakah kalian anak baru memang udah ikut gajian apa belum."
Briefing bubar setelah membahas masalah gaji. Padahal biasanya briefing tim itu untuk evaluasi script penelponan, kenapa belum deposit, cek catatatn KYC.
Sambil tetap menahan pergolakan emosi negatif, kerjaan tetap berjalan. Aku tetap nelpon. Jam tetap berdetak, si bule polandia tetap di ruangannya. Tapi kali ini ada yang beda. Raut muka keduanya seperti ditekuk. Kuliat white board dimana tertulis : target 510/750 jt. Belum tercapai 100%.
Hm. Apa aku keterlaluan? Mereka sebagai direktur juga pasti pusing ya, memikirkan pemasukan. Kan pemasukan emang dari komisi orang-orang yang invest. Kalau gak ada yang invest, pemasukan 0. Padahal masih harus bayar sewa gedung, isi pulsa telpon telemarketing, beli masker, tisu, kopi-gula. Oh iya, bayar 50% gaji karyawan yang belum deposit juga.
Tapi kan, aku hanya meminta sesuai yang kutandatangani. Kalau gak mau dituntut ya, perbaiki PKWT-nya lebih baik. Daripada membuat orang berharap pada isinya, yang tidak sesuai kenyataan. Eh, belum. Belum ada kenyataannya karena gajinya belum masuk.
Tepat jam 3 sore ada suara gaduh dari tim lain. Antara dua sih, mungkin ada yang dapat deposit atau gaji udah masuk. Kayaknya sih yang kedua, karena tak seorang pun dari tim itu yang bergegas ke lonceng dekat pintu. Kalau ada yang deposit pasti langsung melonceng. Iya, lonceng beneran. Yang kayak di sekolahan SD gua dulu.
Buru-buru kucek m-banking.
Tertera : Salary June ... Rp.1,142,857
Loh kok?! Bentar deh, menurut keterangan si Pak Charli cara penghitungan gaji begini rumusnya. Jumlah hari lu masuk (masa iya absen dibayar) dibagi jumlah total hari kerja dalam sebulan (Sabtu dan Minggu tidak dihitung) dikalikan dengan 3 juta. Karena anak baru gak usah kalikan dengan 50%. Gak mau ah langsung dipotong. Enak aja!
9/20 X 3.000.000 = 1.350.000
Perasaan gua gak pernah datang telat. Pernah sih, cuma 2 menit doang. Itupun harusnya cuma potong 20 ribu. Pakai baju juga selalu sesuai dengan yang sudah ditentukan. Pernah sih sekali gak sesuai, harusnya baju batik gua malah lupa. Tapi itu pun harusnya potong 50 ribu doang. Kenapa malah kurang 200 ribuan? Kampret amat ini perusahaan bule.
Iya sih, gak jadi dipotong, tapi kenapa malah jadi kurang begini. Pengen mencak-mencak lagi tapi udah males. Ke PGC juga males. Biar aja jadi manusia goa.
"Man, lu dapat berapa?"
Si Firman dengan wajah lemas yang biasanya nunjukin m-banking nya. 990.000
"Lu kan pernah gak masuk sekali?" tanyaku.
"Iya, itu doang gua. Masa langsung beda 152 ribu sama lu Len?"
"Tau ah. Tanya bule sono pake bahasa Polandia. Atau bahasa Sunda aja lu."
Malamnya si Pak Charli kirim WA.
Lena kurang berapa emang? Sini no rekeningnya, saya transfer.
Kampret. Bukan begini yang gua harapkan. Seolah-olah gua dikasihani. Dan gua gak butuh itu. Masih lengkap ortu gua, fisik gua juga masih berfungsi dengan sempurna. Yang gua mau cuma transparansi perusahaan. Tapi si Resty tadi siang malah bilang gak ada slip gaji pas gua tanyain. Ini lagi si Charli minta no rekening.
Meski menggiurkan, tapi gua mencoba tetap bersikap keren, sekeren gua tadi siang mencak-mencak sama dia.
Gak usah Pak. Nanti aja kalau saya sudah gak punya uang lagi, saya minta uang bapak.
Somehow, gua ngerasa meski beliau satu suku dengan gua, bahkan satu marga dengan gua, ada yang kurang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar