Sabtu, 18 Juli 2020

Ferrari Team


Nama-nama tim TM (telemarketing) di perusahaan pialang tempatku bekerja diwakili oleh nama mobil. Tim Lamborghini, Bugatti, Ferrari, Mercedez, Jaguar, Audi, Porche. Setiap tim diketuai oleh seorang tim leader yang bertugas membuat skrip penelponan dan.. dan.. kayaknya tugasnya itu aja?! Nama tim kami : Ferrari. Seumur-umur hidup aku sendiri gak pernah tau gimana bentukan si Ferrari ini. Mungkin sangat-sangat mewah? Ada kulkas dan rak minuman keras di dalamnya? Atau mungkin bisa teleportasi tuh mobil? Gak tau, gelap. Daripada mikirin si Ferrari mending mikirin gimana caranya bisa closing. Kalau gak, bulan ini dapat gaji 50%.

Tim kami diketuai.. maksudku dileader-i oleh Pak Charli. Nama aslinya sebenarnya batak abis, Charles Parulian. Tapi beliau memperkenalkan diri ke kami (dan kedunia mungkin?) sebagai Charli. Katanya singkatan dari Charles Parulian. Suka-suka beliau lah ya. Gak usah kita pusingkan itu. Gitu-gitu beliau sudah pernah ke Jepang diajak bosnya waktu masih kerja di Daihatsu katanya. Dan ya, beliau sudah hidup di dunia marketing kurang lebih 10 tahun, kalau gak salah dengar.

“Seumur-umur saya bekerja di dunia marketing, di sinilah bonus terbesar yang pernah saya rasakan. Di sini penghasilan kalian bergantung dari kerja keras masing-masing. Mau gaji 3 juta, 6 juta? 10 juta? Semua ditentukan kalian!”

Pak, kita baru canvas aja udah dimatiin teleponnya pas nyebutin ‘saham’ atau ‘pialang’ atau broker. Lagian menurut bapak berapa persen sih orang kaya di Jakarta ini dari total penghuninya? Belum lagi saingan dengan perusahaan pialang lain.

“Kalian bisa belajar dari youtube atau film Wolf Of The Street. Ingat metode ATM – Amati, Tiru, dengan sedikit Modifikasi.”

Tim Ferrari terdiri dari 7 orang telemarketing, termasuk aku dan Firman sebagai anak baru. Telemarketing lama ada ada Bang Rio yang kebelet nikah, Mbak Dwi yang udah nikah, Bang Ayub yang entah udah nikah, Abie mahasiswa part time dan terakhir Dewi, cewek cantik yang cocok jadi resepsionis hotel bintang 5 daripada nawarin investasi saham dari telepon. Mbak Dwi adalah pemenang kontes sepeda motor beat dengan total jumlah deposit 300 juta pada bulan Juni. Udah dapat motor dari direktur bule, dapat HP lagi dari Pak Charli. Kalau dihitung-hitung, Mbak Dwi dapat total sekitar 35 juta dalam bulan Juni, termasuk gaji + bonus dan hadiahnya itu tadi.

“Mbak, mau tanya dong. Mbak Dewi dapat klien dari database kantor atau relasi sendiri?” suatu pagi di toilet kami bertemu. Aku memang selalu ke toilet sebelum masuk ke kandang singa (baca : kantor).

“Semua relasi, Len. Jujur kalau mengandalkan database sih ya, susah. Tapi bukannya gak mungkin. Saya dulu baru-baru masuk memang mengandalkan database kantor hingga dua bulan gak deposit-deposit juga. Bulan ketiga saya tawarin ke relasi untuk berinvestasi.”

Uh. Apalah dayaku yang gak punya relasi orang kaya. Keturunan Oppu Ririn (kakekku dari bapak) yang mungkin bisa dibilang paling kaya adalah adik perempuan bapakku yang PNS itu. Tapi dia bahkan kaya bukan karena PNS-nya, tapi karena punya sawah luassss. Dia kaya karena jadi tauke beras.

Rutinitas pagi adalah baca harga saham dan berita internasional hari itu. setiap tim mendapat giliran yang sama untuk mengutus dua orang anggotanya – satu baca harga, satu baca berita. Setelah berdoa, lanjut dengan briefing masing-masing tim.

“Gimana skripnya, ada yang minta skrip baru, biar saya ganti?” tanya Charli saat kami briefing tim di ruangan sebelah.

Skrip lu sih udah bagus, Pak. Kayaknya. Mungkin database aja yang kurang bagus.

Dari setumpukan kertas berisi nomor HP orang yang gua telepon dalam satu hari, paling banyak hanya 5 orang yang bersedia ngobrol denganku tentang pasar modal dan investasi saham ini. Setelah ditelusuri ternyata mereka adalah orang-orang yang berprofesi sebagai petani, nelayan, buruh harian yang rumahnya jauh dari pusat kota dan akses intenet. Pantes betah dengarin awak ngobrol. Karena kalau itu orang yang sudah tau tentang investasi saham pasti langsung dimatiin. Penyebabnya sederhana, ia pernah loose banyak. Jadinya trauma.  

Karena gak ada jawaban Pak Charli lanjut. “Lho, tukang siomay mana?”

Satu lagi penyakit beliau adalah memanggil kami dengan sebutan seenak ud*l beliau. Aku dipanggil tukang jamu gendong. Firman dipanggil tukang es lilin. Bang Ayub dipanggil tukang kerak telor. Si Abie dipanggil tukang siomay. Tukang siomay, eh maksudku si Abie ini memang sering gak masuk karena sambil kuliah itu kali ya. Tapi kami senang-senang aja tuh diberi panggilan baru.

“Kayaknya ujian dia, Pak hari ini,” yang jawab Bang Rio.

“Lena Jamu Gendong ada yang mau ditanyakan?”

Sesaat aku ragu. Kalau jawab ‘gak ada’ berarti gua beneran tukang jamu gendong nih?!

“Oh iya, Pak. Gimana jawab ke calon klien di telepon kalau dia bilang gak tertarik padahal kita belum jelaskan apa-apa?”

“Gampang. Pokoknya setiap ada penolakan dari dia, jawab aja ‘gak masalah. Gak masalah Pak/Bu. Awalnya semua klien kita juga ngomong begitu. Beri saya dua menit saja untuk menyampaikan. Dia bilang lagi gak punya uang juga jawab dengan gak masalah.”

Tahap-tahap bisa closing / mendapatkan deposit menurut seorang Charli adalah sebagai berikut.

1.                       Dapatkan 100 KYC (calon klien yang sudah lengkap datanya berupa pekerjaan, domisili, pengalaman investasi, no WA)

2.                       Ajak meeting atau video call

3.                       Tetap jalin hubungan baik.

Jam kerja juga terbagi atas 3 sesi setiap harinya. Canvas, Sale Hour, Anti Sale.

Contoh percakapan Canvas antara telemarketing (TM) dengan calon klien (CK) :

TM : Selamat pagi.

CK : Pagi. Darimana ya?

TM : Iya, maaf ganggu Pak. Saya Lena dari perusahaan pialang ternama di Jakarta. Kebetulan saya sebagai konsultan bisnis ingin menyampaikan info seputar pasar modal kepada bapak.

CK : Gak..gak..gak! gak tertarik. Makasih ya. Saya gak punya uang.

TM : Bapak kalau saya WA dulu informasinya bagaimana, Pak? Dibaca-baca dulu, tidak ada ruginya buat bapak.

CK : Yaudah

 

Klik. Dimatikan. Padahal pas udah save nomornya, gak ada tuh WA-nya. Kampret sekali. Padahal main HP untuk buka WA saat kerja resikonya sangat besar. Duo bule gak pernah senang kalau TM kebanyakan main WA. Mr Oskar pernah muncul di balik bahu Bang Ayub dan speaking bahasa, “WA tidak bagus. Telpon. Telpon!”

Makanya kita kalau buka HP mesti ekstra hati-hati. Sebenarnya kirim WA ke calon klien sangat bermanfaat karena bisa mengirimkan profile company dan jenis bisnis perusahaan. Daripada ngomong panjang di telepon kan malah ngabisin pulsa. Tapi menurut Mr Oskar kirim WA itu adalah pekerjaan yang sia-sia. ‘Belum tentu mereka baca itu. Tidak, saya yakin sekali mereka tidak akan baca itu’.

Kadang gua suka kibulin juga tuh calon klien. ‘Pak, bisnis ini gak butuh modal loh.’ Terus dia langsung tertarik. “Oh ya?”

“Iy, Pak. Hanya butuh 10 juta.”

Tut..tut..tut.

Anti sale adalah saatnya merekomendasikan saham-saham yang profitnya besar. Saham perusahaan teknologi seperti, Apple, Microsoft, google, facebook, Amazon. Entahlah apa dosa gua di masa lalu. Seorang sarjana teknik pertambangan berkutat dengan dunia investasi saham.

“Pasti bapak mainnya forex, kan? Pantes loose, Pak. Yang saya tawarkan ini beda. Ini saham internasional. Bapak tau perusahaan-perusahaan keren di Amerika seperti perusahaan apple?”

“Gak..Gak..Gak..”

Bilangnya ‘gak’ tapi teleponnya gak dimatikan. Gimana sih si bapak. Kalau kesepian bilang aja, Pak.

Selanjutnya sale hour. Saat dimana para TM pada posisi hot seat. Secara terjemahan langsung harusnya hot seat artinya ‘duduk panas’. Faktanya kami malah berdiri sambil menelepon sambil mondar-mandir. Menurut Charli posisi hot seat memungkinkan pembicaraan dengan calon klien mengalir lancar. Lancar apanya, baru nyebut selamat pagi aja udah dimatikan. Ngobrol sambil mondar-mandir? Aku malah deg-deg an jantungnya – capek.

Kadang ada juga TM yang tetap main WA pada jam krusial seperti sale hour. Jadilah Mr Oskar keluar dari kandangnya dan teriak, “Hot seat, guys. Hot seat!” Ia ngomong begitu sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya. Ia langsung mondar-mandir di antara para telemarketing dan membuat semua orang sontak mondar-mandir juga. Padahal teleponnya aja belum diangkat diseberang.

Huft, penjajahan ini kapan berakhir?!

Target bulan Juni lalu aja gak tercapai – 750 juta. Sama si bos bule malah dinaikkan jadi 1 M di bulan Juli. 1 Milliar loh! Itu uang semua lu tanya? Enggak, sebagian daun kering. Sudah memasuki bulan kedua di bulan Juli tapi baru satu orang TM yang deposit, itupun hanya 24 juta. Setidaknya dia sudah aman gak kena potong bulan ini.

“Sini buku you,” Pak Charli memeriksa setiap buku TM tim Ferrari pada saat briefing tim selesai makan siang. Ini akibat si bos bule menekan para tim leader. Team leader ditekan direktur, lanjut tim leader menekan telemarketing. Tongkat estafet kepenekanan berlanjut seperti itu. Telemarketing? Menekan calon klien lah! Jadi jangan salahkan kalau TM mulai emosian saat dengar jawaban di telepon.

“Liat ini, Man. Cuma ada 2 kontak yang kamu dapatkan KYC-nya tadi pagi?”

Firman cuma bisa berdiri dalam diam. Selanjutnya Charli ngecek buku-buku TM yang lain.

“Nah kayak gini udah benar. Punya Lena sudah ada tanggalnya. Jadi tiap hari, lu bikin tanggalnya. Bikin dari nomor satu, jangan disambung yang hari sebelumnya. Gak begitu ya, Rio.”

“Bukannya kalau disambung kan Pak, dari nomornya kita jadi tau udah berapa jumlah KYC yang dapat?”

“Gak begitu, Rio.”

Mulailah pengejewantahan panjang siang itu.

I need a cup of coffe for my brain. Sebelum ngantuk menyerang lebih ganas!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...