Nama-nama
tim TM (telemarketing) di perusahaan pialang tempatku bekerja diwakili oleh
nama mobil. Tim Lamborghini, Bugatti, Ferrari, Mercedez, Jaguar, Audi, Porche. Setiap
tim diketuai oleh seorang tim leader yang bertugas membuat skrip penelponan
dan.. dan.. kayaknya tugasnya itu aja?! Nama tim kami : Ferrari. Seumur-umur
hidup aku sendiri gak pernah tau gimana bentukan si Ferrari ini. Mungkin sangat-sangat
mewah? Ada kulkas dan rak minuman keras di dalamnya? Atau mungkin bisa teleportasi
tuh mobil? Gak tau, gelap. Daripada mikirin si Ferrari mending mikirin gimana
caranya bisa closing. Kalau gak,
bulan ini dapat gaji 50%.
Tim
kami diketuai.. maksudku dileader-i
oleh Pak Charli. Nama aslinya sebenarnya batak abis, Charles Parulian. Tapi
beliau memperkenalkan diri ke kami (dan kedunia mungkin?) sebagai Charli.
Katanya singkatan dari Charles Parulian. Suka-suka beliau lah ya. Gak usah kita
pusingkan itu. Gitu-gitu beliau sudah pernah ke Jepang diajak bosnya waktu
masih kerja di Daihatsu katanya. Dan ya, beliau sudah hidup di dunia marketing
kurang lebih 10 tahun, kalau gak salah dengar.
“Seumur-umur
saya bekerja di dunia marketing, di sinilah bonus terbesar yang pernah saya
rasakan. Di sini penghasilan kalian bergantung dari kerja keras masing-masing. Mau
gaji 3 juta, 6 juta? 10 juta? Semua ditentukan kalian!”
Pak, kita baru canvas aja udah
dimatiin teleponnya pas nyebutin ‘saham’ atau ‘pialang’ atau broker. Lagian menurut
bapak berapa persen sih orang kaya di Jakarta ini dari total penghuninya? Belum
lagi saingan dengan perusahaan pialang lain.
“Kalian
bisa belajar dari youtube atau film Wolf Of The Street. Ingat metode ATM –
Amati, Tiru, dengan sedikit Modifikasi.”
Tim
Ferrari terdiri dari 7 orang telemarketing, termasuk aku dan Firman sebagai
anak baru. Telemarketing lama ada ada Bang Rio yang kebelet nikah, Mbak Dwi
yang udah nikah, Bang Ayub yang entah udah nikah, Abie mahasiswa part time dan terakhir Dewi, cewek cantik
yang cocok jadi resepsionis hotel bintang 5 daripada nawarin investasi saham
dari telepon. Mbak Dwi adalah pemenang kontes sepeda motor beat dengan total jumlah
deposit 300 juta pada bulan Juni. Udah dapat motor dari direktur bule, dapat HP
lagi dari Pak Charli. Kalau dihitung-hitung, Mbak Dwi dapat total sekitar 35
juta dalam bulan Juni, termasuk gaji + bonus dan hadiahnya itu tadi.
“Mbak,
mau tanya dong. Mbak Dewi dapat klien dari database kantor atau relasi sendiri?”
suatu pagi di toilet kami bertemu. Aku memang selalu ke toilet sebelum masuk ke
kandang singa (baca : kantor).
“Semua
relasi, Len. Jujur kalau mengandalkan database sih ya, susah. Tapi bukannya gak
mungkin. Saya dulu baru-baru masuk memang mengandalkan database kantor hingga
dua bulan gak deposit-deposit juga. Bulan ketiga saya tawarin ke relasi untuk
berinvestasi.”
Uh.
Apalah dayaku yang gak punya relasi orang kaya. Keturunan Oppu Ririn (kakekku dari bapak) yang mungkin bisa dibilang paling kaya adalah adik perempuan bapakku yang
PNS itu. Tapi dia bahkan kaya bukan karena PNS-nya, tapi karena punya sawah
luassss. Dia kaya karena jadi tauke
beras.
Rutinitas
pagi adalah baca harga saham dan berita internasional hari itu. setiap tim
mendapat giliran yang sama untuk mengutus dua orang anggotanya – satu baca
harga, satu baca berita. Setelah berdoa, lanjut dengan briefing masing-masing
tim.
“Gimana
skripnya, ada yang minta skrip baru, biar saya ganti?” tanya Charli saat kami
briefing tim di ruangan sebelah.
Skrip lu sih udah bagus, Pak.
Kayaknya. Mungkin database aja yang kurang bagus.
Dari
setumpukan kertas berisi nomor HP orang yang gua telepon dalam satu hari,
paling banyak hanya 5 orang yang bersedia ngobrol denganku tentang pasar modal
dan investasi saham ini. Setelah ditelusuri ternyata mereka adalah orang-orang
yang berprofesi sebagai petani, nelayan, buruh harian yang rumahnya jauh dari
pusat kota dan akses intenet. Pantes betah dengarin awak ngobrol. Karena kalau
itu orang yang sudah tau tentang investasi saham pasti langsung dimatiin.
Penyebabnya sederhana, ia pernah loose
banyak. Jadinya trauma.
Karena
gak ada jawaban Pak Charli lanjut. “Lho, tukang siomay mana?”
Satu
lagi penyakit beliau adalah memanggil kami dengan sebutan seenak ud*l beliau.
Aku dipanggil tukang jamu gendong. Firman dipanggil tukang es lilin. Bang Ayub
dipanggil tukang kerak telor. Si Abie dipanggil tukang siomay. Tukang siomay,
eh maksudku si Abie ini memang sering gak masuk karena sambil kuliah itu kali
ya. Tapi kami senang-senang aja tuh diberi panggilan baru.
“Kayaknya
ujian dia, Pak hari ini,” yang jawab Bang Rio.
“Lena
Jamu Gendong ada yang mau ditanyakan?”
Sesaat aku ragu. Kalau jawab ‘gak ada’
berarti gua beneran tukang jamu gendong nih?!
“Oh
iya, Pak. Gimana jawab ke calon klien di telepon kalau dia bilang gak tertarik padahal kita belum
jelaskan apa-apa?”
“Gampang.
Pokoknya setiap ada penolakan dari dia, jawab aja ‘gak masalah’. Gak masalah
Pak/Bu. Awalnya semua klien kita juga ngomong begitu. Beri saya dua menit saja
untuk menyampaikan. Dia bilang lagi gak punya uang juga jawab dengan gak masalah.”
Tahap-tahap
bisa closing / mendapatkan deposit menurut
seorang Charli adalah sebagai berikut.
1.
Dapatkan 100 KYC (calon klien yang sudah
lengkap datanya berupa pekerjaan, domisili, pengalaman investasi, no WA)
2.
Ajak meeting
atau video call
3.
Tetap jalin hubungan baik.
Jam
kerja juga terbagi atas 3 sesi setiap harinya. Canvas, Sale Hour, Anti Sale.
Contoh
percakapan Canvas antara telemarketing (TM) dengan calon klien (CK) :
TM : Selamat pagi.
CK : Pagi. Darimana ya?
TM : Iya, maaf ganggu Pak. Saya Lena
dari perusahaan pialang ternama di Jakarta. Kebetulan saya sebagai konsultan
bisnis ingin menyampaikan info seputar pasar modal kepada bapak.
CK : Gak..gak..gak! gak tertarik.
Makasih ya. Saya gak punya uang.
TM : Bapak kalau saya WA dulu
informasinya bagaimana, Pak? Dibaca-baca dulu, tidak ada ruginya buat bapak.
CK : Yaudah
Klik.
Dimatikan. Padahal pas udah save
nomornya, gak ada tuh WA-nya. Kampret sekali. Padahal main HP untuk buka WA
saat kerja resikonya sangat besar. Duo bule gak pernah senang kalau TM
kebanyakan main WA. Mr Oskar pernah muncul di balik bahu Bang Ayub dan speaking bahasa, “WA tidak bagus.
Telpon. Telpon!”
Makanya
kita kalau buka HP mesti ekstra hati-hati. Sebenarnya kirim WA ke calon klien
sangat bermanfaat karena bisa mengirimkan profile
company dan jenis bisnis perusahaan. Daripada
ngomong panjang di telepon kan malah ngabisin pulsa. Tapi menurut Mr Oskar
kirim WA itu adalah pekerjaan yang sia-sia. ‘Belum tentu mereka baca itu. Tidak, saya yakin sekali mereka tidak akan
baca itu’.
Kadang
gua suka kibulin juga tuh calon klien. ‘Pak, bisnis ini gak butuh modal loh.’ Terus
dia langsung tertarik. “Oh ya?”
“Iy,
Pak. Hanya butuh 10 juta.”
Tut..tut..tut.
Anti sale
adalah saatnya merekomendasikan saham-saham yang profitnya besar. Saham
perusahaan teknologi seperti, Apple, Microsoft, google, facebook, Amazon.
Entahlah apa dosa gua di masa lalu. Seorang sarjana teknik pertambangan berkutat
dengan dunia investasi saham.
“Pasti bapak mainnya forex, kan?
Pantes loose, Pak.
Yang saya tawarkan ini beda. Ini saham internasional. Bapak tau
perusahaan-perusahaan keren di Amerika seperti perusahaan apple?”
“Gak..Gak..Gak..”
Bilangnya
‘gak’ tapi teleponnya gak dimatikan. Gimana sih si bapak. Kalau kesepian bilang
aja, Pak.
Selanjutnya
sale hour. Saat dimana para TM pada
posisi hot seat. Secara terjemahan
langsung harusnya hot seat artinya
‘duduk panas’. Faktanya kami malah berdiri sambil menelepon sambil
mondar-mandir. Menurut Charli posisi hot
seat memungkinkan pembicaraan dengan calon klien mengalir lancar. Lancar
apanya, baru nyebut selamat pagi aja udah dimatikan. Ngobrol sambil
mondar-mandir? Aku malah deg-deg an jantungnya – capek.
Kadang
ada juga TM yang tetap main WA pada jam krusial seperti sale hour. Jadilah Mr Oskar keluar dari kandangnya dan teriak, “Hot
seat, guys. Hot seat!” Ia ngomong begitu sambil menepuk-nepukkan kedua telapak
tangannya. Ia langsung mondar-mandir di antara para telemarketing dan membuat
semua orang sontak mondar-mandir juga. Padahal teleponnya aja belum diangkat
diseberang.
Huft,
penjajahan ini kapan berakhir?!
Target
bulan Juni lalu aja gak tercapai – 750 juta. Sama si bos bule malah dinaikkan
jadi 1 M di bulan Juli. 1 Milliar loh! Itu uang semua lu tanya? Enggak,
sebagian daun kering. Sudah memasuki bulan kedua di bulan Juli tapi baru satu
orang TM yang deposit, itupun hanya 24 juta. Setidaknya dia sudah aman gak kena
potong bulan ini.
“Sini
buku you,” Pak Charli memeriksa setiap buku TM tim Ferrari pada saat briefing
tim selesai makan siang. Ini akibat si bos bule menekan para tim leader. Team
leader ditekan direktur, lanjut tim leader menekan telemarketing. Tongkat
estafet kepenekanan berlanjut seperti itu. Telemarketing? Menekan calon klien
lah! Jadi jangan salahkan kalau TM mulai emosian saat dengar jawaban di
telepon.
“Liat
ini, Man. Cuma ada 2 kontak yang kamu dapatkan KYC-nya tadi pagi?”
Firman
cuma bisa berdiri dalam diam. Selanjutnya Charli ngecek buku-buku TM yang lain.
“Nah
kayak gini udah benar. Punya Lena sudah ada tanggalnya. Jadi tiap hari, lu
bikin tanggalnya. Bikin dari nomor satu, jangan disambung yang hari sebelumnya.
Gak begitu ya, Rio.”
“Bukannya
kalau disambung kan Pak, dari nomornya kita jadi tau udah berapa jumlah KYC
yang dapat?”
“Gak
begitu, Rio.”
Mulailah
pengejewantahan panjang siang itu.
I need a cup of coffe for my brain.
Sebelum ngantuk menyerang lebih ganas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar