Jumat, 03 Juli 2020

Kembali Dijajah?

Akhirnya seseorang yang gak punya tujuan jelas sepertiku mau jadi apa setelah lulus kuliah hanya bisa berakhir jadi telemarketing di ibukota. Bukan karena ngomongnya jago menawarkan produk, tapi karena itu satu-satunya pekerjaan yang mencantumkan sayarat 'semua jurusan'. Kalau di perusahaan 3 bulan tempatku sebelumnya produknya masih real - bisa disentuh dan diraba, maka kali ini di tempat yang baru produknya sama sekali gak real. Karena ya yang dijual saham, tepatnya harga sahamnya. Sahamnya apple, facebook, google, komoditi seperti gold, ada juga oil (WTI) dan forex (mata uang asing). Semua produk tersebut tidak bisa disentuh, tapi harganya juga lebih mahal dibanding harga AS batangan diameter 8mm sebanyak 1 ton. Kenapa? Ini saham loh, di pasar modal internasional pulak. Ini juga masa-masa pemulihan ekonomi setelah corona tempo hari, yang mana keuangan orang-orang tidak seindah harapan anak-anak marketing yang dikejar target. Jadi sebenarnya aku keluar dari lubang buaya, lalu masuk ke kandang macan tutul. 

Segalak-galaknya atasanku di tempat lama, aku masih bisa tetap dapat gaji sesuai yang tertera pas tanda tangan kontrak. Dan gak akan dikurangi meski target penjualanku gak tercapai. Tapi di sini... di perusahaan pialang milik duo bule Polandia yang entah sudah menikah atau belum ini (kurasa belum sih), kalau dalam dua bulan aku gak dapat nasabah, maka gajiku pokok pun akan dikurangi 50% di bulan kedua setelah bergabung, dan 100% tidak dapat di bulan ketiga. Itu kalau gak dapat nasabah sama sekali. Sakit sekali memang. 

Rutinitas pagi kami adalah baca harga. Ada satu yang membacakan harga saham hari itu, lalu dilanjutkan baca berita internasional yang sekiranya bisa disampaikan ke calon nasabah untuk menarik perhatiannya. Setelah itu dilanjutkan dengan meeting per tim. TL kami yang merangkap sales manager itu kebetulan orang batak bermarga siregar. Beliau orang besar - badannya maksudku. 

"Jangan pernah percaya omongan klien 100%. Kalau dia bilang gak punya uang apalagi. Emang kamu sudah cek ATM-nya? Kalau kamu percaya dia gak punya uang berarti kan kamu sudah cek ATM-nya dan tau password-nya. Itu baru kamu bisa percaya."

Yah, otakku 'dicuci' lagi di tempat baru ini.

Target yang diberikan sebenarnya gak berat kalau keluarga/kerabat loe orka semua. Cukup 3 orang yang buka akun dengan nominal 25 juta. Udah, segitu aja target minimal. Tapi kalau gak punya kerabat orka, jadilah lo mengharapkan database yang dari kantor, yang udah diputar-putar dari satu tim ke tim lain. Sehingga setiap ditelpon, orangnya nyahut, "Sudah pernah, Mbak saya ditelpon sekitar 10 kali."

Kalau begitu langsung kujawab, "Oh, berarti ini yang kesebelas kalinya ya, Pak."
Padahal gak lucu, tapi orang di seberang malah ketawa. Dari situ mengalirnya pembicaraan kami seputar bisnis trading online ini. Meski pada akhirnya dia gak tertarik buka akun. Entah karena gak berminat, gak punya modal, gak mau main trading online lagi karena pernah lose besar-besaran. 

"Justru kita beda, Pak. Yang mau saya tawarkan ini saham dan bukan saham lokal, melainkan saham internasional. Bapak tidak ingin mengembalikan lose bapak dulu? Karena saham ini lebih low risk sebab tradingnya hanya 6 jam dan tidak perlu diawasi. Bapak bisa tetap tidur dengan tenang."

"Gak dulu deh, Mbak. Lagian kondisi juga sedang begini. Kapan-kapan aja ya.."
Kalau calon klien udah jawab begitu, langsung tembak : "Tapi Pak, saya boleh ya kirim-kirim ke WA bapak kalau nanti ada info-info menarik tentang pasar modal internasional. No yang saya hubungi ada WA-nya kan, Pak?"

"Iya, Mbak. Kirim aja."

Padahal Mr. Oscar maupun Mr Carol gak begitu senang kalau kami usahanya sebatas kirim WA. Beliau berpendapat bahwa berbicara langsung di telepon akan memberikan efek yang lebih besar untuk mengajak si klien. Tapi ya, kami tetap aja berusaha kirim WA. Banyak juga telemarketing yang masih di luar padahal jam makan siang / break sudah berakhir. 

"Guys, break is over. Let's get started...!" 

Mr Oscar yang lebih sering teriak begini. Dia bakalan keluar dari ruangannya dan menepukkan kedua tangannya meminta kami para rakyatnya segera mulai calling

Di lain hari pada saat jam hot seat (sale hour), seharusnya semua telemarketing ambil posisi berdiri. Tapi ada aja yang gak mau berdiri dan tetap pada posisi duduk cantik. Menurut Mr Oscar juga, berdiri akan membuat pembicaraan lebih mengalir, tidak kaku, karena perkataan yang mau disampaikan gak tertahan sama pantat. 

"Hot seat, hot seat! Take your position, put some energy. Make your customers believe in what you talk about!" Dan selalu ada Ola, si cewek penerjemah di sisi beliau yang menyampaikan terjemahan ke kami seperti google translate. 
Tiba-tiba Mr Oscar nongol ke tim kami, dan nyamperin pundak Bang Ayub, telemarketing yang duduk disebelah kananku. Katanya "Terlalu banyak WA tidak bagus." dengan logat medok yang berhasil bikin ngakak tapi terpaksa harus ditahan dalam hati. Aku langsung meninggalkan tempat duduk dan pergi ke pojokan dekat tim lain. Ada yang nelpon sambil tangannya bergerak-gerak kayak lagi deklamasi. Ada yang teriak-teriak karena dituduh penipu,. Ada yang berargumen pintar dengan calon klien mengatakan "Oh, kita beda, Bu bla bla bla bla." 
Sale hour harus 'gila'. 

Tapi ada juga yang mondar-mandir gak jelas, bukan karena sedang ngobrol panjang di telepon - itu aku. Tapi karena nomor yang kuhubungi disconnected semua. Asem. 


Kulihat target baru yang ditulis di white board. JULI: 1 M. 

Bayangin, 1 milliyar yang harus deposit. 1 M, kami harus menarik uang orang-orang di luaran sana sebanyak itu. 1 M apakah tercapai? Bulan lalu target 750 juta telemarketing tidak tercapai. 

Somehow, gue malah merasa sedang dijajah - negaraku kembali dijajah oleh bule beralis mata pucet ini. 



Jangan Dijajah oleh Pekerjaan | Eph219






























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...