Rabu, 12 Agustus 2020

Om senang, om bayar

 

Demi tidak dipotong allowance-nya bulan ini, satu-satunya cara adalah dengan menelpon klien sampai muntah. Koreksi : calon klien. Masalahnya database yang disediakan kantor belum di-filter. Tak heran kalau banyak yang mengaku masih pengangguran, mahasiswa, kuli bangunan. Bahkan pernah ada yang berkata, ‘Maaf, Mbak. Saya lagi ribet. Istri tua dan istri muda saya sedang bertengkar. Menurut mbak saya harus bela yang mana?’

Bodo amat pak! Lu kate gua penasihat kisah romansa.

Sekali lagi, satu-satunya cara bertahan hidup di perusahaan pialang berjangka adalah : telepon terus nomor yang ada di databasemu. Gak ada lain. Itulah prinsip yang kutanamkan sendiri dalam benakku dalam minggu-minggu awal bergabung di sini. Karena kita gak tau orang seperti apa yang akan mengangkatnya. Apakah dia orang kaya, pengangguran, bussinisman atau anak presiden. Maklum, anak baru. Masih on fire lah. 

Kalau saat masih briefing tim dan mendengarkan ocehan Charli, rasa-rasanya mendapatkan deposit 25 juta sangat mudah. Mendengar tips and trick ala beliau, mendengar jokes-nya yang kadang kotor (maklum, tim kami dominan cowok). Tapi begitu keluar dari ruangan briefing dan berada di meja sendiri, otak langsung mumet. Kalau saja hanya dengan ikut briefing tim bisa deposit.

Tiba-tiba aja gitu kan, ada klien yang nelpon. “Ini Lena dari perusahaan pialang berjangka yang kemarin nelpon saya ya? Saya hari ini mau deposit, Mbak – 200 juta. Sini nomor rekeningnya!”

 

Sampai Sponge Bob pindah rumah pun kayaknya gak bakalan kejadian. Sponge bob kan, udah betah tinggal di rumah nenasnya.

 

Dan untuk bulan baru, kontes baru juga sudah dimulai lagi. Yang mendapatkan deposit pertama senilai 250 juta akan mendapatkan Samsung A71 dari bos bule.

 

“It doesn’t matter 1 account or more. The first get deposit 250 jt, come to my room and take your prize!”

Oh jadi bisa akumulasi. Misalnya hari ini ada yang klien yang deposit 50 juta, besoknya 25 juta, besoknya 100 juta. Begitu terus sampai tercapai 250 juta.

Demi apa. Aku ngiler dong. Dibanding kontes motor aku lebih suka dapatin HP itu. Naik motor di Jakarta itu gak akan berhasil buatku. Di sini pengendaranya sadis-sadis. Ditambah juga screen HP Xiaomi-ku sudah mulai berulah. Ini kesempatan yang bagus untuk ganti HP.  Maka tujuan hidupku pun berubah. Setiap hari doaku adalah DEPOSIT (selain pengen nonton konser BTS di posisi paling dekat stage). Dari jam 09.00-17.45 semangat mengobrak-abrik database.

 

“Kalau boleh tau domisili daerah Jakarta, bukan Bu?”

“Loh, bukannya situ sudah punya data saya, kenapa nanya lagi?”

“Mohon maaf, Bu. Kita hanya punya data nama dan no Hp Ibu, yang lain tidak ada.”

“Situ dapat nomor saya darimana?”

“Data random saja, Bu yang sudah disediakan tim terkait kami.”

Percayalah, di setiap tempat kerja baru otak lu bakalan dicuci sama perusahaan yang baru dimasuki. Gini contohnya, jadi jago nge-bulshit. Padahal yakin 100% paling perusahaan membeli data itu dari bank atau apalah.

“Yaudah, gak usah telepon saya lagi.”

“Loh, kenapa Ibu? Yang saya mau sampaikan kan bukan informasikan merugikan untuk ibu atau data anda saya salah gunakan. Kenapa tidak didengarkan saja dulu informasinya.”

“Saya ini bukan pengangguran.”

JLEB.

“Oh, anda bukan pengangguran. Baik, saya minta maaf sekali karena sudah berani mengganggu waktu anda yang sangat berharga. Selamat siang.”

 

Kubanting pelan HP nokia senter itu. Untung dia sudah kebal, jadi gak langsung pecah. Aku memutuskan cuci muka ke toilet.

 

“Jadi nanti bapak buka akun, Pak. Kebetulan di kita ada dua, akun demo dan akun real. Akun demonya ini gratis, bap – “

“Saya mesti ketemu you ini. kalau dijelaskan begini saya gak bisa paham.”

BAM! Jantungku langsung terpacu lebih cepat dari sebelumnya. Aku gak salah dengar, kan? Barusan ada calon klien yang mengajak meeting? Menurut Charli ada 3 tipe klien. Pertama, small – klien yang gak mau dengerin kita ngomong. Kedua, medium – klien yang mau dengerin ngomong, tapi gak punya uang untuk memulai. Ketiga, hot – klien yang interest, mau ngajak meeting hingga benar-benar deposit.

“Oh, boleh Pak untuk meeting. Bapak kirimkan saja alamat lengkapnya nanti saya yang datang ke tempat bapak.”

“Oke, nanti saya wa.”

Setelah memutuskan telepon, aku penasaran dengan wajah orang itu. buru-buru ku-save nomornya buat ngecek profil WA-nya. Tampaklah sepasang orang tua yang sedang menggendong anak kecil masing-masing. Si bapak sudah mulai beruban dan mirip dengan Amitabh Bacan, sementara wanita di sebelahnya masih cantik dan muda sekali.

 

“Coi, menurutmu bapak ini orang India, bukan?” kutanya si Firman di sebelahku. Eh, ternyata dia masih nelpon.

“Sen, ini orang India kan, ya?” aku berbalik mau nunjukin ke Sendi di belakangku. Eh dia lagi nelpon juga.

Kuputuskan untuk chat si bapak menanyakan alamatnya untuk meeting. Bagus kalau aku yang pergi menemuinya. Sekali-kali keluar kantor seru kali ya. Beliau tidak lama membalas chat-ku. Segera kucek perusahaan dan alamat yang dimaksud di google. BAM! Kamlesh Kalwani, beliau direkturnya! Entah kenapa jantungku langsung excited dan mulai senam di dalam sana. Kubuang ajakan sesat pikiranku untuk menghitung besar komisi yang kudapat seandainya beliau deposit. Masih teralalu dini!

 

“Bagus, Len. Bagus! Kapan meetingnya? Kasih tau Rosadi aja.”

Hanya itu yang keluar dari Pak Charli.

Sebagai anak baru, tentu aku gak berangkat sendirian untuk bertemu klien itu di Bogor. Iya, di Bogor. Tadinya sih, pengen pake rok ya kan. Tapi mengingat bakalan naik transportasi umum, niat itu kubatalkan.

“Bang, kirain tadi mau naik mobil si bos Oscar.”

Rosadi, tim support yang berangkat denganku kayaknya kurang senang apa gimana. Mukanya kayak gak enak. Kurang tidur mungkin? Pertanyaanku pun terabaikan.

 

Kami tiba di alamat yang dikirimkan Pak Kalwani via WA. Disambut sama bapak-bapak yang kalau di film India selalu jadi polisi.

“Mau ketemu Pak Raja?”

 

Loh? Bukannya namanya Kamlesh Kalwani?

“Bukan, Pak. Mau ketemu Pak Kalwani,” jawabku. Si Rosadi cuma main HP.

“Iya, Pak Kalwani itu Pak Raja.”

 

Kami dibawa ke ruangan beliau. ruangannya sih sederhana. Tak lama kemudian seorang lelaki India muncul. Beliau pasti Pak Raja alias Pak Raja.

Karena masih dalam PSBB jabat tangan digantikan dengan salam khas Buddha. Ituloh yang kedua telapak tangan dirapatkan didepan dada.

 

“Jadi pabriknya di sini, Pak?” tanyaku menyimpang. Kami kan mau meeting soal investasi saham, bukan mau negosiasi harga marmer dua kubik truk.

“Ya, pabriknya di sini. Saya sudah 3 generasi di sini.”

“Wah, sudah lama berarti, Pak. Kirimnya paling jauh kemana Pak pernah?”

“Sulawesi.”

 

Selanjutnya adalah percakapan serius antara Rosadi dan Pak Kalwani. Aku duduk manis setelah mengambil foto keduanya sedang mengobrol dan meng-uploadnya di grup. Biar dilihat si Oscar sebagai bukti. Soalnya untuk meeting di luar kantong kan, memang dikasih uang transport. Dia langsung komen dong, ‘deposit 1 M’.

1 M.. Lu pikir semudah itu, Fergustav?!

“Kalau saya deposit 250 juta Mas Adi, kira-kira itu sudah bisa untuk beberapa saham ya?”

 

Wihhh? 250 juta?? Yang benar Pak Kalwani??!

Rosadi kembali menjelaskan, aku lanjut ngupil. Tidak sampai satu jam meeting, kami sudah balik ke kantor. Pak Kalwani minta meeting lanjutan yang nanti akan ada anaknya.

“Nanti meeting kedua aku wajib ikut lagi kan, bang?”

Rosadi dan aku berjalan keluar gerbang pabrik Pak Kalwani. Sebelum menjawab dihembuskannya asap rokok, “Nanti aku aja yang datang meeting kedua. Lu enggak usah ikut.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...