Kamis, 20 Agustus 2020

Malam Minggu Penuh Petualangan


Malam minggu kali ini lebih malam minggu daripada biasanya. Bukan karena ada yang ngapelin. Tapi karena beberapa kejadian random yang aku alami bersama si kampret Meika. Iya, dia cewek. Pertemanan kami sudah dimulai semenjak SMP. Kurang lebih sudah 10 tahun aku mengenalnya. Dia udah tau busuk-busuknya aku, demikian sebaliknya.

Petualangan kami dimulai ke PGC. Ada teman semasa kuliah yang minta tolong dibelikan sampel kaos cowok untuk dikirimkan ke Kalimantan. Katanya dia mau buka toko baju eceran gitu. Nah, sesuai namanya PGC – Pusat Grosir Cililitan kesanalah aku dan Meika berangkat. Tapi ternyata nama itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

“Namanya aja itu mah, Mbak. Di sini eceran semua. Saya sudah 12 tahun jualan di sini tapi gak ada tuh grosir pakaian atau grosiran apapun,” kata seorang bapak penjual kaos cowok.

Iya, tadinya aku mau beli kaos sampelnya dari penjual grosiran aja supaya lebih murah. Eh, malah begitu kejadiannya. Tapi kita berdua gak menyerah. Langsung menuju lantai 3 buat mencari lebih teliti lagi.

“Gak di sini mah, Mbak. Kalau grosiran kaos paling di pasar Jatinegara,” begitu kata penjual kaos anak-anak.

“Pasarnya buka sampai jam berapa biasa, Bu?”

“Jam 4 sore.”

Demi saat itu sudah jam 14.33, aku dan Meika bergegas turun mengejar pasar Jatinegera masih buka. Tapi kami malah dicegat mbak-mbak berjilbab dari belakang dan diberi tiket beli barang gratis katanya. Tepatnya dipaksa.

“Kita lagi buru-buru, Mbak,” jawab Meika. Aku mengiyakan di belakang. Muncul cowok ganteng temannya si mbak itu. “Gak apa-apa, gak lama kok Kak. Sebelah sini gerainya kita.”

Gak apa-apa gimana, udah dibilang lagi buru-buru ngejar pasar Jatinegara tutup. Entah karena kasian nolak atau kami berdua yang terlalu ogeb, jadilah kami berdua dibawa ke tokonya dan didudukkan di atas kursi plastik rendah mirip kursi anak TK. Mulailah ditanya-tanya sama si mbak jilbab ini tentang nama dan tempat kerja. Sempat-sempatnya dia nanya ada lowongan gak di tempatku. Setelah itu dia nunjukin barang-barang yang masuk kategori kebutuhan tersier dalam kamus hidupku. Barang-barang seperti : sliming suit, i-care buat mata minus, alat catok wajah, happy call, head band pengurang lemak, dll. Dia pun nanya kira-kira mana barang yang paling pengen didapat.

“Ya kalau sesuai kebutuhan saat ini sih paling yang buat mata minus itu,” kuilang. Sementara Meika nunjuk wajan happy call. Padahal dia belum emak-emak perasaan. Kemudian aku diminta pilih sekumpulan amplop yang katanya berisi berbagai hadiah. Asal ambil, ampolp itu disuruh kubuka. Tampaklah kupon hadiah bertuliskan ‘potongan 900 ribu’.

“Kak Lena mau ngambil produk apa?” tanya si mbak jilbab.

What? Ini salah satu jenis trik marketing baru kali ya. Pura-pura aja dibilang kita dapat kupon potongan harga, biar merasa kehilangan kalau kuponnya gak dipakai. Biar kita tergiur beli produknya. Heh, emang muka kita keliatan amat ya ndesonya yang bisa ditipu gitu? Eh, kita orang lagi buru-buru mau ke pasar Jatinegara loh!

“Mbak, kupon hadiahnya buat mbak-nya aja. Saya gak tertarik ya, terima kasih.”

Jadi begini rasanya menolak orang. Tiap hari di kantor gue nelpon database nawarin investasi saham dan 89% menolak dengan bilang ‘gak tertarik’.

Sesuai petunjuk petugas busway, aku dan Meika berhasil turun di halte stasiun Jatinegara. Kebetulan dekat situ ada bangunan mirip pasar senen jaya. Ke sanalah kami bergegas. Dasar duo kupret gak baca tulisan di gedungnya itu pasar jatinegara atau bukan. Setibanya di dalam kami disambut dengan oleh penjual batu akik. Sepanjang mata memandang hanya ada bapak-bapak dan batu akik. Berasa berada di sarang penyamun.

“Nyari apa, mbak?” tanya seorang bapak berkumis. Tuh kan, disapa duluan. Mpuss deh!

“Di sini gak ada yang jualan kaos grosiran, Pak?”

“Itu mah gak ada di sini atuh. Di pasar jatinegara.”

“Loh, ini bukannya pasar jatinegara ya, Pak?”

“Bukan.”

Jadilah aku dan Meika keluar dari sana dengan diiringi tatapan beberapa lelaki yang tidak tau buaya darat atau bukan. Mata mereka itu loh, kayak gak pernah liat makhluk bernama cewek. Aku juga apa-apan sih pake dres segala. Gak kepikiran rencana beli kaos bakala segitu ribetnya.

Sesuai petunjuk satpam, kami naik angkot dan turun dekat halte busway pasar jatinegara. Kali ini barulah benar. Setelah keliling-keliling di dalam, kami menemukan penjual wanita yang kebetulan memang grosir kaos. Tapi pas kutanya dia ngambil barang darimana eh gak mau kasih tau.

“Mana mungkin dia mau kasih tau, Get. Nanti kau malah gak jadi beli ke dia,” komentar Meika begitu kami selesai beli kaosnya. Dia sendiri jadi ikutan belanja – beli seprai yang satu set sama sarung bantalnya.

Kami memutuskan buat gak langsung pulang, tapi nge-WA beberapa teman masa SMA yang kerja di Jakarta juga untuk ketemuan di kota tua. Apesnya begitu sampai di sana ternyata alun-alun (apapun itu namanya) kota tua belum dibuka karena corona. Padahal kawan awak udah otw, eh tempat kongkow malah belum dibuka. Jadinya kami berdua cus ke dalam stasiun dan memutuskan KFC sebagai tongkrongan. Sejam kemudian datang si Desri sama si Gokki. Desri jadi teller di BCA, Gokki jadi audit di Indomaret. Sesuai jurusan kuliah? Enggak tuh.

Seperti halnya orang-orang yang sudah lama tidak bertemu, kami juga demikian. Setiap orang menceritakan kisahnya sambil sesekali kami terbahak kalau ada hal lucu. Mengenang masa SMA dulu, kabar kawan-kawan yang lain udah dimana. Sampai nanya loker di tempat masing-masing.

“Coba aja walk in interview, Magda. Lengkapi berkas persyaratannya, terus datang ke HO-nya yang di Ancol,” si Gokki menawarkan.

“Ada posisi apa aja yang nerima semua jurusan?” kutanya.

“MT ada tuh. Tapi kayaknya ada persyaratan tinggi badan.”

Kampret, si Gokki langsung mengernyitkan keningnya melihat tinggiku yang mungkin gak berubah sejak SMA.

“Iya, iya. Tau kok aku pendek.”

Mereka bertiga ngakak so hard.

Jam 9 kami diusir. Iya, KFC-nya udah tutup. Karena belum pengen pulang, kami pun mencari tempat baru. Di dekat museum-museum bank di kota tua ternyata ramai banget. Alun-alun kota tua yang biasa seperti pindah ke sana. Banyak penjual makanan, pengamen, seniman jalanan. Aku malah kepincut beli boneka BT21 Shooky yang lagi diskon jadi 35 ribu. Astaga, aku masih juga belum dewasa. Beli sesuatu karena ingin, bukan karena kebutuhan.

Belum sampai 30 menit duduk di lesehan yang disediakan pedagang kaki lima di sana, sudah ada sekitar 15 pengamen yang menghampiri. Si Gokki sampai pegal mengangkat tangannya – menolak secara halus. Sekitar jam 11 lewat 20 mnit barulah kami berpisah. Sialnya di tengah jalan hujan turun dengan derasnya. Gojek yang membawaku pulang hanya punya satu jas hujan katanya. Terpaksa kami berteduh di bawah flyover. Sekitar jam 2 subuh baru berhasil sampai di kosan.



Tiga lawan satu


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...