Malam minggu
kali ini lebih malam minggu daripada biasanya. Bukan karena ada yang ngapelin.
Tapi karena beberapa kejadian random yang aku alami bersama si kampret Meika.
Iya, dia cewek. Pertemanan kami sudah dimulai semenjak SMP. Kurang lebih sudah
10 tahun aku mengenalnya. Dia udah tau busuk-busuknya aku, demikian sebaliknya.
Petualangan
kami dimulai ke PGC. Ada teman semasa kuliah yang minta tolong dibelikan sampel
kaos cowok untuk dikirimkan ke Kalimantan. Katanya dia mau buka toko baju
eceran gitu. Nah, sesuai namanya PGC – Pusat Grosir Cililitan kesanalah aku dan
Meika berangkat. Tapi ternyata nama itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
“Namanya aja
itu mah, Mbak. Di sini eceran semua. Saya sudah 12 tahun jualan di sini tapi
gak ada tuh grosir pakaian atau grosiran apapun,” kata seorang bapak penjual
kaos cowok.
Iya, tadinya
aku mau beli kaos sampelnya dari penjual grosiran aja supaya lebih murah. Eh,
malah begitu kejadiannya. Tapi kita berdua gak menyerah. Langsung menuju lantai
3 buat mencari lebih teliti lagi.
“Gak di sini
mah, Mbak. Kalau grosiran kaos paling di pasar Jatinegara,” begitu kata penjual
kaos anak-anak.
“Pasarnya buka
sampai jam berapa biasa, Bu?”
“Jam 4 sore.”
Demi saat itu
sudah jam 14.33, aku dan Meika bergegas turun mengejar pasar Jatinegera masih
buka. Tapi kami malah dicegat mbak-mbak berjilbab dari belakang dan diberi
tiket beli barang gratis katanya. Tepatnya dipaksa.
“Kita lagi
buru-buru, Mbak,” jawab Meika. Aku mengiyakan di belakang. Muncul cowok ganteng
temannya si mbak itu. “Gak apa-apa, gak lama kok Kak. Sebelah sini gerainya
kita.”
Gak apa-apa
gimana, udah dibilang lagi buru-buru ngejar pasar Jatinegara tutup. Entah karena
kasian nolak atau kami berdua yang terlalu ogeb, jadilah kami berdua dibawa ke
tokonya dan didudukkan di atas kursi plastik rendah mirip kursi anak TK.
Mulailah ditanya-tanya sama si mbak jilbab ini tentang nama dan tempat kerja.
Sempat-sempatnya dia nanya ada lowongan gak di tempatku. Setelah itu dia
nunjukin barang-barang yang masuk kategori kebutuhan tersier dalam kamus
hidupku. Barang-barang seperti : sliming suit, i-care buat mata minus, alat
catok wajah, happy call, head band pengurang lemak, dll. Dia pun nanya
kira-kira mana barang yang paling pengen didapat.
“Ya kalau
sesuai kebutuhan saat ini sih paling yang buat mata minus itu,” kuilang.
Sementara Meika nunjuk wajan happy call. Padahal dia belum emak-emak perasaan.
Kemudian aku diminta pilih sekumpulan amplop yang katanya berisi berbagai
hadiah. Asal ambil, ampolp itu disuruh kubuka. Tampaklah kupon hadiah
bertuliskan ‘potongan 900 ribu’.
“Kak Lena mau
ngambil produk apa?” tanya si mbak jilbab.
What? Ini salah
satu jenis trik marketing baru kali ya. Pura-pura aja dibilang kita dapat kupon
potongan harga, biar merasa kehilangan kalau kuponnya gak dipakai. Biar kita
tergiur beli produknya. Heh, emang muka kita keliatan amat ya ndesonya yang
bisa ditipu gitu? Eh, kita orang lagi buru-buru mau ke pasar Jatinegara loh!
“Mbak, kupon
hadiahnya buat mbak-nya aja. Saya gak tertarik ya, terima kasih.”
Jadi begini
rasanya menolak orang. Tiap hari di kantor gue nelpon database nawarin investasi
saham dan 89% menolak dengan bilang ‘gak tertarik’.
Sesuai petunjuk
petugas busway, aku dan Meika berhasil turun di halte stasiun Jatinegara.
Kebetulan dekat situ ada bangunan mirip pasar senen jaya. Ke sanalah kami
bergegas. Dasar duo kupret gak baca tulisan di gedungnya itu pasar jatinegara
atau bukan. Setibanya di dalam kami disambut dengan oleh penjual batu akik.
Sepanjang mata memandang hanya ada bapak-bapak dan batu akik. Berasa berada di
sarang penyamun.
“Nyari apa,
mbak?” tanya seorang bapak berkumis. Tuh kan, disapa duluan. Mpuss deh!
“Di sini gak
ada yang jualan kaos grosiran, Pak?”
“Itu mah gak
ada di sini atuh. Di pasar jatinegara.”
“Loh, ini
bukannya pasar jatinegara ya, Pak?”
“Bukan.”
Jadilah aku dan
Meika keluar dari sana dengan diiringi tatapan beberapa lelaki yang tidak tau
buaya darat atau bukan. Mata mereka itu loh, kayak gak pernah liat makhluk
bernama cewek. Aku juga apa-apan sih pake dres segala. Gak kepikiran rencana
beli kaos bakala segitu ribetnya.
Sesuai petunjuk
satpam, kami naik angkot dan turun dekat halte busway pasar jatinegara. Kali
ini barulah benar. Setelah keliling-keliling di dalam, kami menemukan penjual
wanita yang kebetulan memang grosir kaos. Tapi pas kutanya dia ngambil barang
darimana eh gak mau kasih tau.
“Mana mungkin
dia mau kasih tau, Get. Nanti kau malah gak jadi beli ke dia,” komentar Meika
begitu kami selesai beli kaosnya. Dia sendiri jadi ikutan belanja – beli seprai
yang satu set sama sarung bantalnya.
Kami memutuskan
buat gak langsung pulang, tapi nge-WA beberapa teman masa SMA yang kerja di
Jakarta juga untuk ketemuan di kota tua. Apesnya begitu sampai di sana ternyata
alun-alun (apapun itu namanya) kota tua belum dibuka karena corona. Padahal
kawan awak udah otw, eh tempat kongkow malah belum dibuka. Jadinya kami berdua
cus ke dalam stasiun dan memutuskan KFC sebagai tongkrongan. Sejam kemudian
datang si Desri sama si Gokki. Desri jadi teller di BCA, Gokki jadi audit di
Indomaret. Sesuai jurusan kuliah? Enggak tuh.
Seperti halnya
orang-orang yang sudah lama tidak bertemu, kami juga demikian. Setiap orang
menceritakan kisahnya sambil sesekali kami terbahak kalau ada hal lucu.
Mengenang masa SMA dulu, kabar kawan-kawan yang lain udah dimana. Sampai nanya
loker di tempat masing-masing.
“Coba aja walk in
interview, Magda. Lengkapi berkas persyaratannya, terus datang ke HO-nya yang
di Ancol,” si Gokki menawarkan.
“Ada posisi apa
aja yang nerima semua jurusan?” kutanya.
“MT ada tuh.
Tapi kayaknya ada persyaratan tinggi badan.”
Kampret, si
Gokki langsung mengernyitkan keningnya melihat tinggiku yang mungkin gak
berubah sejak SMA.
“Iya, iya. Tau
kok aku pendek.”
Mereka bertiga
ngakak so hard.
Jam 9 kami
diusir. Iya, KFC-nya udah tutup. Karena belum pengen pulang, kami pun mencari
tempat baru. Di dekat museum-museum bank di kota tua ternyata ramai banget.
Alun-alun kota tua yang biasa seperti pindah ke sana. Banyak penjual makanan,
pengamen, seniman jalanan. Aku malah kepincut beli boneka BT21 Shooky yang lagi
diskon jadi 35 ribu. Astaga, aku masih juga belum dewasa. Beli sesuatu karena ingin, bukan karena kebutuhan.
Belum sampai 30
menit duduk di lesehan yang disediakan pedagang kaki lima di sana, sudah ada
sekitar 15 pengamen yang menghampiri. Si Gokki sampai pegal mengangkat
tangannya – menolak secara halus. Sekitar jam 11 lewat 20 mnit barulah kami
berpisah. Sialnya di tengah jalan hujan turun dengan derasnya. Gojek yang
membawaku pulang hanya punya satu jas hujan katanya. Terpaksa kami berteduh di
bawah flyover. Sekitar jam 2 subuh
baru berhasil sampai di kosan.
![]() |
| Tiga lawan satu |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar