Manusia diberikan tiga jenis kecerdasan oleh Tuhan. Kadang satu kecerdasan lebih menonjol dibandingkan yang lain. Bisa jadi hal itu berbahaya. Misalnya seseorang punya kecerdasan intelektual yang menonjol, tapi kecerdasan emosionalnya merosot. Seperti seseorang yang kukenal di kantor. Sebut aja namanya 'Bangsul'.
Si Bangsul ini adalah orang yang menemaniku meeting dengan klien di Bogor. Menurut peraturan kantor, jelas itu klienku karena aku yang pertama kali canvassing dengan beliau dari database kantor. Tapi entah karena kurang beruntung, si Bangsul memanfaatkanku mentang-mentang aku anak baru yang masih polos. Dia menghalalkan berbagai cara supaya aku tidak ikut meeting di hari-hari berikutnya hingga si klien India ini deposit.
Pada hari si Bapak India itu deposit, Bangsul sengaja hanya menampakkan bukti transfer 100 juta di grup WA. Padahal di hari itu, klienku tersebut deposit 350 juta. Ya, dia mengklaim 250 juta lagi adalah miliknya.
Aku jelas protes. Hal pertama yang kulakukan adalah protes kepada tim leader. Tapi Pak Charli malah memintaku untuk tetap tenang dan mengikuti rencana beliau.
"Lagian kita tidak ada bukti, Len. Berapa pun klien kamu itu deposit, kita tidak tahu. Bangsul memang sudah merencanakan ini dari awal. Tapi percayalah, otak picik seperti itu tidak akan kemana."
Aku membunyikan lonceng tanpa semangat, mencatat nama di white board dan menulis jumlah deposit. Hanya ada tiga nama di papan yang baru mendapat deposit, aku salah satunya.
Menurut Pak Charli, kasusku ini seandainya dibawa ke ruangannya bos bule Oscar atau Carol juga gak akan berhasil. Lagi-lagi karena bukti transfer yang tidak kumiliki. Mau minta sama klien itu? Tidak yakin bakalan dikasih. Dari awal meeting kedua dia juga pasti dicuci otaknya sama si Bangsul kampret. Bisa aja dia bilang, 'dia itu anak baru, Pak. Udah sama saya aja.'
Padahal kalau dihitung-hitung, total yang kudapat (seandainya Bangsul gak main kotor) ; 17.000.000
Iya, segitu.
- keesokan harinya, jam makan siang -
Si Bangsul gak ngantor. Hal ini seolah menguatkan fakta kalau ia bersalah. Dia memang bersalah, karena udah menikung aku, kan? Bangke sekali dia tidak masuk. Tangan dan mulut sudah gatal ingin bereaksi.
"Len, masa lu rela deposit lu ditikung si Bangsul?" Bang Ayub membuka percakapan. Siapa sih yang rela juga. Kubalas dengan mengangkat bahu malas.
"Coba SMS saja si Bangsul. Pertanyaan begini, 'Bangsul ternyata klienku deposit 350 juta ya?' Ini kan di papan baru kutulis 100 juta. Aku nambahin di papan aja ya, gak usah bunyikan lonceng lagi?'"
Ide ini dari Bang Febri, orang batak yang mahir ngomong pake 'lo-gue'.
Kukeluarkan HP dari saku dan mengirimkan WA persis seperti ide Bang Febri. Setelah terkirim, kami kembali mengobrol tentang lowongan pekerjaan di broker lain. Iya, udah tau dapat klien yang mau deposit susah, malah nyari kerjaan di broker lagi, broker lagi.
Kulirik layar HP-ku yang menyala tanda ada WA masuk. Setelah dicek, ternyata dari si Bangsul. Tapi pesannya sudah dihapus tanpa sempat kubaca.
Anj**g banget ya.
Setelah jam makan siang berakhir, Pak Charli dipanggil Oscar ke ruangannya. Mereka hanya mengobrol sebentar. Begitu keluar dari ruangan Oscar, Pak Charli mengajakku ke ruangan meeting.
"Jadinya sisa yang 250 itu dianggap redeposit," katanya begitu pintu dibelakangku tertutup.
"Apa?"
"Jadi redeposit."
Hatiku mencelos. Persen untuk redeposit sangat kecil, hanya 0.5%. Dibandingkan kalau 350 juta itu terhitung sebagai deposit awal dikalikan 4%.. Duh! Bangke banget si Bangsul. Pengen cakar-cakar mukanya sampai hancur gak berbentuk.
Sisa hari itu kulewati dengan hati tidak tenang. Alih-alih menelepon, kurangkai kata-kata yang tepat untuk membalas perbuatan si Bangsul yang tidak punya kecerdasan emosional itu. Kayaknya waktu sekolah dia selalu cabut saat pelajaran PKn dan Agama.
'Jadi begini ya, caramu nyari uang? Memperdaya anak baru yang masih belum tau banyak. Kau kira aku bakalan diam, hah? Kau gak pantas dibiarkan. Sampai ketemu besok di kantor. Oh iya, aku lupa. Kau kan pengecut, mungkin aja besok gak masuk.'
Pesan itu kukirimkan hari Minggu pagi. Aku lupa besok itu libur 17 Agustus. Bodo amatlah, yang penting terkirim. Tentu cuma di-read tanpa balasan. Kan sudah kubilang dia itu pengecut.
Gak puas sampai disitu, kukirim juga pesan ke si bos Oscar. Tadinya mau minta translator kantor yang bantuin, berhubung WA-ku gak di-read, jadilah kumanfaatkan google translate :
Good afternoon, Sir. Sorry for bothering your weekend. I am Magdalena. I still remember clearly how I phoned the client, he did seem interested and asked to meet him soon. If that day I never called him, maybe there will be no next meeting or even a deposit. Of course I am not saying 100% is my effort the client deposits today, because there is a support team in it.
I know you talked to Mr. Charles the other day about this, but I still don't think it's fair. I am a new kid at the office, but I feel that this is not quite right. I don't demand 100%. If you wish, maybe we can discuss it in the office on Tuesday with full personnel.
Thank you.
Terlihat kontras isi dua pesan yang kukirim ke Bangsul dan Oscar. Ke si Bangsul jelas pesan berisi sindirian bahwa dia itu pengecut. Ke si Oscar lebih ke curhat atas perlakuan kurang adil yang diterima. Kurang dari 20 menit, si Oscar udah balas :
Hello Magdalena, of course we can always talk, keep the spirit on Tuesday and Wednesday and next Monday I guarantee You that we will figure it out, I always pay my people for the work they did, good that You are texting me, I will figure out some bonus for You that you will like it. Have a good weekend and keep the spirit
Kubalas : Ok, thank you Sir. Have a good weekend👌
Semoga si Oscar gak omdo = omong doang !
Sekitar jam 2 sore, ada telepon masuk dari Pak Charli. Wih, gak enak nih perasaanku. Jangan-jangan ...
"Len, saya kan udah bilang urusan dengan Bangsul udah kelar. Saya juga udah bilang kan, nanti akan bantu kamu. Saya ada klien yang mau deposit 50 juta, nanti saya kasih ke kamu biar HP-nya bisa buat kamu.'
Ada perasaan menggelegak yang membuncah di dada ini begitu beliau ngomong demikian.
"Pak, saya diperlakukan tidak adil. Saya ditipu, Pak -"
"Kamu bukan ditipu, diperdaya iya. Hati-hati dengan ucapan, salah-salah kamu malah bisa dituntut balik kare-"
"Gak peduli saya, Pak. Itu kantor memang gak jelas. Tidak jelas batas tugas telemarketingnya sampai dimana, tugas retention sampai dimana. Kejadiannya malah begini, kan? Ada retention yang melarang telemarketingnya ikut meeting dengan kliennya sendiri. Saya tau, itu kebodohan saya. Makanya saya makin marah."
"Kamu percaya sama saya. Oscar kan udah bilang sisanya jadi redeposit, bukan deposit awal. Kamu tau gak, WA kamu ke Bangsul itu dia ngadu ke Oscar. Oscar nge-WA saya. Hari Selasa deh kamu liat ya. Kan saya udah bilang, percaya sama plan yang saya rencanakan tap-"
"Maaf, Pak. Saya udah gak bisa percaya sama siapa lagi di kantor. Gak ada yang bisa dipercaya lagi orang-orang di sana. Mohon maaf kalau bapak tersinggung. Mungkin Selasa saya masuk hanya mau kasih surat resign. Udah gitu aja."
"Len, jangan mengambil keputusan di saat emosi kamu gak stabil. Yang ada nanti malah penyesalan, Len. Kamu ikuti aja arahan saya dulu, tetap masuk seperti biasa sampai gaji dan komisi dibayar."
Tut.
Kuputus sepihak. Apa-apaan Pak Charli itu.
------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar