To be honest, gue orang yang fair play. Selama alasannya sudah jelas dan masuk akal, gue akan menerima itu dengan tenang. Gak akan menuntut lagi. Yang begitu kan, fair play ya?!
Hari ini adalah batas maksimal komisi telemarketing ditransfer. Dan gue udah bilang sama bos Charli kalau mau cabut begitu terima komisi. Tapi berhubung kemarin ada insiden pembobolan di kantor yang mengakibatkan beberapa laptop hilang (termasuk laptop Oskar dan Carol), sepertinya akan ada penundaan. Tapi ternyata dugaanku salah. Jam 10 an lebih dikit, iseng-iseng ngecek m-banking .. triiing! Udah ada aja dana yang masuk. Eh, tapi kok gak sesuai sama yang diajukan? Kurang banyak ini.. Kurang 2 jutaan. Mana besok mau cabut lagi.. Oi, Oskar, what do you mean?!
Segera gue melapor ke Pak Charli yang barusan aja masuk habis training anak baru.
"Pak, saya komisinya kurang."
"Kurang banyak? Makanya cari deposit lebih gede lagi!"
"ihh. Bukan, bos. Ini tuh gak sesuai kenyataan..eh gak sesuai yang kita ajuin kemarin di kertas."
"Masa sih?!"
Gue dan bos Charli pun sepakat akan menanyakan hal itu lewat Ola, si translator. Untung gue langsung cegat dia sebelum keburu pergi ke kantor polisi. Gak lama kemudian setelah si Ola melapor, Pak Charli dipanggil masuk ke ruangan Oskar. Gue deg-deg an. Berharap besar si Oskar emang salah transfer. Lumayan atuh 2 jeti, bisa beli teh poci (maksa amat rima-nya).
Kirain si bos Charli bakalan lama di dalam. Sekilas mereka duduk berdua di dalam tuh kayak rentenir sama kontraktor. Si bos Charli tentu yang jadi kontraktornya.
'Bray, lu coba deh. Yang bulan Agustus lu nerima berapa? Komisi redep yang 670 juta ternyata udah dibayar sama itu. Gak mungkin kan dua digit kemarin cuma bonus komisi FD lu yang 100 juta?"
"Gak lah, Pak. Saya udah itung sama si Natan kemarin per bulannya. Redep Agustus sekian. Redep September sekian. Gitu. Yang baru ditransfer itu komisi redep bulan September. Agustus belum nerima saya."
Tiba-tiba si Oskar datang nyela, "to my room."
Duh, si Ola malah ke kantor polisi pulak.
"So, begini Mister. I count the redep comission each month, August, September. I have receive the September. But August not yet. I and mr Charli think maybe will be transfered on the next month."
Bodo amatlah ya, berantakan.
"If you have the problem, you should come to me on that month. No need to wait untill next month. Ok? Now I will check it on my historic transfer," kira-kira gitulah dia ngomong.
Kami berdua meninggalkan ruangan si Oskar. Kembali beradu argumen dengan bos Charli, apakah dua digit yang gue terima pada Agustus itu sudah termasuk komisi redep bulan Agustus atau belum.
"Kita hitung ulang ya," Pak Charli.
"Bonus deposit 100 jt, sekian. Bonus one shoot, sekian. Bonus tiga akun, sekian. Tuh kan belum dua digit, bray. Berarti benar, emang udah sama komisi redep itu."
Tiba-tiba gue tersadar, bener eh. Kaming dah, malu-maluin. Tiba-tiba satu tim gue ngakak so hard sambil nge-bully gue. "Eh Lena, udah salah ngitung malah nuntut ke ruangan si Oskar."
Gelak tawa belum reda waktu si Oskar suruh gue lagi ke ruangannya. Lama-lama berasa simpanannya gue, keluar-masuk ruangannya dia. Wkwkwkwk.
"I've check it, and already transferred."
"Yes, Mr Oskar. It's done. Thank u."
Masih ngakak so hard di meja tim Ferrari dengan gue sebagai objeknya. Akhirnya gue mengeluarkan pembelaan. Ini pasti sangat sangat mempan sekali.
"Yee, maklum lah. Gede banget soalnya komisinya. Emang kayak lu pada? Deposit cuma di bawah 20 juta, hahahaha."
Tuh kan,,
GAK MEMPAN!
Mereka masih mem-bully gue. Yaudah lah, gak apa-apa. Besok juga gua bakalan cabut dari sini.
-------------------------------
Gak pernah membayangkan hari ini akan datang.
Hari dimana gue akan cabut dari kantor yang baru 5 bulan gue didalamnya (kalau itu kandungan, paru-paru aja belum terbentuk sempurna kali ya) melenggang dengan swag meninggalkan ruangan Oskar seolah bermakna 'Hei, gue keluar dari kantor ini dengan terhormat ya, pernah deposit - malah jadi Best Telemarketing on August - komisinya 2 digit, dapat HP Samsung A71 pulak' ke orang-orang lain di kantor itu. Buat si Bangsul yang udah pernah memperdaya gue? Hm, biar Tuhan yang menentukan. Lagian sehari sesudah kejadian dia perdaya gue, iphone 11-nya jatuh di lift. Kabarnya sih gak bisa dipake lagi. Itu iphone atau jelly, kok langsung bengek gitu..
Perdana, malamnya gue nulis surat pengunduran diri. Heran, kok air mata gue gak netes ya? Atau rasa sesak di dada kek dikit. Ini malah gak ada. Gue malah dengan excited mempersiapkan apa yang akan gue bilang ke Oskar besok seandainya dia nanyain kenapa gue out. Untung ada google translate.
Oskar : Why?
Gue : I lost my obsession of money.
Oskar : Are you kidding me? Yesterday you come to my room and asked for your comissions - yang gak masuk padahal udah lu ajuin? *Anggap aja ini si Oskar udah pinter speak in bahasa.
Gue : It's a ..a..
Duh. Jangan sampai mati kamus dong. Ayo, Lena. Lu harus resign dengan SWAG. Tydack boleh lemah!!!
Padahal kan, si Oskar lagi kesusahan. Kantor habis dibobol. Laptop dia, laptop Carol, laptop HRD sama laptop si Ola dicuri. Gak cuma itu, bahkan ber-box tisu yang udah di-stock juga lenyap. Gak ketinggalan kopi, gula, obat dari laci, beberapa CPU dan LCD juga diambil. Uang dalam box yang dibuat depan meja HRD juga lenyap. Padahal itu kotak amal. Itu belum seberapa mengejutkan dengan mengetahui pencurinya.
Pencurinya adalah leader yang baru join 1 bulan lebih dikit di kantor. Dia diajak oleh Oskar sendiri. Entahlah bagaimana keduanya ketemu. Gosip anak-anak sih di cafe gitu. Yakali Oskar main di cafe, club malam dia mah!
Tanpa ditanya pun, bisa kita simpulkan bagaimana kondisi hati Oskar saat ini. Dikhianati oleh orangnya sendiri. Orang yang dibesarkannya dengan tangan sendiri, ehm maksudku orang yang direkrutnya sendiri. Belum lagi kalau dia tau salah satu telemarketing terbaiknya akan resign. Ehem. #betulin kerah baju.
"Lu tega emang Kak Len?" -Winni. Tuh bocah ngikut gue buat cabut juga.
"Kenapa gak tega?"
"Enggak aja. Dia sendirian gitu, Mr Carol gak balik-balik. Mukanya gue liat kusuuuuuut banget."
Hem, si Winni ngakunya kesemsem sama Carol. Tapi Oskar juga kayaknya.
"Heh, gini ya. Waktu kejadian si Bangsul memperdaya gue, Pak Charli nanyain dia. Kata si Bangsul lu tau gak apa. Gue cuma menjalankan perintah. Ban**at banget gak. Perintah siapa lagi kalau bukan si bos bule berdua itu."
Winni diam. Laju motornya gak cepat-cepat amat, tapi kenapa rasanya kayak kantor jadi lebih dekat dari biasanya.
-------------------------------------------
Kami ngelantai di toilet cewek, setelah balikin kartu akses sama HRD. Nunggu jam makan siang, baru masuk ke dalam. Pamitan sama semua orang.
Gue udah merangkai lagi kalimat alasan yang bakal gue bilang ke Oskar.
Oskar : Why?
Gue : I just think that money is addictive. And all addictive thing is dangerous. I'm a weak creature. When someone addictive for money, they will do everything to get it. Include hurt their friend or more than that. And I don't wanna be like that, Sir.
Gue menghafal-hafalkan kalimat itu dalam benak supaya nanti bisa gue lontarkan dengan SWAG di depan muka Oskar. Meski gue tau, Pak Charli tadi pagi pasti udah ngasih tau perihal gue cabut karena mau ngikut kakak ke Batam. Tapi gue gak akan menyebutkan itu, karena terdengar lemah. WEAK!
Jam makan siang, orang-orang pada turun makan. Tinggal beberapa tim Ferrari yang bawa bekal dan makan di dalam. Salah satunya Mbak Dwi, si pemenang kontes motor.
"Yaah, gak ada Winni lagi dong yang nanti ngupasin buah kalau makan siang."
Winni cuma bisa ketawa. Gue nimpal, "Jadi Mbak, si Winni di kantor ini fungsinya cuma buat ngupasin buah pas makan siang ya. Hahaahaha."
"Sama bawain laptop Pak Charli kalau meeting di ruangan sebelah," timpal Bella - sepupu Winnie.
"Nanti tugas itu diwariskan ke si anak baru kayaknya."
Satu jam gak kerasa anju. Jam makan siang udah habis. Saatnya pamitan ke ruangan Oskar.
"Lu yang ngomong duluan," gue ke Winni.
"Lu aja." - Winni
Kamfret.
Gue perlahan mengetuk pintu kaca itu. Gile. mukanya kusut amat. Itu muka atau kain dari jemuran.
"Mister Oskar, we want to say goodbye."
"What happen to you?" -Oskar
I just think that money is addictive. And ..
"Nothing. I want to take my time."- Gue.
What the heck are you doing Lena. Lu barusan terdengar sangaaaaaaaaat LEMAH!
Gue gak tega.
Beneran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar