Rabu, 04 September 2019

The Passion In My Blood Is A Curse Or Bless?


Saat SD aku sangat suka membaca buku. Saat itu aku kelas 3 SD. Pulang sekolah semua anak-anak petani di desa kami wajib hukumnya membantu orang tua di ladang. Bila sore tiba, aku mendapat tugas memasak. Sambil menunggui nasi yang ditanak dengan perapian, aku menyempatkan diri membaca lagi. Kadang buku cerita yang kupinjam dari lemari buku di sekolah. Kadang membaca alkitab. Kadang membaca guntingan Koran bekas bungkus ikan asin. Ibu sering memarahiku karena membaca sambil memasak. Beliau langsung cerewet, katanya itulah mengapa nasi yang kumasak sering gosong. Kata ibu mustahil mengerjakan dua hal sekaligus dan keduanya berhasil. Yang ibu tidak tau di lain hari aku mencuri-curi lagi waktu untuk membaca sambil memasak. 

Kebiasaan membaca sejak SD ini terbawa hingga SMP, SMA bahkan kuliah. Saat SMP dan SMA aku sering tercatat sebagai siswa yang paling rajin meminjam buku dari perpustakaan. Prestasi itu dihargai dengan memberikan hadiah buku tulis. Terjadi hampir setiap semester.
Bahan bacaanku sudah semakin luas, karena tak seperti SD di kampung kami, SMP dan SMA-ku sudah punya perpustakaan khusus. Mulai dari novel terjemahan, ensiklopedia, buku self motivation, kumpulan cerpen, buku-buku pelajaran semua ada. Hingga suatu hari terpikirkan satu hal. Penulis/pengarang sebuah buku adalah orang jenius. Ia bisa menghasilkan lembaran demi lembaran tulisan yang dihasilkan dari imajinasinya (novel). Selain penulis, orang-orang yang kuanggap jenius : rapper, komedian, penulis lirik lagu. Saat kuliah, aku pun mulai belajar menghasilkan sebuah tulisan. Meski tidak rutin, aku berlatih menulis di blog pengalaman sehari-hari yang kurasa ‘ajaib’. Yeah, ini memang bisa disebut diary online. Di suatu kesempatan aku pernah mengikuti lomba menulis cerpen yang diadakan oleh ANDI Publisher. Tema cerpennya yaitu Kisah Gokil saat SMA. Ini bukan tema yang sulit, karena kurasa pengalamanku ngekos saat SMA memang gokil berkat seorang nenek tangguh pemilik kos kami. Kabar yang kudengar beliau sudah berpulang ke pangkuan-Nya. RIP grandma,.

Tidak disangka cerpen itu berhasil masuk dalam 15 besar. Saat itu aku mendapat uang hadiah sebesar 660 ribu untuk cerpen yang kubuat hanya 3 halaman itu. Tak terkatakan senangnya hati, apalagi karena itu adalah karya pertama yang kubuat dan langsung mendapat apresiasi. Sejak itu cita-cita untuk menjadi penulis semakin kuat. 

Begitu lulus kuliah, ternyata semua hal tak seindah rancanganku. Aku anak ketiga, dengan tiga adik yang masih sekolah. Kakak dan abangku sudah menikah. Selama kuliah aku dibiayai oleh kakakku yang kini sudah punya anak. Aku harus mengambil alih tugas beratnya, membiayai kebutuhan adik-adikku. Kedua orang tuaku hanya petani kecil dengan usia yang tidak muda lagi. Tapi mencari pekerjaan tidak mudah. Empat bulan sudah aku menganggur. Adikku yang pertama semester 7 di Banten. Yang kedua, baru lulus SMK dan atas usul suami kakakku ia diminta ke Batam melamar di perusahaan kakakku bekerja. Adikku yang bungsu, cewek kelas 1 SMA di sekolah swasta (katolik). Beruntungnya dia, begitu mendaftar sekolah adikku yang di Batam diterima bekerja.

Aku awalnya tidak ingin menerima uang bulanan lagi dari kakakku. Tapi ternyata belum bisa, karena pekerjaanku belum dapat sehingga kuminta ia mengirimiku setengah saja dari angka yang biasa. Bulan ketiga setelah aku wisuda, kakakku bilang bahwa mulai saat itu uangku akan dikirim oleh adikku. Aku tak tega sebenarnya. Dalam hal ini seharusnya aku yang membiayai adik-adikku, kenapa malah terbalik? Selain anak durhaka ternyata aku juga kakak yang tidak bisa diandalkan. 

Memasuki bulan kelima setelah diwisuda. bBukannya aku tidak mencoba melamar di beberapa lowongan yang tersedia. namun percayalah, mencari pekerjaan juga sama susahnya dengan mencari jodoh. Perlu beberapa kali patah hati hingga menemukan yang disediakan Tuhan. Sebuah lowongan pekerjaan menjadi wartawan di media cetak daerah kota ini. Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Ini salah satu hal yang kusukai, yang bisa membawaku ke impian lainnya. Berhubung aku tau ada seorang seniorku dulu di organisasi kampus yang bekerja di sana, aku pun mengkontaknya dari WA. Ia langsung menelponku. Katanya beliau bisa saja merekomendasikanku ke pimpinannya, dengan syarat aku harus bertahan dengan segala tekanan bekerja sebagai wartawan. Ia tak ingin aku hanya bertahan sebulan dua bulan, lalu menghilang. Meski dalam hati agak ragu, kuyakinkan seniorku itu bahwa aku akan berjuang. Ia pun meminta menulis surat lamaran yang ditujukan kepada pemimpin redaksinya.

Keesokan pagi aku belum menulis surat lamarannya. Yang kulakukan adalah mencari tau suka duka profesi wartawan di google. Muncul beberapa artikel, termasuk tentang gaji, redupnya media cetak dan lain-lain. Bahwa gaji seorang wartawan sangat rendah. Mereka dibayar per berita yang dihasilkan dengan kisaran 10-25 rb/berita. Padahal tekanan untuk menghasilkan satu berita saja mulai dari bertemu narasumber sampai mengolahnya menjadi paragraf informatif bukan perkara simpel. Tapi ya tentu, enaknya adalah punya banyak kenalan. Pengetahuan semakin luas karena otak dituntut untuk menguasai segala aspek dalakedidupan. 

Tiba-tiba aku tersadar. Ada tiga orang adik yang harus kubiayai pendidikannya. Adikku yang sudah bekerja di Batam masih berharap bisa kuliah. Kalau adikku yang SMA lulus dan minta kuliah juga bagaimana? Apa aku sebagai kakak harus bilang, maaf dek, kakak gak sanggup untuk menguliahkan kalian. Kakak hanya wartawan dengan gaji tak seberapa.
Tapi ini sesuatu yang kusukai. Apa orang menyebutnya, ah iya passion. Gairah. Sesuatu yang membuatku bersemangat untuk menekuninya. Aku tau ada perbedaan besar dalam menulis tulisan di blog dengan berita untuk dimuat di koran. Namun keduanya mempunyai basic yang sama, mengolah kata-kata.
Apakah aku harus mundur dari sesuatu yang kusukai? Lupakan saja menjadi wartawan. Mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih mencukupi untuk mengkuliahkan dua orang adik. Yah, itu tidak mudah mengingat aku saja sudah menganggur 4 bulan. Niat ingin mencari kerja di Jakarta pun terpaksa kuurungkan lagi, mengingat di sana pun persaingan mencari pekerjaan ketat, biaya hidup mahal.
Aku dilema…,


Hasil gambar untuk lirik pocket of dreams
Pocket of Dreams - Bagus Bhaskara ft Yustine Saptarini

Pocket Of Dreams
Bagus Bhaskara
I'm just a simple guy,
came from a simple town
with a pocket of dreams
and a little proud
not knowing how i can bare
with the tough of the city
I'm blindfolded by the idol of my self
the passion in my blood is a curse or bless hmm?
I'm just a little girl,
came from a little town
with a pocket of fears,
and a few of tears
not knowing how i can bare
with the tough of the city
I don't wanna be an usual girl
just give up on the things
that I love the most hmm.
we both fear of city light
we hope time will make it right
but if we struggle and the bad time comes
we still have each other
so don't be afraid any further
curu curu rururu
I'm just a simple guy
and I'm just a simple girl
with the pocket of dreams maybe too extreme
not knowing how i can bare
with the tough of the city
we both don't know what to expect or.
how hard could it be than our life before hmm.
we both fear of city light
we hope time will make it right
but if we struggle and the bad time comes
we still have each other
so don't be afraid any further
so don't be afraid any further
so don't be afraid any further

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...