Saat
SD aku sangat suka membaca buku. Saat itu aku kelas 3 SD. Pulang sekolah semua
anak-anak petani di desa kami wajib hukumnya membantu orang tua di ladang. Bila
sore tiba, aku mendapat tugas memasak. Sambil menunggui nasi yang ditanak dengan
perapian, aku menyempatkan diri membaca lagi. Kadang buku cerita yang kupinjam
dari lemari buku di sekolah. Kadang membaca alkitab. Kadang membaca guntingan Koran
bekas bungkus ikan asin. Ibu sering memarahiku karena membaca sambil memasak. Beliau
langsung cerewet, katanya itulah mengapa nasi yang kumasak sering gosong. Kata ibu
mustahil mengerjakan dua hal sekaligus dan keduanya berhasil. Yang ibu tidak
tau di lain hari aku mencuri-curi lagi waktu untuk membaca sambil memasak.
Bahan
bacaanku sudah semakin luas, karena tak seperti SD di kampung kami, SMP dan
SMA-ku sudah punya perpustakaan khusus. Mulai dari novel terjemahan,
ensiklopedia, buku self motivation,
kumpulan cerpen, buku-buku pelajaran semua ada. Hingga suatu hari terpikirkan
satu hal. Penulis/pengarang sebuah buku adalah orang jenius. Ia bisa
menghasilkan lembaran demi lembaran tulisan yang dihasilkan dari imajinasinya
(novel). Selain penulis, orang-orang yang kuanggap jenius : rapper, komedian, penulis lirik lagu. Saat
kuliah, aku pun mulai belajar menghasilkan sebuah tulisan. Meski tidak rutin,
aku berlatih menulis di blog pengalaman sehari-hari yang kurasa ‘ajaib’. Yeah,
ini memang bisa disebut diary online.
Di suatu kesempatan aku pernah mengikuti lomba menulis cerpen yang diadakan
oleh ANDI Publisher. Tema cerpennya yaitu Kisah Gokil saat SMA. Ini bukan tema
yang sulit, karena kurasa pengalamanku ngekos saat SMA memang gokil berkat
seorang nenek tangguh pemilik kos kami. Kabar yang kudengar beliau sudah
berpulang ke pangkuan-Nya. RIP grandma,.
Tidak
disangka cerpen itu berhasil masuk dalam 15 besar. Saat itu aku mendapat uang
hadiah sebesar 660 ribu untuk cerpen yang kubuat hanya 3 halaman itu. Tak terkatakan senangnya hati, apalagi karena itu
adalah karya pertama yang kubuat dan langsung mendapat apresiasi. Sejak itu
cita-cita untuk menjadi penulis semakin kuat.
Aku
awalnya tidak ingin menerima uang bulanan lagi dari kakakku. Tapi ternyata
belum bisa, karena pekerjaanku belum dapat sehingga kuminta ia mengirimiku
setengah saja dari angka yang biasa. Bulan ketiga setelah aku wisuda, kakakku
bilang bahwa mulai saat itu uangku akan dikirim oleh adikku. Aku tak tega
sebenarnya. Dalam hal ini seharusnya aku yang membiayai adik-adikku, kenapa
malah terbalik? Selain anak durhaka ternyata aku juga kakak yang tidak bisa
diandalkan.
Keesokan
pagi aku belum menulis surat lamarannya. Yang kulakukan adalah mencari tau suka
duka profesi wartawan di google. Muncul beberapa artikel, termasuk tentang
gaji, redupnya media cetak dan lain-lain. Bahwa gaji seorang wartawan sangat
rendah. Mereka dibayar per berita yang dihasilkan dengan kisaran 10-25
rb/berita. Padahal tekanan untuk menghasilkan satu berita saja mulai dari
bertemu narasumber sampai mengolahnya menjadi paragraf informatif bukan perkara
simpel. Tapi ya tentu, enaknya adalah punya banyak kenalan. Pengetahuan semakin
luas karena otak dituntut untuk menguasai segala aspek dalakedidupan.
Tapi
ini sesuatu yang kusukai. Apa orang menyebutnya, ah iya passion. Gairah. Sesuatu yang membuatku bersemangat untuk
menekuninya. Aku tau ada perbedaan besar dalam menulis tulisan di blog dengan
berita untuk dimuat di koran. Namun keduanya mempunyai basic yang sama, mengolah kata-kata.
Apakah
aku harus mundur dari sesuatu yang kusukai? Lupakan saja menjadi wartawan. Mencari pekerjaan lain yang gajinya
lebih mencukupi untuk mengkuliahkan dua orang adik. Yah, itu tidak mudah
mengingat aku saja sudah menganggur 4 bulan. Niat ingin mencari kerja di
Jakarta pun terpaksa kuurungkan lagi, mengingat di sana pun persaingan mencari
pekerjaan ketat, biaya hidup mahal.
Aku
dilema…,
![]() |
| Pocket of Dreams - Bagus Bhaskara ft Yustine Saptarini |
I'm just a simple guy,
came from a simple town
with a pocket of dreams
and a little proud
not knowing how i can bare
with the tough of the city
came from a simple town
with a pocket of dreams
and a little proud
not knowing how i can bare
with the tough of the city
I'm blindfolded by the idol of my self
the passion in my blood is a curse or bless hmm?
the passion in my blood is a curse or bless hmm?
I'm just a little girl,
came from a little town
with a pocket of fears,
and a few of tears
not knowing how i can bare
with the tough of the city
came from a little town
with a pocket of fears,
and a few of tears
not knowing how i can bare
with the tough of the city
I don't wanna be an usual girl
just give up on the things
that I love the most hmm.
just give up on the things
that I love the most hmm.
we both fear of city light
we hope time will make it right
but if we struggle and the bad time comes
we still have each other
so don't be afraid any further
we hope time will make it right
but if we struggle and the bad time comes
we still have each other
so don't be afraid any further
curu curu rururu
I'm just a simple guy
and I'm just a simple girl
with the pocket of dreams maybe too extreme
not knowing how i can bare
with the tough of the city
and I'm just a simple girl
with the pocket of dreams maybe too extreme
not knowing how i can bare
with the tough of the city

Tidak ada komentar:
Posting Komentar