Jumat, 20 September 2019

Sehari bersama TK Jaya Abadi



Selain bukan kakak yang baik, aku juga bukan anak yang berbakti. Masa kalau ortu telpon lama baru diangkat. Pernah juga gak diangkat sama sekali. Bukannya apa-apa, tapi aku malu kalau entar ditanya udah dapat kerja atau belum. Emak apalagi, beliau bersikukuh supaya aku kerja apa aja dulu gitu. Gak usah gengsi mentang-mentang udah sarjana, nunggu perusahaan besar.
Hingga hari ini ada kenalan yang ngasih tau info loker dari WA. Jadi kasir di toko bangunan. Oke, ini layak dicoba. Gak ada susahnya men-scan barcode harga barang dan mengembalikan uang pelanggan. Kusiapkan berkas lamarannya dan bermodalkan google map aku menuju toko bangunan itu.
Setibanya di lokasi, aku gak langsung menemui si pemilik toko. Toko Jaya Abadi. Kuamati dari seberang jalan toko bangunan itu. Rasa ragu muncul. Kunyalakan motor dan melaju tanpa arah. Kata-kata emak muncul lagi di benakku. Jangan gengsi. Baiklah, let’s do this! Kubalikkan arah motor.
Aku disambut lelaki sipit berkulit putih berusia 40-an, jangan bilang dia chinese karena aku tak pernah berhasil bekerja dengan mereka. Maksudku sebagai majikan. Selain pelit mereka juga …pelit!
“Mau cari apa?” tanyanya.
Aku turun dari motor dan mendekat.
“Ini, Pak saya dapat info dari kawan. Katanya di toko ini sedang cari kasir ya?”
“Iya benar. Dapat infonya dari siapa?”
“Dari..”
Astaga, aku lupa nama yang disebutkan kenalanku itu.
“Dari ibu.”
Kening beliau mengerut.
“Dari Shama mungkin, ya. Sebentar. Shamaaaaa..”
Seorang cewek lebih tua dariku muncul. Ah iya, itu nama yang disebut kenalanku itu. Aku langsung menyalami cewek yang dipanggil Shama ini. Sebagai sesama orang Batak kami langsung tanya marga, bukan nama.

Aku masuk ke dalam toko dan dihadapkan dengan si bos ini. Memang benar, pemilik toko ini chinese. Itu istrinya sedang berdiri di depan komputer. Putih, tinggi, langsing, wajah tak bersahabat. China sekali.
Bos tanya-tanya soal diriku dan soal gaji yang kuinginkan. Setelah meminta fotokopi ktp dan nomor HP-ku, beliau nanya apa mau langsung masuk hari itu, yang kuiyakan saja. Kak Shama mengajakku berkeliling di dalam toko. Karena ini toko bangunan jelas yang dijual paku, seng, semen, cat, lem, sekop, pipa dan masih banyak lagi.
Pekerjaan pertama yang kulakukan adalah mengepel lantai. Lagi-lagi kukuatkan diriku, gengsi tidak akan memberiku makan. Tapi yang menarik adalah tongkat pel yang kugunakan sudah jelek sekali. Apa kubilang, mereka ini orang pelit. Di toko ini jangankan AC, kipas pun tak ada.
Tiba-tiba istri si bos ngomong.
“Kamu kalau ndak serius gak usah kerja di sini. Nanti saya malah udah capek ngajarin, eh malah berhenti.”
Jutek sekali wanita itu. Hm, tapi dia orang china yang medok.
Kubalas, “Iya, Bu.”
Apanya yang iya sih? Aku emang gak serius mau kerja di sini, gitu?

Saat mengepel teras, ada laki-laki berkulit putih (kuyakin chinese juga) di toko sebelah senyum-senyum genit ke arahku. Buru-buru aku masuk ke toko.

Setelah selesai mengepel aku dibawa Kak Shama ke lantai dua, dimana gudang stok penyimpanan barang berada. Busyet, naik turun tangga emang bikin sehat sih. Tapi kalau tangganya seram gini..
“Jadi di sini banyak jenis-jenis sambungan pipa, Len. Kalau TS yang tebal, ada yang DV itu lebih tipis. TS juga ada yang 90° ada yang 45°. Blablabla ..”
Aku diajarin sistem kerja di komputer kasir. Input dulu barang yang dibeli serta jumlahnya, lalu kita ambil barangnya, baru terima uangnya. Rempong juga, kirain tinggal scan barcode harganya, terima uangnya. Ini mesti ngambil barangnya juga? Kalau misalnya yang dibeli sambungan pipa TS tadi, artinya aku harus naik tangga dulu ke atas. Fiuh..
Ada banyak jenis-jenis paku dan bagaimana menimbangnya. Jenis-jenis semen, cat, kertas pasir. Selesai bekerja dari sini kayaknya aku bisa ngambil proyek dari dinas pekerjaan umum deh.
“Kamu belajar cekatan ya, di sini,” kata istri bos.
Dalam hatiku, saya belum makan bu tadi dari rumah. Jangan khawatir, biasanya saya hiperaktif kok.
“Iya, Bu.”
Ketika ada yang beli, bos meminta aku yang input di komputer kasir belanjaan orang itu. Tapi karena masih baru, belum paham, aku lamban. Istri si bos datang dan mendorongku ke samping tak sabaran.

Kalau sedang tak ada pelanggan, aku dan Kak Shama ngobrol bahasa ibu kami (batak). Kak Shama sudah menikah dan suaminya kerja di tambang. Mereka LDR meski sudah menikah.
Masuk dua orang, satu cowok dan satu cewek yang kukira mau beli sesuatu. Ternyata keduanya langsung menghadap bos, diinterogasi.
“Mereka kenapa, Kak?”
“Kemarin kerja di sini, terus dikreditkan motor atas nama toko. Padahal belum lunas dan resign kerja. Sayang banget kan, motornya,”

“Lena, kalau lagi gak ada pelanggan coba kamu pelajari ini jenis-jenis TS dan DV,” suara bos menginterupsi percakapan kami.

Semakin siang semakin ramai pembeli. Kukira hanya warteg aja yang ramai tiap hari. Tapi masa iya tiap hari ada yang bikin rumah?
Sekelompok mahasiswa datang. Ini pasti jurusan teknik sipil, karena kalau mereka jurusan perikanan pasti gak datang ke toko bangunan.
“Anu, siapa, kamu coba naik ke atas cari TY 2 inch x 0,5,” istri si bos menyuruhku. Aku naik ke atas sendirian dan kebingungan yang mana TY. Apakah bentuknya persegi? Kuputuskan turun membawa sambungan pipa yang mirip ketapel.
“Bukan yang begini ukurannya. Coba liat itu ada tulisannya di cabangnya itu,” komentar istri si bos.
Aku naik lagi ke atas dan lama baru turun. Kali ini salah bentuk lagi.
“Coba kamu liat, bentuknya beda. Yang ini agak melengkung TY-nya, sedangkan yang ini cabangnya lurus.”
Aku naik lagi ke atas. Belum jam makan siang dan aku sudah 10 kali bolak-balik naik tangga mengambil barang dari gudang. Dimana ada pekerjaan kasir seperti ini?
“Kak Shama,” kataku saat di gudang.
“Ya?”
“Berapa lama sebelumnya orang yang bekerja disini resign paling cepat? Maksudku yang paling cepat keluar, karena gak tahan kerja di sini. Sebulan? Seminggu?”
Kak Shama terlihat berpikir. “Ehm, kayaknya 3 bulan sih. Kenapa, Dek?”
“Aku mau bikin rekor.”
“Maksudnya?”
“Ini hari pertama dan terakhirku bekerja di sini,” kataku mantap.

Kak Shama melongo.
.
.

Jam makan siang sudah tiba. Tapi suami-istri itu tidak bergerak dari depan komputernya. Ternyata ini rahasianya orang China cepat kaya : Lewatkan jam makan siangmu!
“Lena gak makan?” tanya bos.
Dalam hati, enggak, saya pengen cepat kaya kayak elu.
“Enggak, Pak. Biasanya makan sore.”
Perutku demo di dalam. Menuntut keadilan sosial bagi seluruh cacing dalam perut.
Kak Shama juga gak makan siang. Setiap melihatku dia tersenyum tertahan, teringat perkataanku soal rekor tadi mungkin. Dia kira aku bercanda? Lihat saja nanti sore. Aku sedang menyusun rangkaian kata-kata yang tepat untuk kuucapkan persis di muka si bos nanti.
Seorang ibu datang membeli seng dengan ukuran 30 m. And you know what? Kasir jugalah yang bertugas memotong seng itu.
Kak Shama mengambil meteran dan mengukur, sementara aku menahan ujung meterannya. Setelah dipotong, aku disuruh menggulung seng itu. Good job, tanganku berhasil tergores sisinya yang tajam dan berdarah.
“Berdarah tangannya?” tanya si ibu yang membeli seng menunjuk tanganku.
Si bos dan Kak Shama ikutan menoleh ke telapak tanganku.
“Pake itu hansaplast,” kata si bos kampret. Harusnya ini kerjaan elu atau karyawan elu yang cowok. Cuma bilang ‘pake hansaplast’, tapi gak ada dikasih.

Kira-kira begini rangkaian kalimatku nanti sore, Pak sepertinya saya kurang cocok dengan pekerjaan ini. Hari pertama telapak tangan tergores seng, untuk menghindari hari berikutnya kaki saya keinjak paku, kayaknya ini hari pertama dan terakhir saya saja.
Jam 4 sore semua mulai beres-beres. Aku persis anak itik yang mengekor induknya kemanapun pergi. Aku gak tau apa yang harus kulakukan, jadi aku ikut kemana Kak Shama pergi.
Akhirnya setengah 5. Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Aku sudah menyandang tasku.
“Pak, Ibu sebelumnya terima kasih sudah mau menerima saya hari ini bekerja. Tetapi saya mohon maaf, sepertinya saya kurang cocok dengan pekerjaan ini. Jadi sebelum ibu capek ngajarin saya (kutekankan di bagian ini), alangkah baiknya saya berhenti saja hari ini juga. Sekali lagi terima kasih dan saya minta maaf,” kataku mantap.
Si bos sempat diam, bengong di tempat. Mungkin takjub dengan ‘rekor tercepat’ berhenti bekerja yang kutorehkan dalam sejarah per-karyawan-an Toko Jaya Abadi-nya. Istrinya duduk memunggungi kami. Kuharap dia tidak sedang meneteskan air mata. Kusalam si bos, tapi istrinya belum merubah posisinya. Tanganku menggantung di udara. Apakah dia beneran nangis karena aku keluar hari itu juga? Dia menyesal sudah jutek, eh mungkinkah?

Tapi ternyata, tiba-tiba dia melemparkan selembar uang 50-ribuan di atas meja.
“Apa ini, Bu?”
Jelas-jelas itu uang kertas. Gimana sih aku.
“Buat uang bensin,” katanya lagi-lagi jutek. Bahkan sampai akhir wanita itu bersikap tak bersahabat. Apakah kita musuh di kehidupan sebelumnya?
“Maaf ya, Pak,” kataku lagi.
“Iya, gak apa-apa Lena. Mending begitu kalau gak cocok jangan dipaksakan.”

Kuambil uang itu dari meja, kumasukkan ke saku celana. Masa iya gak kuambil setelah aku naik-turun tangga 30 kali hari itu. Setelah telapak tanganku teriris seng. Setelah maag-ku kambuh karena gak makan siang. Kusalam istri bos yang jutek itu untuk pertama dan terakhir kalinya.
Damai Yesus Kristus besertamu, kataku dalam hati.

Kutatap toko Jaya Abadi untuk terakhir kalinya. Semoga sikap jutek istri bos tidak abadi seperti nama tokonya. 

Ajaibnya, malam hari aku menelpon ibuku dan menangis tersedu-sedu melaporkan kejadian anti mainstream itu. Dimana ada orang bekerja cuma satu hari, langsung resign?
Mendengarku menangis tertahan, bapakku sempat panik mengira aku diperkosa orang. Elah pak, orang yang perkosa juga pilih-pilih kale.

Aku menangis karena merasa aku gagal menahan penderitaan. Aku dan sifat pembangkangku yang sangat dominan. Gak sanggup diperlakukan orang dengan gak adil. Daripada diperlakukan demikian, mending aku keluar. Padahal selama ini aku menganggur di kosan. Susah mendapat pekerjaan. Tapi .. hati nuraniku berontak dengan perlakuan chinese itu.
Bapak dan ibuku menasehati. Jangan menyalahkan diri sendiri, tetap sabar menunggu kesempatan lain serta jangan lupa berdoa.

Maafkan anakmu ini, Mak, Pak.
Sepertinya gaji pertamaku masih lama lagi bisa kukirimkan …

Hasil gambar untuk DV pipa
DV Elbow 6"

Hasil gambar untuk ty pipa
Tee D LT 4 x inch T Y TY 90 derajat
Hasil gambar untuk TY pipa Y
Sambungan Pipa PVC Rucika Tee Y 45 D 5" x 4" 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...