Selain bukan kakak yang
baik, aku juga bukan anak yang berbakti. Masa kalau ortu telpon lama baru
diangkat. Pernah juga gak diangkat sama sekali. Bukannya apa-apa, tapi aku malu
kalau entar ditanya udah dapat kerja atau belum. Emak apalagi, beliau
bersikukuh supaya aku kerja apa aja dulu gitu. Gak usah gengsi mentang-mentang
udah sarjana, nunggu perusahaan besar.
Hingga hari ini ada
kenalan yang ngasih tau info loker dari WA. Jadi kasir di toko bangunan. Oke,
ini layak dicoba. Gak ada susahnya men-scan
barcode harga barang dan mengembalikan uang pelanggan. Kusiapkan berkas
lamarannya dan bermodalkan google map aku menuju toko bangunan itu.
Setibanya di lokasi,
aku gak langsung menemui si pemilik toko. Toko
Jaya Abadi. Kuamati dari seberang jalan toko bangunan itu. Rasa ragu
muncul. Kunyalakan motor dan melaju tanpa arah. Kata-kata emak muncul lagi di
benakku. Jangan gengsi. Baiklah, let’s do
this! Kubalikkan arah motor.
Aku disambut lelaki
sipit berkulit putih berusia 40-an, jangan bilang dia chinese karena aku tak pernah berhasil bekerja dengan mereka.
Maksudku sebagai majikan. Selain pelit mereka juga …pelit!
“Mau cari apa?”
tanyanya.
Aku turun dari motor
dan mendekat.
“Ini, Pak saya dapat
info dari kawan. Katanya di toko ini sedang cari kasir ya?”
“Iya benar. Dapat
infonya dari siapa?”
“Dari..”
Astaga, aku lupa nama
yang disebutkan kenalanku itu.
“Dari ibu.”
Kening beliau mengerut.
“Dari Shama mungkin,
ya. Sebentar. Shamaaaaa..”
Seorang cewek lebih tua
dariku muncul. Ah iya, itu nama yang disebut kenalanku itu. Aku langsung
menyalami cewek yang dipanggil Shama ini. Sebagai sesama orang Batak kami
langsung tanya marga, bukan nama.
Aku masuk ke dalam toko
dan dihadapkan dengan si bos ini. Memang benar, pemilik toko ini chinese. Itu istrinya sedang berdiri di
depan komputer. Putih, tinggi, langsing, wajah tak bersahabat. China sekali.
Bos tanya-tanya soal
diriku dan soal gaji yang kuinginkan. Setelah meminta fotokopi ktp dan nomor
HP-ku, beliau nanya apa mau langsung masuk hari itu, yang kuiyakan saja. Kak
Shama mengajakku berkeliling di dalam toko. Karena ini toko bangunan jelas yang
dijual paku, seng, semen, cat, lem, sekop, pipa dan masih banyak lagi.
Pekerjaan pertama yang
kulakukan adalah mengepel lantai. Lagi-lagi kukuatkan diriku, gengsi tidak akan
memberiku makan. Tapi yang menarik adalah tongkat pel yang kugunakan sudah
jelek sekali. Apa kubilang, mereka ini orang pelit. Di toko ini jangankan AC,
kipas pun tak ada.
Tiba-tiba istri si bos
ngomong.
“Kamu kalau ndak serius gak usah kerja di sini.
Nanti saya malah udah capek ngajarin, eh malah berhenti.”
Jutek sekali wanita
itu. Hm, tapi dia orang china yang medok.
Kubalas, “Iya, Bu.”
Apanya yang iya sih?
Aku emang gak serius mau kerja di sini, gitu?
Saat mengepel teras,
ada laki-laki berkulit putih (kuyakin chinese
juga) di toko sebelah senyum-senyum genit ke arahku. Buru-buru aku masuk ke
toko.
Setelah selesai
mengepel aku dibawa Kak Shama ke lantai dua, dimana gudang stok penyimpanan
barang berada. Busyet, naik turun tangga emang bikin sehat sih. Tapi kalau
tangganya seram gini..
“Jadi di sini banyak
jenis-jenis sambungan pipa, Len. Kalau TS yang tebal, ada yang DV itu lebih
tipis. TS juga ada yang 90° ada yang 45°. Blablabla ..”
Aku diajarin sistem
kerja di komputer kasir. Input dulu
barang yang dibeli serta jumlahnya, lalu kita ambil barangnya, baru terima
uangnya. Rempong juga, kirain tinggal scan
barcode harganya, terima uangnya. Ini mesti ngambil barangnya juga? Kalau
misalnya yang dibeli sambungan pipa TS tadi, artinya aku harus naik tangga dulu
ke atas. Fiuh..
Ada banyak jenis-jenis
paku dan bagaimana menimbangnya. Jenis-jenis semen, cat, kertas pasir. Selesai
bekerja dari sini kayaknya aku bisa ngambil proyek dari dinas pekerjaan umum
deh.
“Kamu belajar cekatan
ya, di sini,” kata istri bos.
Dalam hatiku, saya belum makan bu tadi dari rumah. Jangan
khawatir, biasanya saya hiperaktif kok.
“Iya, Bu.”
Ketika ada yang beli,
bos meminta aku yang input di
komputer kasir belanjaan orang itu. Tapi karena masih baru, belum paham, aku
lamban. Istri si bos datang dan mendorongku ke samping tak sabaran.
Kalau sedang tak ada
pelanggan, aku dan Kak Shama ngobrol bahasa ibu kami (batak). Kak Shama sudah
menikah dan suaminya kerja di tambang. Mereka LDR meski sudah menikah.
Masuk dua orang, satu
cowok dan satu cewek yang kukira mau beli sesuatu. Ternyata keduanya langsung
menghadap bos, diinterogasi.
“Mereka kenapa, Kak?”
“Kemarin kerja di sini,
terus dikreditkan motor atas nama toko. Padahal belum lunas dan resign kerja. Sayang banget kan,
motornya,”
“Lena, kalau lagi gak
ada pelanggan coba kamu pelajari ini jenis-jenis TS dan DV,” suara bos
menginterupsi percakapan kami.
Semakin siang semakin
ramai pembeli. Kukira hanya warteg aja yang ramai tiap hari. Tapi masa iya tiap
hari ada yang bikin rumah?
Sekelompok mahasiswa
datang. Ini pasti jurusan teknik sipil, karena kalau mereka jurusan perikanan
pasti gak datang ke toko bangunan.
“Anu, siapa, kamu coba
naik ke atas cari TY 2 inch x 0,5,” istri si bos menyuruhku. Aku naik ke atas
sendirian dan kebingungan yang mana TY. Apakah bentuknya persegi? Kuputuskan
turun membawa sambungan pipa yang mirip ketapel.
“Bukan yang begini
ukurannya. Coba liat itu ada tulisannya di cabangnya itu,” komentar istri si bos.
Aku naik lagi ke atas
dan lama baru turun. Kali ini salah bentuk lagi.
“Coba kamu liat,
bentuknya beda. Yang ini agak melengkung TY-nya, sedangkan yang ini cabangnya
lurus.”
Aku naik lagi ke atas.
Belum jam makan siang dan aku sudah 10 kali bolak-balik naik tangga mengambil
barang dari gudang. Dimana ada pekerjaan kasir seperti ini?
“Kak Shama,” kataku
saat di gudang.
“Ya?”
“Berapa lama sebelumnya
orang yang bekerja disini resign paling cepat? Maksudku yang paling cepat
keluar, karena gak tahan kerja di sini. Sebulan? Seminggu?”
Kak Shama terlihat
berpikir. “Ehm, kayaknya 3 bulan sih. Kenapa, Dek?”
“Aku mau bikin rekor.”
“Maksudnya?”
“Ini hari pertama dan
terakhirku bekerja di sini,” kataku mantap.
Kak Shama melongo.
.
.
Jam makan siang sudah
tiba. Tapi suami-istri itu tidak bergerak dari depan komputernya. Ternyata ini
rahasianya orang China cepat kaya : Lewatkan jam makan siangmu!
“Lena gak makan?” tanya
bos.
Dalam hati, enggak, saya pengen cepat kaya kayak elu.
“Enggak, Pak. Biasanya
makan sore.”
Perutku demo di dalam. Menuntut
keadilan sosial bagi seluruh cacing dalam perut.
Kak Shama juga gak
makan siang. Setiap melihatku dia tersenyum tertahan, teringat perkataanku soal
rekor tadi mungkin. Dia kira aku bercanda? Lihat saja nanti sore. Aku sedang
menyusun rangkaian kata-kata yang tepat untuk kuucapkan persis di muka si bos
nanti.
Seorang ibu datang
membeli seng dengan ukuran 30 m. And you
know what? Kasir jugalah yang bertugas memotong seng itu.
Kak Shama mengambil
meteran dan mengukur, sementara aku menahan ujung meterannya. Setelah dipotong,
aku disuruh menggulung seng itu. Good job,
tanganku berhasil tergores sisinya yang tajam dan berdarah.
“Berdarah tangannya?”
tanya si ibu yang membeli seng menunjuk tanganku.
Si bos dan Kak Shama
ikutan menoleh ke telapak tanganku.
“Pake itu hansaplast,”
kata si bos kampret. Harusnya ini
kerjaan elu atau karyawan elu yang cowok. Cuma bilang ‘pake hansaplast’,
tapi gak ada dikasih.
Kira-kira begini
rangkaian kalimatku nanti sore, Pak
sepertinya saya kurang cocok dengan pekerjaan ini. Hari pertama telapak tangan
tergores seng, untuk menghindari hari berikutnya kaki saya keinjak paku,
kayaknya ini hari pertama dan terakhir saya saja.
Jam 4 sore semua mulai
beres-beres. Aku persis anak itik yang mengekor induknya kemanapun pergi. Aku
gak tau apa yang harus kulakukan, jadi aku ikut kemana Kak Shama pergi.
Akhirnya setengah 5.
Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Aku sudah menyandang tasku.
“Pak, Ibu sebelumnya
terima kasih sudah mau menerima saya hari ini bekerja. Tetapi saya mohon maaf,
sepertinya saya kurang cocok dengan pekerjaan ini. Jadi sebelum ibu capek
ngajarin saya (kutekankan di bagian ini), alangkah baiknya saya berhenti saja
hari ini juga. Sekali lagi terima kasih dan saya minta maaf,” kataku mantap.
Si bos sempat diam,
bengong di tempat. Mungkin takjub dengan ‘rekor tercepat’ berhenti bekerja yang
kutorehkan dalam sejarah per-karyawan-an Toko
Jaya Abadi-nya. Istrinya duduk memunggungi kami. Kuharap dia tidak sedang
meneteskan air mata. Kusalam si bos, tapi istrinya belum merubah posisinya.
Tanganku menggantung di udara. Apakah dia beneran nangis karena aku keluar hari
itu juga? Dia menyesal sudah jutek, eh mungkinkah?
Tapi ternyata,
tiba-tiba dia melemparkan selembar uang 50-ribuan di atas meja.
“Apa ini, Bu?”
Jelas-jelas itu uang
kertas. Gimana sih aku.
“Buat uang bensin,”
katanya lagi-lagi jutek. Bahkan sampai akhir wanita itu bersikap tak
bersahabat. Apakah kita musuh di kehidupan sebelumnya?
“Maaf ya, Pak,” kataku
lagi.
“Iya, gak apa-apa Lena.
Mending begitu kalau gak cocok jangan dipaksakan.”
Kuambil uang itu dari
meja, kumasukkan ke saku celana. Masa iya gak kuambil setelah aku naik-turun
tangga 30 kali hari itu. Setelah telapak tanganku teriris seng. Setelah maag-ku
kambuh karena gak makan siang. Kusalam istri bos yang jutek itu untuk pertama
dan terakhir kalinya.
Damai Yesus Kristus
besertamu, kataku dalam hati.
Kutatap toko Jaya Abadi untuk terakhir kalinya. Semoga sikap jutek istri bos tidak abadi seperti nama tokonya.
Ajaibnya, malam hari
aku menelpon ibuku dan menangis tersedu-sedu melaporkan kejadian anti
mainstream itu. Dimana ada orang bekerja cuma satu hari, langsung resign?
Mendengarku menangis
tertahan, bapakku sempat panik mengira aku diperkosa orang. Elah pak, orang
yang perkosa juga pilih-pilih kale.
Aku menangis karena
merasa aku gagal menahan penderitaan. Aku dan sifat pembangkangku yang sangat
dominan. Gak sanggup diperlakukan orang dengan gak adil. Daripada diperlakukan
demikian, mending aku keluar. Padahal selama ini aku menganggur di kosan. Susah
mendapat pekerjaan. Tapi .. hati nuraniku berontak dengan perlakuan chinese itu.
Bapak dan ibuku
menasehati. Jangan menyalahkan diri sendiri, tetap sabar menunggu kesempatan
lain serta jangan lupa berdoa.
Maafkan anakmu ini,
Mak, Pak.
Sepertinya gaji pertamaku
masih lama lagi bisa kukirimkan …
![]() |
| DV Elbow 6" |
![]() |
| Tee D LT 4 x inch T Y TY 90 derajat |
![]() |
| Sambungan Pipa PVC Rucika Tee Y 45 D 5" x 4" |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar