Selasa, 05 Januari 2021

Piknik 'tipis-tipis' part 2

Sampai di stasiun Serang udah jam 9 malam. Betapa senangnya kalau adikku itu bisa menjemput, mengantar ke tempat penginapan. Nyatanya aku mesti mesan gojek lagi yang itu pun sempat bikin kesal. Dia nyuruh-nyuruh aku jalan ke arah alfamart. Mana kutau arah mana alfamart?! Udah gitu pake pesan suara yang bikin mesti didekatkan ke telinga biar bisa terdengar. Kubalas : pak, saya persis depan pintu masuk stasiun. Kenapa gak bapak aja yang ke sini? 

Tunggu aja lu nanti, kalau bisa gue geprek lu, dalam hatiku. 
Untungnya dia gak jadi kugeprek, mesti masih bikin kesal nanya-nanya. 
"Yang depan atau belakang, kak?"
Kakak, kakak! Sejak kapan emak gue ngelahirin lu?
"Gak tau. Belum pernah ke sana. Ikutin titik aja sih, mas!"

Sepanjang perjalanan gak terjadi lagi percakapan. Somehow itu bikin deg-degan juga, karena sekarang motor memasuki daerah lengang yang gelap. Kok penginapannya ke arah sini sih? Gimana kalau si mas gojeknya kesal, terus ngebuang aku ke jurang? Oh my..

Untungnya (lagi) itu gak terjad. Dengan selamat sentosa aku bisa tiba di penginapan. Penginapan yang awalnya pastilah kos-kosan. Karena covid banyak yang pindah. Itu asumsiku sih. 

"Boleh saya foto KTP-nya, Kak?"

Panggilan 'kakak' ini sedikit banyak sok akrab dan bikin kesal. Kenapa aku lebih senang dipanggil 'mbak' aja meski kedengaran lebih tua. 

"Sama uang jaminan 50 ribu?"
"APA?"
Eh, gak capslock juga sih. "Buat apa ya?"
"Itu nanti akan saya kembalikan saat kakak check out, hanya sebagai jaminan barang di dalam saja."

Seumur hidup, kayaknya perdana deh aku nginap-nginap begituan. Aku kan pelit ya, orangnya. Uang penginapan itu mending kubeli makanan atau kukasih ke adikku kalau aja dia ngerti. Huft!
Malam itu malah gak bisa tidur nyenyak. Kuputuskan untuk nelpon si adik. 

Besok check out-nya jam 12 siang. Datang aja kenapa sih?" -naik juga nada suara satu tingkat. Astaga ternyata aku lapar, seharian belum makan makanya bawanya emosian. 
"Iya, besok deh," dengan cueknya dia menjawab. Gak tau dia apa yang kulalui hanya untuk ketemu dia. Bersyukurlah saat masih ada yang mau menjenguk anda. 

Kubuka bekal yang gak sempat disentuh itu. Thank you God very kamsa, gak basi. Yesss! Kalau basi sih, bakalan tetap dimakan juga. Paling sakit perut. Daripada kelaparan. Penginapan ini jauh dari orang jualan. Lagian aku curiga malam jam segini masih ada yang buka. Sejak covid menyerang kan, semua tempat tutup lebih cepat dari biasanya.

Tadinya aku milih kamar itu di aplikasi karena emang itu yang paling murah, 120 ribu. Tanpa ngecek kamarnya gimana. Pas udah masuk ke dalam ternyata ada dua bed terpisah. Coba aja bawa teman (kalau bawa pacar mending single bed gede wkwkwk), biaya nginap bisa bagi dua per orang jadi : 60 ribu. Astatang. Hemat banget!

Paginya adikku itu beneran datang. Dia enak, masih kuliah aja dibeliin motor sama bapak. Kurang apalagi hidupnya. Awak aja pas kuliah part time sana-sini. 

"Kirain kau gak akan muncul," kataku sambil naik ke motornya yang gede. Iya, boros sekali hidup mahasiswa abadi satu itu.
"Rencana emang gitu."
"Kau jadi kan, nemanin aku ke Gunung Pinang itu? Ayolah, No. Kau belum pernah bertualang sama kakakmu ini."

Dia mau.
Itu suatu keajaiban dunia. 
Kami makan dulu di warteg dekat gerbang masuk Gunung Pinang yang bukan gunung itu. Sebenarnya bukit, karena tingginya masih di bawah 1.000 mdpl yaitu 300 mdpl. Selama makan, si kunyuk itu sibuk main HP, nelpon temannya lah. Dan yang paling bikin aku kaget waktu dia beli rokok di warung sebelah. 

"Kau merokok? Astaga dek. Kalau udah punya penghasilan sendiri sih gak apa-apa."
Pantesan aja makannya pesan tempe, biar bisa beli rokok toh. Kutuang setengah nasiku ke piringnya. Kubagi dua ayam di piringku. 

"Ini buat selingan aja, Kak. Aku biasanya gak merokok. Jarang bisa dibilang."

Teori darimana pulak itu. Ada perokok yang jarang merokok. Hanya buat selingan. Aku menahan diri buat gak nanya kabar skripsinya saat makan. Nanti ajalah pas udah di bukit. 

Makan di warteg itu bisa dibilang murah. Aku hanya perlu bayar 19 ribu sama ngisi botol minumku yang ukuran 1 liter. 

Gak ingin menyia-nyiakan momen, aku nyuruh dia ngambil fotoku di gerbang masuk Gunung Pinang-nya. Begitu nyampe di pembelian tiket masuk, adikku malah nanya petugasnya, "Pak Asep gak masuk Pak?"

Trik apa lagi ini.
"Pak Asep yang mana?" -petugas.

Wkwkwkwk. Sebenarnya adikku ini gak kenal si Pak Asep. Cuma mungkin dia punya teman yang punya kenalan bernama Pak Asep yang kerja di wisata Gunung Pinang. 

"Pak Asep, yang orangnya enak diajak ngobrol,"- adikku pasti ngasala ini mah.
"Oh yang botak?"-petugas.
"Ah iya itu. Gak masuk ya?"
"Hari ini gak masuk."

Setelah itu terjadi hening. 

"Yaudah, lewat aja." -petugas.

Begitu dipersilahkan lewat, aku gak bisa nahan ketawa lagi. 

"Parah lu, Dek. Bayar tiket 30 ribu aja pelit amat. Biar bisa beli rokok, gitu?"
"Ya enggak, Kak. Di sini harus pintar-pintar punya kenalan."
"Manfaatin kenalin, yang gak dikenal tepatnya," kukoreksi kata-katanya. "Udah ah, aku mau jalan aja, Trek-nya gampang gini. Sekalian olahraga."
Tapi motor tetap melaju. "Jangan, Kak. Nanti ditawarin tumpangan sama orang lain. Dikasihani, dikira-"
"Ya biar aja, tinggal tolak dengan halus toh," bocah itu gengsinya makin selangit semenjak merantau kuliah.

Akhirnya nyampe puncak naik motor. Buat anak pecinta alam sepertiku, ini penghinaan sih. Wkwkwkw. Mana ada sejarahnya nyampe puncak gunung (bukit) naik motor?!

Aksi adikku gak sampai di situ. Untuk berfoto di beberapa spot foto yang disediakan juga dikenakan tarif. Dia langsung sok-sok minjam korek sama penjaga spot foto. Mereka pun ngobrol lumayan lama. Setelah beberapa saat adikku balik.
"Sana, Kak. Mau foto gak? Tenang, gak usah bayar."
"Ei, kau kira ini bukan sumber penghasilan mereka? Kasian loh. Bayar aja ah, kasih 10 ribu kek," kubantah dia.
"Yaudah sini, paling nanti masuk kantongku," dia ketawa setan.

Lokasinya sejuk, adem, dan bikin ngantuk. Kami di sana hampir 3 jam.

"Skripsimu?"
"Doakan ajalah, Januari awal seminar hasil. Tapi jangan kasih tau mama dulu."
"Lha? Kenapa, itu kan kabar bagus. Dengar ya dek, kau kuliah baik-baik, dapat IPK bagus, itu semua buatmu. Bukan buat kakak, atau bapak atau mama. Masa depanmu yang sedang kau perjuangkan."

Hening.

"Merokok itu, janganlah. Si adek yang di Batam yang udah kerja aja gak merokok loh dia itu. Kalau kau udah punya penghasilan sendiri, yowes. Uang yang kau bakar itu kan, hasil keringatmu udah. Gak apa-apa."

Aku ngomong panjang kali tinggi pun kayaknya cuma akan keluar telinga kiri. Yaudahlah, semoga dia paham. 

Dia mengantarku ke stasiun. Kami berpisah di sana. Kusodorkan uang bensin ke tangannya. 

"Ditunggu ya, undangan wisudanya," kuteriak sambil melambaikan tangan sampai dia mengilang di belokan jalan. 

Aneh juga pulang di malam perpisahan tahun. Tanggal 31. Beberapa jam lagi akan masuk tahun 2021. Aku gak bisa karena si bandel itu udah punya rencana sama gengnya. Susah juga punya adek cowok yang gak bisa diatur. 

Sayang sekali harus menunggu 1 jam lebih di stasiun Serang. Trip keberangkatan ke Rangkasbitung jam 5 sore. Datang lebih awal ke stasiun, plus loket tiket belum buka. Mana banyak yang antri pulak. Solusinya adalah beli tiket secara online di aplikasi KAI Access. Begitu loket dibuka, gak lama kemudian tiket habis. Untung aja..

Kalau dihitung-hitung, untuk perjalanan sehari semalam Jakarta - Serang itu aku menghabiskan uang sekitar 250 ribu? 

1. busway pergi : 3.500
2. st Manggarai-st Rangkasbitung pergi : 7.000
3. st Rangkasbitung - st krenceng pergi : 3.000
4. Angkot ke pantai anyer : 25.000
5. Tiket masuk anyer : 15.000
6. Angkot pulang dari anyer : 20.000
7. st krenceng - st Serang pulang : 3.000
8. Penginapan : 121.500
9. makan warteg : 19.000
10. beli jeruk : 10.000
11. st Serang-st Rangkasbitung pulang : 3.000
12. st Rangkasbitung - st Manggarai pulang : 7.000
13. Gojek st manggarai ke kosan (busway gak ada lagi, batas jam 8) : 16.000

TOTAL : Rp. 253.000

Begitu turun dari gojek, kulihatlah dengan jelas busway berhenti di halte dekat kosan. Saat itu udah jam 9 malam. Kuingin menjerit kencang. 16 ribuku yang berharga!! Lagian, ini transjakarta gak konsisten apa gimana. Katanya busway cuma sampai jam 8 malam, ini masih ada jam 9 ?!

"Makaasih ya, Pak. Selamat taun baru, Pak," kataku tulus.
"Iya, mbak. Selamat tahun baru," jawab si bapak canggung.

Malam itu malam tahun baru, tapi aku cuma makan indomi yang kubeli dari warung terdekat yang untung masih buka. Setelah itu ngorok sampai besoknya. 


------












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...