Rencana perjalanan ini melintas saat membaca postingan seorang kawan di instagram tentang kunjungannya ke goa di daerah Parung Panjang. Dia menyebutnya sebagai 'piknik tipis-tipis'. Maka malamnya penelusuran pun kulakukan. Aku juga butuh piknik tipis-tipis dari hiruk pikuk sebagai pengangguran di kota ini.
Terlintas begitu saja. Kenapa gak sekalian mengunjungi adek di Banten ya kan? Mamaku pasti senang bukan main kalau tau aku menemui adikku itu. Mamaku selalu khawatir dengan anak laki-laki yang kuliah atau merantau jauh dari rumah. Katanya mereka tidak bisa dipercaya. Padahal adikku itu masih semester 10 (aku aja menghabiskan 11 semester di kampus) dan sedang skripsian.
Setelah melakukan browsing tempat wisata di Banten, muncul sekian tempat. Tapi yang paling menarik minatku adalah pantai. Aku butuh angin pantai yang segar, ditemani suara debur ombak yang membuat mengantuk. Pantai Anyer dan Gunung Pinang, dua itulah tujuanku.
Sebelum memutuskan untuk berkelana ke Banten sendirian, aku udah nanya banyak orang, menanyakan apakah mereka mau bergabung dengan trip super dadakan ini. Tapi aa yang bilang mau berlibur dengan keluarga ke Pulau Seribu. Ada yang bilang dilarang mamanya karena akhir tahun takut lautnya minta korban.
Huft. Aku pun memantapkan hati untuk pergi sendirian. Oh iya, ini hanya perjalanan sehari. Adikku itu pasti gak akan mau mencarikan tempat tinggal barang semalam untuk kakaknya. Betapa adik yang durhaka. Makanya hanya semalam, itulah isi dompet yang sanggup membayar penginapan. Setelah mengunjungi kedua tempat itu, ketemu adik, baru pulang ke kos.
"Memangnya Lena udah bawa dokumen bebas covid?" -pakde kosan.
Fyi, salah satu alasanku memilih piknik tipis-tipis ini adalah karena pasangan suami istri itu selalau bertanya, 'Lena gak kemana-mana?' Padahal tiap hari jelas aku ke perpustakaan, numpang wifi.
"Sekarang pakai begituan, pakde? Saya gak punya."
"Coba jalan aja, kalau memang diminta langsung tes di tempat boleh kayaknya," -pakde
Duh, bikin perut gak enak aja nih. Udah cakep-cakep plus semangat membara, tau-taunya pakde mematahkan semangatku itu bahkan sebelum melangkah satu langkah pun.
"Pulang kapan, Lena?" -bude
"Kalau langsung disuruh pulang sama petugasnya Lena pasti langsung pulang, bude."
Penampilan awak pun bukan seperti mau ketemu adik atau penampilan orang ke pantai. Gimana enggak, aku pakai kaos yang dilapisi kemeja flanel, celana outdoor berbahan tipis dan sendal gunung.
Perjalanan itu tentu saja dengan transportasi umum. Dari kosan aku naik busway ke stasiun terdekat. Sepanjang perjalanan orang memberi pandangan .. entahlah. Susah dibaca. Tapi yang pasti mereka heran di malam menjelang tahun baru ada cewek berpenampilan mau naik gunung sepertiku. Di masa covid pulak. Emang ada gunung yang buka?! Somehow, berpenampilan seperti itu membuat kepercayaan diriku bertambah. Seolah ingin bilang, 'hei, lihat aku. Aku cewek mandiri yang nekad tapi bisa bertanggung jawab.'
Ternyata tidak ada pemeriksaan dokumen bebas covid untuk kereta api lokal atau KRL. Lega. Aku mengabarkan di grup wa keluarga tentang kunjungan ke Banten itu. Tapi adikku yang sengklek malah menolak habis-habisan. Dia gak mau dikunjungi. Aku jadi ikut curiga kayak mama. Siapa tau dia diam-diam udah punya anak?
Perjalanan sempat diwarnai dengan kepanikan dalam kereta saat tiba-tiba ada penumpang yang pingsan. Para penumpang yang tadinya duduk didekat si penumpang pingsan langsung pindah gerbong.
"Jangan panik, kami mohon untuk tetap tenang," begitu imbauan petugas kereta.
Bukannya covid, tapi si penumpang itu ternyata kesurupan. Dia mulai menendang-nendang petugas, memberontak. Di stasiun berikutnya, penumpang itu pun diangkut turun. Meski bukan covid, petugas kereta langsung melakukan sterilisasi dengan penyemprotan desinfektan.
"Mau menyeberang, mbak?" tanya seorang ibu di depanku.
"Nyeberang?"
"Iya, nyeberang. Sampean mau ke pelabuhan Merak kan?"
"Oh, bukan Bu. Saya turun di Krenceng. Memangnya dari Merak bisa nyeberang kemana bu?"
"Bakauheni."
Wah, baru tau. Kapan-kapan coba ah nyeberang tanpa tujuan.
Perjalanan panjang kurang lebih 4 jam Jakarta - Serang. Kupikir lebih baik ke pantai lebih dulu baru ketemu adik. Dari stasiun aku harus naik angkot lagi ke pantainya kurang lebih 1 jam. Informasi yang kudapat dari internet gak sesuai. Termasuk ongkosnya. Saat menyodorkan uang 15 ribu, si supir menatap gak terima.
"25, mbak."
Pantai anyer ternyata punya banyak pantai-pantai kecil. Aku memilih ke pantai karangbolong. Penasaran aja sama karang besar yang bolong di tengahnya. Fyi, supaya gak kayak aku yang maos ditanyai 'sendirian aja mbak', bawalah teman.. ini penting. Ada kali aku ditanyai begitu 5 kali sama penduduk setempat. Apakah tidak boleh cewek sendirian ke pantai karang bolong? Herman saya!
Semua itu terjawab waktu udah masuk ke dalam. Di sana banyak couple. Kalau gak couple ya rombongan. Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit...
Aku malah gak sepenuhnya menikmati embusan angin pantai atau deburan suara ombak yang bikin ngantuk. Malah sibuk ngambil video dan foto dengan HP samsung A71 yang baru di-unboxing itu. Ya, setelah kupikir-pikir gak ada yang mau beli dipakai ajalah. Toh HP itu hadiah dari kantor. Kejernihan kameranya yang bikin aku betah ngambil video. Benar-benar kayak kamera DSLR.
Sesuai jadwal yang sudah kucatat, aku hanya bisa sampai jam setengah 5 di sana. Kereta api lokal yang akan membawaku ke Serang berangkat jam 6. Itu adalah kereta terakhir. Sesuai rencana juga, aku akan mencari penginapan murah di Serang (kalau si adik nakal mau mendatangiku bagus). Sama sekali tidak ada rencana menginap di Krenceng.
Masalah muncul saat di dalam kereta aku sambil mencari penginapan murah di aplikasi Red doorz. Karena memindahkan kartu paket internet ke Samsung, aplikasi m-banking di Redmi tidak bisa dibuka. Aku gak bisa membayar bookingan penginapan. Batas pembayarannya hanya 30 menit dengan posisi aku gak bisa berlari ke supermaket terdekat untuk membayarkannya. Satu-satunya jalan adalah mengembalikan kartu paket internet ke HP Redmi supaya m-banking bisa digunakan. Tapi... masalahnya adalah aku gak punya pencongkel untuk membuka lubang penyimpangan kartu sim di HP.
Huft. Masalah ini kelihatan remeh sekali. Hanya gara-gara besi kecil pencongkel kartu sim. Ingin rasanya kutanyai satu-satu penumpang dalam kereta itu apakah ada yang bawa peniti atau jarum.
Kugeledah tas kecil tempat menaroh uang dan HP. Keajaiban datang. Ada satu klip kertas nyempil di saku kecilnya. Hahahaha. Bahagia tak terkira. Sesimpel itu ternyata kebahagiaan ya..
| Thank you very kamsa, klip. |
Penginapan beres. Saatnya menelpon adik kampret.
"Aku lagi di Rangkasbitung, kak. Gak bisa ketemu malam ini."
Kutarik nafas dalam-dalam supaya gak mencercanya.
"Yaudah, usahakan besok aja. Ini alamat penginapanku. Besok sore aku udah pulang. Kalau kau mau besok temanin aku ke Gunung Pinang ya.
"Gak janji."
ARGHHH !!
Sore itu udara pantai sangaaaat sejuk. Meski bisa aja nunggu angkot, kupilih untuk jalan kaki tipis-tipis. Herannya di tengah jalan ada bapak-bapak yang langsung tau aku dari Jakarta. Padahal seingatku penampilan ini sangat ndeso sekalee. Kenapa bisa langsung nebak dari Jakarta ya?!
![]() |
| Akhirnya ketemu 'air' setelah berpuluh km dari Jakarta |
![]() |
| Gaya kaku di depan karang yang bolong |
![]() |
| Ini buatan orang lain, kucoba buat satu disebelahnya malah gagal |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar