Kamis, 07 Januari 2021

Aku tuh gak pelit, cuma ..

 Banyak kawan-kawanku waktu kuliah dulu yang bilang aku orangnya pelit. Duh, kalau dia bilang gitu, percayalah artinya dia belum kenal diri ini 100%. 

Aku tuh gak pelit. Cuma memanfaatkan sumber daya yang ada. Pelit apanya coba. Budget buat perut lebih besar daripada buat perawatan diri. Oke, not related at all.

Mungkin banyak yang gak tau kan, misalnya kalau punya kartu member di alfamart belanja bisa dapat poin. Sewaktu-waktu poin ini bisa dituker dengan produk gratisan. Siapa yang gak suka gratisan. Atau misalnya kalau ngasi penilaian di mcdonalds.fast-insight.com anda bisa dapat kentang atau es krim gratisss. Cara-cara survival seperti ini wajib para jobseeker ketahui. Meski aku baru pernah berhasil tukar sekali sih. Untuk kedua kalinya mbak mcd-nya mulai beralesan, 'maaf kak, harus disertasi pembelian' atau 'maaf kak, harus sesuai store pembelian sebelumnya. Padahal menurut ketentuan yang kubaca... emang begitu wkwkwk. 

Tapi kenapa pas yang pertama aku bisa? Gak disertasi pembelian padahal ! Apa dia khilaf waktu itu?

So, aku yang begitu disebut orang pelit? Are you suerr? #bacadenganlogatmedok

Nah, pemanfaatan promo-promo di sekitar ada lagi nih. Kali ini aku dapat voucher belanja di gramedia setelah menukarkan poin telkomsel 400 poin. Koreksi : itu kakakku yang kumintai tukarkan poin telkomselnya. Sayang banget soalnya kalau angus di akhir tahun. Ngumpulin poin telkomsel susah loh, beli pulsa 50 ribu aja paling dapat 7 poin.

Dalam perjalanan menuju gramedia matraman, di dalam busway muncul bocah sekitar umur 10 tahun yang tiba-tiba duduk di kursi depanku nanya, 'kak, ada uang 2 ribu?'

Aku sempat khawatir ini metode kejahatan terbaru (maafkan ke-sudzon-an ini). Tau kan, yang sempat beredar di medsos tentang anak kecil yang bilang kesasar ke seorang mbak-mbak cakep. Mbak cakep itu tanpa curiga mengantarkan si anak kecil ke alamatnya. Dan yang terjadi adalah si mbak cakep di bekap sama komplotan penjahat. Anak kecil yang pura-pura kesasar tadi adalah 'kaki-tangannya'.

'Buat apa dek?'

Pertanyaan gak penting emang. Tapi si adik itu jawab, 'buat beli minum.'

Percakapan pun berlanjut. Dia tinggal dengan kakaknya. Pas kutanya kerja kakaknya, dia cuma bilang bantuin orang. Ortunya udah gak ada. Aku sempat bilang, pas tau kan dia butuh 2 ribu buat beli minum : 'adik kan mau ke rumah, makan dan minum di rumah aja nanti.'

Di dompet ku ada uang lima ribuan 5 lembar. Pas turun di halte tujuan, aku ambil selembar terus bilang, 'Ini dek, buat beli es. Maaf ya, cuma bisa ngasih 5 ribu. Tetap semangat, oke?'

Setelah bus melaju, aku merenung. Apa aku memang pelit? Kenapa gak ngasih semua aja uang yang di dompet?! Ini soal kemanusiaan loh yang kita bicarakan.

Nyampe di pintu masuk gramed malah dicegat sama mas-mas dari yayasan konservasi alam. Aku udah tau, mereka tuh nyari donasi. Sempat nolak halus dan bilang makasih, tapi masnya keukeh. Yaudahlah, aku dengarin aja. Dia contoh marketing yang baik seandainya punya produk jualan. 

'Tapi maaf nih mas, saya belum bisa berdonasi. Saya juga masih cari kerjaan ini. Mas tau gak, ini saya ke toko buku mau tukar voucher gratisan cari buku cara menulis CV dan lamaran pekerjaan dalam bahasa inggris? Mungkin ada yang bisa saya bantu selain donasi, mas?'

Dia pun kasih tunjuk instagram yayasan konservasi itu buat ku-follow.

Masuk ke dalam gramed berlantai tiga, ku langsung ke rak 'promo'. Ngambil buku berjudul 'Career First' dan nyari-nyari buku tentang CV. Tapi gak nemu udah bolak-balik lantai 1 ke lantai 3. Syarat pemakaian voucher-nya minimum belanja 50 ribu. Akhirnya kuambil aja asal komik yang tipis amat, tapi harganya 25 ribu. 

Menuju kasir. Kutunjukkan sms penukaran voucher yang dikirim kakakku sama mbak-nya.

'SIM 1 atau SIM 2, mbak?'

'Apanya kak?' -aku bingung dong.

'Nomor yang dipakai waktu tukar poin telkomsel?'

Tweng!

'Eum, itu saya pakai nomor kakak saya, mbak.'

'Wah gak bisa kak, ini kan kakak belum dapat kode voucher-nya. Untuk bisa kami verifikasi nomornya harus disini. Mungkin besok kakak bisa kembali lagi dengan nomor kakaknya?'

Kakak saya di sumut, mbak. 

Kelar sudah.

Malam itu aku pulang dengan tangan kosong. Sama sekali merasa hampa. Apa karena aku cuma ngasih 5 ribu ke adik itu? Atau karena gak mau donasi sama mas-nya?

Atau.. aku ini memang pelit??




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...