Menganggur bukan berarti otak juga nganggur. Menurut guru biologiku SMA dulu, semakin sering otak digunakan, maka dia akan semakin cerdas. Sama kayak parang kali ya, lama gak dipakai bisa tumpul.
Untungnya di masa pandemi gini ada layanan ipusnas, aplikasi perpusnas untuk baca koleksi buku mereka. Jadi gak mesti ke perpus. Meski gak semua buku sih, tapi lumayan lah. Apalagi masa psbb gini perpus juga tutup sampai tanggal 25.
Salah satu buku yang gak sengaja muncul di beranda ipusnas adalah buku bersampul laki-laki tua yang jenggotnya puanjanggg lebat ngalahin daun pohon rambutan. Dialah bapak sosialisme dunia - Karl Marx. Aku sebenarnya udah nyari-nyari tadi malam, kenapa Karl Marx ini dibenci banyak orang di seluruh belahan dunia.
Minat terhadap ilmu-ilmu humaniora dulu sebenarnya ada. Waktu masih kuliah juga kan, sempat aktif di organisasi pergerakan mahasiswa marhaenis, GMNI - mengikuti ajaran bung Karno tentang marhaenisme. Nah, untuk buku berjudul 'Pemikiran Karl Marx' karangan Franz Magnis Suseno itu berat untuk otak ini. Mungkin karena otakku sudah terlalu lama gak dipakai sih.
Belum baca semua isi bukunya. Singkatnya, Karl Marx ini anti dengan sistem sosial yang ada di masyarakat. Tau kan, ada kaum penguasa yang punya modal, kaum buruh/karyawan yang tidak punya modal, dsb. Karl menginginkan adanya kesetaraan, dimana yang memegang kekuasaan penuh akan modal dan hampir semua aspek hidup dikontrol secara terpusat oleh negara. It means, gak ada yang kaya atau miskin dong. Gak ada yang nganggur juga (kayak awak ni). Semua bekerja, sama rata, sama rasa.
Jadi kan menurut Karl (lebih suka bilang 'Karl' daripada 'Marx'), faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideologi, melainkan ekonomi. Karl pun sampai pada kesimpulan bahwa ekonomi kapitalisme akan menghasilkan kehancuran sendiri, karena keuntungan pemilik sebesar-besarnya, pengisapan manusia pekerja, pertentangan kelas paling tajam. Pekerjaan adalah kegiatan dimana manusia justru menemukani identitasnya, tetapi sistem hak milik pribadi kapitalis menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi.
Jadi sebenarnya dimana letak salahnya ya?
Oke, harus baca lebih lanjut bukunya.
Hanya saja, sore menjelang malam, aku yang bosan berbaring di kosan memutuskan untuk masuk ke busway dan dibawa berkeliling. Playlist sepanjang perjalanan : Kenangan Manis dari Pamungkas.
Aku amati orang-orang yang baru pulang kerja - dengan wajah lelah mereka,
Kakek yang kesusahan mendorong gerobakya di pinggir jalan,
Berita yang kubaca tentang petani yang sengaja mem-pilox cabe rawit jadi cabe merah biar lebih untung,
Dua orang bapak-bapak yang melakukan aksi penipuan giveaway pakai nama artis Baim Wong,
Semua kejadian itu demi satu hal : uang.
Kalau ideologi Marx diterapkan di sini, apakah masyarakat kita bisa merata sejahteranya?
"Maf Kak, ini perhentian terakhir," suara petugas busway menyadarkan lamunan di senja yang sudah semakin kelam.
Semoga tidak sekelam masa depan -
---to be contined---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar